Proses Menstruasi dan Pengaruh Hormon
Terkait
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Sistem
reproduksi memiliki peran yang penting dalam hal pewarisan keturunan, terutama
sistem reproduksi yang dimiliki wanita. Dalam perkembangan sistem reproduksi
wanita, yang terdiri dari organ-organ genitalia feminima, terdapat suatu siklus
regular yang biasa dialami setiap waktu tertentu, biasanya setiap bulan sekali,
sebagai respon terhadap perubahan kadar hormon beserta fungsi dari organ
ovarium dalam hal memproduksi suatu sel telur, ovum, yang bila tidak dibuahi,
akan diekskresikan melalui proses menstruasi yang umumnya, memiliki siklus 28
hari pada wanita.
Menstruasi merupakan siklus yang kompleks
karena melibatkan berbagai unsur dalam tubuh seorang perempuan, di antaranya
panca indera, korteks serebri, hipotalamus, aksis hipofisis-ovarium, dan organ
tujuannya (uterus, endometrium, serta organ seks sekunder).
Makalah ini bertujuan untuk membahas lebih
lanjut mengenai proses menstruasi yang terjadi dalam batas normal terhadap
kaitannya dengan kadar hormon dan perkembangan organ terkait.
Pembahasan
a.
Makroskopis
Vulva
Vulva disebut juga RIMA PUDENDI adalah ruangan yang terletak
antara labia majora kanan dan kiri. Vulva bermuara pada vestibulum vagina. Di
sebelah distal frenulum labiorum pudendi terdapat jaringan ikat yang menyebrang
disebut commisura posterior.
Mons pubis /
mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis. Pada masa
pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
Labia mayora
Labia majora adalah lipatan yang besar dari mons pubis ke arah
peritoneum, bagian luar labia majora berambut , sedangkan bagian dalam licin
dan banyak mengandung kelenjar sebasea. Bagian depan atas labia majora kanan
dan kiri bertemu pada commisura labialis posterior.
Gambar 1. Labia Mayora
Labia minora
Bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu. Labia
minora merupakan lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai
folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut
saraf. Labia minora kanan dan kiri membatasi sebuah ruang yang disebut
vestibulum. Bagian distal vestibulum membentuk suatu lekukan yang disebut fossa
naviculare.
Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian
superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior
vagina. Identik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada
clitoris. Glens klitoris berisi jaringan
yang dapat berereksi, sifatnya sangat sensitif karena banyak memiliki pembuluh
darah dan ujung serabut saraf.
Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet (lipatan
membran pada ujung perineal vulva), batas lateral labia minora. Vestibulum
merupakan area yang ditutupi oleh labia minora dan menutupi mulut uretra, mulut
vagina, dan duktus kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini identik dengan
kelenjar bulbouretral pada laki-laki.
Introitus / orificium vagina
Terletak di
bagian bawah vestibulum dan merupakan pintu masuk ke vagina.
Hymen (selaput dara)
Merupakan suatu membran yang bentuk dan ukurannya bervariasi,
melingkari mulut vagina yang terdapat lubang kecil untuk aliran darah
menstruasi.
Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix
uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah
di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior,
fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding
ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis,
berubah mengikuti siklus haid. Vagina berfungsi untuk mengeluarkan ekskresi
uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan).
Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas
otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma
urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk
memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
Genitalia Interna
Uterus
Berbentuk seperti buah pir, bagian luarnya ditutupi oleh
peritoneum (serosa), sedangkan bagian rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa
rahim. Uterus pada anak ukurannya lebih kecil dan akan membesar saat usia
pubertas karena pengaruh hormon estrogen. Terdiri dari fundus, corpus dan
serviks uteri.
Fundus uteri berada diantara kedua pangkal tuba yang
terletak di bagian proksimal rahim (diatas muara tuba). Besarnya rahim
berbeda-beda bergantung pada usia dan pernah melahirkan atau belum. Corpus
uteri, terdapat di bawah muara tuba. Corpus merupakan bagian uterus yang
terbesar. Ke arah distal, corpus akan menciut / mengecil dan berubah menjadi
cervix.
Gambar
2. Uterus
Pada kehamilan, bagian ini berfungsi sebagai tempat utama bagi
janin untuk hidup dan berkembang. Cervix uteri merupakan uterus bagian bawah
yang menyempit dan menembus dinding vagina terdiri dari 3 komponen utama: otot
polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin.
Serviks terbagi menjadi dua bagian, yaitu pars supravaginal dan
pars vaginal yang disebut juga dengan portio. Portio yang menonjol di atas
vagina disebut dengan portio supra vaginalis cervicis uteri, sedangkan yang
menonjol ke dalam vagina disebut dengan portio vaginalis cervicis uteri. Serviks
terdiri atas banyak jaringan ikat. Struktur ini dilapisi oleh satu lapis epitel
kelenjar penghasil mukus di bagian dalam kanalis servikalis (endoserviks) dan
epitel skuamosa berlapis pada bagian serviks yang terlihat dalam vagina
(ektoserviks). Transisi antara sel epital kelenjar dan skuamosa dikenal sebagai
zona transformasi.
Saluran yang menghubungkan orifisium uteri interna dan orifisium
uteri eksterna disebut kanalis servikalis, dilapisi oleh kelenjar-kelenjar
serviks. Corpus uteri dan serviks uteri dihubungkan oleh isthmus uteri. Bagian
ini penting dalam kehamilan dan persalinan karena akan mengalami peregangan.
Lapisan dinding uterus terdiri atas endometrium, myometrium, dan perimetrium.
Endometrium merupakan lapisan dinding uterus yang terdalam, sedangkan lapisan uterus
yang terluar adalah perimetrium. Myometrium adalah lapisan otot polos yang
banyak mengandung pembuluh darah dan terletak antara endometrium dan
myometrium. Secara histologi, endometrium dibagi menjadi 2, yaitu:
Endometrium
stadium regenerasi / AUFBAU
Endometrium (mukosa) tampak tipis, epitelnya selapis
silindris, kelenjarnya terlihat hampir semuanya lurus, lumen kelenjar bulat
atau lonjong dan kosong. Epitel kelenjar juga selapis silindris. Miometrium
(lapisan otot) terdiri atas berkas-berkas serat otot polos yang tersusun
berlapis-lapis dengan arah yang tampak kurang teratur.
Endometrium
stadium sekretorik / UMBAU
Endometrium
tampak tebal, kelenjar berkelok-kelok, dindingnya berlipat-lipat, lumen melebar
dan berisi banyak sekret.
Tuba uterina falopii
Dimulai dari fundus uteri sampai fimbriae. Muara tuba uterina pada
corpus uteri disebut ostium internum tuba uterina. Bagian luar tuba uterina
diliputi oleh peritoneum viseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum.
Bagian dalamnya dilapisi oleh silia, yaitu rambut getar yang berfungsi sebagai
jalan yang dilalui sperma untuk mencapai ovum. Tuba uterina dipendarahi oleh
a.uterina (cabang a.iliaca interna) dan a.ovarica (cabang aorta abdominalis).
Aliran pembuluh balik mengikuti aliran pembuluh nadinya. Mukosa
tuba uterina mempunyai banyak lipatan yang sangat rumit, memenuhi lumennya.
Permukaan lipatan mukosa diliputi epitel selapis torak dengan lamina propia
dibawahnya. Epitel terdiri dari 2 macam sel yaitu sel bersilia dan sel yang
tidak bersilia yang berfungsi sekresi. Tunika muskularis terdiri atas dua
lapisan, lapis sirkular yang tebal di sebelah dalam dan lapisan longitudinal
yang tipis di sebelah luar. Tuba uterina terdiri dari 4 bagian,
yaitu :
o Isthmus
tuba uterina : Bagian tuba yang paling sempit, Susunan
lapisan sesuai dengan bagian ampula, tapi lipatan mukosanya tidak rumit, hanya
berupa lipatan longitudinal saja dan lumennya sempit. Tunika muskularis relatif
lebih tebal dibanding ampula terutama tunika muskularis sirkular. Karena
susunan dinding isthmus ini hampir sama dengan ureter pars abdominalis.
o
Ampulla tuba uterina : bagian
tuba yang paling lebar dan merupakan tempat terjadinya proses filtrasi.
o
Infundibulum : bagian tuba berbentuk corong dan mempunyai fimbriae.
o
Pars intertitialis : bagian tuba yang terdapat dalam dinding uterus.
Ovarium
Terdapat dua
ovarium kanan dan kiri. Ovarium berbentuk oval yang melekat pada bagian
belakang ligamentum latum uteri.
Penggantung ovarium pada dinding belakang panggul adalah mesovarium. Ovarium
terletak dalam fossa ovarii waldeyer pada dinding lateral pelvis, pada bagian
cranialnya dibatasi oleh a.v iliaca externa, bagian distal dibatasi oleh
a.uterina, bagian dorsal dibatasi oleh a.v iliaca interna dan n. Obturatorius,
bagian ventralnya dibatasi oleh perlekatan lig. Latum.
Ovarium
berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel
epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks),
ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid
(estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum
pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui
perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat
ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum
infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang
aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
Ovarium disebut juga
indung telur, terdiri atas korteks dan medula. Epitel germinativum pada
permukaannya berupa epitel selapis kubis. Di bawahnya terdapat jaringan ikat
fibrosa, membentuk tunika albugenia ovarium. Korteks ovarium terdapat di bawah
tunika albugenia, dalamnya terdapat sejumlah folikel ovarium dari berbagai fase
perkembangan.
Folikel
primordial atau folikel primitif,
folikel berkembang dan folikel de Graaf (matang).
Stroma korteks ovarium berupa jaringan yang banyak mengandung sel berbentuk
gelendong mirip serat otot polos. Sel-selnya tersusun tidak beraturan sangat
rapat satu sama lain sehingga korteks terlihat sangat padat dengan inti sel.
Medula ovarium lebih longgar, banyak mengandung serat elastin, serat otot
polos, pembuluh arteri dan vena serta pembuluh limfe.
Folikel
primordial, berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter sekitar 40 um. Pembungkus
luarnya epitel selapis gepeng, di dalamnya terdapat sel telur yang mempunyai
inti besar dengan anak inti yang jelas.
Folikel berkembang,
pada beberapa buku digolongkan menjadi folikel primer, folikel sekunder dan folikel
tersier. Besarnya bervariasi, yang ukurannya terkecil folikel primer kurang lebih sama dengan folikel
primordial dengan epitel selapis kubis sampai selapis silindris. Epitel folikel
ini terdiri atas sel folikel atau sel granulosa. Folikel sekunder epitelnya
berlapis. Bila folikel berkembang semakin besar, di antara sel folikel mulai
terbentuk ruang-ruang kecil berisi cairan folikel. Ruang-ruang ini makin
bertambah jumlahnya dan akhirnya menyatu membentuk ruangan tunggal yang lebih
besar disebut antrum folikel yang juga berisi cairan folikel disebut folikel
tersier. Antrum ini kian besar dan yang terbesar letaknya dekat tepi korteks
ovarium disebut folikel de Graaf siap untuk diovulasi.
Sekeliling sel telur juga mengalami perubahan, pada folikel
berkembang dapat dilihat zona pelusida yang berupa bingkai berwarna gelap di
sekitar ovum. Secara histologik ovumnya terlihat semakin besar. Sebenarnya
selama perkembangan ovum melanjutkan pembelahan meiosis yang jarang terlihat
dalam sajian. Karena antrum makin besar, ovum terdesak ke tepi folikel,
terdapat di tepian folikel. Epitel folikel di tempat ini membentuk bukit kecil
menjorok ke tengah antrum disebut kumulus oforus. Makin mendekati kematangan,
sel folikel membentuk korona radiata yang merupakan kelompok sel folikel yang
tersusun radier di sekitar zona pelusida. Bersamaan dengan semua perubahan ini
membran basal foliikel terlihat makin jelas, disebut membrana vitrea. Jaringan
stroma di sekitar folikel membentuk teka interna dan teka eksterna. Selain folikel
berkembang terdapat juga folikel atretis, yaitu folikel yang berdegenerasi
sebelum matang. Sel granulosa tampak menyebar tidak padat dan bentuk folikel
pun berubah, sering tampak kempis.
Korpus luteum
Korpus luteum terdiri atas sel lutein granulosa dan sel
lutein teka. Sel lutein granulosa merupakan bagian terbanyak dan sel lutein
teka jumlahnya lebih sedikit. Sel lutein granulosa berasal dari sel folikel
atau sel granulosa, sedangkan sel lutein teka berasal dari sel teka interna
yang berkembang dan menyusup di antara sel lutein granulosa dari tepi. Sel
lutein teka biasanya lebih kecil dibandingkan sel lutein granulosa dan warnanya
lebih gelap.
Umumnya terdapat di bagian tepi korpus luteum. Sel lutein
granulosa lebih besar, berwarna kuning pucat dan sitoplasmanya sering terlihat
mempunyai vakuol kecil-kecil. Sel ini memenuhi hampir seluruh korpus luteum. Di
antara sel lutein terdapat jaringan ikat dan pembuluh darah kecil.
|
|
Bangunan ini lebih kecil dibandingkan korpus luteum.
Sesuai dengan namanya, bangunan ini berwarna pucat. Kadang-kadang masih dapat
dilihat beberapa pembuluh darah kecil di dalamya. Jaringan ikat terdapat di
antara sisa-sisa sel lutein.
b.
Mikroskopis Gambar 3. Korpus
Albikans
UTERUS
Uterus – endometrium stadium
regenerasi /aufbau
·
endometrium (mukosa) tampak tipis
·
epitelnya selapis silindris
·
kalenjarnya terlihat hampir semua lurus
·
lumen kalenjar bulat atau lonjong dam kosong
·
epitel kalenjar juga selapis silindris
·
miometrium (lapisan otot) terdiri atas berkas- berkas serat otot polos yang tersusun
berlapis- lapis dengan arah yang tampak kurang teratur
Uterus – endometrium stadium sekretorik /umbau
·
Endometrium tampak tebal
·
Kalenjar berkelok-kelok
·
Dindingnya berlipat-lipat
·
Lumen lebar dan berisi banyak sekret
TUBA UTERINA FALOPII
·
Mukosa tuba uterina mempunyai banyak lipatan yang sangat rumit, memenuhi
lumennya.
·
Permukaan lipatan mukosa diliputi epitel selapis toraks dengan lamina
propria dibawahnya.
·
Epitelnya ada 2 macam sel yaitu sel bersilia dan yang tidak bersilia
berfungsi sekresi
·
Tunika muskularis ada 2 lapisan, lapisan sirkular yang tebal di sebelah
dalam dan lapisan longitudinal yang tipis di sebelah luar.
VAGINA
·
Organ berupa tabung yang dindingnya dibentuk oleh mukosa yang terdiri atas
epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
·
Dibawahnya terdapat lapisanotot polos yang terdiri atas berkas-berkas serat
otot polos yang berjalan dalam berbagai arah.
·
Vagina tidak mempunyai kalenjar dalam dindingnya.
OVARIUM
·
Ovarium disebut juga indung telur, terdiri atas korteks dan medulla
·
Pada permukaannya terdapat epitel germinativum berupa epitel selapis kubis
·
Di bawahnya terdapat jaringan ikat fibrosa, membentuk tunika albuginea
ovarium
·
Korteks ovarium terdapat di bawah tunika albuginea, di dalamnya terdapat
sejumlah folikel ovarium dari berbeagai fase perkembangan.
·
Untuk memudahkan, fase perkembangan digolongkan dalam tiga tingkatan yaitu
folikel perimordial atau folikel primitif, folikel berkembang, dan folikel de
graaf (matang).
·
Stroma korteks ovarium berupa jaringan yang banyak mengandung sel berbentuk
gelendong mirip serat otot polos. Sel-selnya tersusun tidak beraturan sangat
rapat satu sama lain sehingga korteks terlihat sangat padat dengan inti sel.
·
Medulla ovarium lebih longgar, banyak mengandung serat elastin, serat otot
polos, pembuluh darah arteri dan vena, serta pembuluh limfe. Beberapa arteri
tampak masuk ke jaringan korteks. Pembuluh darah dan pembuluh limfe masuk dan
keluar ovarium melalui hilusnya yang tidak selalu terlihat pada sediaan.
c.
Mekanisme
Pubertas
Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai yang
bersangkutan mencapai pubertas. Tidak seperti testis janin, ovarium janin belum
berfungsi karena feminisasi sistem reproduksi wanita secara otomatis
berlangsung jika tidak terdapat sekresi testosteron janin tanpa memerlukan
keberadaan hormon-hormon seks wanita. Sistem reproduksi wanita tetap inaktif
sejak lahir sampai pubertas, yang terjadi pada usia sekitar sebelas tahun,
karena GnRH hipothalamus secara aktif ditekan oleh mekanisme-mekanisme yang
serupa dengan yang terjadi pada anak laki-laki prapubertas. Seperti pada anak
laki-laki, hilangnya pengaruh-pengaruh inhibitorik tersebut oleh mekanisme yang
belum diketahui menyebabkan dimulainya pubertas.
Ovarium melakukan fungsi ganda yang saling terkait, yaitu
oogenesis (pembentukan ovum) dan menghasilkan estrogen dan progesteron.
Oogenesis dan sekresi estrogen berlangsung didalam folikel ovarium selama
separuh pertama siklus reproduksi (fase folikel). Pada kira-kira pertengahan
siklus, folikel yang matang melepaskan sebuah ovum (ovulasi). Folikel yang
kosong tersebut kemudian diubah menjadi korpus luteum, yang menghasilkan
estrogen dan progesteron selama separuh terakhir siklus (fase luteal). Unit
endokrin ini bertanggung jawab mempersiapkan uterus sebagai tempat yang cocok
untuk implantasi apabila ovum yang dilepaskan dibuahi. Apabila tidak terjadi
pembuahan dan implantasi, korpus luteum berdegenerasi. Akibat penarikan hormon
yang mendukung lapisan endometrium untuk menjadi sangat berkembang menyebabkan
disintegrasi dan terlepas, menghasilkan darah haid. Secara simultan, fase
folikel baru dimulai kembali.
d.
Perubahan Pubertas
Siklus haid
teratur tidak terjadi pada remaja atau wanita lanjut usia, tetapi karena sebab
yang berbeda. Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai pubertas. Tidak
seperti testis janin, ovarium janin tidak perlu berfungsi karna tanpa adanya
sekresi testosteron janin pada wanita, sistem reproduksi secara otomatis
mengalami feminisasi, tanpa memerlukan adanya hormon seks wanita. Sistem
reproduksi wanita tetap inaktif dari lahir hingga pubertas, yang terjadi pada
usia sekitar 12 tahun ketika aktivitas GnRH hipothalamus meningkat untuk
pertama kali. GnRH mulai merangsang pelepasan hormon-hormon gonadotropik
hipofisis anterior, yang selanjutnya merangsang aktivitas ovarium. Sekresi
estrogen oleh ovarium yang aktif memicu pertumbuhan dan pematangan saluran
reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita. Efek
nyata estrogen pada yang terakhir adalah mendorong pengendapan lemak di
lokasi-lokasi strategik, misalnya payudara, bokong, dan paha, menghasilkan
figus khas wanita yang berlekuk. Pembesaran payudara saat pubertas disebabkan
terutama oleh pengendapan lemak di jaringan payudara, bukan pembentukan
fungsional kelenjar payudara. Peningkatan estrogen masa pubertas juga
menyebabkan penutupan lempeng epifisis, menghentikan pertambahan tinggi lebih
lanjut, serupa dengan efek testosteron yang berubah menjadi estrogen pada pria.
Tiga perubahan pubertas lain pada wanita pertumbuhan rambut ketiak dan pubis,
lonjakan pertumbuhan masa pubertas, dan timbulnya libido berkaitan dengan
lonjakan sekresi androgen adrenal saat pubertas, bukan dengan estrogen.
e.
Hormon yang Berperan
Pada
wanita peran hormon dalam perkembangan oogenesis dan perkembangan reproduksi
jauh lebih kompleks dibandingkan pada pria. Hormon pada reproduksi wanita di
antaranya berperan dalam siklus menstruasi.
Estrogen
Hormon estrogen
dihasilkan ovarium dimulai saat kita anak-anak hingga memasuki periode
menopause. Estrogen berfungsi untuk perkembangan organ kelamin wanita secara
normal, demikian juga dengan Estriol.
Progesteron
Progesteron
disebut juga dengan hormon kehamilan. Hormon ini melanjutkan pekerjaan
esterogen untuk membuat endometrium menjadi lebih tebal dan siap menerima ovum
yang telah dibuahi. Progesteron dihasilkan oleh korpus luteum.
Follicle
Stimulating Hormone (FSH)
Tugas FSH adalah
merangsang pembentukan folikel primer di dalam ovarium yang mengelilingi satu
oosit primer. FSH juga akan berpengaruh terhadap perubahan dari folikel de
Graaf menjadi korpus luteum.
Luteinizing
Hormone (LH)
Pada saat ovulasi
LH yang merangsang pelepasan oosit sekunder dari folikel de Graaf. LH
bekerjasama dengan FSH dalam proses perubahan dari folikel de Graaf menjadi
korpus luteum.
f.
Siklus Haid
Pengaruh estrogen &
progesteron pada uterus
Estrogen merangsang pertumbuhan
miometrium dan endometrium. Hormon ini juga menginduksi sintesis reseptor
progesteron di endometrium hanya setelah endometrium “dipersiapkan” oleh
estrogen. Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh
estrogen untuk mengubahnya menjadi lapisan yang ramah dan menunjang pertumbuhan
ovum yang dibuahi. Dibawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium
menjadi longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air,
memfasilitasi implantasi ovum yang dibuahi. Progesteron menyiapkan endometrium
lebih lanjut untuk menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium
mengeluarkan dan menyimpan glikogen dalam jumlah besar serta merangsang
pertumuhan besar-besaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga
mengurangi kontraktilitas uterus agar tercipta lingkungan yang tenang untuk
implantasi dan pertumbuhan mudugah.
Siklus
haid terdiri dari tiga fase: fase haid, fase proliferatif, dan fase sekretorik
(progestasional).
(a).
Fase proliferasi (b.1)
Fase sekresi (b.2)
Fase sekresi
Gambar 4. beberapa fase pada
siklus menstrurasi
Fase
haid adalah fase yang paling jelas, ditandai oleh pengeluaran darah dan
sisa endometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid
dianggap sebagai permulaaan siklus baru. saat ini bersamaan dengan pengakhiran
fase luteal ovarium dan dimulainya fase folikular. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi
karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum yang dibebaskan selama
siklus sebelumnya, kadar progesteron dan estrogen darah turun tajam. Karena
efek akhir progesteron dan estrogen adalah mempersiapkan endometrium untuk
implantasi ovum yang dibuahi maka tehentinya sekresi kedua hormon ini
menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien ini kehilangan
hormon-hormon penunjangnya.
Turunya kadar hormon ovarium juga
merangsang pembebasan suatu prostaglandin
uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh endometrium,
menghambat aliran darah ke endometrium. Penurunan penyaluran oksigen yang
terjadi kemudian menyebabkankematian endometrium, termasuk pembuluh darahnya.
Perdarahan yang terjadi melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan
endometrium yang mati ke dalam lumen uterus. Sebagian besar lapisan dalam
uterus terlepas selama haid kecuali sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel
epitel dan kelenjar, yang menjadi asal regenerasi endometrium. Prostaglandin
uterus yang sama juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus.
Konstraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga
uterus keluar melalui vagina sebagai darah
haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan prostaglandin
menyebabkan kram haid (dismenore)
yang dialami oleh sebagian wanita.
Pengeluaran darah rerata selama satu
kali haid adalah 50 – 150 ml. Darah yang merembes pelan melalui endometrium
yang berdegenerasi membeku di dalam rongga uterus, kemudian diproses oleh fibrinolisin, suatu pelarut fibrin yang
mengeluarkan fibrin pembentuk anyaman bekuan. Karena itu, darah haid biasanya
tidak membeku karena telah membeku di dalam uterus dan bekuan tersebut telah
larut sebelum keluar vagina. Namun, jika darah mengalir deras melalui pembuluh
yang rusak maka darah menjadi kurang terpajan ke fibrinolisisn sehingga jika
darah haid banyak maka dapat terlihat bekuan darah. Selain darah dan sisa
endometrium, darah haid banyak mengandung leukosit, yang berperan penting dalam
mencegah infeksi pada endometrium yang “terbuka” ini.
Haid biasanya berlangsung selama 5-7
hari setelah degenerasi korpus luteum, bersamaan dengan bagian awal fase
folikular ovarium, penghentian efek progesteron dan estrogen, akibat degenerasi
korpus luteum menyebabkan terkelupasnya endometrium dan terbentuknya
folikel-folikel baru di ovarium, di bawah pengaruh hormon gonadotropik, yang
kadarnya meningkat. Turunnya sekresi hormon gonad menghilangkan pengaruh
inhibitorik dari hipotalamus dan hipofisis anterior sehingga sekresi FSH dan LH
meningkat dan fase folikular baru dapat dimulai. Setelah lima sampai tujuh hari
dibawah pengaruh FSH dan LH, folikel-folikel yang baru berkembang telah
menghasilkan cukup estrogen, untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan
endometrium.
Kemudian, darah haid berhenti dan fase proliferatif siklus uterus dimulai
bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika endometrium
mulai memperbaiki diri dan berproliferasi di bawah pengaruh estrogen dari
folikel-folikel yang baru berkembang. Saat aliran darah haid berheni, yang
tersisa adalah lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm.
estrogen merangsang proliferasi sel epitel kelenjar, dan pembulh darah di
endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan ini menjadi 3 sampai 5 mm. Fase
proliferatif yang didomonasi oleh estrogen ini berlangsung dari akhir haid
hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi penyebab
ovulasi.
Setelah ovulasi, ketika terbentuk korpus
luteum baru, uterus masuk ke fase sekretorik yang bersamaan waktunya
dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar progesteron dan estrogen. Progesteron
mengubah endometrium tebal yang telah dipersiapkan estrogen menjadi jaringan
kaya vaskular dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena
kelenjar endometrium aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan), merujuk pada lapisan subur
endometrium yang mampu menopang kehidupan mudigah. Jika pembuahan dan
implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi dan fase folikular
dan fase haid baru dimulai kembali.
Hormon estrogen
yang menyebabkan lapisan dalam rahim (endometrium) berkembang dan tumbuh dalam
bentuk proliferasi, sehingga pembuluh darah makin dominan dan mengeluarkan
cairan (fase sekresi). Bila tidak terjadi pertemuan antara spermatozoa dan ovum
(telur), korpus luteum berumur 8 hari, sehingga setelah kematiannya tidak mampu
lagi mempertahankan lapisan dalam rahim, oleh karena hormon estrogen dan
progesteron berkurang sampai menghilang. Berkurang dan menghilangnya estrogen
dan progesteron, menyebabkan terjadi fase vasekonstriksi (pengerutan) pembuluh
darah, sehingga lapisan dalam rahim mengalami kekurangan aliran darah
(kematian). Selanjutnya diikuti dengan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah)
dan pelepasan darah dalam bentuk perdarahan yang disebut “menstruasi”.
Pengeluaran darah menstruasi berlangsung antara 3-7 hari, dengan jumlah darah
yang hilang sekitar 50-60 cc tanpa bekuan darah. Bila perdarahan disrtai
gumpalan darah menunjukan terjadi perdarahan banyak, yang merupakan keadaan
abnormal dan menstruasi.
Hubungan jelas setiap siklus dalam
tahapan menstruasi yang juga berkaitan langsung dengan siklus ovarium, yang
telah dijelaskan pada penjelasan diatas, dapat diamati pada diagram berikut
ini.
Gambar
5. korelasi antara
siklus ovarium dan siklus menstrurasi beserta kadar hormon yang menyertai.
Siklus
Ovarium
Siklus menstruasi diperantarai oleh mekanisme
neuroendokrin yang kompleks suatu hormon pelepas, gonadotropin-releasing
hormon (GnRH), sudah dikenali berperan terhadap pelepasan gonadotropin, follicle
stimulating hormon (FSH) dan luteinizing horomone (LH). GnRH
dihasilkan di hipotalamus dan dihantarkan ke hipofisis anterior (tempat
gonadotropin dihasilkan) melalui sistem vaskular periportal.
Siklus menstruasi normal diatur secara cermat
oleh sekresi gonadotropin dari hipofisis anterior ke sirkulasi sistemik. Dengan
onset setiap siklus, folikel yang siap untuk pematangan dirangsang berkembang
oleh FSH. Satu folikel (jarang lebih) melampaui yang lainnya untuk membentuk
folikel de graaf, kemudian folikel yang tersisa mengalami regresi. Sementara
itu esterogen dihasilkan oleh sel lutein teka pada folikel. Esterogen
ovarium yang utama adalah estron, estradiol, dan sejumlah kecil estriol. Pada
siklus hari ke-8 dan ke-9, kadar esterogen berhenti meningkat dan LH serta FSH
mulai berfluktuasi. Pada sekitar hari ke-14, kenaikan kadar LH yang tinggi dan
mendadak memicu pecahnya folikel dan ovulasi. Terjadi sedikit perdarahan, dan
folikel yang kosong segera terisi oleh darah yang menggumpal. LH dan mungkin
prolaktin merangsang lutenisasi sel granulosa sehingga terbentuk kopus
luteum. Sel lutein granulosa menghasilkan progesteron, yang mencapai
puncaknya pada kira-kira hari ke-23 atau ke-24. Jika pada saat itu tidak
terjadi fertiliasai dan nidasi ovum, korpus luteum mengalami regresi.
Kemudian kadar progesteron dan esterogen turun mencapai kadar
kritis pada sekitar hari ke-28 ketika
terjadi perdarahan endometrium (menstruasi).
Hormon
yang berpengaruh pada siklus ovarium
Ovarium memiliki dua unit endokrin yang
berkaitan: folikel penghasil estrogen selama paruh pertama siklus, dan korpus
luteum yang menghasilkan progesteron dan estrogen selama paruh terakhir siklus.
Unit-unit ini secara berurutan dipicu oleh hubungan hormonal siklik kompleks
antara hipotalamus, hipofisis anterior, dan kedua unit endokrin ovarium
(estrogen dan progesteron). Fungsi gonad pada wanita dikontrol secara langsung
oleh hormon-hormon gonadotropik hipofisis anterior, yaitu follicle-stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon ini
diatur oleh gonadotropin-releasing hormone (GnRH) hipotalamus serta efek
umpan balik hormon-hormon gonad. Kontrol gonad wanita diperumit oleh sifat
fungsi ovarium yang siklik. Efek FSH dan LH pada ovarium bergantung pada
stadium siklus ovarium. Selain itu, estrogen
menimbulkan efek umpan balik negatif selama paruh tertentu siklus dan efek
umpan balik positif pada paruh siklus lainnya, bergantung pada konsentrasi
estrogen. Berbeda dengan pria, FSH tidak hanya semata-mata bertanggung jawab
untuk gametogenesis, demikian juga LH pada ovarium tidak hanya menentukan
sekresi hormon gonad.4,8
Dalam hal ini terdapat tiga jenis fungsi hormonal dalam pengaturan
siklus ovarium:
1. Kontrol folikel
Tahap-tahap awal pertumbuhan folikel
pra-antrum dan pematangan oosit tidak memerlukan rangsangan gonadotropik namun diperlukan
dukungan hormon untuk pembentukan antrum dan perkembangan folikel. Pembentukan
antrum diinduksi oleh FSH. FSH dan estrogen merangsang proliferasi sel-sel
granulosa. FSH dan LH diperlukan untuk sintesis dan sekresi estrogen oleh
folikel, tetapi kedua hormon ini bekerja pada sel yang berbeda dan pada tahap
yang berbeda dalam jalur pembentukan estrogen. Sel granulosa dan sel teka ikut
serta dalam memproduksi estrogen. Kolesterol diubah menjadi estrogen dalam
beberapa tahap dengan yang terakhir berupa konversi androgen menjadi estrogen.
Sel-sel teka cepat menghasilkan endrogen tetapi kurang kemampuannya untuk
mengubah androgen menjadi estrogen. Sel granulosa, sebaliknya, mengandung enzim
aromatase sehingga dapat dengan mudah mengubah androgen menjadi estrogen tetapi
sel granulosa tidak dapat membentuk androgen. LH bekerja pada sel teka untuk
merangsang pembentukan androgen, sementara FSH bekerja pada granulosa untuk
meningkatkan konversi androgen teka yang berdifusi ke dalam sel granulosa dari
sel teka menjadi estrogen. Karena kadar basal FSH yang rendah sudah memadai
untuk mendorong konversi akhir menjadi estrogen, maka laju sekresi estrogen
oleh folikel terutama bergantung pada LH dalam darah, yang terus meningkat
selama fase folikular. Sejalan dengan semakin bertumbuhnya folikel, lebih
banyak estrogen diproduksi karena sel folikel penghasil estrogen bertambah.
Sebagian dari estrogen yang dihasilkan oleh folikel dikeluarkan ke dalam darah
dan sisanya tetap berada di dalam folikel dan ikut membentuk cairan antrum dan
merangsang proliferasi lebih lanjut sel granulosa. Estrogen yang dikeluarkan ke
darah, selain bekerja pada jaringan spesifik seperti uterus, juga menghambat
hipotalamus dan hipofisis anterior secara umpan balik negatif. Kadar estrogen
yang meningkat dan menandai terjadinya fase folikular bekerja secara langsung
pada hipotalamus untuk menghambat sekresi sekresi GnRH sehingga pelepasan FSH
dan LH tertekan. Namun, efek primer estrogen adalah langsung pada hipofisis itu
sendiri. Estrogen menurunkan kepekaan sel-sel penghasil FSH sehingga
menyebabkan kadar FSH plasma turun selama fase folikular.
Faktor
lain penyebab FSH menurun ialah sekresi inhibin oleh sel-sel folikel
yang bekerja`pada sel hipofisis anterior. Penurunan FSH mengakibatkan semua folikel
yang sedang`berkembang menjadi atresia kecuali satu yang paling matang.
2. Kontrol ovulasi
Ovulasi dan selanjutnya luteinisasi folikel
yang pecah dipicu oleh peningkatan sekresi`LH yang mendadak dan besar. Lonjakan
LH ini menyebabkan empat perubahan besar`dalam folikel:
·
Menghentikan sintesis estrogen oleh
sel-sel folikel
·
Memulai kembali meiosis di oosit
folikel yang sedang berkembang, tampaknya dengan menghambat pelepasan suatu oocyte
maturation-inhibiting substance yang dihasilkan oleh sel granulosa.
·
Memicu pembentukan prostaglandin kerja
lokal, yang memicu ovulasi dengan mendorong perubahan vaskular yang menyebabkan
pembekakan cepat folikel sembari menginduksi digesti enzimatik dinding folikel.
Selain itu, prostaglandin menyebabkan pecahnya dinding yang menutupi tonjolan
folikel.
·
Diferensiasi sel folikel menjadi sel
luteal. Karena lonjakan LH memicu ovulasi dan luteinisasi, maka pembentukan
korpus luteum secara otomatis mengikuti ovulasi. Lonjakan LH mengakhiri fase
folikular dan memulai fase luteal.
Dua cara sekresi LH, yaitu sekresi tonik LH
yang menyebabkan sekresi hormon ovarium,`dan lonjakan LH yang menyebabkan
ovulasi tidak saja terjadi dalam waktu yang berbeda`dan menghasilkan efek yang
berbeda pada ovarium tetapi juga dikontrol oleh mekanisme`yang berbeda pula.
Sekresi tonik LH ditekan secara parsial oleh efek inhibitorik kadar`sedang
estrogen selama fase folikular, dan ditekan total oleh peningkatan
kadar`progesteron selama fase lukteal. Lonjakan LH dipicu oleh efek umpan balik
positif. Sementara kadar estrogen yang meningkat dan moderat pada awal fase
folikular menghambat
sekresi LH, kadar estrogen yang tinggi selama puncak sekresi estrogen
pada`akhir fase folikular merangsang LH dan memulai lonjakan LH. Hanya folikel
matang`praovulasi, bukan folikel pada tahap awal perkembangan yang dapat
mengeluarkan`estrogen dalam jumlah banyak sehingga memicu lonjakan LH. Oleh
karena itu ovulasi`baru terjadi sampai folikel mencapai ukuran dan kematangan
yang sesuai. Lonjakan LH`berlangsung sekitar sehari pada pertengahan siklus,
tepat sebelum ovulasi.
3. Kontrol korpus luteum
LH memelihara korpus luteum yaitu setelah
memicu pembentukan korpus luteum, LH`merangsang sekresi berkelanjutan hormon
steroid oleh struktur ovarium. Di bawah`pengaruh LH, korpus luteum mengeluarkan
progesteron dan estrogen, dengan`progesteron merupakan hormon yang paling
banyak diproduksi. Kadar progesteron`meningkat untuk pertama kali selama fase
luteal. Tidak ada progesteron yang dikeluarkan`selama fase folikular. Fase
folikular didominasi oleh hormon estrigen, sedangkan fase`luteal oleh hormon
progesteron.
Pada pertengahan siklus terjadi penurunan
sesaat kadar estrogen darah karena folikel`penghasil estrogen mati saat
ovulasi. Kadar estrogen kembali naik selama fase luteal`karena aktivitas korpus
luteum meskipun tidak mencapai kadar yang sama dengan fase`folikular. Meskipun
estrogen kadar tinggi merangsang sekresi LH namun progesteron`yang mendominasi
fase luteal, dengan kuat menghambat sekresi LH serta FSH. Inhibisi`FSH dan LH oleh
progesteron mencegah pematangan folikel baru dan ovulasi selama fase luteal. Di
bawah pengaruh progesteron, sistem reproduksi dipersiapkan untuk menunjang ovum
yang baru saja dibebaskan seandainya ovum tersebut dibuahi, dan bukan
mempersiapkan pelepasan ovum lain. Tidak ada inhibin yang disekresikan selama
fase luteal. Korpus
luteum berfungsi selama rerata dua minggu kemudian berdegenerasi jika tidak
terjadi fertilisasi. Menurunnya kadar LH yang disebabkan oleh efek inhibitorik progesteron
berperan dalam degenerasi korpus luteum. Matinya korpus luteum mengakhiri fase
luteal dan menyiapkan tahap baru untuk fase folikular berikutnya. Sewaktu fase
folikular berdegenerasi, kadar progesteron dan estrogen plasma turun secara
drastis karena kedua hormon ini tidak lagi diproduksi. Hilangnya efek inhibisi kedua
hormon ini pada hipotalamus memungkinkan sekresi FSH dan sekresi LH tonik
kembali meningkat moderat. Di bawah pengaruh hormon-hormon gonadotropik ini,
kelompok baru folikel primer kembali diinduksi untuk matang seiring dengan
dimulainya fase folikular baru.
Siklus
Endometrium
Selama masa reproduksi endometrium
mengalami perubahan siklis secara terus menerus. Setiap siklus biasanya melalui
4 fase yang berhubungan dengan aktivitas hormon ovarium dan dapat diidentifikasi
dengan biopsi endometrium atau pemeriksaan multi hormon, berikut penjelasannya:
A) Fase proliferatif
Fase proliferatif (estrogenik) mempunyai
durasi yang sanga bervariasi tetapi biasanya konsisten untuk setiap individu.
Biasanya sekitar 14 hari pada siklus 28 hari. Fase proliferatif dini dimulai
pada kira-kira hari keempat atau kelima siklus, tepat sebelum akhir menstruasi
dan berlangsung selama 2-3 hari. Akhir fase ini bertepatan dengan kira-kira hari
ketujuh siklus klasik. Epitel permukaan diperbaiki tetapi tipis atau mudah
rusak. Ketebalannya tergantung pada hilangnya epitel berlapis-lapis palsu
(pseudostratifikasi), dan sering terjadi mitosis. Sel-sel stroma menunjukkan
inti yang relatif besar dengan sedikit sitoplasma. Terdapat sel fagosit. Fase
midproliferatif bertepatan dengan kira-kira hari ke 10 siklus. Fase ini hanya
berbeda derajat dengan fase proliferatif dini. Permukaannya lebih teratur,
kelenjarnya lebih berliku-liku dan sel kelenjar berlapis-lapis pasu. Ketebalan
endometrium meningkat. Fase proliferatif lanjut terjadi pada kira-kira hari
ke-14 siklus rata-rata. Permukaannya berombak, sel stroma sangat padat, dan berbagai
cairan ekstraseluler hilang. Ketebalan kira-kira seperti sebelum proliferasi, tetapi
dengan konsentrasi sel yang lebih besar. Kelenjar semakin berliku-liku dan mengandung
sekresi minimal.
Pada permulaan setiap siklus menstruasi,
sebagian besar endometrium mengalami deskuamasi oleh proses menstruasi. Setelah
menstruasi, hanya lapisan tipis stroma endometrium tersisa pada basis
endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang tertinggal terletak pada
bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptus endometrium. Di bawah pengaruh
esterogen yang sekresinya ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama
siklus ovarium, sel-sel stroma dan sel-sel epitel dengan cepat berproliferasi. Permukaan
endometrium mengalami reepitelisasi dalam tiga sampai tujuh hari setelah permulaan
menstruasi. Selama dua minggu pertama siklus seksual yaitu, sampai ovulasi, tebal
endometrium sangat bertambah, karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan karena
pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium dan pembuluh darah ke dalam
endometrium, semua efek ini ditingkatkan oleh esterogen. Pada saat ovulasi
tebal endometrium sekitar 2 sampai 3 mm.
B) Fase ovulasi
Fase ovulasi terjadi pada kira-kira hari ke-14
pada siklus 28 hari, dengan disertai ovulasi. Karena tidak ada perubahan
endometrium yang cukup besar dalam 24-36 jam setelah ovulasi, endometrium pada
hari ke-14 tidak dapat dibedakan dengan hari ke-15. Perubahan yang nyata tampak
pada sel kelenjar pada hari ke-16 dan kemudian menunjukkan aktivitas korpus
luteum dan, tampaknya ovulasi.
C) Fase sekretorik
Fase sekretorik secar teknis dimulai dengan
ovulasi. Pada hari ke-16, kelenjar semakin berliku-liku, terdapat banyak
gambaran mitosis dan muncul vakuola basal penuh berisi glikogen. Pada hari
ke-17 terjadi vaskuolisasi sel yang paling jelas. Hampir dua per tiga bagian
basal kelenjar ini berisi cairan yang penuh mengandung glikogen. Dapat diamati adanya
edema ringan, dan jarang terjadi mitosis. Pada hari ke-18 sekresi cairan dalam kelenjar
menjadi jelas. Keadaan ini bertepatan dengan saat ovum berada bebas dalam ruang
uterus dan harus mendapat makanan dari sekresi uterus. Pada hari ke-22,
kelenjar lebih berliku-liku tetapi aktivitas sekretorisnya lebih sedikit dan
terlihat sekresi mukoid yang cukup banyak dalam lumennya. Edema stroma saat ini
mencapai puncaknya. Keadaan ini akan mempermudah implantasi ovum. Puncak
aktivitas sekretoris dan endema stroma yang tinggi bertepatan dengan periode
fungsi korpus luteum yang maksimal. Dari hari ke-24 sampai hari ke-27, edema
berkurang dan sel stroma mengalami perubahan bentuk menjadi unsur yang mengarah
ke sel desidua. Perubahan pertama terlihat dalam sel di sekeliling arteriola
spiralis dengan gambaran mitosis pada stroma perivaskuler. Kelenjar semakin
lama semakin berliku-liku dengan dinding yang bergerigi. Sekresi sel kelenjar berkurang terdapat infiltrasi oleh
netrofil polimorfonukleat dan monosit. Akhirnya, terjadi nekrosis dan
peluruhan.
Selama separuh terakhir siklus seksual,
progesteron dan esterogen disekresi dalam jumlah besar oleh korpus luteum.
Esterogen menyebabkan proliferasi sel tambahan dan progesteron menyebabkan
pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi endometrium. Kelenjar tambah
berkelok-kelok, zat yang disekresi tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan
kelenjar menyekresi sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah,
lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai darah ke endometrium
meningkat lebih lanjut sebanding dengan aktivitas sekresi yang sedang berkembang.
Tebal endometrium sekitar dua kali waktu fase sekresi sehingga menjelang akhir
siklus haid, endometrium mempunyai ketebalan 4 sampai 6 mm.
D) Fase menstruasi
Selama fase mensturasi, edema endometrium dan
perubahan degeneratif yang terjadi pada akhir fase sekretoris menyebabkan
nekrosis jaringan. Keadaan ini tersebar secara tidak merata di seluruh lapisan
endometrium kecuali lapisan basal. Nekrosis menyebabkan pembuluh darah robek,
menghasilkan perdarahan-perdarahan kecil yang tersebar. Perdarahan ini membesar
dan bersatu membentuk hematoma yang menyebar, yang nantinya akan menyebabkan
pemisahan endometrium dan semain robeknya pembuluh darah kecil. Lepasnya
fragmen-fragmen jaringan biasanya diawali dengan bercak-bercak sekitar 12 jam
setelah dimulainya perdarahan pada siklus ovulatoir. Yang menarik, seluruh isi ruang endometrium
terpisah sebagai apa yang disebut dismenore membranosa. Keadaan sakit ini
berasal dari pemisahan mendadak seluruh lapisan endometrium sekretoris, mungkin
karena serangkaian kejadian yang diterangkan di atas teradi sangat cepat dan
lengkap. Diperkirakan sekitar dua per tiga endometrium hilang setiap mensturasi
ovulatoir. Pada saat aliran cepat ini berhenti, penyusutan jaringan dan pemisahan
telah terjadi pada bagian yang lebih besar dari permukaan kavum uteri. Setelah
menstruasi berlangsung selama 4-7 hari, perdarahan perlahan-lahan berkurang. Perdarahan
regional berkurang akibat konstriksi dan trombosis sisa arteriola spiralis yang
tidak rusak, sehingga bercak perdarahan akhirnya berhenti. Interval antara
ovulasi dan
menstruasi
normalnya hampir tepat 14 hari. Sebaliknya, pada periode praovulatoir, interval
hari pertama mensturasi dengan hari ovulasi, dapat beragam dari 7 atau 8 hari hingga
lebih dari satu bulan. Variasi periode praovulatoir ini menyebabkan perbedaan interval
antara periode menstruasi.
Menstruasi disebabkan oleh pengurangan
mendadak progesteron dan esterogen pada akhir siklus haid ovarium. Efek pertama
adalah penurunan rangsang sel-sel endometrium oleh kedua hormon tersebut,
diikuti dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar 65
persen tebal sebelumnnya. Selama 24 jam sebelumnya mulai menstruasi, pembuluh
darah yang menuju ke lapisan mukosa endometrium menjadi vasopastik, mungkin
karena beberapa efek involusi seperti pengeluaran zat vasokonstriktor.
Vasospasme dan kehilangan rangsan hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagian
akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskular endometrium, area perdarahan
mulai tebentuk setelah 24 sampai 36 jam. Lambat laun, lapisan luar endometrum
yang nekrotik terlepas dari uterus pada tempat perdarahan, pada 48 jam setelah
mulainya menstruasi, semua lapisan superfisial endometrium telah mengalami
deskuamasi. Jaringan deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi
uterus yang mengeluarkan isi uterus.
Hormon
yang berpengaruh pada siklus uterus
Fluktuasi kadar esterogen dan progesteron
selama silus ovarium menimbulkan perubahan mencolok di uterus, menghasilkan
siklus haid, atau siklus uterus. Karena mencerminkan perubahan hormon selama
siklus ovarium maka siklus haid berlangsung rerata 28 hari, seperti halnya
silum ovarium, meskipun bahkan pada orang normal dapat terjadi variasi yang
cukup bermakna dari rerata ini. Manifestasi nyata perubahan siklik di uterus
adalah perdarahan haid sekali dalam tiap siklus haid. Namun, perubahan yang
relatif kurang jelas berlangsung sepanjang siklus, sewaktu uterus bersiap untuk
implantasi seandainya ovum yang dibebaskan dibuahi, kemudian pembersihan
lapisan tersebut jika implantasi tidak terjadi, hanya untuk memulihkan dirinya
dan kembali bersiap untuk ovum yang akan dibebaskan pada siklus berikutnya.4
Uterus terdiri dari dua lapisan utama yaitu
miometrium, lapisan otot polos luar dan endometrium, lapisan darah yang
mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Esterogen merangsang pertumbuhan
miometrium dan endometrium. Hormon ini juga meninduksi sentesis reseptor
progesteron di endometrium. Karena itu, progesteron dapat berefek pada
endometrium hanya setelah endometrium “dipersiapkan” oleh esterogen.
Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh sterogen
untuk mengubah menjadi lapisan yang ramah dan menunjang pertumbuhan ovum yang
dibuahi. Di bawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi
longgar dan edematosa akibat akumulasi elektrolit dan air, memfasilitasi
implantasi ovum yang dibuahi. Progesteron menyiapkan endometrium lebih lanjut untuk
menampung mudigah dengan mendorong kelenjar endometrium mengeluarkan dan menyimpan
glikogen dalam jumlah besar serta merangsang pertumbuhan besar-besaran pembuluh
darah endometrium. Progesteron juga mengurangi kontraktilitas uterus agar
tercipta lingkungan yang tenang untuk implantasi dan pertumbuhan mudigah. Dalam
hal ini siklus haid terdiri dari tiga fase:
1. Fase haid
Fase haid merupakan fase yang paling jelas,
ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium dari vagina. Berdasarkan
perjanjian, hari pertama haid dianggap sebagai siklus baru. Fase ini bersamaan
dengan pengakhiran fase luteal ovarium dan dan dimulainya fase folikular.
Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi
ovum yang dibebaskan selama siklus sebelumnya, kadar progesteron dan estrogen
darah mengalami penurunan drastis. Terhentinya sekresi sekresi kedua hormon ini
menyebabkan lapisan dalam uterus yang kaya vaskular dan nutrien kehilangan
hormon-hormon penunjangnya. Turunnya kadar hormon ovarium merangsang pembebasan
suatu prostagalndin uterus yang menyebabkan kematian endometrium.
Penurunan penyaluran oksigen yang terjadi
menyebabkan kematian endometrium dan pembuluh darahnya. Perdarahan yang terjadi
melalui kerusakan pembuluh darah ini membilas jaringan endometrium yang mati ke
dalam uterus. Sebagain besar lapisan dalam uterus terlepas selama haid kecuali
sebuah lapisan dalam yang tipis berupa sel epitel dan kelenjar, yang menjadi
asal regenerasi endometrium. Prostaglandin uterus yang sama juga merangsang
kontraksi ritmik ringan miometrium uterus.
Kontraksi ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus
keluar melalui vagina sebagai darah haid. Kontraksi uterus yang terlalu kuat akibat
produksi berlebihan prostaglandin menyebabkan kram haid (dismenore) yang
dialami oleh sebagian wanita. Pengeluaran darah rerata selama satu kali haid
adalah 50-150 ml. Haid biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari
setelah degenerasi korpus luteum, bersamaan dengan bagian awal fase folikular
ovarium. Selanjutnya, folikelfolikel baru terbentuk di bawah pengaruh hormon
gonadotropik yang kadarnya meningkat. Setelah lima sampai tujuh hari di bawah
pengaruh FSH dan LH, folikelfolikel yang baru berkembang telah menghasilkan
cukup estrogen untuk mendorong perbaikan dan pertumbuhan endometrium.
2. Fase proliferatif
Ketika fase haid selesai, fase proliferatif
siklus uterus dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium
ketika endometrium mulai berproliferasi di bawah pengaruh estrogen dari
folikel-folikel yang berkembang. Saat aliran darah haid berhenti, yang tersisa
adalah lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1 mm.
Estrogen merangsang proliferasi sel-sel epitel,
kelenjar, dan pembuluh darah di endometrium, meningkatkan ketebalan lapisan
menjadi 3-5 mm. Fase proliferatif yang didominasi oleh estrogen ini berlangsung
dari akhir haid hingga ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang
menjadi penyebab ovulasi.
3. Fase sekretorik atau progestasional
Setelah ovulasi, ketika terbentuk korpus
luteum baru, uterus masuk ke fase sekretorik atau progestasional yang bersamaan
waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum mengeluarkan sejumlah besar
progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah endometrium tebal yang telah
dipersiapkan estrogen menjadi jaringan kaya vaskular dan glikogen. Periode ini
disebut fase sekretorik karena kelenjar endometrium aktif mengeluarkan
glikogem. Jika fertilisasi dan implantasi tidak terjadi maka korpus luteum berdegenerasi
dan fase folikular serta fase haid dimulai kembali.
Sistem
hormon pada wanita terdiri dari tiga hirarki hormon sebagai berikut:
1.
Hormon 'releasing' hipotalamus :
'luteinizing hormone-releasing hormone' (LHRH).
2.
Hormon hipofisis anterior, hormon
perangsang folikel (FSH) dan hormon lutenisasi (LH), yang di sekresi akibat
respon terhadap 'releasing hormone' dari hipotalamus.
3.
Hormon ovarium; esterogen, dan
progesteron, yang disekresi oleh ovarium akibat respon terhadap dua hormon dari
kelenjar hipofisis anterior. Hormon esterogen, pada wanita normal, tidak hamil,
esterogen di sekresi terutama oleh ovarium, walaupun dalam jumlah kecil juga
disekresi oleh korteks adrenal. Pada kehamilan, dalam jumlah besar juga disekresi
oleh plasenta, tentu saja sampai 100 kali jumlah yang disekresi oleh ovarium
selama siklus bulanan normal. Sedangkan hormon progesteron, hampir semua
progesteron pada wanita tidak hamil disekresi oleh korpus luteum selama separuh
terakhir setiap siklus ovarium. Akan tetapi, selama kehamilan progesteron
dibentuk dalam jumlah besar sekali oleh
plasenta, sekitar 10 kali jumlah normal setiap bulannya, khususnya setelah
bulan keempat kehamilan. Progesteron berfungsi dalam meningkatkan perubahan
sekresi pada endometrium.
Feed
back sistem hipotalamus hipofisis ovarium
1.
Sekresi hormon-hormon ovarium pasca
ovulasi dan penekanan gonadotropin.
Bagian paling awal siklus haid yang dijelaskan
adalah peristiwa yangterjadi selama fase pascaovulasi, antara ovulasi dan
permulaan mensturasi. Selama masa ini korpus luteum menyekresi banyak sekali
progesteron dan esterogen. Efek kombinasinya atas hipotalamus adalah untuk
menghambat sekresi LHRH sehingga menyebabkan umpan balik negatif kuat yang
menekan sekresi gonadotropin, FSH, dan LH, selama waktu ini.
2.
Fase pertumbuhan folikel.
Beberapa hari sebelum menstruasi, korpus
luteummengalami involusi, serta sekresi esterogen dan progesteron turun sampai
rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan balik esterogen dan
progesteron turun sampai rendah. Hal ini melepaskan hipotalamus dari efek umpan
balik dari progesteron dan esterogen sehingga sekresi LHRH meningkat lagi,
diikuti secara berurutan oleh peningkatan sekresi FSH dan LH beberapa ratus
persen. Hormon ini memulai pertumbuhan folikel baru dan peningkatan progresif
sekresi esterogen, mencapai puncak sekresi esterogen sekitar 12 sampai 13 hari setelah
timbulnya menstruasi. Selama 11 sampai 12 hari pertama pertumbuhan folikel ini,
kecepatan sekresi FSH dan LH gonadotropin berkurang, kemudian dengan mendadak sekresi kedua hormon tersebut
meningkat, mengakibatkan stadium siklus haid selanjutnya.
3.
Gejolak LH dan FSH praovulasi.
Ovulasi sekitar 11 sampai 12 hari setelah
timbulnya menstruasi, penurunan sekresi FSH dan LH berhenti dengan mendadak.
Diduga bahwa kadar esterogen yang tinggi pada saat ini menyebabkan efek umpan
balik positif, seperti dijelaskan sebelumnya, yang mengakibatkan gejolak
sekresi yang hebat, khusus nya LH tetapi dalam arti yang lebih sempit FSH. Efek
ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa sel sekresi folikel menjadi lelah
sehingga kecepatan sekresi esterogen telah mulai turun sekitar satu hari
sebelum gejolak LH. Apapun penyebab gelora LH dan FSH sebelum ovulasi, LH
mengakibatkan ovulasi dan pembentukan korpus luteum.
Kesimpulan
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar