Epilepsi Tonik
Klonik
Agung
Ganjar Kurniawan
102010169
Kelompok
: C-9
Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta
Barat 11510
Pendahuluan
Tubuh kita memiliki suatu system yang sangat penting
yaitu system saraf dan tubuh kita mempunyai orgn yang sangat penting yaitu
otak. Jika otak dan system saraf mengalami gangguan otomatis tubuh akan
mengalami gangguan juga yang sangat menggangu dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti kita ketahui otak merupakan system pengatur seluruh tubuh kita. Otak
merupakan pusat dari berbagai mekanisme tubuh kita. Jika otak kita atau
system saraf kita mengalami gangguan tubuh kita otomatis akan terganggu.
Seperti pada epilepsy dimana system saraf terganggu. Epilepsy dapat menyerang siapa
saja. Dan sering mulai dari anak-anak. Di dalam makalah ini saya akan membahas
tentang epilepsy dan berbagai macam epilepsy selain itu saya juga akan membahas
beberapa penyakit-penyakit yang dapat mengakibatkan kejang seperti epilepsy.
Pembahasan
A. Anamnesis
Pada skenario seperti kita
ketahui laki-laki berusia 23 tahun mengalami kejang. Anamnesis yang dapat kita tanyakan antara
lain :
Identitas Pasien
secara lengkap
·
Nama lengkap pasien? Usia Pasien? Pekerjaan pasien? Alamat pasien?
Keluhan Utama
·
Tanya keluhan utama pasien hingga datang ke dokter untuk berobat? Tanya
sejak kapan pasien merasakan gejala/nyeri tersebut?
Riwayat penyakit
sekarang
·
Kapan pasien mengalami serangan kejang yang pertama
kali selama ini? Usia serangan dapat memberi gambaran klasifikasi dan penyebab
kejang. Serangan kejang yang dimulai pada neonatus biasanya penyebab sekunder
gangguan pada masa perinatal, kelainan metabolik dan malformasi kongenital.
Serangan kejang umum cenderung muncul pada usia anak-anak dan remaja. Pada usia
sekitar 70 tahunan muncul serangan kejang biasanya ada kemungkinan mempunyai
kelainan patologis di otak seperti stroke atau tumor otak.1
·
Apakah pasien mengalami semacam peringatan
atau perasaan tidak enak pada waktu serangan atau sebelum serangan kejang
terjadi? Gejala peringatan yang dirasakan pasien menjelang serangan kejang
muncul disebut dengan “aura” dimana suatu “aura” itu bila muncul
sebelum serangan kejang parsial sederhana berarti ada
fokus di otak. Sebagian “ aura” dapat membantu dimana letak lokasi serangan
kejang di otak. Pasien dengan epilepsi lobus temporalis dilaporkan adanya “déjà
vu” dan atau ada sensasi yang tidak enak di lambung, gringgingen yang mungkin
merupakan epilepsi lobus parietalis. Dan gangguan penglihatan sementara mungkin dialami
oleh pasien dengan epilepsi lobus oksipitalis. Pada serangan kejang umum bisa
tidak didahului dengan “aura” hal ini disebabkan terdapat gangguan pada kedua
hemisfer , tetapi jika “aura” dilaporkan oleh pasien sebelum serangan kejang
umum, sebaiknya dicari sumber fokus yang patologis.
·
Apa yang terjadi selama serangan kejang berlangsung?
Bila pasien bukan dengan serangan kejang sederhana yang kesadaran masih baik
tentu pasien tidak dapat menjawab pertanyaan ini, oleh karena itu wawancara
dilakukan dengan saksi mata yang mengetahui serangan kejang berlangsung. Apakah
ada deviasi mata dan kepala kesatu sisi? Apakah pada awal serangan kejang
terdapat gejala aktivitas motorik yang dimulai dari satu sisi tubuh? Apakah
pasien dapat berbicara selama serangan kejang berlangsung? Apakah mata berkedip
berlebihan pada serangan kejang terjadi? Apakah ada gerakan
“automatism” pada satu sisi ? Apakah ada sikap tertentu pada
anggota gerak tubuh? Apakah lidah tergigit? Apakah pasien mengompol ? Serangan
kejang yang berasal dari lobus frontalis mungkin dapat menyebabkan kepala dan
mata deviasi kearah kontralateral lesi. Serangan kejang yang berasal dari lobus
temporalis sering tampak gerakan mengecapkan bibir dan atau gerakan mengunyah.
Pada serangan kejang dari lobus oksipitalis dapat menimbulkan gerakan mata
berkedip yang berlebihan dan gangguan penglihatan. Lidah tergigit dan
inkontinens urin kebanyakan dijumpai dengan serangan kejang umum meskipun dapat
dijumpai pada serangan kejang parsial kompleks.1
·
Apakah yang terjadi segera sesudah serangan kejang
berlangsung? Periode sesudah serangan kejang berlangsung adalah dikenal dengan
istilah “post ictal period ” Sesudah mengalami serangan kejang umum
tonik klonik pasien lalu tertidur. Periode disorientasi dan kesadaran yang
menurun terhadap sekelilingnya biasanya sesudah mengalami serangan kejang
parsial kompleks. Hemiparese atau hemiplegi sesudah serangan kejang disebut
“Todd’s Paralysis“ yang menggambarkan adanya fokus patologis di otak. Afasia
dengan tidak disertai gangguan kesadaran menggambarkan gangguan berbahasa di
hemisfer dominan. Pada “Absens“ khas tidak ada gangguan disorientasi setelah
serangan kejang.
·
Kapan kejang berlangsung selama siklus 24 jam sehari?
Serangan kejang tonik klonik dan mioklonik banyak dijumpai biasanya pada
waktu terjaga dan pagi hari. Serangan kejang lobus temporalis dapat
terjadi setiap waktu, sedangkan serangan kejang lobus frontalis biasanya muncul
pada waktu malam hari.
·
Apakah ada faktor pencetus ? Serangan kejang dapat
dicetuskan oleh karena kurang tidur, cahaya yang berkedip,menstruasi, faktor
makan dan minum yang tidak teratur, konsumsi alkohol, ketidakpatuhan minum
obat, stress emosional, panas, kelelahan fisik dan mental, suara suara
tertentu, “drug abuse”, “ reading & eating epilepsy”. Dengan mengetahui
faktor pencetus ini dalam konseling dengan pasien maupun keluarganya dapat
membantu dalam mencegah serangan kejang.
·
Bagaimana frekwensi serangan kejang ? Informasi
ini dapat membantu untuk mengetahui bagaimana respon pengobatan bila
sudah mendapat obat obat anti kejang
·
Apakah ada periode bebas kejang sejak awal serangan
kejang ? Pertanyaan ini mencoba untuk mencari apakah sebelumnya pasien
sudah mendapat obat anti kejang atau belum dan dapat menentukan apakah obat
tersebut yang sedang digunakan spesifik bermanfaat ?
·
Apakah ada jenis serangan kejang lebih dari satu
macam? Dengan menanyakan tentang berbagai jenis serangan kejang dan
menggambarkan setiap jenis serangan kejang secara lengkap.1
·
Apakah pasien mengalami luka ditubuh sehubungan dengan
serangan kejang? Pertanyaan ini penting mengingat pasien yang mengalami
luka ditubuh akibat serangan kejang ada yang diawali
dengan “aura“ tetapi tidak ada cukup waktu untuk mencegah supaya
tidak menimbulkan luka ditubuh akibat serangan kejang atau
mungkin ada “aura“ , sehingga dalam hal ini informasi tersebut dapat
dipersiapkan upaya upaya untuk mengurangi bahaya terjadinya luka.
·
Apakah sebelumnya pasien pernah datang ke unit gawat
darurat? Dengan mengetahui gambaran pasien yang pernah datang ke unit gawat
darurat dapat mengidentifikasi derajat beratnya serangan kejang itu terjadi
yang mungkin disebabkan oleh karena kurangnya perawatan pasien, ketidakpatuhan
minum obat, ada perubahan minum obat dan penyakit lain yang menyertai.1
Riwayat penyakit dahulu.
·
Apakah pasien lahir normal dengan kehamilan
genap bulan maupun proses persalinannya?
·
Apakah pasien setelah lahir mengalami asfiksia
atau “respiratory distress”?
·
Apakah tumbuh kembangnya normal sesuai
usia?
·
Apakah ada riwayat kejang demam? Risiko
terjadinya epilepsi sesudah serangan kejang demam sederhana sekitar
2 % dan serangan kejang demam kompleks 13 %.
·
Apakah ada riwayat infeksi susunan saraf pusat seperti
meningitis, ensefalitis? atau penyakit infeksi lainnya seperti sepsis, pneumonia
yang disertai serangan kejang. Dibeberapa negara ada yang diketahui didapat adanya
cysticercosis.
·
Apakah ada riwayat trauma kepala seperti fraktur
depresi kepala, perdarahan intra serebral, kesadaran menurun dan amnesia yang
lama?
·
Apakah ada riwayat tumor otak?
·
Apakah ada riwayat stroke?. 1
Riwayat sosial.
·
Apa latar belakang pendidikan pasien? Tingkat
pendidikan pasien epilepsi mungkin dapat menggambarkan bagaimana sebaiknya
pasien tersebut dikelola dengan baik. Dan juga dapat membantu mengetahui tingkat
dukungan masyarakat terhadap pasien dan bagaimana potensi pendidikan kepada
pasien tentang cara menghadapi penyakit yang dialaminya itu.
·
Apakah pasien bekerja? Dan apa jenis
pekerjaannya? Pasien epilepsi yang seragan kejangnya terkendali
dengan baik dapat hidup secara normal dan produktif. Kebanyakan pasien dapat
bekerja paruh waktu atau penuh waktu. Tetapi bila serangan kejangnya tidak
terkendali dengan baik untuk memperoleh dan menjalankan pekerjaan
adalah merupakan suatu tantangan tersendiri. Pasien sebaiknya
dianjurkan memilih bekerja dikantoran, sebagai kasir atau tugas -
tugas yang tidak begitu berisiko, tetapi bagi pasien yang bekerja di bagian
konstruksi, mekanik dan pekerjaan yang mengandung risiko tinggi diperlukan
penyuluhan yang jelas untuk memodifikasikan pekerjaan itu agar supaya tidak
membahayakan dirinya?
·
Apakah pasien mengemudikan kendaraan bermotor? Pasien
dengan epilepsi yang serangan kejangnya tidak terkontrol serta ada gangguan
kesadaran sebaiknya tidak mengemudikan kendaraan bermotor. Hal ini
bisa membahayakan dirinya maupun masyarakat lainnya. Dibeberapa negara
mempunyai peraturan sendiri tentang pasien epilepsi yang mengemudikan kendaraan
bermotor.1,2
·
Apakah pasien menggunakan kontrasepsi oral? Apakah
pasien merencanakan kehamilan pada waktu yang akan datang? Pasien epilepsi
wanita sebaiknya diberi penyuluhan terlebih dahulu tentang efek teratogenik
obat-obat anti epilepsi, demikian juga beberapa obat anti epilepsi dapat
menurun efeknya bila pasien juga menggunakan kontrasepsi oral seperti fenitoin,
karbamasepin dan fenobarbital. Dan bagi pasien yang sedang hamil diperlukan
obat tambahan seperti asam folat untuk mengurangi risiko terjadinya “ neural
tube defects“ pada bayinya.
·
Apakah pasien peminum alkohol? Alkohol merupakan faktor
risiko terjadinya serangan kejang umum, sebaiknya tidak dianjurkan
minum-minuman alkohol. Selain berinteraksi dengan obat-obat anti epilepsi
tetapi dapat juga menimbulkan ekstraserbasi serangan kejang khususnya sesudah
minum alkohol .1,2
Riwayat keluarga.
·
Mengetahui riwayat keluarga adalah penting untuk
menentukan apakah ada sindrom epilepsi yang spesifik atau kelainan neurologi
yang ada kaitannya dengan faktor genetik dimana manifestasinya adalah serangan
kejang. Sebagai contoh “Juvenile myoclonic epilepsy (JME)“,“ familial neonatal
convulsion“,“ benign rolandic epilepsy“ dan sindrom serangan kejang umum tonik
klonik disertai kejang demam plus.
Riwayat allergi
·
Bila pasien sebelumnya sudah minum obat-obatan seperti
antiepilepsi, perlu dibedakan apakah ini suatu efek samping dari
gastrointestinal atau efek reaksi hipersensitif. Bila terdapat semacam ”rash“
perlu dibedakan apakah ini terbatas karena efek fotosensitif yang disebabkan
eksposur dari sinar matahari atau karena efek hipersensitif yang sifatnya lebih
luas?
Riwayat pengobatan.
·
Bila pasien sebelumnya sudah minum obat-obatan
antiepilepsi, perlu ditanyakan bagaimana kemanjuran obat tersebut,
berapa kali diminum sehari dan berapa lama sudah diminum selama ini, berapa
dosisnya, ada atau tidak efek sampingnya.1,2
B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
tanda-tanda vital :
Pemeriksaan
meliputi tekanan darah, frekuensi nafas, tekanan nadi, suhu tubuh, dan
kesadaran pasien.
Pemeriksaan Fisik Umum:
Pemeriksaan fisik umum pada dasarnya adalah mengamati adanya tanda-tanda
dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, seperti trauma kepala, infeksi
telinga atau sinus, gangguan kongenital, kecanduan alkohol, atau obat
terlarang, kelainan pada kulit (neurofakomatosis), kanker, dan defisit neurologik
fokal atau difus.
Pemeriksaan Neurologik :
Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan neurologik sangat bergantung pada
interval antara saat dilakukanya pemeriksaan dengan bangkitan terakhir.
* Jika dilakukan pada beberapa menit atau jam setelah bangkitan maka akan
tampak tanda pasca-iktal terutama tanda fokal seperti Todd’s
paresis, transient aphasic symptoms, yang tidak jarang dapat menjadi
petunjuk lokalisasi.
* Jika dilakukan pada beberapa waktu setelah bangkitan terakhir berlalu,
sasaran utama adalah untuk menentukan apakah ada tanda-tanda disfungsi sistem
saraf permanen (epilepsi simptomatik) dan walaupun jarang apakah ada
tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.1
b. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan
Electro-encephalography (EEG).
Rekaman EEG merupakan pemeriksan yang paling berguna
pada dugaan suatu bangkitan. Pemeriksaan EEG akan membantu menunjang diagnosis
dan membantu penentuan jenis bangkitan maupun sindrom epilepsi. Pada keadaan
tertentu dapat membantu menentukan prognosis dan penentuan perlu/tidaknya
pengobatan dengan AED.
1.
Epilepsi
Pemeriksaan pencitraan
Otak (brain imaging)
Pemeriksaan CT Scan dan MRI meningkatkan kemampuan
kita dalam mendeteksi lesi epileptogenik di otak. Dengan MRI beresolusi tinggi
berbagai macam lesi patologik dapat terdiagnosis secara non-invasif, misalnya
mesial temporal sclerosis, glioma, ganglioma, malformasi kavernosus, DNET
(dysembryoplastic neuroepihelial tumor). Ditemukannya lesi-lesi ini menambah
pilihan terapi pada epilepsi yang refrakter terhadap OAE. Funtional brain
imaging seperti Positron Emission Tomography (PET), Single
Photon Emission Comuted Tomography(SPECT) dan Magnetic Resonance
Spectroscopy (MRS) bermanfaat dalam menyediakan informasi tambahan mengenai
dampak perubahan metabolik dan perubahan aliran darah regional di otak
berkaitan dengan bangkitan.3
Pemeriksaan Laboratorium.
Pemeriksaan hematologik
Pemeriksaan ini mencakup hemoglobin, lekosit,
hematokrit, trombosit, apusan darah tepi, elektrolit (natrium, kalium, kalsium,
magnesium). kadar gula, fungsi hati, ureum, kreatinin). Pemeriksaan ini
dilakukan pada awal pengobatan, beberapa bulan kemudian, diulang bila timbul
gejala klinik, dan rutin setiap tahun sekali.
Pemeriksaan kadar OAE
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat target
level setelah tercapai steady state, pada saat kebangkitan
terkontrol baik, tanpa gejala toksik. Pemeriksaan ini diulang setiap tahun,
untuk memonitor kepatuhan pasien. Pemeriksaan ini dilakukan pula bila bangkitan
timbul kembali, atau bila terdapat gejala toksisitas, bila akan dikombinasi
dengan obat lain, atau saat melepas kombinasi dengan obat lain, bila terdapat
perubahan fisiologi pada tubuh penyandang (kehamilan, luka bakar, gangguan
fungsi ginjal).2,3
C. Diagnosis
a. Working
Diagnosis
Epilepsi
Tonik Klonik
Epilepsi yang terjadi secara mendadak, di mana penderitanya hilang kesadaran
lalu kejang-kejang dengan napas berbunyi ngorok dan mengeluarkan buih/busa dari
mulut. Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang
berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, dibagian dalam serebrum
dan bahkan di batang otak dan thalamus, kejang grand mal berlangsung selama 3
atau 4 menit.3,4
b.
Differential Diagnosis
Epilepsi
Tonik
Merupakan kontraksi otot yang kaku, menyebabkan ekstremitas menetap dalam
satu posisi. Biasanya terdapat deviasi bola mata dan kepala ke satu sisi, dapat
disertai rotasi seluruh batang tubuh. Wajah menjadi pucat kemudian merah dan
kebiruan karena tidak dapat bernafas. Mata terbuka atau tertutup, konjungtiva
tidak sensitif, pupil dilatasi.
Epilepsi
Klonik
Pada kejang tipe ini tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang
kelojot. dijumpai terutama sekali pada anak.
D. Etiologi
Perlu
diketahui bahwa epilepsi bukanlah suatu penyakit, tetapi suatu gejala yang
dapat timbul karena penyakit. Secara umum dapat dikatakan bahwa serangan
epilepsi dapat timbul jika terjadinya pelepasan aktivitas energi yang
berlebihan dan mendadak dalam otak, sehingga menyebabkan terganggunya kerja
otak. Ditinjau dari penyebab epilepsy, dapat dibagi atas :6
1.
Idiopatik
: penyebab tidak diketahui, umumnya mempunyai predisposisi genetic.
2.
Kriptogenik
: Dianggap simtomatik tetapi penyebabnya belum diketahui, termasuk disini
adalah sindrom West, sindrom Lennox-Gastaut, dan epilepsi mioklonik. Gambara
klinik sesuai dengan ensefalopati difus.
3.
Simtomatik
: Disebabkan oleh kelainan/lesi pada susunan saraf pusat, misalnya trauma
kepala, infeksi SSP, kelainan congenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran
darah otak, toksik (alcohol, obat), metabolic, kelainan neurodegenerative
E. Epidemiologi
Epilepsi
merupakan salah satu penyakit saraf yang sering dijumpai, terdapat pada semua
bangsa, segala usia dimana laki-laki sedikit lebih banyak dari wanita. Insiden
tertinggi terdapat pada golongan usia dini yang akan menurun pada gabungan usia
dewasa muda sampai setengah tua, kemudian meningkat lagi pada usia lanjut.
Prevalensi epilepsi berkisar antara 0,5%-2%.
Di Indonesia penelitian
epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun bila dipakai angka
prevalensi yang dikemukakan seperti dalam rujukan, maka dapat diperkirakan
bahwa bila penduduk Indonesia saat ini sekitar 220 juta akan ditemukan antara
1,1 sampai 4,4 juta penderita penyandang epilepsi.6
F. Patofisiologi
Dasar serangan
epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps. Tiap sel
hidup, termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan oleh adanya
potensial membrane sel. Potensial membrane neuron bergantung pada permeabilitas
selektif membrane neuron, yakni membrane sel mudah dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke
intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca, Na dan Cl, sehingga di dalam sel terdapat
kosentrasi tinggi ion K dan kosentrasi rendah ion Ca, Na, dan Cl, sedangkan
keadaan sebaliknya terdapat diruang ekstraseluler. Perbedaan konsentrasi ion-ion
inilah yang menimbulkan potensial membran. Ujung terminal neuron-neuron berhubungan
dengan dendrite-dendrit dan badan-badan neuron yang lain, membentuk sinaps dan
merubah polarisasi membran neuron berikutnya. Ada dua jenis neurotransmitter,
yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik
dan neurotransmitter inhibisi yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih stabil
dan tidak mudah melepaskan listrik. Diantara neurotransmitter-neurotransmitter
eksitasi dapat disebut glutamate, aspartat dan asetilkolin sedangkan
neurotransmitter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric
acid (GABA) dan glisin. Jika hasil pengaruh kedua jenis lepas muatan
listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. Hal ini misalnya terjadi
dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Dalam keadaan
istirahat, membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada
dalam keadaan polarisasi. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane
neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik. Oleh berbagai factor, diantaranya
keadaan patologik, dapat merubah atau mengganggu fungsi membaran neuron
sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan ekstra ke intra
seluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas
muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Lepas muatan listrik
demikian oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu
serangan epilepsy. Suatu sifat khas serangan epilepsy ialah bahwa beberapa saat
serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi. Di duga inhibisi ini
adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Selain itu juga
system-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron
tidak terus-menerus berlepas muatan memegang peranan. Keadaan lain yang dapat
menyebabkan suatu serangan epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron
akibat habisnya zat-zat yang penting untuk fungsi otak. 3,6
G. Faktor
Resiko
Faktor resiko epilepsi adalah faktor-faktor yang tidak kelihatan sebagai
penyebab epilepsi secara langsung, tetapi memiliki hubungan melalui beberapa
cara. Memiliki faktor resiko epilepsi membuat seseorang memiliki resiko yang
lebih besar untuk terkena epilepsi tetapi tidak selalu harus terkena epilepsi.
Dan sebaliknya seseorang yang tidak memiliki faktor resiko belum tentu tidak
terkena epilepsi.
Faktor
resiko epilepsi antara lain :
·
Bayi dengan berat badan lahir rendah
·
Bayi yang pernah mengalami kejang pada
usia kurang dari 1 bulan
·
Bayi yang lahir dengan kelainan struktur
otak
·
Perdarahan otak
·
Pembuluh darah otak abnormal dalam otak
·
Trauma otak berat atau hipoksia otak
·
Tumor otak
·
Infeksi otak misalnya : abses,
meningitis
·
Stroke akibat oklusi arteri
·
Cerebral palsy
·
Cacat mental
·
Kejang yang terjadi beberapa hari setelah
trauma kepala
·
Riwayat keluarga dengan epilepsi
·
Alzheimer’s disease
·
Kejang demam
·
Penggunaan kokain yang ilegal
H. Therapy
Pertolongan Pada Penderita Epilepsi :
1.
Segera amankan penderita dengan mengamankan dari benda-benda berbahaya,
mengamankan dari benturan (terutama bagian kepala), dan lain sebagainya.
2. Rebahkan dengan kepala miring ke samping
agar lidah penderita tidak menutupi jalan pernapasan dan longgarkan baju yang
terlalu ketat agar penderita mudah bergerak dan bernapas.
3. Biarkan penderita bergerak semaunya dan
jangan meletekkan apa-apa pada mulut penderita. Gigi penderita epilepsi bisa
patah jika pada mulut penderita dimasukkan benda-benda keras serta bisa
menutupi jalan pernapasannya.
4.
Biarkan penderita istirahat karena setelah kejadian penderita akan bingung
dan lelah. Laporkan kepada orang-orang di sekitar atau yang berwenang agar
dilanjutkan dengan menghubungi keluarga/kerabat atau dokter. Jika penderita
cidera atau terjadi serangan susulan terus menerus segera bawa ke dokter,
puskesmas, klinik atau rumah sakit terdekat.4,5
Penanganan umum
-
Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah setiap minggu atau setiap
bulan karena efek samping dari karbamazepin dapat terjadi gangguan darah,
hepatitis dan lupus erythematodes.
-
Menekankan pada keluarga khususnya orang tua pasien bahwa obat harus
diminum secara teratur setiap hari, sebaiknya pada saat yang sama, misalnya
pada waktu makan atau sesudahnya.
-
Memberikan penjelasan mengenai sifat penyakit ini dapat membantu untuk bisa
lebih baik menerima penderita anak ini dirumah maupun di masyarakat. Untuk
menciptakan suasana di mana anak dapat menjalani hidupnya senormal mungkin dan
dapat mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Dalam hal ini diperlukan
pedoman untuk menjamin keselamatan anak, misalnya menghindari berenang sendiri.
-
Mengawasi area bermain anak, jangan sampai mendekati air atau api.
Dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan anak apabila tiba-tiba penyakitnya
kambuh.
-
Jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter, sebaiknya dokter
menurunkan dosisnya secara bertahap sebelum dihentikan sama sekali.
-
Jika ada dosis yang terlewat diminum, segera minum obat yang terlupa itu.
Namun jika sudah mendekati waktu minum dosis berikutnya, cukup meminum 1 dosis
obat tersebut sesuai jadwal minum obat yang seharusnya. Jangan digandakan
(minum 2 dosis sekaligus). Tetap jika terlewat lebih dari satu dosis sehari,
segera beri tahu dokter.
-
Jangan meminum obat lebih dari dosis yang ditentukan, jangan meminum lebih
sering dari frekuensi minum obat yang telah ditetapkan, dan jangan diminum
untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang disarankan oleh dokter.3,4,5
Terapi serangan
Kebanyakan lamanya
serangan kurang dari 5 menit dan berhenti dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Bila berlangsung lebih lama, barulah harus diberikan obat sebagai berikut :
·
Diazepam rektal
Jika belum
menghasilkan efek sesudah 5-10 menit, pemberian dapat diulang atau diberi
midazolam/klonazepam secara oromucosal.
·
Diazepam intravena
Umumnya serangan
berhenti dalam 5-15 menit. Dosis tidak boleh terlalu tinggi karena resiko
depresi pernapasan. Bila penanganan belum berhasil dan terjadi status
epilepticus, maka terapi segera dilanjutka di rumah sakit.
·
Benzodiazepin /fenitoin
Pasien biasanya diberi diazepam 10 mg i.v, disusul dengan infus i.v dari
200 mg per l iter selama 24 jam.5
Terapi Pemeliharaan
1. Epilepsi luas ‘generalized’
·
Pilihan pertama pada grand mal adalah valproat
·
Pada grand mal dengan serangan myoclonis dapat digunakan kombinasi dengan
klonazepam
·
Kombinasi klonazepam – klobazam, karbamazepin – valproat dan lamotigrin –
valproat juga sering kali efektif.
·
Pada bentuk tonis klonis karbamazepin, valproat atau fenitoin memberikan
efek baik.
2. Kortikosteroid
·
Terutama digunakan bila penyakit menjadi parah, misalnya pada penderita
lansia dapat diatasi dengan dosis rendah prednison (10 mg) yang sepanjang tahun
dapat dikurangi sampai dosis pemeliharaan. Pada pasien yang lebih muda
diperlukan dosis yang jauh lebih tinggi untuk waktu yang lama dengan resiko
efek samping besar.5
Obat – obat epilepsi
Antiepileptika adalah obat yang dapat menanggulangi
serangan epilepsi berkat khasiat antikonvulsinya, yakni meredakan konvulsi
(kejang klonus hebat)
1. Obat generasi pertama
Barbital
Fenobarbital dan mefobarbital memiliki sifat antikonvulsif khusus yang
terlepas dari sifat hipnotiknya.
Fenitoin
Senyawa hidantoin ini terutama digunakan pada grand mal.
Suksinimida
Etosuksimida dan mesuksimida, terutama digunakan pada petit mal.
Lainnya Asam valproat, diazepam dan klonazepam, karbamazepin
dan okskarbazepin.
2. Obat generasi ke-2
Vigabatrin, lamotigrin dan gabapentin, felvamat, topiramat dan pregabalin.
Obat ini umumnya tidak diberikantunggal sebagai monoterapi, melainkan sebagai
tambahan dalam kombinasi dengan obat-obat klasik (generasi ke-1). 5
I. Komplikasi
Grand mal atau serangan tonis klonis
‘generalized’
Ciri-cirinya :
·
Kejang kaku bersamaan dengan kejutan – kejutan ritmis dari anggota badan.
·
Hilangnya untuk sementara kesadaran dan tonus. Pada umunya serangan diawali
suat perasaan khusus (aura). Hilangnya tonus menyebabkan penderita terjatuh,
kejang hebat dan ototnya menjadi kaku. Fase tonis berlangsung kira-kira 1 menit
disusul oleh fase klonis dengan kejang-kejang dari kaki tangan, rahang dan
muka.
·
Penderita kadang mengigit lidahnya sendiri dan juga dapat terjadi
inkontinensia urin atau feces.
·
Gerakan ritmis dari kaki tanga secara tak sadar, sering kali dengan
jeritan, mulut berbusa, mata membelalak.
·
Lamanya serangan berkisar antara 1 dan 2 menit disusul dengan keadaan pingsan
selama beberapa menit dan sadar kembali dengan perasaan kacau serta depresi.
·
Serangan myoclonis yaitu kontraksi otot-otot simetris dan sinkron yang tak
ritmis dari bahu dan tangan (tidak dari muka), berlangsung berurutan dengan
jangka waktu singkat kurang dari 1 detik.
·
Status epileptikus serangan yang bertahan lebih dari 30 menit berlangsung
beruntun dengan cepat tanpa diselingi keadaan sadar. Situasi ini bisa fatal
karena kesulitan pernafasan dan kekurangna oksigen di otak. Umunya disebabkan
ketidakpatuhan penderita minum obat, menghentikan pengobatan secara tiba-tiba
atau timbulnya demam.3,5
J. Pencegahan
·
Upaya sosial luas yang mengembangkan tindakan luas harus ditingkatkan untuk
pencegahan epilepsi. Epilepsi muncul pada bayi dari ibu yang menggunakan
aktikonvulsi yang digunakan sepanjang kehamilan, ibu-ibu yang mempunyai resiko
tinggi harus dipantau ketat selama hamil karena lesi pada otak atau cidera
akhirnya menyebabkan kejang yang terjadi pada janin selama kehamilan dan
persalinan.
·
Infeksi pada masa kanak-kanak harus dikontrol dengan vaksinasi yang benar,
orang tua dengan anak yang pernah mengalami kejang demam harus diinstruksikan
pada metode untuk mengkontrol demam (kompres dingin, obat anti peuretik).
·
Cidera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah,
tindakan pencegahan yang aman, yaitu tidak hanya dapat hidup aman, tetapi juga
mengembangkan pencegahan epilepsi akibat cidera kepala.
·
Untuk mengidentifikasi anak gangguan kejang pada usia dini, pencegahan
kejang dilakukan dengan penggunaan obat-obat anti konvulsan secara bijaksana
dan memodifikasi daya hidup merupakan bagian dari rencana pencegahan ini. 4
K. Prognosis
Prognosis
Medik
Prevalensi epilepsi kronik sekitar 1 dalam 200 orang, yang berarti bahwa
mayoritas epilepsi tidak menjadi kronik. Sekali remisi lama (lebih dari 24
bulan) tercapai, resiko untuk mengalami serangan berikutnya akan berkurang.
Serangan yang sejak dini terkendali oleh obat memiliki prognosis yang lebih
baik.
Prognosis
Psikososial
Sebagian besar penderita epilepsi dapat hidup normal. Komunikasi antara
dokter, orang tua anak penyandang epilepsi, dan lingkungan penderita epilepsi
sangat penting dalam mempengaruhi perkembangan mental dan kognitif
penderita.
Kesimpulan
Setelah dilakukan
pemeriksaan dilihat dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan gejala yang timbul laki-laki berusia 23 tahun
mengalami kejang kurang lebih 30 detik, tidak sadarkan
diri,dan mata mendelik keatas menderita epilepsi grand mal atau generalisata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar