F2 Skizofrenia
Agung
Ganjar Kurniawan
A. Skizofrenia
a.Definisi
Skizofrenia
1.
Skizofrenia adalah suatu bentuk
psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni
(keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi, kamauan dan psikomotor
disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi; asoisasi
terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi perilaku bizar.
2.
Skizofrenia merupakan bentuk psikosa
yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat
diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia
precox (demensia artinya kemunduran intelegensi dan precox
artinya muda/sebelum waktunya).
b. Etiologi
Skizofrenia
Terdapat beberapa teori yang
dikemukakan para ahli yang menyebabkan terjadinya skizofrenia. Teori teori
tersebut antara lain:
1. Endokrin.Teori
ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu
pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium, tetapi teori
ini tidak dapat dibuktikan.
2. Metabolisme.Teori
ini mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan karena gangguan metabolisme
karena penderita tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis,
nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan
stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian
dengan pemberian obat halusinogenik seperti meskalin dan asam lisergik
diethylamide (LSD-25). Obat-obat tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala yang
mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi reversible.
3. Teori Adolf
Meyer.Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang
tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas
pada susunan saraf tetapi Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang inferior
atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer
Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga
timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan
diri dari kenyataan (otisme).
4. Teori
Sigmund Freud.Teori Sigmund freud juga termasuk teori psikogenik. Menurut
freud, skizofrenia terdapat:
a. Kelemahan
ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatic
b. Superego
dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi
suatu regresi ke fase narsisisme
c. Kehilangaan
kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak
mungkin
d. Eugen
Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini
yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses
berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2
kelompok yaitu gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan
kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik
atau gangguan psikomotorik yang lain).
Teori
tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut adalah sebagai berikut:
1. Genetik.
Teori ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga
penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur sehingga dapat
dipastikan factor genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Angka
kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi
anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2
telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 2009). Pengaruh genetik
ini tidak sederhana seperti hokum Mendel, tetapi yang diturunkan adalah potensi
untuk skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri
2. Neurokimia.
Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan overaktivitas pada
jaras dopamine mesolimbik. Hal ini didukung dengan temuan bahwa amfetamin yang
kerjanya meningkatkan pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis yang mirip
skizofrenia dan obat anti psikotik bekerja dengan mengeblok reseptor dopamine,
terutama reseptor D2.
3. Hipotesis
Perkembangan Saraf. Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan
abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia antara lain
berupa berat orak rata-rata lebih kecil 6% dari normal dan ukuran
anterior-anterior yang 4% lebih pendek, pembesaran ventrikel otak yang
nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah frontal dan temporal serta kelainan
susunan seluler pada struktur saraf di beberapa korteks dan subkortek. Studi
neuropsikologis mengungkapkan deficit di bidang atensi, pemilihan konseptual,
fungsi eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia.
c. Pembagian
Skizofrenia
Kraepelin
membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :
- Skizofrenia Simplek
Sering
timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi
dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan
halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.
- Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya
perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antaraa
15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan
kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan
psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering
terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali.
- Skizofrenia Katatonia
Timbulnya
pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh
stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor
katatonik.
- Skizofrenia Paranoid
Gejala yang
menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan
halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses
berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
- Episode Skizofrenia akut
Gejala
Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia
luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti
yang khusus baginya.
- Skizofrenia Residual
Keadaan
Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya
gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan
Skizofrenia.
- Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping
gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal
depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung
untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.
d. Manifestasi
Klinik Skizofrenia
1.
Gejala Primer
Gangguan
proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol adalah
gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi
Gangguan afek emosi
1) Terjadi
kedangkalan afek-emosi
2) Paramimi dan
paratimi (incongruity of affect / inadekuat)
3) Emosi dan afek
serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
4) Emosi
berlebihan
5) Hilangnya
kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik
Gangguan kemauan
1) Terjadi
kelemahan kemauan
2) Perilaku
negativisme atas permintaan
3) Otomatisme :
merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
Gejala psikomotor
1) Stupor atau
hiperkinesia, logorea dan neologisme
2) Stereotipi
3) Katelepsi :
mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
4) Echolalia dan
echopraxia
2.
Gejala Sekunder
Waham dan Halusinasi
Istilah ini
menggambarkan persepsi sensori yang salah yang mungkin meliputi salah satu dari
kelima pancaindra. halusinasi pendengaran dan penglihatan yang paling umum
terjadi, halusinasi penciuman, perabaan, dan pengecapan juga dapat terjadi
e. Penatalaksanaan
Skizofrenia
- Terapi Somatik (Medikamentosa)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia
disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan
perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat
mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi
obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama
diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang
efekitif untuk mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang
dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical
antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)
a)
Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya
disebut antipsikotik konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik
konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat
antipsikotik konvensional antara lain :
1.
Haldol (haloperidol)
2.
Mellaril (thioridazine)
3.
Navane (thiothixene)
4.
Prolixin (fluphenazine)
5.
Stelazine ( trifluoperazine)
6.
Thorazine ( chlorpromazine)
7.
Trilafon (perphenazine)
Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan
oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.
Ada 2
pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada
pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan
antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli
merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua,
bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol
dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam
tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot
formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsychotic.
b) Newer Atypcal Antipsycotic
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal
karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila
dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer
atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :
1.
Risperdal (risperidone)
2.
Seroquel (quetiapine)
3.
Zyprexa (olanzopine)
c) Clozaril
Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan
antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu ± 25-50% pasien
yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat
disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius
dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel
darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang
mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler.
Para ahli merekomendaskan penggunaan. Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat
antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.
Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran
No
|
Nama
Generik
|
Sediaan
|
Dosis
|
1
|
Klorpromazin
|
Tablet, 25
dan 100 mg,
|
150-600mg/hariInjeksi25mg/ml
|
2
|
Haloperidol
|
Tablet,
0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,
|
5-15
mg/hari Injeksi5mg/ml
|
3
|
Perfenazin
|
Tablet 2,
4, 8 mg
|
12 - 24
mg/hari
|
4
|
Flufenazin
|
Tablet 2,5
mg, 5 mg
|
10 - 15
mg/hari
|
5
|
Flufenazin
dekanoat
|
Inj 25
mg/ml
|
25 mg/2-4
minggu
|
6
|
Levomeprazin
|
Tablet 25
mg, Injeksi 25 mg/ml
|
25 - 50
mg/hari
|
7
|
Trifluperazin
|
Tablet 1
mg dan 5 mg
|
10 - 15
mg/hari
|
8
|
Tioridazin
|
Tablet 50
dan 100 mg
|
150 - 600
mg/hari
|
9
|
Sulpirid
|
Tablet 200
mg
|
300 - 600
mg/hari
|
10
|
Pimozid
|
Tablet 1
dan 4 mg
|
1 - 4
mg/hari
|
11
|
Risperidon
|
Tablet 1,
2, 3 mg
|
2 - 6
mg/hari
|
Pemilihan
Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan
untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang
ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih
rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai
bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan
obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2
kali lebih lama pada Clozaril)
Pemilihan
Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat,
untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti
minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang
ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat
menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan
obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum
obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang
bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan
injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien dapat kambuh walaupun
sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat
untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik
konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer
atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya.
Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan
diatas gagal.
Pengobatan
Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat
pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5
pasien yang behenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh.
Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap
mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan
dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum
sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu
diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan
dan makin beratnya penyakit.
Efek Samping
Obat-obat Antipsikotik
Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka
waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping
yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang
menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot
yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan
menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus
bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat.
Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki.
Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya
benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati
efek samping ini. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive
dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding
tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini
dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat
antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional
mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti
antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan
gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri
pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan
menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical
antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. Peningkatan berat badan
juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini
sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan
olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. Efek samping lain yang jarang
terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat
kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa
demam penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang
segera.
- Terapi Psikososial
a) Terapi
perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan
ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan
memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal.
Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat
ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di
rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau
menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat,
dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.
b) Terapi berorintasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia
seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana
pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi
keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan
segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses
pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota
keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang
terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana
yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat
skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli
terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi
terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa
terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam
penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka
relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi
keluarga.
c) Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan
pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok
mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika
atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi
sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien
skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam
cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.
d) Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi
individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa
terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep
penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu
hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut
dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara
ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang
diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah
berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik.
Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali
kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap
curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati.
Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana,
kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah
lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama
yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan
adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan,
manipulasi, atau eksploitasi.
- Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk
tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh
diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan dasar. Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan
adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat.
Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumahsakit harus
direncanakan.
Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh
serta keluarga pasien tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit menurunkan
stres pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya
perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya
fasilitas pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus
memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas
hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan
untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien.
Pusat perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam
memperbaiki kualitas hidup.
B. Gangguan Waham
Berdasarkan revisi Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), diagnosis gangguan
waham ditegakkan bila seseorang memperlihatkan waham yang tidak bizar dengan
durasi sekurang-kurangnya 1 bulan dan tidak disebabkan oleh gangguan psikiatri
lain. Tidak bizar berarti bahwa waham harus mengenai situasi yang dapat terjadi
dalam kehidupan nyata, seperti merasa diikuti, terinfeksi, dicintai dari jauh
dan lain-lain; yaitu mereka biasanya harus mengalami fenomena tersebut yang
meskipun tidak nyata, dapat terjadi.
a. Epidemiologi
Prevalensi gangguan waham di amerika serikat diperkirakan
0,025 sampai 0,03 persen. Insiden tahunan gangguan waham adalah 1 – 3 kasus
baru per 100.000 orang. Berdasarkan DSM-IV-TR gangguan waham menyebabkan hanya
1 sampai 2 persen semua pasien yang datang ke fasilitas kesehatan mental rawat inap.
b. Etiologi
Penyebab gangguan waham tidak diketahui. Pasien yang saat
ini digolongkan mengalami gangguan waham mungkin mengalami sekelompok keadaan
heterogen dengan waham sebagai gejala yang menonjol. Konsep utama mengenai
penyebab gangguan waham adalah perbedaannya dengan skizofrenia dan gangguan mood. Gangguan waham jauh lebih jarang
dibanding skizofrenia maupun gangguan mood.
c. Diagnosis dan Gambaran Klinis
1. Status Mental
Deskripsi umum. Pasien biasanya rapi dan berpakaian
layak, tanpa tanda disintegrasi kepribadian atau aktivitas harian yang
menyeluruh, juga tampak ekstrensik, aneh, curiga atau bermusuhan. Kadang-kadang
bermasalah dengan hukum dan dapat membuat kecendrungan tersebut jelas bagi
pemeriksa. Hal yang biasanya paling nyata dari pasien dengan gangguan waham
adalah bahwa pemeriksaan status mental memperlihatkan hasil normal kecuali
adanya sistem waham yang secara nyata abnormal. Pasien dapat mencoba mengajak
dokter sebagai sekutu dalam wahamnya, tetapi seorang dokter sebaiknya tidak
berpura-pura menerima waham, karena dapat mengacaukan realita dan menimbulkan
ketidakpercayaan antara pasien dan terapis.
Berdasarkan definisi, pasien dengan gangguan waham tidak
mempunyai halusinasi yang menonjol atau bertahan. Berdasarkan DSM-IV-TR,
halusinasi taktil atau olfaktori dapat terjadi jika sesuai dengan waham (misal
waham somatik mengenai aroma tubuh). Beberapa pasien dengan waham mempunyai
pengalaman halusinasi lain, biasa berupa pendengaran.
d. Tipe Waham
Waham
Kejar. Gejala klasik gangguan waham,
waham kejar dan waham cemburu mungkin adalah dua bentuk yang paling sering
dijumpai ahli psikiatri. Kebalikan dengan waham kejar pada skizofrenia,
kejernihan, logika dan elaborasi sistemik terhadap masalah penganiayaan pada
gangguan waham meninggalkan tanda yang nyata pada keadaan ini. Tidak ada
psikopatologi lain seperti gangguan kepribadian atau gangguan pada kemampuan
fungsi.
Waham
penyiaran pikiran. Percaya bahwa
orang lain dapat membaca pikirannya sendiri.
Waham
Penyisipan. Percaya bahwa orang lain ada
di dalam pikiran pasien.
Waham
Kebesaran. Waham identitas, pengatahuan,
kekuatan, penghargaan yang berlebihan atau hubungan khusus dengan orang
terkenal atau dewa.
Waham
Rujukan. Waham dengan tema kejadian,
objek atau orang lain pada lingkungan seseorang mempunyai kepentingan tertentu
dan tidak lazim. Waham tersebut biasanya bersifat negatif atau merendahkan,
tetapi juga dapat berisi kebesaran. Keadaan tersebut berbeda dari ide rujukan,
yaitu keyakinan yang salah tersebut tidak dipertahankan dengan kuat atau
diyakini sepenuhnya menjadi benar.
e. Pengobatan
Psikoterapi
Terapi individu lebih efektif dibanding kelompok. Seorang
dokter awalnya sebaiknya tidak menentang waham pasien. Lalu selanjutnya dokter
sebaiknya tidak mendukung secara aktif gagasan bahwa waham benar-benar ada.
Tujuan akhir terapi membantu pasien meragukan persepsinya. Tanda pengobatan
yang berhasil dapat berupa penyesuaian sosial yang memuaskan bukan pengurangan
waham pasien.
Farmakoterapi
Dalam situasi gawat darurat antipsikotik IM masih menjadi
pilihan meskipun belum dilakukan penelian lanjut. Obat antipsikotik juga masih
menjadi pilihan pada gangguan waham. Obat diberikan dengan dosis bertahap tapi
bila sampai 6 minggu belum tidak memberikan respons baik, antipsikotik golongan
lain bisa diberikan sepertti Pimozide (Orap).
C. Gangguan Psikotik
Gangguan psikotik berlangsung 1 hari sampai 1 bulan dan
gejala dapat menyerupai skizofrenia. Karena sifat gangguan yang berbeda kadang
sulit untuk menegakkan diagnosis.
a. Etiologi
Penyebab gangguan psikotik sementara tidak diketahui.
Pasien yang menderita kepribadian mempunyai kerentanan biologis atau psikologis
mengalami gejala psikotik, terutama mereka dengan kualitas borderline, skizoid,
skizopital atau paranoid. Pasien gangguan psikotik mempunyai riwayat keluarga
skizofrenia atau gangguan mood tetapi tidak bersifat konfulsif.
b. diagnosis
Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurang-kurangnya
1 hari tetapi kurang dari 1 bulan dan bukan merupakan gejala gangguan mood,
gangguan terkait zat atau gangguan psikotik akibat kondisi medis umum.
c. gambaran klinis
Gejala gangguan psikotik selalu mencakup
sekurang-kurangnya satu gejala utama psikosis, biasanya dengan awitan mendadak,
tetapi tidak selalu mencakup seluruh pola gejala yang terjadi pada skizofrenia.
Bahwa mood labil, kebingungan dan gangguan perhatian dapat lebih sering terjadi
pada awitan gangguan psikotik. Gejala khas pada gangguan psikotik emosi mudah
berubah, perilaku aneh atau bizar, berteriak atau terdiam dan gangguan memori
terhadap kejadian yang baru terjadi.
d. pengobatan
Pasien psikotik akut mungkin memerlukan rawat inap
singkat baik untuk evaluasi maupun proteksi. Dua golongan obat utama dalam
pengobatan gangguan psikotik adalah obat psikotik dan ansiolitik. Obat
antipsikotik potensi tinggi seperti haloperidol atau risperidon dapat
digunakan. Sebagai alternatif, ansiolitik seperti benzodiazepin dapat digunakan
pada pengobatan jangka pendek..
Psikoterapi digunakan untuk memberikan kesempatan
membahas stresor dan episode psikotik.
D. Skizoafektif
Gambaran utama gangguan skizoafektif adalah adanya
episode depresi mayor, manik atau campuran yang terdapat bersamaan dengan
gejala skizofrenia. Kriteria skizofrenia adanya waham, halusinasi, perilaku
aneh atau gejala negatif. Gejala ini berlangsung paling sedikit satu bulan.
Kriteria episode depresi mayor yaitu mood terdepresi yang pasif. Episode
depresi mayor berlangsung paling sedikit dua minggu. Episode manik dengan adanya
perasaan melambung, meningkat, ekspansif paling sedikit berlangsung satu
minggu. Episode campuran ditandai kedua suasana perasaan tersebut paling
sedikit satu minggu.
Gambaran utama harus terjadi dalam periode tunggal yang
terus menerus. Skizoafektif berlangsung paling sedikit satu bulan.
a. Manifestasi
Klinis
Anamnesis
Ada perasaan sedih dan hilang minat berlangsung paling
sedikit 2 minggu atau rasa senang berlebihan paling sedikit 1 minggu. Gejala
tersebut muncul bersamaan dengan pembicaraan kacau, waham, halusinasi, perilaku
kacau atau gejala negatif.
Pemeriksaan
Terdapat tanda gangguan mood depresi (mood hipotim,
isolasi sosial) atau tanda mania (mood hipertim, iritabel, banyak bicara) atau
campuran.
Kriteria Diagnosis (DSM-IV-TR)
Selama periode penyakit, episode depresi mayor atau
episode manik atau campuran terdapat bersamaan dengan gejala skizofrenia
kriteria A.
Selama periode penyakit, terdapat waham atau halusinasi
paling sedikit 2 minggu tanpa adanya simtom mood yang menonjol.
Dari total durasi periode aktif dan residual penyakit,
gejala yang memenuhi kriteria episode mood mempunyai porsi durasi yang relatif
lama.
Gangguan bukan akibat langsung pengaruh fisiologik zat
atau kondisi medik umum.
b. Subtipe
Tipe bipolar, terdapat episode manik atau campuran.
Ditemui juga episode depresi mayor.
Tipe depresi, hanya episode depresi mayor.
c. Tatalaksana
Injeksi, olanzapin 2 x 5-10 mg / hari dengan diazepam 2 x
10 mg / hari.
Oral
Olanzapin 1 x 10 – 30 mg / hari atau risperidon 2 x 1-3
mg / hari atau quetiapin hari I (200 mg), hari II (400 mg), hari III (600 mg)
dan seterusnya atau aripirazol 1 x 10 – 30 mg / hari.
Litium karbonat 2 x 400 mg, dinaikkan sampai kisaran
terapeutik 0,8 – 1,2 mEq/L.
Lorazepam 3 x 1 – 2 mg / hari kalau perlu
ECT : 3 x per minggu (untuk pasien refrakter)
Psikoterapi
Psikoterapi individual yang dapat diberikan berupa
psikoterapi suportif atau terapi perilaku. Psikoterapi suportif sebaiknya yang
relatif konkrit, berfokus pada aktivitas sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar