Inflamasi Pterygium Okuler Sinistra
Agung Ganjar
Kurniawan
102010169
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No 6, Jakarta
Telp. (021)
5605140 E-mail : agungganjar27@gmail.com
PENDAHULUAN
Mata merupakan salah satu panca indera
kita yang sangat penting. Mata membuat kita dapat melihat berbagai macam benda
dan mempresepsikannya dalam otak kita. Penyakit mata adalah penyakit yang
sangat mengganggu kehidupan sehari-hari apabila dibiarkan. Salah satu penyakit
mata adalah pterigium. Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular berbentuk segitiga yang
tumbuh dari arah konjungtiva menuju kornea pada daerah interpalpebra ynag bersifat degeneratif dan invasif. Pterygium tumbuh berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi. Seperti daging, berbentuk
segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju kornea
pada arah intrapalpebra. Asal kata pterygium adalah dari bahasa Yunani, yaitu pteron
yang artinya sayap.
Keadaan
ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, daerah
yang kering dan lingkungan yang banyak angin,
karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di
lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari, berdebu atau berpasir. Kasus Pterygium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung pada
lokasi geografisnya, tetapi lebih banyak
di daerah iklim panas dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah
dekat ekuator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan kering. Insiden
pterygium di Indonesia yang terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1%. Insiden
tertinggi pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang
terjadi pterygium. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang usia muda
dibandingkan dengan pasien usia tua.
Jika pterigium membesar dan meluas
sampai ke daerah pupil, lesi harus diangkat secara bedah bersama sebagian kecil
kornea superfisial di luar daerah perluasannya. Kombinasi autograft konjungtiva
dan eksisi lesi terbukti mengurangi resiko kekambuhan.
PEMBAHASAN
A.
Anamnesis
Untuk menegakkan diagnosis, seorang dokter perlu
melakukan anamnesis terlebih dahulu. Pada anamnesis, kita perlu menanyakan
identitas pasien, sebagai rekam medis pasien tersebut. Dari identitas pasien,
kita bisa mengetahui keadaan pasien seperti pekerjaan pasien yang mungkin dapat
berhubungan dengan keluhan yang dialami pasien dan untuk mengetahui status
sosial ekonomi dari pasien ini. pada kasus ini. Usia ditanyakan untuk mengetahui faktor resiko
penyakit. Anamnesis tambahan juga berguna untuk menyingkirkan hipotesis dan
menegakkan diagnosis pasien. Pada pasien dapat ditanyakan hal-hal sebagai
berikut:
1. Tanyakan identitas ? nama, umur, jenis
kelamin, alamat, agama, suku bangsa
2. Keluhan utama ? sejak kapan ?
3. Riwayat penyakit sekarang ?
4. Riwayat penyakit dahulu ?
5. Riwayat penyakit keluarga ?
6. Riwayat pengobatan ?
7. Riwayat kebiasaan ? apakah ada alergi ?
8. Riwayat lingkungan sekitar ?
B.
Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
Pada
pemeriksaan fisik mata pasien didapatkan hasil, yaitu :
Pada
pemeriksaan visus mata dengan Snellen Chart 20/20 ODS
OS : Palpebra normal, konjungtiva bulbi sedikit hiperemis, terdapat
selaput hiperemis pada daerah nasal limbus, kornea dan lensa jernih, COA dalam,
TIO 15 mmHg. Pemeriksaan lain dalam batas normal.
OD : Palpebra normal, konjungtiva normal, limbus, kornea dan lensa
jernih, COA dalam, TIO 17 mmHg. Pemeriksaan lain dalam batas normal.1
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pterygium yaitu topografi kornea
untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme ireguler yang
disebabkan oleh pterygium.
C.
Diagnosis
a. Working Diagnosis
Pterigium
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan terletak pada
celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke kornea
berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau daerah kornea. Hal ini
disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari dan udara yang
panas. Pterigium tidak memberikan keluhan mata iritatif, merah dan mungkin
menimbulkan astigmat yang akan memberikan keluhan gangguan penglihatan.1
Gambar 1. Pterygium
Klasifikasi pada pterygium :
1. Pterygium Simpleks;
jika terjadi hanya di nasal/ temporal saja.
2. Pterygium Dupleks;
jika terjadi di nasal dan temporal.
Pterigyum terbagi berdasarkan perjalanan
penyakit menjadi 2 tipe, yaitu :
-
Progressif pterygium :
memiliki gambaran tebal dan vascular dengan beberapa infiltrat di kornea di
depan kepala pterygium
-
Regressif pterygium : dengan gambaran tipis, atrofi, sedikit
vaskularisasi, membentuk membran tetapi tidak pernah hilang
Berbentuk segitiga yang terdiri dari
kepala (head) yang mengarah ke kornea dan badan. Derajat pertumbuhan pterigium
ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup oleh pertumbuhan pterigium,
dan dapat dibagi menjadi 4:
- Derajat 1: Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
- Derajat 2: Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea
- Derajat 3: Jika pterigium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)
- Derajat 4: Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.2
Grade pada Pterygium :
·
Grade 1: tipis (pembuluh darah konjungtiva yang menebal
dan konjungtiva sklera masih dapat dibedakan), pembuluh darah sklera masih
dapat dilihat.
·
Grade 2: pembuluh darah sklera masih dapat dilihat.
·
Grade 3: resiko kambuh, mengganjal, hiperemis, pada orang
muda (20-30 tahun), mudah kambuh.
b. Differential Diagnosis
1.
Pinguekula
Bentuknya kecil dan
meninggi, merupakan massa kekuningan berbatasan dengan limbus pada konjungtiva
bulbi di fissura intrapalpebra dan kadang terinflamasi. Tindakan eksisi tidak
diindikasikan pada kelainan ini. Prevalensi dan insiden meningkat dengan meningkatnya
umur. Pingecuela sering pada
iklim sedang dan iklim tropis. Angka kejadian sama pada laki laki dan
perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor resiko pinguecula.2
Gambar
2. Mata dengan pinguekula
2. Pseudopterigium
Pertumbuhannya mirip dengan pterygium
karena membentuk sudut miring atau Terriens marginal degeneration. Selain itu,
jaringan parut fibrovaskular yang timbul
pada konjungtiva bulbi pun menuju kornea. Namun berbeda dengan pterygium,
pseudopterygium merupakan akibat inflamasi permukaan okular sebelumnya seperti
pada trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrikal, trauma bedah atau ulkus
perifer kornea. Pada pseudopterigium yang tidak melekat pada limbus kornea,
maka probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah
pseudopterigium pada limbus, sedangkan pada pterygium tak dapat dilakukan. Pada
pseudopteyigium tidak didapat bagian head, cap dan body dan pseudopterygium
cenderung keluar dari ruang interpalpebra fissure yang berbeda dengan true pterigium.2
Gambar 3. Mata dengan
pseudopterigium
D.
Etilogi
Etiologi pterigium tidak diketahui dengan
jelas. Diduga merupakan suatu neoplasma, radang dan degenerasi yang disebabkan
oleh iritasi kronis akibat debu, pasir, cahaya matahari, lingkungan dengan angin
yang banyak dan udara yang panas selain itu faktor genetik dicurigai sebagai
faktor predisposisi.3
Faktor
resiko yang mempengaruhi pterygium adalah lingkungan yakni radiasi
ultraviolet sinar matahari, iritasi kronik dari bahan tertentu di udara dan
faktor herediter.
1.
Radiasi ultraviolet
Faktor
resiko lingkungan yang utama sebagai penyebab timbulnya pterygium adalah
terpapar sinar matahari. Sinar ultraviolet diabsorbsi kornea dan konjungtiva yang
dapat mengakibatkan kerusakan sel dan proliferasi sel.
2.
Iritasi kronik atau inflamasi
terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan pendukung terjadinya
teori keratitis kronik dan terjadinya limbal.
E.
Epidemiologi
Kasus pterygium yang tersebar di
seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung pada lokasi geografisnya, tetapi
lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi
adalah daerah dekat ekuator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan
kering.
Di
Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2%
untuk daerah di atas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah
garis lintang 28-36o. Sebuah hubungan terdapat antara peningkatan
prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang. Sehingga dapat
disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif
angka kejadian di lintang bawah.3
Di Indonesia yang melintas di bawah
garis khatuliswa, kasus-kasus pterygium cukup sering didapati. Apalagi karena
faktor risikonya adalah paparan sinar matahari (UVA & UVB), dan bisa
dipengaruhi juga oleh paparan alergen, iritasi berulang (misal karena debu atau
kekeringan).
Insiden tertinggi
pterygium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20 – 49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang
terjadi pterygium. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang usia muda
dibandingkan dengan pasien usia tua. Laki-laki lebih beresiko 2 kali daripada
perempuan.4
F.
Patofisiologi
Terjadinya pterygium sangat berhubungan erat
dengan paparan sinar matahari, walaupun dapat pula disebabkan oleh udara yang
kering, inflamasi, dan paparan terhadap angin dan debu atau iritan yang lain.
UV-B merupakan faktor mutagenik bagi tumor supressor gene p53 yang terdapat
pada stem sel basal di limbus. Ekspresi berlebihan sitokin seperti TGF-β dan
VEGF (vascular endothelial growth factor) menyebabkan regulasi kolagenase,
migrasi sel, dan angiogenesis.
Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan
terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Jaringan subkonjungtiva mengalami
degenerasi elastoid (degenerasi basofilik) dan proliferasi jaringan granulasi
fibrovaskular di bawah epitel yaitu substansia propia yang akhirnya menembus
kornea. Kerusakan kornea terdapat pada lapisan membran Bowman yang disebabkan
oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi
ringan. Kerusakan membran Bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan
untuk pertumbuhan pterygium. Epitel dapat normal, tebal atau tipis dan kadang
terjadi displasia.
Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel
kornea. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi konjungtivalisasi
pada permukaan kornea. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan
konjungtiva ke kornea, vaskularisasi, inflamasi kronis, kerusakan membran
basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik.4
G.
Gejala klinis
Pterygium biasanya terjadi secara bilateral, namun jarang
terlihat simetris, karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama untuk
kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Kira-kira 90% terletak di
daerah nasal karena daerah nasal konjungtiva secara relatif mendapat sinar
ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan dengan bagian konjungtiva yang lain.
Selain secara langsung, bagian nasal konjungtiva juga mendapat sinar ultra
violet secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung.
Pterygium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi
secara bersamaan walaupun pterygium di daerah temporal jarang ditemukan.
Perluasan pterygium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi
sumbu penglihatan dan menyebabkan penglihatan kabur.5
Secara klinis muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada
konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissura interpalpebra. Biasanya
pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi
dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterygium
(stoker’s line).
Gejala klinis pterygium pada tahap awal biasanya ringan bahkan
sering tanpa keluhan sama sekali (asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering
dialami pasien antara lain:5
-
mata sering berair dan tampak merah
-
merasa seperti ada benda asing
-
timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan
pterygium
-
pada pterygium derajat 3 dan 4 dapat terjadi penurunan tajam
penglihatan.
Dapat terjadi diplopia sehingga menyebabkan
terbatasnya pergerakan mata.
H.
Penatalaksanaan
Pengobatan pterigium
tergantung dari keadaan pteriumnya sendiri, dimana pada keadaan dini tidak
perlu dilakukan pengobatan, namun bila terjadi proses inflamasi dapat diberikan
steroid topikal untuk menekan proses peradangan, dan pada keadaan lanjut
misalnya terjadi gangguan penglihatan (refraktif), pterigium telah menutupi
media penglihatan (menutupi sekitar 4mm permukaan kornea) maupun untuk alasan
kosmetik maka diperlukan tindakan pembedahan berupa ekstirpasi pterigium.3
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk
pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat
tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari.
Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada
penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada
kornea.
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah
berupa avulsi pterigium. Sedapat mungkin setelah avulsi pterigium maka bagian
konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan cangkok konjungtiva yang
diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka kekambuhan.
Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara
kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mngkin, angka kekambuhan yang
rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang
rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.
Pembedahan pterigium dapat dilakukan
dengan beberapa metode, antara lain :
- Teknik Bare Sclera
- Teknik Autograft Konjungtiva
I.
Komplikasi
Komplikasi dari pterygium meliputi
sebagai berikut:7
- Penyimpangan atau penurunan tajam penglihatan
- Kemerahan.
- Iritasi.
- Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea.
- Astigmatisme
Keterlibatan yang luas otot
extraocular dapat membatasi penglihatan dan memberi kontribusi terjadinya
diplopia. Bekas luka yang berada ditengah otot rektus umumnya menyebabkan
diplopia pada pasien dengan pterygium yang belum dilakukan pembedahan.
Pada pasien dengan pterygia yang sudah diangkat, terjadi pengeringan focal
kornea mata akan tetapi sangat jarang terjadi. Komplikasi postooperasi
pterygium meliputi : Infeksi, diplopia, perforasi bola mata, perdarahan
vitreous dan yang sering adalah kambuhnya pterigium post operasi yaitu sekitar
50-80%, namun kejadian ini akan berkurang sekitar 5-15% apabila menggunakan
autograf konjungtiva pada saat proses eksisi. Sesudah operasi, eksisi
pterygium, steroid topikal pemberiannya lebih di tingkatkan secara
perlahan-lahan. Pasien pada steroid topikal perlu untuk diamati, untuk
menghindari permasalahan tekanan intraocular dan katarak. Untuk mencegah
kekambuhan dapat juga dengan pemberian Mitomicin C intraoperatif.
J.
Pencegahan
Secara teoritis, memperkecil terpapar
radiasi ultraviolet untuk mengurangi resiko berkembangnya pterygia pada
individu yang mempunyai resiko lebih tinggi. Pasien di sarankan untuk
menggunakan topi yang memiliki pinggiran, sebagai tambahan terhadap radiasi
ultraviolet sebaiknya menggunakan kacamata pelindung dari cahaya matahari.
Tindakan pencegahan ini bahkan lebih penting untuk pasien yang tinggal di
daerah subtropis atau tropis, atau pada pasien yang memiliki aktifitas di luar,
dengan suatu resiko tinggi terhadap cahaya ultraviolet (misalnya, memancing,
ski, berkebun, pekerja bangunan). Untuk mencegah berulangnya pterigium,
sebaiknya para pekerja lapangan menggunakan kacamata atau topi pelindung.7
K. Prognosis
Pterigium merupakan
suatu neoplasma konjungtiva benigna, umumnya prognosisnya baik secara kosmetik
maupun penglihatan, namun hal itu juga tergantung dari ada tidaknya infeksi
pada daerah pembedahan. Untuk mencegah kekambuhan pterigium (sekitar 50-80 %)
sebaiknya dilakukan penyinaran dengan Strontium yang mengeluarkan sinar
beta, dan apabila residif maka dapat dilakukan pembedahan ulang. Pada beberapa
kasus pterigium dapat berkembang menjadi degenerasi ke arah keganasan jaringan
epitel.
Kesimpulan
Pterygium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular
konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya
terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang
meluas ke daerah kornea.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar