Abses
Peritonsil
Disusun Oleh :
Agung Ganjar K –
11 2015 210
Michaela Vania Tanujaya – 11 2015 211
Kepaniteraan Klinik Ilmu
Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorokan
RSUD Cengkareng Jakarta
Fakultas Kedokteran Kristen
Krida Wacana
Periode
Pendahuluan
Nyeri
tenggorok dan demam yang disertai dengan terbatasnya gerakan membuka mulut dan
leher, harus dicurigai kemungkinan disebabkan oleh abses leher dalam dan salah satunya adalah abses peritonsil. Abses leher dalam terbentuk didalam ruang
potensial di antara fasia leher dalam, biasanya terjadi akibat penjalaran
infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal,
telinga tengah, dan leher. Gejala dan tanda klinik biasanya berupa nyeri dan
pembengkakan di ruang leher dalam yang terlibat. Kebanyakan kuman penyebab
abses adalah golongan Streptococcus, Staphylococcus, kuman anaerob Bacteroides
atau kuman campuran.
Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling
sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Abses peritonsil terbentuk oleh
karena penyebaran organisme bakteri penginfeksi tenggorokan ke salah satu
ruangan yang longgar di sekitar faring menyebabkan pembentukan abses, dimana
infeksi telah menembus kapsul tonsil tetapi tetap dalam batas otot konstriktor
faring.
Anamnesis
Anamnesis
adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian pembicaraan dengan pasien(autoanamnesis) atau pembicaraan
dengan orang yang bersama dengan pasien(aloanamnesis), bisa saja keluarga
pasien, atau teman dekat pasien. Tujuan daripada anamnesis adalah untuk
mengumpulkan semua informasi dasar yang berkaitan dengan penyakit pasien dan
adaptasi pasien terhadap penyakitnya. Anamnesis memiliki prinsip, prinsip utama
dalam anamnesis adalah membiarkan pasien mengutarakan riwayat penyakitnya dalam
kata-katanya sendiri.1
Pada anamnesis
keluhan utama pasien adalah sulit menelan, dengan
keluhan tambahan demam banyak air liur, leher kiri membengkak. Pertanyaan yang
harus ditanyakan adalah sulit menelan ini sudah diderita berapa lama?, apakah
tergantung dengan jenis makanan yang dimakan?, dan keluhan ini semakin lama
semakin berat atau tidak?. Kita juga harus menanyakan apakah ada nyeri menelan?
Apakah ada demam tinggi? Apakah ada batuk? Apakah ada sekret di tenggorokan?. Tanyakan juga apakah sebelumnya ada riwayat faringitis
atau tonsilitis akut atau tidak.
Pemeriksaan
Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
tonsilitis akut dengan asimetri faring. Inspeksi terperinci daerah yang
membengkak mungkin sulit karena ketidakmampuan pasien membuka mulut. Didapatkan
pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar regional. Pada pemeriksaan kavum oral
didapatkan hiperemis. Tonsil hiperemis, eksudasi, mungkin banyak detritus dan
terdorong ke arah tengah, depan, dan bawah. Uvula bengkak dan terdorong ke sisi
kontralateral. Abses peritonsil biasanya unilateral dan terletak di bagian
superior dari tonsil yang terkena, di fossa supratonsil. Mukosa di lipatan
supratonsil tampak pucat dan bahkan seperti bintil-bintil kecil. Diagnosis
jarang diragukan jika pemeriksa melihat pembengkakan peritonsil yang luas,
mendorong uvula melewati garis tengah, dengan edema dari palatum mole dan
penonjolan jaringan dari garis tengah. Palatum mole asimetris, tampak membengkak dan menonjol ke
depan, serta pada palpasi palatum mole teraba fluktuasi.2
Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan
penunjang adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui lebih pasti apa
yang menyebabkan penyakit pada pasien.
Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan pada kasus ini adalah hitung
darah lengkap (complete blood count),
pengukuran kadar elektrolit (electrolyte
level measurement), dan kultur darah (blood cultures). Pemeriksaan
Radiografi
adalah foto pandangan jaringan lunak lateral (Lateral soft tissue views) dari nasopharyng dan oropharyng dapat
membantu dokter dalam menyingkirkan diagnosis abses retropharyngeal.
Computerized tomography (CT scan) biasanya tampak kumpulan cairan
hypodense di apex tonsil yang terinfeksi menandakan
adanya cairan pada tonsil yang terkena disamping itu juga dapat dilihat
pembesaran yang asimetris pada tonsil. Pemeriksaan ini dapat membantu untuk
rencana operasi.
Peripheral Rim Enhancement
Ultrasound,
contohnya: intraoral ultrasonography. Intraoral ultrasonografi mempunyai
sensifitas 95,2 % dan spesifitas 78,5 %. Transcutaneous ultrasonografi
mempunyai sensifitas 80% dan spesifisitas 92,8 %. merupakan
teknik yang simple dan noninvasif dan dapat membantu dalam membedakan antara
selulitis dan awal dari abses. Pemeriksaan ini juga bisa menentukan pilihan
yang lebih terarah sebelum melakukan operasi dan drainase secara pasti.3
Etiologi
Kadang-kadang,
infeksi tonsila berlanjut menjadi selulitis difusa dari daerah tonsila meluas
sampai palatum mole. Kelanjutan proses ini menyebabkan abses peritonsil.
Kelainan ini dapat terjadi cepat, dengan awitan awal dari tonsillitis, atau
akhir dari perjalanan tonsillitis akut. Hal ini dapat terjadi walaupun
diberikan penisilin. Biasanya unilateral dan lebih sering pada anak-anak yang
lebih tua dan dewasa muda. Biasanya kumam penyebab sama dengan penyebab
tonsillitis, dapat ditemukan kuman aerob dan anaerob.4
Epidemiologi
Abses
peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi
pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang
menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas
yang signifikan pada anak-anak.5
Patologi
Abses peritonsil yang timbul sebagai kelanjutan
tonsilitis akut biasanya timbul pada hari ke 3 dan 4 dari tonsilitis akut.
Sumber infeksi berasal dari salah satu kripta yang mengalami peradangan,
biasanya kripta fossa tonsilaris dimana ukurannya besar, merupakan kavitas
seperti celah dengan tepi tidak teratur dan berhubungan erat dengan bagian
posterior dan bagian luar tonsil. Muara dari kripta mengalami infeksi tersebut
tertutup sehingga abses yang terbentuk di dalam saluran kripta akan pecah
melalui kapsul tonsil dan berkumpul pada tonsil “bed”. Pus yang berkumpul pada
fossa supratonsil tersebut akan menumbulkan penonjolan, pembengkakan dan edema
dari palatum molle sehingga tonsil akan terdorong ke arah medial bawah.
Infiltrasi supuratifa
dari jaringan peritonsil terjadi paling sering pada fosa supratonsil. Hal ini
menyebabkan edema palatum mole pada sisi yang terkena dan pendorongan uvula
melewati garis tengah ke arah kontralateral. Pembengkakan meluas ke jaringan
lunak sekitarnya, menyebabkan nyeri menelan dan trismus. Trismus terjadi bila
proses peradangan terus berlangsung sehingga menyebabkan iritasi dari muskulus
pterigoid interna, sehingga timbul trismus. Abses ini dapat pecah spontan,
mungkin dapat terjadi aspirasi ke paru.2,4
Gejala
Klinis
Pada
kasus yang agak berat biasanya terdapat disfagia yang nyata, nyeri alih ke
telinga pada sisi yang terkena, salivasi yang meningkat, dan khususnya trismus.
Pembengkakan mengganggu artikulasi dan jika nyata, bicara menjadi sulit. Demam sekitar
37,7oC, meskipun adakalanya mungkin lebih tinggi. Inspeksi
terperinci daerah yang membengkak mungkin sulit karena ketidakmampuan pasien
membuka mulut. Pemeriksaan menyebabkan pasien merasa tidak enak. Diagnosis
jarang sangsi jika pemeriksa melihat pembengkakan peritonsil yang luas,
mendorong uvula ke arah kontra lateral, dengan edema palatum mole dan
penonjolan dari jaringan ini ke arah garis tengah.4
Penatalaksanaan
Pada
stadium infiltrasi, diberikan antibiotika golongan penisilin atau klindamisin
dan obat simtomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan cairan hangat dan kompres
dingin pada leher. Bila telah terbentuk abses, dilakukan pungsi pada daerah
abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan nanah. Tempat insisi adalah daerah
paling menonjol dan lunak atau pada pertengahan garis yang menghubungkan dasar
uvula dengan geraham atas terakhir pada sisi yang sakit.
Kemudian
pasien dianjurkan untuk operasi tonsilektomi. Bila dilakukan bersama-sama
tindakan drainase disebut tonsilektomi “a’chaud”. Bila tonsilektomi dilakukan
3-4 hari sesudah drainase abses, disebut tonsilektomi “a’tiede”, bila
tonsilektomi 4-6 minggu setelah drainase abses, disebut tonsilektomi “a’froid”.
Pada umumnya tonsilektomi dikerjakan sesudah infeksi tenang yaitu sekitar 2-3
minggu sesudah drainase abses.2
Komplikasi
Komplikasi
dari abses peritonsil yaitu:2
1. Abses
pecah spontan, dapat mengakibatkan pendarahan, aspirasi paru atau piemia.
2. Penjalaran
infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses parafaring. Pada
penjalaran selanjutnya, masuk ke mediastinum, sehingga menjadi mediastinitis.
3. Bila
terjadi penjalaran ke daerah intrakranial, dapat mengakibatkan trombus sinus
kavernosus, meningitis, dan abses otak.
Prognosis
Prognosis
untuk kasus ini Dubia Ad Bonam.
Differential
Diagnosis
Different
Diagnosis dari abses peritonsil yaitu
Abses Submandibula, Abses Parafaring, dan Abses Retrofaring.
Abses
Submandibula
Ruang
submandibula terdiri dari ruang sublingual dan ruang submaksila. Ruang
submaksila selanjutnya dibagi lagi atas ruang submental dan ruang submaksila.
Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponen sebagai
kelanjutan infeksi dari daerah kepala leher. Abses ini disebabkan oleh infeksi
yang dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau
kelenjar limfa submandibula. Dapat juga terjadi karena kelanjutan infeksi ruang
leher dalam lain. Biasanya kuman penyebabnya kuman anaerob.
Abses
ini memiliki gejala demam, nyeri leher, pembengkakan di bawah submandibula dan
atau bawah lidah, trismus sering ditemukan. Terapinya diberikan antibiotika
dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob dan harus diberikan secara
parenteral. Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal atau eksplorasi
dalam narcosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang
paling berfluktuasi atau setinggi os hyoid tergantung letak dan luas abses.2
Abses
Parafaring
Ruang
parafaring dapat mengalami infeksi dengan cara langsung, yaitu tusukan jarum
pada saat melakukan tonsilektomi dengan analgesia. Peradangan terjadi
dikarenakan ujung jarum suntik yang telah terkontaminasi kuman menembus lapisan
otot yang memisahkan ruang parafaring dengan fosa tonsilaris. Peradangan ini
dapat juga terjadi karena supurasi dari kelenjar limfa leher bagian dalam,
gigi, tonsil, faring, hidung, sinus paranasal, mastoid, dan vertebra servikal
dapat merupakan sumber infeksi untuk terjadinya abses ruang parafaring. Bisa
juga terjadi karena penjalaran infeksi dari ruang peritonsil, retrofaring, atau
submandibula.
Abses
ini memiliki gejala yang utama adalah trismus, indurasi atau pembengkakan di
sekitar angulus mandibula, demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral
faring, sehingga menonjol ke arah medial. Terapi dari abses ini diberi
antibiotika dosis tinggi secara parenteral terhadap kuman aerob dan anaerob.
Evakuasi abses harus segera dilakukan dalam waktu 24-48 jam bila tidak ada
perbaikan dari pemberian antibiotik tersebut dengan cara eksplorasi dalam
narkosis.2
Abses
Retrofaring
Abses
ini paling sering ditemukan pada anak berusia di bawah 5 tahun. Hal ini dapat
terjadi karena pada usia tersebut ruang retrofaring masih berisi kelenjar
limfa, masing-masing 2-5 buah pada sisi kanan dan kiri. Kelenjar ini menampung
aliran limfa dari hidung, sinus paranasal, nasofaring, faring, tuba eustachius,
dan telinga tengah. Pada usia di atas 6 tahun kelenjar limfa ini akan mengalami
atrofi. Pada orang dewasa abses retrofaring sering terjadi akibat adanya trauma
tumpul pada mukosa faring, perluasan abses dari struktur yang berdekatan.
Penyebab
terjadinya abses retrofaring adalah infeksi saluran nafas atas yang dapat
menyebabkan limfa adenitis retrofaring, trauma dinding belakang faring oleh
benda asing seperti tulang ikan atau tindakan medis (adenoidektomi, intubasi
endotrakea dan endoskopi, tuberkulosis vertebra servikalis juga dapat
menyebabkan abses ini. Gejala dan tandanya adalah nyeri, sukar menelan, pada
anak kecil nyeri tersebut membuat anak itu menangis, tidak mau makan atau
minum. Dapat juga terjadi demam, leher kaku dan nyeri. Dapat timbul sumbatan
jalan nafas yang menyebabkan sesak nafas, terutama di bagian hipofaring. Bila
proses peradangan berlanjut maka dapat mengenai laring dan dapat timbul
stridor. Sumbatan abses ini juga dapat mengganggu resonansi suara sehingga
dapat terjadi perubahan suara. Terapi pada kasus ini adalah medikamentosa dan
tindakan bedah. Medikamentosa berupa antibiotika dosis tinggi untuk kuman aerob
dan anaerob diberikan secara parenteral. Selain itu diberikan pungsi dan insisi
abses melalui laringoskopi langsung dalam posisi pasien baring trendelnburg.
Pus yang keluar segera dihisap agar tidak terjadi aspirasi. Tindakan bedah ini
dapat dilakukan dengan analgesia lokal atau anastesia umum.6
Penutup
Abses
peritonsil terjadi sebagai komplikasi dari tonsillitis akut atau infeksi yang
bersumber dari kelenjar mukus weber di kutub atas tonsil. Jika abses berlanjut
maka akan menyebar ke daerah sekitarnya. Untuk itu harus cepat diberikan terapi dan dilakukan drainase
abses. Kesembuhan pasien ditentukan dari lamanya penanganan akan penyakit ini. Diagnosisdini sangat penting
mengingat dapat terjadi beberapa komplikasi yang mengancam jiwa. Beratnya
komplikasi tergantung dari kecepatan progresi penyakit. Untuk itulah diperlukan
penanganan dan intervensi sejak dini.
Daftar Pustaka
1. Swartz
MH. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Cetakan ke-1. Jakarta: EGC; 1995.h.3-5,49-51.
2. Restuti
RD, Bashiruddin J, Iskandar N, Soepardi EA.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher .
Edisi ke-6. Cetakan ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009.h.4-5, 226-9.
3.
Kartosoediro
S, Rusmarjono. Abses Leher Dalam. Edisi VI. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.
4. Boies,
Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 1997.h.333-4.
5. Pulungan,
M. Rusli. Pola Kuman Abses Leher Dalam. Diunduh dari
http://www.scribd.com/doc/48074146/POLA-KUMAN-ABSES-LEHER-DALAM-Revisi pada
tanggal 22 Juni 2016.
6. Abshirini
H, Alavi SM, Rekabi H, Ghazipur A, Shabab M. Predisposing factors for the
complications of deep neck infection.
The Iranian J of otorhinolaryngol
2010;22 (60): 139-45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar