Selasa, 06 Desember 2016

F2. SKIZOFRENIA

F2 Skizofrenia

Agung Ganjar Kurniawan



A. Skizofrenia
a.Definisi Skizofrenia
1.      Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek/emosi, kamauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karena waham dan halusinasi; asoisasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, afek dan emosi perilaku bizar.
2.      Skizofrenia merupakan bentuk psikosa yang banyak dijumpai dimana-mana namun faktor penyebabnya belum dapat diidentifikasi secara jelas. Kraepelin menyebut gangguan ini sebagai demensia precox (demensia artinya kemunduran intelegensi dan precox artinya muda/sebelum waktunya).

b. Etiologi Skizofrenia
Terdapat beberapa teori yang dikemukakan para ahli yang menyebabkan terjadinya skizofrenia. Teori teori tersebut antara lain:
1.      Endokrin.Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium, tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
2.      Metabolisme.Teori ini mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan karena gangguan metabolisme karena penderita tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik seperti meskalin dan asam lisergik diethylamide (LSD-25). Obat-obat tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala yang mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi reversible.
3.      Teori Adolf Meyer.Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada susunan saraf tetapi Meyer mengakui bahwa suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).
4.      Teori Sigmund Freud.Teori Sigmund freud juga termasuk teori psikogenik. Menurut freud, skizofrenia terdapat:
a.       Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatic
b.      Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme
c.       Kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin
d.      Eugen Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

Teori tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut adalah sebagai berikut:
1.      Genetik. Teori ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur sehingga dapat dipastikan factor genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,  bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 2009). Pengaruh genetik ini tidak sederhana seperti hokum Mendel, tetapi yang diturunkan adalah potensi untuk skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri
2.      Neurokimia. Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan overaktivitas pada jaras dopamine mesolimbik. Hal ini didukung dengan temuan bahwa amfetamin yang kerjanya meningkatkan pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis yang mirip skizofrenia dan obat anti psikotik bekerja dengan mengeblok reseptor dopamine, terutama reseptor D2.
3.      Hipotesis Perkembangan Saraf. Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia antara lain berupa berat orak rata-rata lebih kecil 6% dari normal dan ukuran anterior-anterior yang 4% lebih pendek, pembesaran ventrikel otak yang nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah frontal dan temporal serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf di beberapa korteks dan subkortek. Studi neuropsikologis mengungkapkan deficit di bidang atensi, pemilihan konseptual, fungsi eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia.

c. Pembagian Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :
  1. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.
  1. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali.
  1. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
  1. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
  1. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
  1. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.
  1. Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.

d. Manifestasi Klinik Skizofrenia
1.      Gejala Primer
Gangguan proses pikir (bentuk, langkah dan isi pikiran). Yang paling menonjol adalah gangguan asosiasi dan terjadi inkoherensi
Gangguan afek emosi
1)    Terjadi kedangkalan afek-emosi
2)    Paramimi dan paratimi (incongruity of affect / inadekuat)
3)    Emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai satu kesatuan
4)    Emosi berlebihan
5)    Hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik
Gangguan kemauan
1)    Terjadi kelemahan kemauan
2)    Perilaku negativisme atas permintaan
3)    Otomatisme : merasa pikiran/perbuatannya dipengaruhi oleh orang lain
Gejala psikomotor
1)    Stupor atau hiperkinesia, logorea dan neologisme
2)    Stereotipi
3)    Katelepsi : mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang lama
4)    Echolalia dan echopraxia

     
2.    Gejala Sekunder
       Waham dan Halusinasi
Istilah ini menggambarkan persepsi sensori yang salah yang mungkin meliputi salah satu dari kelima pancaindra. halusinasi pendengaran dan penglihatan yang paling umum terjadi, halusinasi penciuman, perabaan, dan pengecapan juga dapat terjadi

e. Penatalaksanaan Skizofrenia
  1. Terapi Somatik (Medikamentosa)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)

      a) Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain :
1.      Haldol (haloperidol)
2.      Mellaril (thioridazine)
3.      Navane (thiothixene)
4.      Prolixin (fluphenazine)
5.      Stelazine ( trifluoperazine)
6.      Thorazine ( chlorpromazine)
7.      Trilafon (perphenazine)
Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.
Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsychotic.

      b) Newer Atypcal Antipsycotic
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :
1.      Risperdal (risperidone)
2.      Seroquel (quetiapine)
3.      Zyprexa (olanzopine)

      c) Clozaril
Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril dapat membantu ± 25-50% pasien yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan. Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.
Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran
No
Nama Generik
Sediaan
Dosis
1
Klorpromazin
Tablet, 25 dan 100 mg,
150-600mg/hariInjeksi25mg/ml
2
Haloperidol
Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,
5-15 mg/hari Injeksi5mg/ml
3
Perfenazin
Tablet 2, 4, 8 mg
12 - 24 mg/hari
4
Flufenazin
Tablet 2,5 mg, 5 mg
10 - 15 mg/hari
5
Flufenazin dekanoat
Inj 25 mg/ml
25 mg/2-4 minggu
6
Levomeprazin
Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml
25 - 50 mg/hari
7
Trifluperazin
Tablet 1 mg dan 5 mg
10 - 15 mg/hari
8
Tioridazin
Tablet 50 dan 100 mg
150 - 600 mg/hari
9
Sulpirid
Tablet 200 mg
300 - 600 mg/hari
10
Pimozid
Tablet 1 dan 4 mg
1 - 4 mg/hari
11
Risperidon
Tablet 1, 2, 3 mg
2 - 6 mg/hari

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik
Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera.



  1. Terapi Psikososial
a) Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.

b) Terapi berorintasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.
     
      c) Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.
     

      d) Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.
  1. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar. Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumahsakit harus direncanakan.
Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.
B. Gangguan Waham
Berdasarkan revisi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR), diagnosis gangguan waham ditegakkan bila seseorang memperlihatkan waham yang tidak bizar dengan durasi sekurang-kurangnya 1 bulan dan tidak disebabkan oleh gangguan psikiatri lain. Tidak bizar berarti bahwa waham harus mengenai situasi yang dapat terjadi dalam kehidupan nyata, seperti merasa diikuti, terinfeksi, dicintai dari jauh dan lain-lain; yaitu mereka biasanya harus mengalami fenomena tersebut yang meskipun tidak nyata, dapat terjadi.
a. Epidemiologi
Prevalensi gangguan waham di amerika serikat diperkirakan 0,025 sampai 0,03 persen. Insiden tahunan gangguan waham adalah 1 – 3 kasus baru per 100.000 orang. Berdasarkan DSM-IV-TR gangguan waham menyebabkan hanya 1 sampai 2 persen semua pasien yang datang ke fasilitas kesehatan mental rawat inap.
b. Etiologi
Penyebab gangguan waham tidak diketahui. Pasien yang saat ini digolongkan mengalami gangguan waham mungkin mengalami sekelompok keadaan heterogen dengan waham sebagai gejala yang menonjol. Konsep utama mengenai penyebab gangguan waham adalah perbedaannya dengan skizofrenia dan gangguan mood. Gangguan waham jauh lebih jarang dibanding skizofrenia maupun gangguan mood.
c. Diagnosis dan Gambaran Klinis
1. Status Mental
Deskripsi umum. Pasien biasanya rapi dan berpakaian layak, tanpa tanda disintegrasi kepribadian atau aktivitas harian yang menyeluruh, juga tampak ekstrensik, aneh, curiga atau bermusuhan. Kadang-kadang bermasalah dengan hukum dan dapat membuat kecendrungan tersebut jelas bagi pemeriksa. Hal yang biasanya paling nyata dari pasien dengan gangguan waham adalah bahwa pemeriksaan status mental memperlihatkan hasil normal kecuali adanya sistem waham yang secara nyata abnormal. Pasien dapat mencoba mengajak dokter sebagai sekutu dalam wahamnya, tetapi seorang dokter sebaiknya tidak berpura-pura menerima waham, karena dapat mengacaukan realita dan menimbulkan ketidakpercayaan antara pasien dan terapis.
Berdasarkan definisi, pasien dengan gangguan waham tidak mempunyai halusinasi yang menonjol atau bertahan. Berdasarkan DSM-IV-TR, halusinasi taktil atau olfaktori dapat terjadi jika sesuai dengan waham (misal waham somatik mengenai aroma tubuh). Beberapa pasien dengan waham mempunyai pengalaman halusinasi lain, biasa berupa pendengaran.
d. Tipe Waham
Waham Kejar. Gejala klasik gangguan waham, waham kejar dan waham cemburu mungkin adalah dua bentuk yang paling sering dijumpai ahli psikiatri. Kebalikan dengan waham kejar pada skizofrenia, kejernihan, logika dan elaborasi sistemik terhadap masalah penganiayaan pada gangguan waham meninggalkan tanda yang nyata pada keadaan ini. Tidak ada psikopatologi lain seperti gangguan kepribadian atau gangguan pada kemampuan fungsi.
Waham penyiaran pikiran. Percaya bahwa orang lain dapat membaca pikirannya sendiri.
Waham Penyisipan. Percaya bahwa orang lain ada di dalam pikiran pasien.
Waham Kebesaran. Waham identitas, pengatahuan, kekuatan, penghargaan yang berlebihan atau hubungan khusus dengan orang terkenal atau dewa.
Waham Rujukan. Waham dengan tema kejadian, objek atau orang lain pada lingkungan seseorang mempunyai kepentingan tertentu dan tidak lazim. Waham tersebut biasanya bersifat negatif atau merendahkan, tetapi juga dapat berisi kebesaran. Keadaan tersebut berbeda dari ide rujukan, yaitu keyakinan yang salah tersebut tidak dipertahankan dengan kuat atau diyakini sepenuhnya menjadi benar.
e. Pengobatan
Psikoterapi
Terapi individu lebih efektif dibanding kelompok. Seorang dokter awalnya sebaiknya tidak menentang waham pasien. Lalu selanjutnya dokter sebaiknya tidak mendukung secara aktif gagasan bahwa waham benar-benar ada. Tujuan akhir terapi membantu pasien meragukan persepsinya. Tanda pengobatan yang berhasil dapat berupa penyesuaian sosial yang memuaskan bukan pengurangan waham pasien.
Farmakoterapi
Dalam situasi gawat darurat antipsikotik IM masih menjadi pilihan meskipun belum dilakukan penelian lanjut. Obat antipsikotik juga masih menjadi pilihan pada gangguan waham. Obat diberikan dengan dosis bertahap tapi bila sampai 6 minggu belum tidak memberikan respons baik, antipsikotik golongan lain bisa diberikan sepertti Pimozide (Orap).
C. Gangguan Psikotik
Gangguan psikotik berlangsung 1 hari sampai 1 bulan dan gejala dapat menyerupai skizofrenia. Karena sifat gangguan yang berbeda kadang sulit untuk menegakkan diagnosis.
a. Etiologi
Penyebab gangguan psikotik sementara tidak diketahui. Pasien yang menderita kepribadian mempunyai kerentanan biologis atau psikologis mengalami gejala psikotik, terutama mereka dengan kualitas borderline, skizoid, skizopital atau paranoid. Pasien gangguan psikotik mempunyai riwayat keluarga skizofrenia atau gangguan mood tetapi tidak bersifat konfulsif.
b. diagnosis
Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurang-kurangnya 1 hari tetapi kurang dari 1 bulan dan bukan merupakan gejala gangguan mood, gangguan terkait zat atau gangguan psikotik akibat kondisi medis umum.
c. gambaran klinis
Gejala gangguan psikotik selalu mencakup sekurang-kurangnya satu gejala utama psikosis, biasanya dengan awitan mendadak, tetapi tidak selalu mencakup seluruh pola gejala yang terjadi pada skizofrenia. Bahwa mood labil, kebingungan dan gangguan perhatian dapat lebih sering terjadi pada awitan gangguan psikotik. Gejala khas pada gangguan psikotik emosi mudah berubah, perilaku aneh atau bizar, berteriak atau terdiam dan gangguan memori terhadap kejadian yang baru terjadi.
d. pengobatan
Pasien psikotik akut mungkin memerlukan rawat inap singkat baik untuk evaluasi maupun proteksi. Dua golongan obat utama dalam pengobatan gangguan psikotik adalah obat psikotik dan ansiolitik. Obat antipsikotik potensi tinggi seperti haloperidol atau risperidon dapat digunakan. Sebagai alternatif, ansiolitik seperti benzodiazepin dapat digunakan pada pengobatan jangka pendek..
Psikoterapi digunakan untuk memberikan kesempatan membahas stresor dan episode psikotik.

D. Skizoafektif
Gambaran utama gangguan skizoafektif adalah adanya episode depresi mayor, manik atau campuran yang terdapat bersamaan dengan gejala skizofrenia. Kriteria skizofrenia adanya waham, halusinasi, perilaku aneh atau gejala negatif. Gejala ini berlangsung paling sedikit satu bulan. Kriteria episode depresi mayor yaitu mood terdepresi yang pasif. Episode depresi mayor berlangsung paling sedikit dua minggu. Episode manik dengan adanya perasaan melambung, meningkat, ekspansif paling sedikit berlangsung satu minggu. Episode campuran ditandai kedua suasana perasaan tersebut paling sedikit satu minggu.
Gambaran utama harus terjadi dalam periode tunggal yang terus menerus. Skizoafektif berlangsung paling sedikit satu bulan.
a. Manifestasi Klinis
Anamnesis
Ada perasaan sedih dan hilang minat berlangsung paling sedikit 2 minggu atau rasa senang berlebihan paling sedikit 1 minggu. Gejala tersebut muncul bersamaan dengan pembicaraan kacau, waham, halusinasi, perilaku kacau atau gejala negatif.
Pemeriksaan
Terdapat tanda gangguan mood depresi (mood hipotim, isolasi sosial) atau tanda mania (mood hipertim, iritabel, banyak bicara) atau campuran.
Kriteria Diagnosis (DSM-IV-TR)
Selama periode penyakit, episode depresi mayor atau episode manik atau campuran terdapat bersamaan dengan gejala skizofrenia kriteria A.
Selama periode penyakit, terdapat waham atau halusinasi paling sedikit 2 minggu tanpa adanya simtom mood yang menonjol.
Dari total durasi periode aktif dan residual penyakit, gejala yang memenuhi kriteria episode mood mempunyai porsi durasi yang relatif lama.
Gangguan bukan akibat langsung pengaruh fisiologik zat atau kondisi medik umum.
b. Subtipe
Tipe bipolar, terdapat episode manik atau campuran. Ditemui juga episode depresi mayor.
Tipe depresi, hanya episode depresi mayor.
c. Tatalaksana
Injeksi, olanzapin 2 x 5-10 mg / hari dengan diazepam 2 x 10 mg / hari.
Oral
Olanzapin 1 x 10 – 30 mg / hari atau risperidon 2 x 1-3 mg / hari atau quetiapin hari I (200 mg), hari II (400 mg), hari III (600 mg) dan seterusnya atau aripirazol 1 x 10 – 30 mg / hari.
Litium karbonat 2 x 400 mg, dinaikkan sampai kisaran terapeutik 0,8 – 1,2 mEq/L.
Lorazepam 3 x 1 – 2 mg / hari kalau perlu
ECT : 3 x per minggu (untuk pasien refrakter)
Psikoterapi
Psikoterapi individual yang dapat diberikan berupa psikoterapi suportif atau terapi perilaku. Psikoterapi suportif sebaiknya yang relatif konkrit, berfokus pada aktivitas sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar