SKIZOFRENIA PARANOID
STATUS UJIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU
KESEHATAN JIWA
Oleh:
Agung Ganjar Kurniawan
KEPANITERAAN
KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT
JIWA DR. SOEHARTO HEERDJAN JAKARTA
FAKULTAS
KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA JAKARTA
PERIODE 11 JULI
– 13 AGUSTUS 2016
STATUS UJIAN
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
Nama : Agung Ganjar Kurniawan
NIM : 112015210
Universitas : Fakultas
Kedokteran UKRIDA
|
|
Dokter Penguji:
dr. Nova Riyanti
Yusuf, Sp.KJ
|
Tanda tangan
|
Dokter Penguji:
dr. Desmiarti,
Sp.KJ
|
Tanda tangan
|
I.
IDENTITAS
Nama :
Ny. RM
Tempat, tanggal lahir : Siantar,
09 Desember 1980
Umur : 35
tahun
Jenis
Kelamin : Perempuan
Alamat : Bekasi
Agama : Kristen
Bangsa/
Suku : Indonesia, Batak
Status
Pernikahan : Sudah menikah
Pendidikan
Terakhir : Kuliah
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Ruang perawatan : Melati
Tanggal
Masuk RSJSH : 31 Juli 2016
II.
Riwayat
Perawatan
Pasien
di rawat di RSJSH:
1.
Tahun 2011, rawat
inap selama 3 hari
2.
Tahun 2013, rawat
inap selama 3 hari
3.
Tahun 2014, rawat
inap selama 1 minggu
4.
Tahun 2015, rawat
inap selama 2 minggu.
5.
Tahun 2016, rawat
inap di ruang Melati RSJSH sejak 31 Juli 2016.
III.
RIWAYAT
PSIKIATRI
Autoanamnesis :
·
Tanggal 6 Agustus
2016, pukul 10.00, di Ruang Melati
·
Tanggal 7 Agustus 2016, pukul 09.30, di Ruang Melati
Alloanamnesis :
·
Tanggal 6 Agustus
2016, pukul 13.00, dilakukan pada Suami pasien.
A.
Keluhan
Utama
Pasien
pergi tanpa tujuan dan bicara kacau sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
B.
Riwayat
Gangguan Sekarang
Pasien datang diantar
oleh suaminya ke RSJSH dengan keluhan pergi tanpa tujuan dan bicara kacau sejak
3 hari SMRS. Ketika pasien diajak bicara oleh suaminya pasien bicara kacau dan pada
saat bicara pun perkataan yang keluar tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan
oleh suami pasien. Perubahan perilaku pada pasien ini sebenarnya sudah dirasakan oleh suami
sejak 7 hari SMRS. Pasien jadi lebih banyak diam, tidak berinteraksi dengan
orang-orang di rumah dan lebih sering diam di kamar sambil berdoa. Menurut
suami, pasien kesulitan tidur karena tidak tenang dan sepanjang malam hanya
berdoa saja.
Saat 3 hari SMRS,
pasien tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuan suami dan keluarga. Ketika ditanyakan
pasien merasa harus pergi ke surabaya untuk berdoa. Ketika di perjalanan menuju
bandara pasien merasa bahwa ada sesuatu yang akan terjadi, pasien melihat ada
truk hitam besar dan ada tulisan berwarna merah. Pasien menganggap bahwa akan
terjadi sesuatu dan itu bisa berbahaya. Pasien menganggap bahwa dirinya sudah
sepenuhnya diserahkan pada Tuhan dan akan pasrah saja bila ada sesuatu yang
terjadi karena itu memang sudah rencana Tuhan.
Pasien merasa bahwa
mendapat sebuah “hikmat” dari Tuhan bahwa orang-orang di dunia ini mempunyai
banyak masalah dan tidak semua orang mampu menerima dan berserah diri kepada
Tuhan. Saat ini pasien merasa terpuruk dengan keadaannya sekarang, menurut
pasien hidupnya menyedihkan karena dirawat di RSJ padahal pasien menganggap dirinya
tidak sakit. Pasien juga merasa dibenci oleh orang-orang dan ada orang yang
ingin menyakitinya tetapi pasien tidak tahu orangnya. Pasien berpendapat bahwa
ada orang-orang yang membicarakannya dan segala sesuatu yang pasien lihat ada
maksud tertentu untuk pasien. Ketika pasien melihat sebuah video klip di TV
disitu pasien merasa bahwa video itu ditujukan pada dirinya dan menghinanya.
Saat di RSJ pasien sesekali melihat bayangan suaminya yang datang untuk
menjenguknya lalu tiba-tiba hilang, pasien tidak bisa berkomunikasi dengan
bayangan itu dan pasien selalu menghiraukan bayangan itu. Bayangan tersebut hanya bisa dilihat oleh
pasien. Pasien mengaku tidak pernah mendengar adanya bisikan di telinganya yang
menyuruh atau mengomentarinya. Pasien sebenernya sudah tidak minum obat sejak
tahun 2015, karena pasien merasa dirinya sehat dan tidak sakit. Serta kurangnya
pengawasan keluarga yang menyebabkan pasien tidak minum obat dan pergi kontrol.
Pasien saat ini bekerja
di sebuah bank swasta, pasien tidak mengalami kesulitan dalam pekerjaannya baik
di kantor ataupun sehari-harinya. Pasien hanya mempunyai sedikit teman, menurut
suaminya hubungan dengan orang kantor sebenernya kurang baik karena merasa
curiga ada yg ingin berbuat jahat atau mengejeknya. Pasien juga jarang
berinteraksi dengan orang di sekitar rumah.
Pasien mengaku bahwa tidak pernah ada sakit yang hingga
menyebabkan dirinya dirawat di Rumah sakit ataupun trauma kepala sebelumnya.
Pasien juga mengaku tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang. Pasien
mengaku tidak pernah merasa depresi selama ini dan tidak pernah juga merasa
perasaan senang yang berlebihan sepanjang hari yang menyebabkan pasien tidak
butuh tidur.
C.
Riwayat
Gangguan Dahulu
1.
Riwayat
Gangguan Psikiatri
Pada tahun 2011, saat
pasien berusia 31 tahun. Pasien mulai menunjukkan perilaku yang aneh. Saat itu
pasien setiap harinya mengurung diri di kamar,
tampak berbicara sendiri, nampak kebingungan dan mondar-mandir tanpa
sebab yang jelas. Pasien merasa orang-orang itu benci terhadap dirinya. Pasien
dirawat selama 3 hari di RSJSH. Pasien dibawa pulang oleh keluarga karena
pasien ingin pulang dan berobat jalan, namun setelah di rumah pasien tidak
pernah kontrol dan konsumsi obat karena pasien merasa sehat. Setelah pulang
dari rumah sakit pasien kembali beraktifitas di kantornya dan pekerjaan
sehari-harinya tidak ada masalah. Pasien bisa merawat diri dengan baik.
Pada 2013 pasien
dirawat inap lagi di RSJSH selama 3 hari karena menurut suami pasien keluhannya
kembali kambuh. Pasien tampak seperti berbicara sendiri, pembicaraan tidak
nyambung, serta sering mengurung diri lagi. Pasien saat itu pulang di jemput
oleh suaminya karena permintaan pasien dan berjanji minum obat, namun sesampainya
di rumah karena merasa sudah sehat pasien hanya minum obat selama 2 minggu
setelah pulang dari rumah sakit. Pasien kembali bekerja di kantornya, hubungan
dengan rekan kerjanya berjalan baik dan tidak ada masalah.
Kemudian pada tahun
2014 adalah ketiga kalinya pasien di rawat inap di RSJSH dengan keluhan yang
tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Pasien dirawat di RSJSH selama 1 minggu dan
pulang dijemput oleh suaminya karena permintaan pasien dan merasa harus bekerja.
Pasien juga tidak pernah meminum obatnya selama dirumah dan kontrol karena
pasien merasa dirinya tidak sakit. Setelah pulang dari RSJ pasien kembali
bekerja di kantornya dan melakukan aktifitas sehari-harinya dengan baik.
Pada tahun 2015 adalah
keempat kalinya pasien dirawat inap di RSJSH dengan keluhan pasien ngamuk, marah-marah
dan bicara kacau. Pasien dirawat selama 2 minggu dan pulang dijemput oleh
suaminya. Pasien diresepkan obat risperidon dan tryhexyphenidil. Namun pasien
tidak pernah meminum obatnya sejak 2 minggu setelah dari rumah sakit karena
merasa sudah sehat dan tidak mau kontrol. Pasien kembali bekerja di kantornya
dan melakukan aktifitas sehari-hari dengan baik. Pasien mengaku hubungannya
dengan orang-orang dikantor tidak ada masalah, tetapi pasien hanya mempunyai
sedikit teman.
Pada tahun 2016 ini
pasien dirawat ke lima kalinya di RSJSH. Pasien dirawat sejak tanggal 31 Juli
2016.
2.
Riwayat
Gangguan Medik
Pasien tidak pernah mengalami
sakit yang serius sejak kecil, pasien tidak pernah di rawat di rumah sakit
karena penyakit yang serius dan pasien tidak ada riwayat trauma kepala parah.
Pasien tidak ada riwayat kejang, diabetes ataupun hipertensi.
3.
Riwayat
Penggunaan Zat Psikoaktif
Pasien pernah merokok sekitar
2 tahun yang lalu kira-kira selama 6 bulan namun tidak setiap hari dan pasien tidak
pernah meminum alkohol ataupun mengkonsumsi obat - obat terlarang seperti NAPZA
sampai saat ini.
Riwayat
Gangguan Sebelumnya
|
Progresivitas Penyakit
|
|
Masuk RS
|
|
Masuk RS
|
|
Masuk RS
|
|
Masuk RS
|
|
Masuk RS
|
|
Waktu Terjadinya
|
|
·
Tahun 2011:
Pasien
mengurung diri di kamar, nampak kebingungan dan mondar-mandir
tanpa sebab yang jelas dan sulit
tidur. Pasien merasa
orang-orang itu benci terhadap dirinya dan ingin menyakiti karena pasien diberikan “hikmat” dan kekuatan oleh
Tuhan. Pasien dirawat selama 3 hari dan pulang dibawa keluarga karena
permintaan pasien. Setelah dirumah pasien tidak mau minum obat lagi. Pasien
bekerja dan melakukan aktifitas sehari-harinya.
·
Tahun 2012
:
Pasien dapat
melakukan pekerjaannya sebagai karyawan. Tidak ada masalah baik di
lingungan kerja ataupun dengan orang-orang sekitar pasien. Pasien tidak
konsumsi obat dan tidak pernah kontrol lagi.
·
Tahun 2013:
Keluhan pasien
tampak bicara ngelantur, ga nyambung, susah tidur. Pasien dirawat di RSJ
selama 3 hari dan pulang dibawa keluarga. Setelah dirumah pasien tidak mau
minum obat dan tidak kontrol lagi. Pasien dapat melakukan pekerjaannya
sebagai karyawan dan aktifitas sehari-harinya.
|
|
·
Tahun 2014:
Pasien kembali
dengan gejala bicara ngelantur, tampak bicara sendiri, sulit tidur dan
pergi tanpa tujuan yang jelas. Pasien dirawat di RSJ selama 7 hari dan
pulang dibawa keluarga. Setelah dirumah pasien tidak mau minum obat dan
tidak kontrol lagi. Pasien dapat bekerja dan melakukan aktifitas
sehari-hari
·
Tahun
2015:
Pasien ngamuk,
marah-marah, bicara kacau, sulit tidur, tampak kebingungan. Pasien dirawat
selama 2 minggu dan pulang di jemput suaminya karena permintaan pasien.
Pasien mendapat obat risperidon dan trihexyphenidil. Pasien tidak pernah
minum obat dan kontrol lagi.
·
Tahun 2016
Pasien bicara
kacau, sulit diajak bicara, jalan-jalan sendiri tampak kebingungan. Pasien
merasaorang-orang dan segala sesuatu yang disekitarnya ada maksud tertentu
terhadap dirinya. Pasien merasa diberikan “hikmat” yang menunjukkan bahwa
dunia ini mempunyai banyak masalah dan tidak
semua orang mampu menerima dan berserah diri kepada Tuhan. Pasien dirawat di RSJ sejak 31 Juli 2016 sampai
saat ini.
|
D.
Riwayat
Kehidupan Pribadi
1.
Riwayat
Prenatal dan Perinatal
Selama kehamilan, ibu pasien tidak
pernah mengalami gangguan kesehatan. Pasien merupakan anak yang diinginkan, dan
merupakan anak ke
tiga dari tiga bersaudara. Pasien lahir spontan, cukup bulan dan ditolong
oleh bidan di rumah sakit. Tidak ada komplikasi persalinan, trauma lahir dan
cacat bawaan.
2.
Riwayat
Perkembangan Keperibadian
a.
Masa
Kanak Awal (0-3 tahun)
Pasien tergolong anak yang sehat,
dengan proses tumbuh kembang dan tingkah
laku sesuai anak seusianya. Pasien tidak
pernah sakit yang serius ataupun sakit berat,
dan tidak pernah mengalami kejang atau
trauma kepala serius saat
kecil.
b.
Masa
Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pasien tumbuh
dan berkembang dengan baik seperti anak-anak lain sebayanya. Pasien menunjukkan penilaian akademis yang cukup. Pasien adalah pribadi yang
pendiam dan sedikit sulit bergaul dengan temannya.
c. Masa Kanak Akhir
(Pubertas dan Remaja)
Pasien kurang bersosialisi dengan baik dan memiliki sedikit teman.
Pasien juga tertutup dan lebih sering melakukan kegiatan sendirian. Semasa
sekolah pasien merupakan siswa yang sering di ejek oleh teman-temannya hal itu
juga yang membuat pasien merasa tidak mampu bergaul dengan orang-orang. Pasien
merupakan orang yang mudah tersinggung, mudah curiga dan tidak menyukai
keramaian.
d. Masa Dewasa
Setelah pasien menyelesaikan kuliahnya, kegiatan pasien saat ini bekerja
di sebuah bank. Di tempat kerja pasien hanya mempunyai sedikit teman dan
hubungan pasien dengan orang-orang sekitar tidak ada masalah.
3.
Riwayat
Pendidikan
Pasien
menjalani pendidikan hingga tamat kuliah. Saat menempuh pendidikan pasien
pernah tidak naik kelas saat SMP kelas 1 ke kelas 2, hal itu disebabkan karena
pasien yang tidak mau sekolah dan membolos. Di sekolah pasien dapat mengikuti
pelajaran dengan baik, mendapatkan nilai yang cukup. Pasien tidak pernah ada
gangguan belajar selama sekolah.
4.
Riwayat
Pekerjaan
Sejak
tahun 2010 hingga saat ini pasien bekerja di sebuah bank swasta di bagian
marketing. Pasien pernah bekerja di bank swasta lain sebelumnya namun akhirnya
keluar dan pindah ke tempat kerjanya saat ini. Dalam kerjaan saat ini pasien
tidak ada kesulitan.
5.
Kehidupan
Beragama
Pasien beragama Kristen. Pasien rajin ke gereja setiap minggu.
Pasien beribadah karena merupakan suatu kewajiban untuk beribadah kepada Tuhan.
6.
Kehidupan
Perkawinan/ Psikoseksual
Pasien sudah menikah pada tahun 2009 sampai sekarang dengan
suaminya saat ini. Pasien belum dikaruniai seorang anak sampai saat ini.
Menurut pasien kehidupan pernikahannya kurang harmonis karena pasien merasa
bahwa dirinya bukan seperti yang diinginkan oleh suaminya dan suaminya itu
tidak menafkahinya dari segi ekonomi karena pasien mengatakan bahwa suaminya
itu tidak bekerja cukup lama. Pasien sempat berpikir untuk bercerai namun hal
itu tidak dilakukannya karena menurutnya perceraian adalah sesuatu yang buruk
dan pasien merasa membutuhkan pendamping. Hubungan pasien dengan suaminya
berjalan dengan baik, komunikasi sehari-hari tidak ada masalah. Pasien tidak
pernah berhubungan seksual dengan siapapun sebelum menikah dengan suaminya yang
sekarang.
7.
Riwayat
Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah melakukan
pelanggaran hukum yang berat, tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum,
dan tidak pernah terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hokum sampai saat ini.
E.
Riwayat
Keluarga
Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Pasien hidup di
keluarga yang harmonis hubungan orangtua dengan anak baik. Semua kakak sudah
menikah. Menurut pengakuan suami pasien, di keluarga pasien tidak ada yang
mengalami hal serupa seperti pasien.
F.
Situasi
Kehidupan Sosial Ekonomi Sekarang
Pasien merupakan anak ke 3 dari 3 saudara. Saat ini pasien tinggal
satu rumah dengan suami dan mertuanya, kakaknya yang pertama dan suaminya
tinggal di kalimantan dan kakaknya yang kedua tinggal di bekasi bersama
istrinya. Pasien tinggal dirumah mertuanya dari awal mereka menikah. Hubungan
pasien dengan suami dan mertuanya berjalan baik. Pasien jarang berkomunikasi dengan
mertuanya. Untuk kebutuhan sehari-hari pasien mendapatkan pesangon dari
kerjaannya saat ini dan pasien merasa tidak ada kesulitan dalam ekonomi, menurut
pengakuan pasien suaminya sampai saat ini tidak bekerja.
G.
Persepsi
Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien
merasa dirinya tidak sakit, pasien menganggap bahwa pengobatan yang dilakukan
pada dirinya itu salah karena pasien merasa sehat dan tidak ada masalah dengan
dirinya. Pasien menganggap pengobatannya yang tidak sesuai akan merusak
tubuhnya. Oleh karena itu pasien tidak mau minum obatnya. Pasien saat ini
merasa terpuruk dan menyedihkan dengan keadaannya seperti saat ini dan
orang-orang membencinya dengan keadaan pasien saat ini.
III. STATUS MENTAL (Tanggal 06 Agustus 2016,
pukul 10.00 WIB)
A.
Deskripsi
Umum
1.
Penampilan
Umum
Pasien
seorang perempuan, berusia 35 tahun, berpenampilan fisik sesuai usianya, berambut
hitam panjang. Pada saat wawancara pasien mengenakan baju seragam RSJSH,
terlihat bersih, rapih dan terawat. Pasien menunjukkan
sikap ramah, sopan, dan kooperatif. Pasien duduk tenang di
hadapan pewawancara. Kontak mata pasien baik kepada pewawancara.
2.
Kesadaran
Compos
mentis, tidak tampak kebingungan ataupun terganggu saat dilakukan wawancara.
3.
Perilaku
dan Aktivitas Motorik
Sebelum Wawancara : Pasien sedang duduk sendirian di kamarnya.
Selama Wawancara : Pasien duduk dengan tenang di depan
pemeriksa, Perhatian pasien terhadap
semua pertanyaan cukup baik. Pasien dapat menjawab pertanyaan namun masih
sedikit kurang sesuai.
Sesudah Wawancara : Pasien kembali ke ke kamar dan hanya duduk sendirian di kamar.
4.
Sikap
Terhadap Pemeriksa
Kooperatif
saat di lakukan wawancara
5.
Pembicaraan
Spontan,
lancar, artikulasi jelas, nada suara cukup, dan dapat menjawab pertanyaan yang
diajukan dengan kuantitas, kualitas, dan intonasi yang cukup.
B.
Alam
Perasaan (Emosi)
1.
Suasana Perasaan (mood) : Hipotim (pasien tampak murung, tidak bersemangat dan
tidak senang)
2.
Afek / Ekspresi Afektif : Terbatas
(pasien menunjukkan ekspresi yang tampak
sedih, tidak tersenyum dan datar selama wawancara)
3.
Keserasian : Serasi
C.
Gangguan
Persepsi
a) Halusinasi : (+) Visual (pasien melihat bayangan suaminya saat
dibangsal yang datang untuk menjenguknya namun tiba-tiba hilang, pasien tidak
merasa terganggu dan dibiarkan saja)
b) Ilusi : Tidak ada
c) Depersonalisasi :
Tidak ada
d) Derealisasi : Tidak ada
D.
FUNGSI INTELEKTUAL
1.
|
Taraf Pendidikan
|
Sesuai
dengan tingkat pendidikan.
|
2.
|
Pengetahuan Umum
|
Baik (Pasien
mengetahui presiden Indonesia saat ini adalah Joko Widodo dan Gubernur DKI Pak Ahok)
|
3.
|
Kecerdasan
|
Rata-rata
|
4.
|
Konsentrasi dan Perhatian
|
Baik
(Pasien dapat menjawab pengurangan 100 dikurangi 7 dan seterusnya, pasien
dapat membaca BUMI secara terbalik walaupun salah, lalu di ulang dan benar)
|
5.
|
Orientasi
-
Waktu
|
Baik (Pasien
dapat membedakan pagi , siang, dan malam).
|
-
Tempat
|
Baik (Pasien
mengetahui ia berada di RSJSH).
|
|
-
Orang
|
Baik (Pasien
mengetahui sedang diwawancara oleh dokter muda).
|
|
-
Situasi
|
Baik (Pasien
mengetahui situasi sekitar, saat wawancara berlangsung).
|
|
6.
|
Daya
Ingat
-
Jangka Panjang
|
Baik (Pasien
ingat waktu ditanya SD, SMP, SMA dan kuliah pasien dimana)
|
-
Jangka Pendek
|
Baik (Pasien ingat menu makan tadi pagi).
|
|
-
Segera
|
Baik (Pasien
dapat mengingat dokter muda yang mewawancarainya).
|
|
7.
|
Pikiran
Abstrak
|
Baik (Dapat
menyebutkan persamaan dan perbedaan apel dengan jeruk, anak kecil dan orang
kerdil)
|
8.
|
Visuospasial
|
Baik (dapat
menggambar jam beserta angkanya dan dapat menggambar segi 5 bersinggungan)
|
9.
|
Kemampuan
Menolong Diri
|
Baik (pasien
makan, mandi, dan berpakaian sendiri).
|
E.
Proses
Pikir
1. Arus
Pikir
a. Produktifitas : Cukup
ide (pasien dapat bercerita banyak
tentang dirinya, masa lalunya dan apa yang dia rasakan saat ini)
b. Kontinuitas : Koheren (ide-ide
yang diutarakan sesuai dengan apa yang ditanyakan)
c. Hendaya
Berbahasa : Tidak ada
2. Isi
Pikir
a. Waham : + Rujukan (pasien
merasa orang-orang membencinya dan ada yang ingin menyakitinya)
b. Preokupasi
: Tidak ada
c. Obsesi : Tidak
ada
d. Fobia : Tidak
ada
F.
Pengendalian
Impuls : Baik (saat pemeriksaan duduk tenang)
G.
Daya
Nilai
·
Daya Nilai Sosial
Baik (pasien tahu bahwa kekerasan itu tidak baik)
·
Uji Daya Nilai
Baik (pasien tahu bila menemukan dompet dijalan dan ada kartu
identitasnya, pasien akan mengantarkan ke alamat yang tertera )
·
Daya Nilai Realita
Terganggu (adanya halusinasi visual)
H.
Tilikan
Derajat 1 (Pasien tidak mengakui dirinya sakit, pasien merasa tidak
perlu minum obat dan pasien tidak memahami mengapa dirinya berada di RSJ).
I.
Reliabilitas
Taraf
dapat dipercaya
IV. PEMERIKSAAN FISIK
(Pemeriksaan
dilakukan pada 06 Agustus 2016, pukul 10.30 WIB)
A.
Status
Internus
Keadaan Umum : Baik, tampak tidak sakit
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/ menit
Suhu :
36,5oC
Pernafasan : 18x/ menit
Kulit
: Sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik,
kelembaban normal,.efloresensi primer/sekunder
(-)
Kepala :
Normocephali, rambut pendek berwarna hitam
Mata : Pupil bulat isokor, refleks
cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, oedem -/-.
Hidung
: Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-), sekret -/-.
Telinga
: Normotia, membran
timpani intak +/+, nyeri tarik -/-.
Mulut : Bibir merah kecoklatan,
agak kering, sianosis (-), sariawan (-), trismus (-) ..halitosis (-), candidiasis (-).
Lidah : Normoglossia, warna
merah muda, lidah kotor (-), tremor (-),
deviasi (-)
Gigi geligi : Baik
Uvula :
Letak di tengah, hiperemis (-)
Tonsil :
T1/T1, tidak hiperemis
Tenggorokan : Faring tidak
hiperemis
Leher : KGB supra klavikular tidak
teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba .membesar, trakea
letak normal.
Thorax
·
Paru
Inspeksi
Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis maupun dinamis,
efloresensi primer/sekunder dinding dada (-),
pulsasi abnormal (-), gerak napas simetris, irama teratur, retraksi
suprasternal (-)
Palpasi : Gerak napas simetris, fremitus vocal simetris
Perkusi :
Sonor di semua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-
·
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Tidak dilakukan
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : S1 normal,S2 normal, reguler, murmur
(-), gallop (-)
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, CRT < 2 detik,
sianosis (-), edema (-)
Bawah : Akral hangat, sianosis (-), edema
(-), deformitas (-).
Genitalia :
Tidak diperiksa
B. Status Neurologis
1.
Saraf kranial (I-XII) :
Baik
2.
Tanda rangsang meningeal :
Tidak ada
3.
Refleks fisiologis :
(+) normal
4.
Refleks patologis :
Tidak ada
5.
Motorik :
Baik
6.
Sensorik :
Baik
7.
Fungsi luhur :
Baik
8.
Gangguan khusus : Tidak ada
9.
Gejala EPS :
Akatisia (-), bradikinesia (-), rigiditas (-), tonus otot.(N), resting tremor (-), distonia (-).
V.
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien Ny. RM, usia 35 th, datang diantar oleh suaminya
dengan keluhan bicara kacau dan pergi tanpa tujuan 3 hari SMRS. Pasien tidak
mau bicara, pada saat bicara pun perkataan yang keluar tidak nyambung. Pasien
lebih banyak diam, tidak berinteraksi dengan orang-orang di rumah dan lebih
sering diam di kamar sambil berdoa. Pasien kesulitan tidur karena tidak tenang
dan sepanjang malam hanya berdoa. Pasien tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuan
suami dan keluarga. Ketika di perjalanan menuju bandara pasien merasa bahwa ada
sesuatu yang akan terjadi, ketika dijalan pasien melihat ada truk hitam besar
dan ada tulisan berwarna merah. Pasien menganggap bahwa akan terjadi sesuatu
dan itu bisa berbahaya. Pasien merasa bahwa mendapat sebuah “hikmat” dari Tuhan
bahwa orang-orang di dunia ini mempunyai banyak masalah dan tidak semua orang
mampu menerima dan berserah diri kepada Tuhan. Pasien merasa terpuruk dengan
keadaannya saat ini. Pasien juga merasa dibenci oleh orang-orang dan ada orang
yang ingin menyakitinya tetapi pasien tidak tau orangnya. Pasien berpendapat
bahwa ada orang-orang yang membicarakannya dan segala sesuatu yang pasien lihat
ada maksud tertentu untuk pasien. Ketika pasien melihat sebuah video klip di TV
disitu pasien merasa bahwa video itu ditujukan pada dirinya dan menghinanya.
Pasien sesekali melihat bayangan suaminya yang datang untuk menjenguknya namun
pasien tidak bisa berkomunikasi dengan bayangan itu dan pasien selalu
menghiraukan bayangan-bayangan itu. Pasien hanya mempunyai sedikit teman, itu
karena sifat pasien yang mudah curiga terhadap orang-orang. Sebelumnya pasien
pernah diberikan obat risperidone dan tryhexiphenydil namun tidak mau diminum
dan tidak mau kontrol karena menurutnya dirinya tidak sakit dan kurangnya
pengawasan keluarga terhadap pengobatan pasien. Pasien sehari-hari bekerja
sebagai karyawan di sebuah bank swasta sampai saat ini dan pasien dapat
menjalankan aktifitas sehari-harinya dengan baik dan dapat merawat diri dengan
baik.
Dari pemeriksaan psikiatrik ditemukan, mood
hipotim dengan afek terbatas, produktivitas cukup ide, kontinuitas koheren, dan
didapatkan halusinasi visual serta adanya kesan waham rujukan. Dari pemeriksaan
fisik dan neurologis menunjukkan dalam batas normal.
VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
v Aksis I: Gangguan Klinis dan
Kondisi Klinis yang Menjadi Fokus Perhatian Khusus
Berdasarkan
ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat digolongkan kedalam:
1.
Gangguan kejiwaan karena adanya :
·
Ganguan
fungsi / hendaya dan disabilitas: Ganguan dalam fungsi sosial seperti gangguan hubungan intrapersonal.
·
Distress
/ penderitaan: berbicara kacau dan sulit tidur.
2.
Gangguan
jiwa ini sebagai GMNO, karena:
·
Tidak ada
gangguan kesadaran neurologik
·
Tidak ada gangguan kognitif
(orientasi dan memori)
·
Tidak ada gangguan akibat
penyalahgunaan obat atau riwayat konsumsi NAPZA.
3.
Gangguan
psikotik, karena adanya hendaya dalam menilai realita yang dibuktikan dengan
adanya
- Waham : Kesan rujukan
- Halusinasi : Visual
- Perilaku
terdisorganisasi : Berbicara
kacau
Menurut
PPDGJ III, gangguan psikosis ini adalah skizofrenia.
4.
Skizofrenia
ini termasuk tipe paranoid karena :
-
Memenuhi
kriteria umum skizofrenia
-
Terdapat kesan waham rujukan
-
Terdapat
halusinasi visual yang
menonjol
-
Terdapat gangguan afektif yang tidak
menonjol
v Aksis II: Ciri Kepribadian Paranoid
Pasien
sebelum sakit :
·
Mudah curiga
·
Kurang teman dekat
·
Merasa ada ancaman
orang lain
v Aksis III: Kondisi Medis Umum
Tidak ditemukan
v Aksis IV: Problem
Psikososisal dan Lingkungan
-
Masalah dengan “primary
support group” (keluarga): kurangnya pengawasan dan support dari keluarga untuk
meminum obat karena pasien merasa dirinya sudah sehat dan tidak perlu minum
obat.
-
Masalah psikososial :
orang-orang di sekitar yang menganggap mereka membicarakan, membenci dan
mempunyai maksud tertentu terhadap pasien sehingga membuat pasien jarang
berinteraksi dan hanya mempunyai sedikit teman.
v Aksis V: Penilaian Fungsi
Secara Global
GAF current : 60-51 (Gejala sedang (moderate),
disabilitas sedang).
GAF HLPY : 80-71 (Gejala sementara dan dapat
diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah)
VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
v
Aksis I : F20.0 Skizofrenia paranoid (pasien
merasa ada orang yang ingin menyakitinya, membicarakannya dan merasa dibenci)
v
Aksis II : Ciri
kepribadian paranoid (pasien mudah curiga
terhadap orang lain dan merasa ada ancaman)
v
Aksis III : Tidak
ditemukan
v
Aksis IV : Masalah dengan kurangnya pengawasan minum obat dan support dari
keluarga mengenai penyakitnya, serta masalah interaksi sosial dengan
orang-orang di sekitar karena pasien merasa dibenci dan dibicarakan)
v
Aksis V : GAF current : 60-51
GAF
HLPY : 80-71
VIII. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : Tidak ada
B. Psikologik : Bicara kacau dan tidak
nyambung
C. Sosiobudaya : Merasa ada orang-orang membicarakan dan mempunyai maksud
tertentu terhadap dirinya.
IX. PROGNOSIS
Faktor-faktor
yang mempengaruhi
a. Faktor
Yang Memperingan:
Ø Sudah menikah
Ø Premorbid baik
b. Faktor
Yang Memperberat:
Ø Awitan usia 31 tahun
Ø Pengawasan keluarga kurang
Ø Tilikan pasien buruk
Ø Riwayat perawatan yang ke 5x di RSJ
Ø Simptom negatif (apatis, emosi tumpul, menarik diri)
Quo ad vitam : Dubia ad bonam (tidak ada gangguan organic))
Quo ad functionam : Dubia (tanpa minum obat pasien masih tetap dapat bekerja, namun bila tidak
meminum obat penyakitnya tidak terkontrol)
Quo ad sanationam :
Dubia ad malam (saat ini kepatuhan minum
obat buruk, tidak merasa sakit dan tidak butuh minum obat)
X. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
·
Risperidone 2 x 2mg tab
Antipsikotik golongan atipikal
yang efektif terhadap gejala positif dan negatif.
·
Lorazepam 1 x 1mg tab
(saat malam hari)
Obat golongan
benzodiazepin short acting yang digunakan untuk menangani kesulitan tidurnya.
2. Non
Medikamentosa
1.
Psikoterapi
·
Psikoterapi
suportif dengan dukungan keluarga
·
Memberikan pemahaman tentang penyakitnya, gejalanya serta pengobatan yang
harus dilakukannya.
·
Memotivasi
pasien untuk
tetap rajin minum obat
secara teratur dan memberikan dukungan kepada pasien dan menjelaskan kepada pasien apa yang akan terjadi
jika obat tidak diminum.
·
Memotivasi
keluarga untuk terus
berperan dalam
pengawasan pasien, memberikan pengertian bahwa dukungan keluarga terhadap
pasien akan membantu kesembuhan pasien secara optimal.
·
Memotivasi
pasien untuk lebih mau terbuka dengan keluarga tentang masalah-masalah yang
sedang dihadapi.
2.
Sosioterapi
·
Melibatkan
pasien dalam kegiatan di RSJSH seperti kegiatan terapi kelompok.
·
Memberikan
pengertian kepada keluarga pasien agar dapat memahami keadaan pasien sekarang
ini dengan memberikan dukungan.
·
Menganjurkan pasien untuk mau bersosialisasi dan berinteraksi dengan
orang-orang yang ada di lingkungan pasien RSJSH.
3.
Edukasi
Edukasi
keluarga pasien tentang penyakit pasien, rencana tatalaksana dan lamanya
pengobatan, dan pentingnya pengawasan minum obat. Berikan dukungan keluarga
agar pasien mau berinteraksi dan menjali hubungan baik dengan orang-orang
sekitar pasien.
|
Follow UP
Anamnesis
07 – 08 – 2016, Pukul 09.30
S :
Perasaan pasien
biasa saja tidak senang dan tidak sedih dan hanya berserah pada Tuhan.
Pasien tidak melihat bayangan suaminya. Sulit tidur tidak ada. Pasien
merasa sehat dan ingin pulang.
O :
Pasien tampak
murung dan tidak bersemangat, kooperatif selama wawancara, pasien dapat
menjawab semua pertanyaan sesuai apa yang ditanyakan.
Mood hipotim, Afek
terbatas, Waham (+), Halusinasi (-), Gangguan tidur (-).
Tilikan : Derajat 1
PF dalam batas
normal
A : Skizofrenia
Paranoid
P : Risperidon 2 x 2 mg PO
Lorazepam 1 x 1 mg PO (saat
malam hari)
Observasi efek samping
antipsikosis
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar