Senin, 06 April 2015

PBL 10 - Proses Menstruasi & Pengaruh Hormon



Proses Menstruasi dan Pengaruh Hormon Terkait
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida


Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
No. Telp (021) 5694-2061, e-mail : aagguunngg@yahoo.com
 

Pendahuluan
Sistem reproduksi memiliki peran yang penting dalam hal pewarisan keturunan, terutama sistem reproduksi yang dimiliki wanita. Dalam perkembangan sistem reproduksi wanita, yang terdiri dari organ-organ genitalia feminima, terdapat suatu siklus regular yang biasa dialami setiap waktu tertentu, biasanya setiap bulan sekali, sebagai respon terhadap perubahan kadar hormon beserta fungsi dari organ ovarium dalam hal memproduksi suatu sel telur, ovum, yang bila tidak dibuahi, akan diekskresikan melalui proses menstruasi yang umumnya, memiliki siklus 28 hari pada wanita.
Menstruasi merupakan siklus yang kompleks karena melibatkan berbagai unsur dalam tubuh seorang perempuan, di antaranya panca indera, korteks serebri, hipotalamus, aksis hipofisis-ovarium, dan organ tujuannya (uterus, endometrium, serta organ seks sekunder).
Makalah ini bertujuan untuk membahas lebih lanjut mengenai proses menstruasi yang terjadi dalam batas normal terhadap kaitannya dengan kadar hormon dan perkembangan organ terkait.





Pembahasan
a.    Makroskopis
Vulva
Vulva disebut juga RIMA PUDENDI adalah ruangan yang terletak antara labia majora kanan dan kiri. Vulva bermuara pada vestibulum vagina. Di sebelah distal frenulum labiorum pudendi terdapat jaringan ikat yang menyebrang disebut commisura posterior.
Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
Labia mayora
Labia majora adalah lipatan yang besar dari mons pubis ke arah peritoneum, bagian luar labia majora berambut , sedangkan bagian dalam licin dan banyak mengandung kelenjar sebasea. Bagian depan atas labia majora kanan dan kiri bertemu pada commisura labialis posterior.
 Gambar 1. Labia Mayora
Labia minora
Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu. Labia minora merupakan lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf. Labia minora kanan dan kiri membatasi sebuah ruang yang disebut vestibulum. Bagian distal vestibulum membentuk suatu lekukan yang disebut fossa naviculare.

Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina. Identik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris.  Glens klitoris berisi jaringan yang dapat berereksi, sifatnya sangat sensitif karena banyak memiliki pembuluh darah dan ujung serabut saraf.
Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet (lipatan membran pada ujung perineal vulva), batas lateral labia minora. Vestibulum merupakan area yang ditutupi oleh labia minora dan menutupi mulut uretra, mulut vagina, dan duktus kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini identik dengan kelenjar bulbouretral pada laki-laki.
Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum dan merupakan pintu masuk ke vagina.
Hymen (selaput dara)
Merupakan suatu membran yang bentuk dan ukurannya bervariasi, melingkari mulut vagina yang terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi.
Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid. Vagina berfungsi untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
Genitalia Interna
Uterus
Berbentuk seperti buah pir, bagian luarnya ditutupi oleh peritoneum (serosa), sedangkan bagian rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim. Uterus pada anak ukurannya lebih kecil dan akan membesar saat usia pubertas karena pengaruh hormon estrogen. Terdiri dari fundus, corpus dan serviks uteri.
Fundus uteri berada diantara kedua pangkal tuba yang terletak di bagian proksimal rahim (diatas muara tuba). Besarnya rahim berbeda-beda bergantung pada usia dan pernah melahirkan atau belum. Corpus uteri, terdapat di bawah muara tuba. Corpus merupakan bagian uterus yang terbesar. Ke arah distal, corpus akan menciut / mengecil dan berubah menjadi cervix.
  Gambar 2. Uterus
Pada kehamilan, bagian ini berfungsi sebagai tempat utama bagi janin untuk hidup dan berkembang. Cervix uteri merupakan uterus bagian bawah yang menyempit dan menembus dinding vagina terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin.
Serviks terbagi menjadi dua bagian, yaitu pars supravaginal dan pars vaginal yang disebut juga dengan portio. Portio yang menonjol di atas vagina disebut dengan portio supra vaginalis cervicis uteri, sedangkan yang menonjol ke dalam vagina disebut dengan portio vaginalis cervicis uteri. Serviks terdiri atas banyak jaringan ikat. Struktur ini dilapisi oleh satu lapis epitel kelenjar penghasil mukus di bagian dalam kanalis servikalis (endoserviks) dan epitel skuamosa berlapis pada bagian serviks yang terlihat dalam vagina (ektoserviks). Transisi antara sel epital kelenjar dan skuamosa dikenal sebagai zona transformasi.
Saluran yang menghubungkan orifisium uteri interna dan orifisium uteri eksterna disebut kanalis servikalis, dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks. Corpus uteri dan serviks uteri dihubungkan oleh isthmus uteri. Bagian ini penting dalam kehamilan dan persalinan karena akan mengalami peregangan. Lapisan dinding uterus terdiri atas endometrium, myometrium, dan perimetrium. Endometrium merupakan lapisan dinding uterus yang terdalam, sedangkan lapisan uterus yang terluar adalah perimetrium. Myometrium adalah lapisan otot polos yang banyak mengandung pembuluh darah dan terletak antara endometrium dan myometrium. Secara histologi, endometrium dibagi menjadi 2, yaitu:
Endometrium stadium regenerasi / AUFBAU
Endometrium (mukosa) tampak tipis, epitelnya selapis silindris, kelenjarnya terlihat hampir semuanya lurus, lumen kelenjar bulat atau lonjong dan kosong. Epitel kelenjar juga selapis silindris. Miometrium (lapisan otot) terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang tersusun berlapis-lapis dengan arah yang tampak kurang teratur.
Endometrium stadium sekretorik / UMBAU
Endometrium tampak tebal, kelenjar berkelok-kelok, dindingnya berlipat-lipat, lumen melebar dan berisi banyak sekret.
Tuba uterina falopii
Dimulai dari fundus uteri sampai fimbriae. Muara tuba uterina pada corpus uteri disebut ostium internum tuba uterina. Bagian luar tuba uterina diliputi oleh peritoneum viseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum. Bagian dalamnya dilapisi oleh silia, yaitu rambut getar yang berfungsi sebagai jalan yang dilalui sperma untuk mencapai ovum. Tuba uterina dipendarahi oleh a.uterina (cabang a.iliaca interna) dan a.ovarica (cabang aorta abdominalis). Aliran pembuluh balik mengikuti aliran pembuluh nadinya. Mukosa tuba uterina mempunyai banyak lipatan yang sangat rumit, memenuhi lumennya. Permukaan lipatan mukosa diliputi epitel selapis torak dengan lamina propia dibawahnya. Epitel terdiri dari 2 macam sel yaitu sel bersilia dan sel yang tidak bersilia yang berfungsi sekresi. Tunika muskularis terdiri atas dua lapisan, lapis sirkular yang tebal di sebelah dalam dan lapisan longitudinal yang tipis di sebelah luar. Tuba uterina terdiri dari 4 bagian, yaitu :
o  Isthmus tuba uterina        :     Bagian tuba yang paling sempit, Susunan lapisan sesuai dengan bagian ampula, tapi lipatan mukosanya tidak rumit, hanya berupa lipatan longitudinal saja dan lumennya sempit. Tunika muskularis relatif lebih tebal dibanding ampula terutama tunika muskularis sirkular. Karena susunan dinding isthmus ini hampir sama dengan ureter pars abdominalis.
o  Ampulla tuba uterina        :     bagian tuba yang paling lebar dan merupakan tempat terjadinya proses filtrasi.
o  Infundibulum                       :     bagian tuba berbentuk corong dan mempunyai fimbriae.
o  Pars intertitialis                   :     bagian tuba yang terdapat dalam dinding uterus.
Ovarium
             Terdapat dua ovarium kanan dan kiri. Ovarium berbentuk oval yang melekat pada bagian belakang  ligamentum latum uteri. Penggantung ovarium pada dinding belakang panggul adalah mesovarium. Ovarium terletak dalam fossa ovarii waldeyer pada dinding lateral pelvis, pada bagian cranialnya dibatasi oleh a.v iliaca externa, bagian distal dibatasi oleh a.uterina, bagian dorsal dibatasi oleh a.v iliaca interna dan n. Obturatorius, bagian ventralnya dibatasi oleh perlekatan lig. Latum.
             Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
             Ovarium disebut juga indung telur, terdiri atas korteks dan medula. Epitel germinativum pada permukaannya berupa epitel selapis kubis. Di bawahnya terdapat jaringan ikat fibrosa, membentuk tunika albugenia ovarium. Korteks ovarium terdapat di bawah tunika albugenia, dalamnya terdapat sejumlah folikel ovarium dari berbagai fase perkembangan.
             Folikel primordial atau folikel primitif, folikel berkembang dan folikel de Graaf (matang). Stroma korteks ovarium berupa jaringan yang banyak mengandung sel berbentuk gelendong mirip serat otot polos. Sel-selnya tersusun tidak beraturan sangat rapat satu sama lain sehingga korteks terlihat sangat padat dengan inti sel. Medula ovarium lebih longgar, banyak mengandung serat elastin, serat otot polos, pembuluh arteri dan vena serta pembuluh limfe.
Folikel primordial, berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter sekitar 40 um. Pembungkus luarnya epitel selapis gepeng, di dalamnya terdapat sel telur yang mempunyai inti besar dengan anak inti yang jelas.
Folikel berkembang, pada beberapa buku digolongkan menjadi folikel primer, folikel sekunder dan folikel tersier. Besarnya bervariasi, yang ukurannya terkecil folikel primer kurang lebih sama dengan folikel primordial dengan epitel selapis kubis sampai selapis silindris. Epitel folikel ini terdiri atas sel folikel atau sel granulosa. Folikel sekunder epitelnya berlapis. Bila folikel berkembang semakin besar, di antara sel folikel mulai terbentuk ruang-ruang kecil berisi cairan folikel. Ruang-ruang ini makin bertambah jumlahnya dan akhirnya menyatu membentuk ruangan tunggal yang lebih besar disebut antrum folikel yang juga berisi cairan folikel disebut folikel tersier. Antrum ini kian besar dan yang terbesar letaknya dekat tepi korteks ovarium disebut folikel de Graaf siap untuk diovulasi.
Sekeliling sel telur juga mengalami perubahan, pada folikel berkembang dapat dilihat zona pelusida yang berupa bingkai berwarna gelap di sekitar ovum. Secara histologik ovumnya terlihat semakin besar. Sebenarnya selama perkembangan ovum melanjutkan pembelahan meiosis yang jarang terlihat dalam sajian. Karena antrum makin besar, ovum terdesak ke tepi folikel, terdapat di tepian folikel. Epitel folikel di tempat ini membentuk bukit kecil menjorok ke tengah antrum disebut kumulus oforus. Makin mendekati kematangan, sel folikel membentuk korona radiata yang merupakan kelompok sel folikel yang tersusun radier di sekitar zona pelusida. Bersamaan dengan semua perubahan ini membran basal foliikel terlihat makin jelas, disebut membrana vitrea. Jaringan stroma di sekitar folikel membentuk teka interna dan teka eksterna. Selain folikel berkembang terdapat juga folikel atretis, yaitu folikel yang berdegenerasi sebelum matang. Sel granulosa tampak menyebar tidak padat dan bentuk folikel pun berubah, sering tampak kempis.
Korpus luteum
Korpus luteum terdiri atas sel lutein granulosa dan sel lutein teka. Sel lutein granulosa merupakan bagian terbanyak dan sel lutein teka jumlahnya lebih sedikit. Sel lutein granulosa berasal dari sel folikel atau sel granulosa, sedangkan sel lutein teka berasal dari sel teka interna yang berkembang dan menyusup di antara sel lutein granulosa dari tepi. Sel lutein teka biasanya lebih kecil dibandingkan sel lutein granulosa dan warnanya lebih gelap.
Umumnya terdapat di bagian tepi korpus luteum. Sel lutein granulosa lebih besar, berwarna kuning pucat dan sitoplasmanya sering terlihat mempunyai vakuol kecil-kecil. Sel ini memenuhi hampir seluruh korpus luteum. Di antara sel lutein terdapat jaringan ikat dan pembuluh darah kecil.
Korpus albikans
Bangunan ini lebih kecil dibandingkan korpus luteum. Sesuai dengan namanya, bangunan ini berwarna pucat. Kadang-kadang masih dapat dilihat beberapa pembuluh darah kecil di dalamya. Jaringan ikat terdapat di antara sisa-sisa sel lutein.

b.   Mikroskopis                                                                                   Gambar 3.  Korpus Albikans
UTERUS
Uterus – endometrium stadium regenerasi /aufbau
·         endometrium (mukosa) tampak tipis
·         epitelnya selapis silindris
·         kalenjarnya terlihat hampir semua lurus
·         lumen kalenjar bulat atau lonjong dam kosong
·         epitel kalenjar juga selapis silindris
·         miometrium (lapisan otot) terdiri atas berkas-  berkas serat otot polos yang tersusun berlapis- lapis dengan arah yang tampak kurang teratur
Uterus – endometrium stadium sekretorik /umbau
·         Endometrium tampak tebal
·         Kalenjar berkelok-kelok
·         Dindingnya berlipat-lipat
·         Lumen lebar dan berisi banyak sekret

TUBA UTERINA FALOPII
·         Mukosa tuba uterina mempunyai banyak lipatan yang sangat rumit, memenuhi lumennya.
·         Permukaan lipatan mukosa diliputi epitel selapis toraks dengan lamina propria dibawahnya.
·         Epitelnya ada 2 macam sel yaitu sel bersilia dan yang tidak bersilia berfungsi sekresi
·         Tunika muskularis ada 2 lapisan, lapisan sirkular yang tebal di sebelah dalam dan lapisan longitudinal yang tipis di sebelah luar.

VAGINA
·         Organ berupa tabung yang dindingnya dibentuk oleh mukosa yang terdiri atas epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
·         Dibawahnya terdapat lapisanotot polos yang terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang berjalan dalam berbagai arah.
·         Vagina tidak mempunyai kalenjar dalam dindingnya.

OVARIUM
·         Ovarium disebut juga indung telur, terdiri atas korteks dan medulla
·         Pada permukaannya terdapat epitel germinativum berupa epitel selapis kubis
·         Di bawahnya terdapat jaringan ikat fibrosa, membentuk tunika albuginea ovarium
·         Korteks ovarium terdapat di bawah tunika albuginea, di dalamnya terdapat sejumlah folikel ovarium dari berbeagai fase perkembangan.
·         Untuk memudahkan, fase perkembangan digolongkan dalam tiga tingkatan yaitu folikel perimordial atau folikel primitif, folikel berkembang, dan folikel de graaf (matang).
·         Stroma korteks ovarium berupa jaringan yang banyak mengandung sel berbentuk gelendong mirip serat otot polos. Sel-selnya tersusun tidak beraturan sangat rapat satu sama lain sehingga korteks terlihat sangat padat dengan inti sel.
·         Medulla ovarium lebih longgar, banyak mengandung serat elastin, serat otot polos, pembuluh darah arteri dan vena, serta pembuluh limfe. Beberapa arteri tampak masuk ke jaringan korteks. Pembuluh darah dan pembuluh limfe masuk dan keluar ovarium melalui hilusnya yang tidak selalu terlihat pada sediaan.

c.    Mekanisme Pubertas
Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai yang bersangkutan mencapai pubertas. Tidak seperti testis janin, ovarium janin belum berfungsi karena feminisasi sistem reproduksi wanita secara otomatis berlangsung jika tidak terdapat sekresi testosteron janin tanpa memerlukan keberadaan hormon-hormon seks wanita. Sistem reproduksi wanita tetap inaktif sejak lahir sampai pubertas, yang terjadi pada usia sekitar sebelas tahun, karena GnRH hipothalamus secara aktif ditekan oleh mekanisme-mekanisme yang serupa dengan yang terjadi pada anak laki-laki prapubertas. Seperti pada anak laki-laki, hilangnya pengaruh-pengaruh inhibitorik tersebut oleh mekanisme yang belum diketahui menyebabkan dimulainya pubertas.
Ovarium melakukan fungsi ganda yang saling terkait, yaitu oogenesis (pembentukan ovum) dan menghasilkan estrogen dan progesteron. Oogenesis dan sekresi estrogen berlangsung didalam folikel ovarium selama separuh pertama siklus reproduksi (fase folikel). Pada kira-kira pertengahan siklus, folikel yang matang melepaskan sebuah ovum (ovulasi). Folikel yang kosong tersebut kemudian diubah menjadi korpus luteum, yang menghasilkan estrogen dan progesteron selama separuh terakhir siklus (fase luteal). Unit endokrin ini bertanggung jawab mempersiapkan uterus sebagai tempat yang cocok untuk implantasi apabila ovum yang dilepaskan dibuahi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum berdegenerasi. Akibat penarikan hormon yang mendukung lapisan endometrium untuk menjadi sangat berkembang menyebabkan disintegrasi dan terlepas, menghasilkan darah haid. Secara simultan, fase folikel baru dimulai kembali.

d.   Perubahan Pubertas
Siklus haid teratur tidak terjadi pada remaja atau wanita lanjut usia, tetapi karena sebab yang berbeda. Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai pubertas. Tidak seperti testis janin, ovarium janin tidak perlu berfungsi karna tanpa adanya sekresi testosteron janin pada wanita, sistem reproduksi secara otomatis mengalami feminisasi, tanpa memerlukan adanya hormon seks wanita. Sistem reproduksi wanita tetap inaktif dari lahir hingga pubertas, yang terjadi pada usia sekitar 12 tahun ketika aktivitas GnRH hipothalamus meningkat untuk pertama kali. GnRH mulai merangsang pelepasan hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, yang selanjutnya merangsang aktivitas ovarium. Sekresi estrogen oleh ovarium yang aktif memicu pertumbuhan dan pematangan saluran reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita. Efek nyata estrogen pada yang terakhir adalah mendorong pengendapan lemak di lokasi-lokasi strategik, misalnya payudara, bokong, dan paha, menghasilkan figus khas wanita yang berlekuk. Pembesaran payudara saat pubertas disebabkan terutama oleh pengendapan lemak di jaringan payudara, bukan pembentukan fungsional kelenjar payudara. Peningkatan estrogen masa pubertas juga menyebabkan penutupan lempeng epifisis, menghentikan pertambahan tinggi lebih lanjut, serupa dengan efek testosteron yang berubah menjadi estrogen pada pria. Tiga perubahan pubertas lain pada wanita pertumbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan pertumbuhan masa pubertas, dan timbulnya libido berkaitan dengan lonjakan sekresi androgen adrenal saat pubertas, bukan dengan estrogen.
e.    Hormon yang Berperan
          Pada wanita peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Hormon pada reproduksi wanita di antaranya berperan dalam siklus menstruasi.
Estrogen
Hormon estrogen dihasilkan ovarium dimulai saat kita anak-anak hingga memasuki periode menopause. Estrogen berfungsi untuk perkembangan organ kelamin wanita secara normal, demikian juga dengan Estriol.
Progesteron
Progesteron disebut juga dengan hormon kehamilan. Hormon ini melanjutkan pekerjaan esterogen untuk membuat endometrium menjadi lebih tebal dan siap menerima ovum yang telah dibuahi. Progesteron dihasilkan oleh korpus luteum.
Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Tugas FSH adalah merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu oosit primer. FSH juga akan berpengaruh terhadap perubahan dari folikel de Graaf menjadi korpus luteum.
Luteinizing Hormone (LH)
Pada saat ovulasi LH yang merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. LH bekerjasama dengan FSH dalam proses perubahan dari folikel de Graaf menjadi korpus luteum.

f.     Siklus Haid
Pengaruh estrogen & progesteron pada uterus
Estrogen merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga menginduksi sintesis reseptor progesteron di endometrium hanya setelah endometrium “dipersiapkan” oleh estrogen. Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi lapisan yang ramah dan menunjang pertumbuhan ovum yang dibuahi. Dibawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air, memfasilitasi implantasi ovum yang dibuahi. Progesteron menyiapkan endometrium lebih lanjut untuk menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium mengeluarkan dan menyimpan glikogen dalam jumlah besar serta merangsang pertumuhan besar-besaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga mengurangi kontraktilitas uterus agar tercipta lingkungan yang tenang untuk implantasi dan pertumbuhan mudugah.

Siklus haid terdiri dari tiga fase: fase haid, fase proliferatif, dan fase sekretorik (progestasional).
 
(a). Fase proliferasi                                 (b.1) Fase sekresi                                    (b.2) Fase sekresi
Gambar 4. beberapa fase pada siklus menstrurasi

            Fase haid adalah fase yang paling jelas, ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap sebagai permulaaan siklus baru. saat ini bersamaan dengan pengakhiran fase luteal ovarium dan dimulainya fase folikular. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum yang dibebaskan selama siklus sebelumnya, kadar progesteron dan estrogen darah turun tajam. Karena efek akhir progesteron dan estrogen adalah mempersiapkan endometrium untuk implantasi ovum yang dibuahi maka tehentinya sekresi kedua hormon ini menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien ini kehilangan hormon-hormon penunjangnya.
Turunya kadar hormon ovarium juga merangsang pembebasan suatu prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh endometrium, menghambat aliran darah ke endometrium. Penurunan penyaluran oksigen yang terjadi kemudian menyebabkankematian endometrium, termasuk pembuluh darahnya. Perdarahan yang terjadi melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan endometrium yang mati ke dalam lumen uterus. Sebagian besar lapisan dalam uterus terlepas selama haid kecuali sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel epitel dan kelenjar, yang menjadi asal regenerasi endometrium. Prostaglandin uterus yang sama juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus. Konstraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus keluar melalui vagina sebagai darah haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan prostaglandin menyebabkan kram haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita.
Pengeluaran darah rerata selama satu kali haid adalah 50 – 150 ml. Darah yang merembes pelan melalui endometrium yang berdegenerasi membeku di dalam rongga uterus, kemudian diproses oleh fibrinolisin, suatu pelarut fibrin yang mengeluarkan fibrin pembentuk anyaman bekuan. Karena itu, darah haid biasanya tidak membeku karena telah membeku di dalam uterus dan bekuan tersebut telah larut sebelum keluar vagina. Namun, jika darah mengalir deras melalui pembuluh yang rusak maka darah menjadi kurang terpajan ke fibrinolisisn sehingga jika darah haid banyak maka dapat terlihat bekuan darah. Selain darah dan sisa endometrium, darah haid banyak mengandung leukosit, yang berperan penting dalam mencegah infeksi pada endometrium yang “terbuka” ini.
Haid biasanya berlangsung selama 5-7 hari setelah degenerasi korpus luteum, bersamaan dengan bagian awal fase folikular ovarium, penghentian efek progesteron dan estrogen, akibat degenerasi korpus luteum menyebabkan terkelupasnya endometrium dan terbentuknya folikel-folikel baru di ovarium, di bawah pengaruh hormon gonadotropik, yang kadarnya meningkat. Turunnya sekresi hormon gonad menghilangkan pengaruh inhibitorik dari hipotalamus dan hipofisis anterior sehingga sekresi FSH dan LH meningkat dan fase folikular baru dapat dimulai. Setelah lima sampai tujuh hari dibawah pengaruh FSH dan LH, folikel-folikel yang baru berkembang telah menghasilkan cukup estrogen, untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan endometrium.
Kemudian, darah haid berhenti dan fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika endometrium mulai memperbaiki diri dan berproliferasi di bawah pengaruh estrogen dari folikel-folikel yang baru berkembang. Saat aliran darah haid berheni, yang tersisa adalah lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm. estrogen merangsang proliferasi sel epitel kelenjar, dan pembulh darah di endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan ini menjadi 3 sampai 5 mm. Fase proliferatif yang didomonasi oleh estrogen ini berlangsung dari akhir haid hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi penyebab ovulasi.
Setelah ovulasi, ketika terbentuk korpus luteum baru, uterus masuk ke fase sekretorik yang bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar  progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah endometrium tebal yang telah dipersiapkan estrogen menjadi jaringan kaya vaskular dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena kelenjar endometrium aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan), merujuk pada lapisan subur endometrium yang mampu menopang kehidupan mudigah. Jika pembuahan dan implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi dan fase folikular dan fase haid baru dimulai kembali.
Hormon estrogen yang menyebabkan lapisan dalam rahim (endometrium) berkembang dan tumbuh dalam bentuk proliferasi, sehingga pembuluh darah makin dominan dan mengeluarkan cairan (fase sekresi). Bila tidak terjadi pertemuan antara spermatozoa dan ovum (telur), korpus luteum berumur 8 hari, sehingga setelah kematiannya tidak mampu lagi mempertahankan lapisan dalam rahim, oleh karena hormon estrogen dan progesteron berkurang sampai menghilang. Berkurang dan menghilangnya estrogen dan progesteron, menyebabkan terjadi fase vasekonstriksi (pengerutan) pembuluh darah, sehingga lapisan dalam rahim mengalami kekurangan aliran darah (kematian). Selanjutnya diikuti dengan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) dan pelepasan darah dalam bentuk perdarahan yang disebut “menstruasi”. Pengeluaran darah menstruasi berlangsung antara 3-7 hari, dengan jumlah darah yang hilang sekitar 50-60 cc tanpa bekuan darah. Bila perdarahan disrtai gumpalan darah menunjukan terjadi perdarahan banyak, yang merupakan keadaan abnormal dan menstruasi.
Hubungan jelas setiap siklus dalam tahapan menstruasi yang juga berkaitan langsung dengan siklus ovarium, yang telah dijelaskan pada penjelasan diatas, dapat diamati pada diagram berikut ini.
Gambar 5. korelasi antara siklus ovarium dan siklus menstrurasi beserta kadar hormon yang menyertai.

Siklus Ovarium
Siklus menstruasi diperantarai oleh mekanisme neuroendokrin yang kompleks suatu hormon pelepas, gonadotropin-releasing hormon (GnRH), sudah dikenali berperan terhadap pelepasan gonadotropin, follicle stimulating hormon (FSH) dan luteinizing horomone (LH). GnRH dihasilkan di hipotalamus dan dihantarkan ke hipofisis anterior (tempat gonadotropin dihasilkan) melalui sistem vaskular periportal.
Siklus menstruasi normal diatur secara cermat oleh sekresi gonadotropin dari hipofisis anterior ke sirkulasi sistemik. Dengan onset setiap siklus, folikel yang siap untuk pematangan dirangsang berkembang oleh FSH. Satu folikel (jarang lebih) melampaui yang lainnya untuk membentuk folikel de graaf, kemudian folikel yang tersisa mengalami regresi. Sementara itu esterogen dihasilkan oleh sel lutein teka pada folikel. Esterogen ovarium yang utama adalah estron, estradiol, dan sejumlah kecil estriol. Pada siklus hari ke-8 dan ke-9, kadar esterogen berhenti meningkat dan LH serta FSH mulai berfluktuasi. Pada sekitar hari ke-14, kenaikan kadar LH yang tinggi dan mendadak memicu pecahnya folikel dan ovulasi. Terjadi sedikit perdarahan, dan folikel yang kosong segera terisi oleh darah yang menggumpal. LH dan mungkin prolaktin merangsang lutenisasi sel granulosa sehingga terbentuk kopus luteum. Sel lutein granulosa menghasilkan progesteron, yang mencapai puncaknya pada kira-kira hari ke-23 atau ke-24. Jika pada saat itu tidak terjadi fertiliasai dan nidasi ovum, korpus luteum mengalami regresi. Kemudian kadar progesteron dan esterogen turun mencapai kadar kritis pada sekitar hari ke-28 ketika terjadi perdarahan endometrium (menstruasi).

Hormon yang berpengaruh pada siklus ovarium
Ovarium memiliki dua unit endokrin yang berkaitan: folikel penghasil estrogen selama paruh pertama siklus, dan korpus luteum yang menghasilkan progesteron dan estrogen selama paruh terakhir siklus. Unit-unit ini secara berurutan dipicu oleh hubungan hormonal siklik kompleks antara hipotalamus, hipofisis anterior, dan kedua unit endokrin ovarium (estrogen dan progesteron). Fungsi gonad pada wanita dikontrol secara langsung oleh hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, yaitu follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon ini diatur oleh gonadotropin-releasing hormone (GnRH) hipotalamus serta efek umpan balik hormon-hormon gonad. Kontrol gonad wanita diperumit oleh sifat fungsi ovarium yang siklik. Efek FSH dan LH pada ovarium bergantung pada stadium siklus ovarium. Selain itu, estrogen menimbulkan efek umpan balik negatif selama paruh tertentu siklus dan efek umpan balik positif pada paruh siklus lainnya, bergantung pada konsentrasi estrogen. Berbeda dengan pria, FSH tidak hanya semata-mata bertanggung jawab untuk gametogenesis, demikian juga LH pada ovarium tidak hanya menentukan sekresi hormon gonad.4,8



Dalam hal ini terdapat tiga jenis fungsi hormonal dalam pengaturan siklus ovarium:
1. Kontrol folikel
Tahap-tahap awal pertumbuhan folikel pra-antrum dan pematangan oosit tidak memerlukan rangsangan gonadotropik namun diperlukan dukungan hormon untuk pembentukan antrum dan perkembangan folikel. Pembentukan antrum diinduksi oleh FSH. FSH dan estrogen merangsang proliferasi sel-sel granulosa. FSH dan LH diperlukan untuk sintesis dan sekresi estrogen oleh folikel, tetapi kedua hormon ini bekerja pada sel yang berbeda dan pada tahap yang berbeda dalam jalur pembentukan estrogen. Sel granulosa dan sel teka ikut serta dalam memproduksi estrogen. Kolesterol diubah menjadi estrogen dalam beberapa tahap dengan yang terakhir berupa konversi androgen menjadi estrogen. Sel-sel teka cepat menghasilkan endrogen tetapi kurang kemampuannya untuk mengubah androgen menjadi estrogen. Sel granulosa, sebaliknya, mengandung enzim aromatase sehingga dapat dengan mudah mengubah androgen menjadi estrogen tetapi sel granulosa tidak dapat membentuk androgen. LH bekerja pada sel teka untuk merangsang pembentukan androgen, sementara FSH bekerja pada granulosa untuk meningkatkan konversi androgen teka yang berdifusi ke dalam sel granulosa dari sel teka menjadi estrogen. Karena kadar basal FSH yang rendah sudah memadai untuk mendorong konversi akhir menjadi estrogen, maka laju sekresi estrogen oleh folikel terutama bergantung pada LH dalam darah, yang terus meningkat selama fase folikular. Sejalan dengan semakin bertumbuhnya folikel, lebih banyak estrogen diproduksi karena sel folikel penghasil estrogen bertambah. Sebagian dari estrogen yang dihasilkan oleh folikel dikeluarkan ke dalam darah dan sisanya tetap berada di dalam folikel dan ikut membentuk cairan antrum dan merangsang proliferasi lebih lanjut sel granulosa. Estrogen yang dikeluarkan ke darah, selain bekerja pada jaringan spesifik seperti uterus, juga menghambat hipotalamus dan hipofisis anterior secara umpan balik negatif. Kadar estrogen yang meningkat dan menandai terjadinya fase folikular bekerja secara langsung pada hipotalamus untuk menghambat sekresi sekresi GnRH sehingga pelepasan FSH dan LH tertekan. Namun, efek primer estrogen adalah langsung pada hipofisis itu sendiri. Estrogen menurunkan kepekaan sel-sel penghasil FSH sehingga menyebabkan kadar FSH plasma turun selama fase folikular.
Faktor lain penyebab FSH menurun ialah sekresi inhibin oleh sel-sel folikel yang bekerja`pada sel hipofisis anterior. Penurunan FSH mengakibatkan semua folikel yang sedang`berkembang menjadi atresia kecuali satu yang paling matang.

2. Kontrol ovulasi
Ovulasi dan selanjutnya luteinisasi folikel yang pecah dipicu oleh peningkatan sekresi`LH yang mendadak dan besar. Lonjakan LH ini menyebabkan empat perubahan besar`dalam folikel:
·         Menghentikan sintesis estrogen oleh sel-sel folikel
·         Memulai kembali meiosis di oosit folikel yang sedang berkembang, tampaknya dengan menghambat pelepasan suatu oocyte maturation-inhibiting substance yang dihasilkan oleh sel granulosa.
·         Memicu pembentukan prostaglandin kerja lokal, yang memicu ovulasi dengan mendorong perubahan vaskular yang menyebabkan pembekakan cepat folikel sembari menginduksi digesti enzimatik dinding folikel. Selain itu, prostaglandin menyebabkan pecahnya dinding yang menutupi tonjolan folikel.
·         Diferensiasi sel folikel menjadi sel luteal. Karena lonjakan LH memicu ovulasi dan luteinisasi, maka pembentukan korpus luteum secara otomatis mengikuti ovulasi. Lonjakan LH mengakhiri fase folikular dan memulai fase luteal.

Dua cara sekresi LH, yaitu sekresi tonik LH yang menyebabkan sekresi hormon ovarium,`dan lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi tidak saja terjadi dalam waktu yang berbeda`dan menghasilkan efek yang berbeda pada ovarium tetapi juga dikontrol oleh mekanisme`yang berbeda pula. Sekresi tonik LH ditekan secara parsial oleh efek inhibitorik kadar`sedang estrogen selama fase folikular, dan ditekan total oleh peningkatan kadar`progesteron selama fase lukteal. Lonjakan LH dipicu oleh efek umpan balik positif. Sementara kadar estrogen yang meningkat dan moderat pada awal fase folikular menghambat sekresi LH, kadar estrogen yang tinggi selama puncak sekresi estrogen pada`akhir fase folikular merangsang LH dan memulai lonjakan LH. Hanya folikel matang`praovulasi, bukan folikel pada tahap awal perkembangan yang dapat mengeluarkan`estrogen dalam jumlah banyak sehingga memicu lonjakan LH. Oleh karena itu ovulasi`baru terjadi sampai folikel mencapai ukuran dan kematangan yang sesuai. Lonjakan LH`berlangsung sekitar sehari pada pertengahan siklus, tepat sebelum ovulasi.

3. Kontrol korpus luteum
LH memelihara korpus luteum yaitu setelah memicu pembentukan korpus luteum, LH`merangsang sekresi berkelanjutan hormon steroid oleh struktur ovarium. Di bawah`pengaruh LH, korpus luteum mengeluarkan progesteron dan estrogen, dengan`progesteron merupakan hormon yang paling banyak diproduksi. Kadar progesteron`meningkat untuk pertama kali selama fase luteal. Tidak ada progesteron yang dikeluarkan`selama fase folikular. Fase folikular didominasi oleh hormon estrigen, sedangkan fase`luteal oleh hormon progesteron.
Pada pertengahan siklus terjadi penurunan sesaat kadar estrogen darah karena folikel`penghasil estrogen mati saat ovulasi. Kadar estrogen kembali naik selama fase luteal`karena aktivitas korpus luteum meskipun tidak mencapai kadar yang sama dengan fase`folikular. Meskipun estrogen kadar tinggi merangsang sekresi LH namun progesteron`yang mendominasi fase luteal, dengan kuat menghambat sekresi LH serta FSH. Inhibisi`FSH dan LH oleh progesteron mencegah pematangan folikel baru dan ovulasi selama fase luteal. Di bawah pengaruh progesteron, sistem reproduksi dipersiapkan untuk menunjang ovum yang baru saja dibebaskan seandainya ovum tersebut dibuahi, dan bukan mempersiapkan pelepasan ovum lain. Tidak ada inhibin yang disekresikan selama fase luteal. Korpus luteum berfungsi selama rerata dua minggu kemudian berdegenerasi jika tidak terjadi fertilisasi. Menurunnya kadar LH yang disebabkan oleh efek inhibitorik progesteron berperan dalam degenerasi korpus luteum. Matinya korpus luteum mengakhiri fase luteal dan menyiapkan tahap baru untuk fase folikular berikutnya. Sewaktu fase folikular berdegenerasi, kadar progesteron dan estrogen plasma turun secara drastis karena kedua hormon ini tidak lagi diproduksi. Hilangnya efek inhibisi kedua hormon ini pada hipotalamus memungkinkan sekresi FSH dan sekresi LH tonik kembali meningkat moderat. Di bawah pengaruh hormon-hormon gonadotropik ini, kelompok baru folikel primer kembali diinduksi untuk matang seiring dengan dimulainya fase folikular baru.

Siklus Endometrium
Selama masa reproduksi endometrium mengalami perubahan siklis secara terus menerus. Setiap siklus biasanya melalui 4 fase yang berhubungan dengan aktivitas hormon ovarium dan dapat diidentifikasi dengan biopsi endometrium atau pemeriksaan multi hormon, berikut penjelasannya:

A) Fase proliferatif
Fase proliferatif (estrogenik) mempunyai durasi yang sanga bervariasi tetapi biasanya konsisten untuk setiap individu. Biasanya sekitar 14 hari pada siklus 28 hari. Fase proliferatif dini dimulai pada kira-kira hari keempat atau kelima siklus, tepat sebelum akhir menstruasi dan berlangsung selama 2-3 hari. Akhir fase ini bertepatan dengan kira-kira hari ketujuh siklus klasik. Epitel permukaan diperbaiki tetapi tipis atau mudah rusak. Ketebalannya tergantung pada hilangnya epitel berlapis-lapis palsu (pseudostratifikasi), dan sering terjadi mitosis. Sel-sel stroma menunjukkan inti yang relatif besar dengan sedikit sitoplasma. Terdapat sel fagosit. Fase midproliferatif bertepatan dengan kira-kira hari ke 10 siklus. Fase ini hanya berbeda derajat dengan fase proliferatif dini. Permukaannya lebih teratur, kelenjarnya lebih berliku-liku dan sel kelenjar berlapis-lapis pasu. Ketebalan endometrium meningkat. Fase proliferatif lanjut terjadi pada kira-kira hari ke-14 siklus rata-rata. Permukaannya berombak, sel stroma sangat padat, dan berbagai cairan ekstraseluler hilang. Ketebalan kira-kira seperti sebelum proliferasi, tetapi dengan konsentrasi sel yang lebih besar. Kelenjar semakin berliku-liku dan mengandung sekresi minimal.
Pada permulaan setiap siklus menstruasi, sebagian besar endometrium mengalami deskuamasi oleh proses menstruasi. Setelah menstruasi, hanya lapisan tipis stroma endometrium tersisa pada basis endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptus endometrium. Di bawah pengaruh esterogen yang sekresinya ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel-sel epitel dengan cepat berproliferasi. Permukaan endometrium mengalami reepitelisasi dalam tiga sampai tujuh hari setelah permulaan menstruasi. Selama dua minggu pertama siklus seksual yaitu, sampai ovulasi, tebal endometrium sangat bertambah, karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan karena pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium dan pembuluh darah ke dalam endometrium, semua efek ini ditingkatkan oleh esterogen. Pada saat ovulasi tebal endometrium sekitar 2 sampai 3 mm.

B) Fase ovulasi
Fase ovulasi terjadi pada kira-kira hari ke-14 pada siklus 28 hari, dengan disertai ovulasi. Karena tidak ada perubahan endometrium yang cukup besar dalam 24-36 jam setelah ovulasi, endometrium pada hari ke-14 tidak dapat dibedakan dengan hari ke-15. Perubahan yang nyata tampak pada sel kelenjar pada hari ke-16 dan kemudian menunjukkan aktivitas korpus luteum dan, tampaknya ovulasi.

C) Fase sekretorik
Fase sekretorik secar teknis dimulai dengan ovulasi. Pada hari ke-16, kelenjar semakin berliku-liku, terdapat banyak gambaran mitosis dan muncul vakuola basal penuh berisi glikogen. Pada hari ke-17 terjadi vaskuolisasi sel yang paling jelas. Hampir dua per tiga bagian basal kelenjar ini berisi cairan yang penuh mengandung glikogen. Dapat diamati adanya edema ringan, dan jarang terjadi mitosis. Pada hari ke-18 sekresi cairan dalam kelenjar menjadi jelas. Keadaan ini bertepatan dengan saat ovum berada bebas dalam ruang uterus dan harus mendapat makanan dari sekresi uterus. Pada hari ke-22, kelenjar lebih berliku-liku tetapi aktivitas sekretorisnya lebih sedikit dan terlihat sekresi mukoid yang cukup banyak dalam lumennya. Edema stroma saat ini mencapai puncaknya. Keadaan ini akan mempermudah implantasi ovum. Puncak aktivitas sekretoris dan endema stroma yang tinggi bertepatan dengan periode fungsi korpus luteum yang maksimal. Dari hari ke-24 sampai hari ke-27, edema berkurang dan sel stroma mengalami perubahan bentuk menjadi unsur yang mengarah ke sel desidua. Perubahan pertama terlihat dalam sel di sekeliling arteriola spiralis dengan gambaran mitosis pada stroma perivaskuler. Kelenjar semakin lama semakin berliku-liku dengan dinding yang bergerigi. Sekresi sel kelenjar berkurang terdapat infiltrasi oleh netrofil polimorfonukleat dan monosit. Akhirnya, terjadi nekrosis dan peluruhan.
Selama separuh terakhir siklus seksual, progesteron dan esterogen disekresi dalam jumlah besar oleh korpus luteum. Esterogen menyebabkan proliferasi sel tambahan dan progesteron menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi endometrium. Kelenjar tambah berkelok-kelok, zat yang disekresi tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan kelenjar menyekresi sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah, lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai darah ke endometrium meningkat lebih lanjut sebanding dengan aktivitas sekresi yang sedang berkembang. Tebal endometrium sekitar dua kali waktu fase sekresi sehingga menjelang akhir siklus haid, endometrium mempunyai ketebalan 4 sampai 6 mm.

D) Fase menstruasi
Selama fase mensturasi, edema endometrium dan perubahan degeneratif yang terjadi pada akhir fase sekretoris menyebabkan nekrosis jaringan. Keadaan ini tersebar secara tidak merata di seluruh lapisan endometrium kecuali lapisan basal. Nekrosis menyebabkan pembuluh darah robek, menghasilkan perdarahan-perdarahan kecil yang tersebar. Perdarahan ini membesar dan bersatu membentuk hematoma yang menyebar, yang nantinya akan menyebabkan pemisahan endometrium dan semain robeknya pembuluh darah kecil. Lepasnya fragmen-fragmen jaringan biasanya diawali dengan bercak-bercak sekitar 12 jam setelah dimulainya perdarahan pada siklus ovulatoir. Yang menarik, seluruh isi ruang endometrium terpisah sebagai apa yang disebut dismenore membranosa. Keadaan sakit ini berasal dari pemisahan mendadak seluruh lapisan endometrium sekretoris, mungkin karena serangkaian kejadian yang diterangkan di atas teradi sangat cepat dan lengkap. Diperkirakan sekitar dua per tiga endometrium hilang setiap mensturasi ovulatoir. Pada saat aliran cepat ini berhenti, penyusutan jaringan dan pemisahan telah terjadi pada bagian yang lebih besar dari permukaan kavum uteri. Setelah menstruasi berlangsung selama 4-7 hari, perdarahan perlahan-lahan berkurang. Perdarahan regional berkurang akibat konstriksi dan trombosis sisa arteriola spiralis yang tidak rusak, sehingga bercak perdarahan akhirnya berhenti. Interval antara ovulasi dan
menstruasi normalnya hampir tepat 14 hari. Sebaliknya, pada periode praovulatoir, interval hari pertama mensturasi dengan hari ovulasi, dapat beragam dari 7 atau 8 hari hingga lebih dari satu bulan. Variasi periode praovulatoir ini menyebabkan perbedaan interval antara periode menstruasi.

Menstruasi disebabkan oleh pengurangan mendadak progesteron dan esterogen pada akhir siklus haid ovarium. Efek pertama adalah penurunan rangsang sel-sel endometrium oleh kedua hormon tersebut, diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar 65 persen tebal sebelumnnya. Selama 24 jam sebelumnya mulai menstruasi, pembuluh darah yang menuju ke lapisan mukosa endometrium menjadi vasopastik, mungkin karena beberapa efek involusi seperti pengeluaran zat vasokonstriktor. Vasospasme dan kehilangan rangsan hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagian akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskular endometrium, area perdarahan mulai tebentuk setelah 24 sampai 36 jam. Lambat laun, lapisan luar endometrum yang nekrotik terlepas dari uterus pada tempat perdarahan, pada 48 jam setelah mulainya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium telah mengalami deskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi uterus yang mengeluarkan isi uterus.

Hormon yang berpengaruh pada siklus uterus
Fluktuasi kadar esterogen dan progesteron selama silus ovarium menimbulkan perubahan mencolok di uterus, menghasilkan siklus haid, atau siklus uterus. Karena mencerminkan perubahan hormon selama siklus ovarium maka siklus haid berlangsung rerata 28 hari, seperti halnya silum ovarium, meskipun bahkan pada orang normal dapat terjadi variasi yang cukup bermakna dari rerata ini. Manifestasi nyata perubahan siklik di uterus adalah perdarahan haid sekali dalam tiap siklus haid. Namun, perubahan yang relatif kurang jelas berlangsung sepanjang siklus, sewaktu uterus bersiap untuk implantasi seandainya ovum yang dibebaskan dibuahi, kemudian pembersihan lapisan tersebut jika implantasi tidak terjadi, hanya untuk memulihkan dirinya dan kembali bersiap untuk ovum yang akan dibebaskan pada siklus berikutnya.4
Uterus terdiri dari dua lapisan utama yaitu miometrium, lapisan otot polos luar dan endometrium, lapisan darah yang mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Esterogen merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga meninduksi sentesis reseptor progesteron di endometrium. Karena itu, progesteron dapat berefek pada endometrium hanya setelah endometrium “dipersiapkan” oleh esterogen. Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh sterogen untuk mengubah menjadi lapisan yang ramah dan menunjang pertumbuhan ovum yang dibuahi. Di bawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air, memfasilitasi implantasi ovum yang dibuahi. Progesteron menyiapkan endometrium lebih lanjut untuk menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium mengeluarkan dan menyimpan glikogen dalam jumlah besar serta merangsang pertumbuhan besar-besaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga mengurangi kontraktilitas uterus agar tercipta lingkungan yang tenang untuk implantasi dan pertumbuhan mudigah. Dalam hal ini siklus haid terdiri dari tiga fase:
1. Fase haid
Fase haid merupakan fase yang paling jelas, ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap sebagai siklus baru. Fase ini bersamaan dengan pengakhiran fase luteal ovarium dan dan dimulainya fase folikular. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum yang dibebaskan selama siklus sebelumnya, kadar progesteron dan estrogen darah mengalami penurunan drastis. Terhentinya sekresi sekresi kedua hormon ini menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien kehilangan hormon-hormon penunjangnya. Turunnya kadar hormon ovarium merangsang pembebasan suatu prostagalndin uterus yang menyebabkan kematian endometrium.
Penurunan penyaluran oksigen yang terjadi menyebabkan kematian endometrium dan pembuluh darahnya. Perdarahan yang terjadi melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan endometrium yang mati ke dalam uterus. Sebagain besar lapisan dalam uterus terlepas selama haid kecuali sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel epitel dan kelenjar, yang menjadi asal regenerasi endometrium. Prostaglandin uterus yang sama juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus. Kontraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus keluar melalui vagina sebagai darah haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan prostaglandin menyebabkan kram haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita. Pengeluaran darah rerata selama satu kali haid adalah 50-150 ml. Haid biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari setelah degenerasi korpus luteum, bersamaan dengan bagian awal fase folikular ovarium. Selanjutnya, folikelfolikel baru terbentuk di bawah pengaruh hormon gonadotropik yang kadarnya meningkat. Setelah lima sampai tujuh hari di bawah pengaruh FSH dan LH, folikelfolikel yang baru berkembang telah menghasilkan cukup estrogen untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan endometrium.

2. Fase proliferatif
Ketika fase haid selesai, fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika endometrium mulai berproliferasi di bawah pengaruh estrogen dari folikel-folikel yang berkembang. Saat aliran darah haid berhenti, yang tersisa adalah lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm.
Estrogen merangsang proliferasi sel-sel epitel, kelenjar, dan pembuluh darah di endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan menjadi 3-5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen ini berlangsung dari akhir haid hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi penyebab ovulasi.

3. Fase sekretorik atau progestasional
Setelah ovulasi, ketika terbentuk korpus luteum baru, uterus masuk ke fase sekretorik atau progestasional yang bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah endometrium tebal yang telah dipersiapkan estrogen menjadi jaringan kaya vaskular dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik karena kelenjar endometrium aktif mengeluarkan glikogem. Jika fertilisasi dan implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi dan fase folikular serta fase haid dimulai kembali.
Sistem hormon pada wanita terdiri dari tiga hirarki hormon sebagai berikut:
1.       Hormon 'releasing' hipotalamus : 'luteinizing hormone-releasing hormone' (LHRH).
2.       Hormon hipofisis anterior, hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon lutenisasi (LH), yang di sekresi akibat respon terhadap 'releasing hormone' dari hipotalamus.
3.       Hormon ovarium; esterogen, dan progesteron, yang disekresi oleh ovarium akibat respon terhadap dua hormon dari kelenjar hipofisis anterior. Hormon esterogen, pada wanita normal, tidak hamil, esterogen di sekresi terutama oleh ovarium, walaupun dalam jumlah kecil juga disekresi oleh korteks adrenal. Pada kehamilan, dalam jumlah besar juga disekresi oleh plasenta, tentu saja sampai 100 kali jumlah yang disekresi oleh ovarium selama siklus bulanan normal. Sedangkan hormon progesteron, hampir semua progesteron pada wanita tidak hamil disekresi oleh korpus luteum selama separuh terakhir setiap siklus ovarium. Akan tetapi, selama kehamilan progesteron dibentuk dalam jumlah besar sekali oleh plasenta, sekitar 10 kali jumlah normal setiap bulannya, khususnya setelah bulan keempat kehamilan. Progesteron berfungsi dalam meningkatkan perubahan sekresi pada endometrium.
Feed back sistem hipotalamus hipofisis ovarium
1. Sekresi hormon-hormon ovarium pasca ovulasi dan penekanan gonadotropin.
Bagian paling awal siklus haid yang dijelaskan adalah peristiwa yangterjadi selama fase pascaovulasi, antara ovulasi dan permulaan mensturasi. Selama masa ini korpus luteum menyekresi banyak sekali progesteron dan esterogen. Efek kombinasinya atas hipotalamus adalah untuk menghambat sekresi LHRH sehingga menyebabkan umpan balik negatif kuat yang menekan sekresi gonadotropin, FSH, dan LH, selama waktu ini.
2. Fase pertumbuhan folikel.
Beberapa hari sebelum menstruasi, korpus luteummengalami involusi, serta sekresi esterogen dan progesteron turun sampai rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan balik esterogen dan progesteron turun sampai rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan balik dari progesteron dan esterogen sehingga sekresi LHRH meningkat lagi, diikuti secara berurutan oleh peningkatan sekresi FSH dan LH beberapa ratus persen. Hormon ini memulai pertumbuhan folikel baru dan peningkatan progresif sekresi esterogen, mencapai puncak sekresi esterogen sekitar 12 sampai 13 hari setelah timbulnya menstruasi. Selama 11 sampai 12 hari pertama pertumbuhan folikel ini, kecepatan sekresi FSH dan LH gonadotropin berkurang, kemudian dengan mendadak sekresi kedua hormon tersebut meningkat, mengakibatkan stadium siklus haid selanjutnya.
3. Gejolak LH dan FSH praovulasi.
Ovulasi sekitar 11 sampai 12 hari setelah timbulnya menstruasi, penurunan sekresi FSH dan LH berhenti dengan mendadak. Diduga bahwa kadar esterogen yang tinggi pada saat ini menyebabkan efek umpan balik positif, seperti dijelaskan sebelumnya, yang mengakibatkan gejolak sekresi yang hebat, khusus nya LH tetapi dalam arti yang lebih sempit FSH. Efek ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa sel sekresi folikel menjadi lelah sehingga kecepatan sekresi esterogen telah mulai turun sekitar satu hari sebelum gejolak LH. Apapun penyebab gelora LH dan FSH sebelum ovulasi, LH mengakibatkan ovulasi dan pembentukan korpus luteum.

Kesimpulan

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar