Hepatitis A Akut
Agung Ganjar
Kurniawan
102010169
Kelompok B1
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kampus
2 Ukrida, Jl. ArjunaUtara no. 6 Jakarta 11510
Pendahuluan
Hepatitis berarti radang atau pembengkakan hati. Penyakit
ini dapat terjadi bahkan pada orang yang sistem kekebalannya sehat. Hepatitis
juga bisa mengakibatkan parutan hati (sirosis), dan kegagalan fungsi hati yang
bisa mematikan. Hepatitis akut merupakan infeksi sistemik yang mempengaruhi
terutama hati. Hampir semua kasus disebabkan oleh virus ini yaitu : hepatitis
virus A (HAV), hepatitis virus B (HBV), dan hepatitis virus C (HCV), virus
hepatitis B berhubungan dengan virus hepatitis D dan hepatitis E. Gejala
hepatitis yang paling umum adalah nafsu makan hilang, kelelahan, demam, pegal
sekujur tubuh, mual dan muntah serta nyeri pada perut. Beberapa orang mungkin
mengalami air seni yang menjadi berwarna gelap, buang air besar berwarna pucat,
dan kulit serta mata menguning (disebut ikterus atau jaundice). Dokter akan memeriksa darah kita untuk melihat apakah
hati kita bekerja secara normal. Tes fungsi hati tersebut mencakup pengukuran
tingkat bahan kimia tertentu, misalnya bilirubin, AST/SGOT dan ALT/SGPT.
Tingkat zat ini yang tinggi dalam darah mungkin menandai hepatitis. Tes darah
juga dapat dipakai untuk mencari virus penyebab hepatitis.
A. Anamnesis
1. Identitas
Pasien.
Menanyakan
kepada pasien : Nama
lengkap pasien, umur,tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pendidikan,agama, pekerjaan,suku bangsa.
Berikut
data pasien yang didapatkan:
Nama : Tn A
Jenis Kelamin :
Lelaki
Umur
: 25
tahun
2. Keluhan
utama pasien :
Pasien merasakan mual, muntah dan tidak bisa makan. Satu
minggu smsrs OS demam ringan selama 3 hari, dua hari smsrs kulit mulai terasa
gatal. BAK seperti teh pekat.
3. Riwayat
penyakit sekarang :
-
Menanyakan
kembali sejak kapan keluhan muncul, untuk memastikan apa yang telah dikatakan
pasien.
-
Adakah
gejala lain (nyeri abdomen, demam, penurunan berat badan, anoreksia, stetoroea,
urin gelap, pruritus, tinja acolik)?
-
Apakah
pasien suka makan/minum/jajan di sembarang tempat?
-
Adakah
tanda-tanda yang menunjukan keganasan (misalnya penurunan berat badan, nyeri
punggung), penyakit hati kronis (misalnya pembengkakan abdomen akibat asites),
atau hepatitis infeksi?
4. Riwayat
penyakit keluarga.
-
Menanyakan
apakah didalam keluarganya, orang-orang terdekat yang sering kontak langsung
atau tidak langsung dengannya ada yang menderita penyakit hepatitis?
5. Riwayat
penyakit dahulu.
-
Adakah
riwayat hepatitis virus yang diketahui? Jika ya, didapat dari mana? (misalnya
transfusi darah, penggunaan obat intravena)
-
Adakah
riwayat transfusi darah?
6. Riwayat
social.
-
Menanyakan kepada
pasien apakah penyakitnya menganggu/sangat menggangu/ tidak menggangu aktivitas
sehari-hari pasien.
7. Riwayat
pengobatan/obat.
-
Obat yang diminum
sebelum sakit atau yang diminum di rumah, baik yang berasal dari resep dokter
atau yang dibeli bebas termasuk jamu-jamuan.
B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
-
Memeriksa keadaan umum, keadaan
sakit, tingkat kesadaran dari pasien.
-
Inspeksi: Pada
pemeriksaan inspeksi ini, si dokter akan melihat keadaan abdomen sang pasien
dan melaporkannya. Pada pemeriksaan ini yang akan dilaporkan adalah:
Menyebutkan bentuk abdomen sang pasien, simetris ataupon tidak, datar,
membuncit atau cekung.
-
Palpasi: Memeriksa nyeri tekan
hati yang merupakan petunjuk adanya pembesaran hati yang akut.1
b. Pemeriksaan Penunjang
-
Pemeriksaan Serologis
Peningkatan
kadar gamma globulin biasa terjadi pada infeksi akut hepatitis. Serum IgG dan
IgM terjadi peningkatan pada sepertiga pasien dengan infeksi ini. Tetapi
peningkatan IgM merupakan karakteristik dari fase akut hepatitis A. Penanda
hepatitis A (Anti Hav IgM) dapat dideteksi selama fase akut dan 3-6 bulan
setelahnya, penanda
hepatitis B, dan Hepatitis D (HBsAg, Anti HBC IgM), penanda hepatitis C
(Anti HCV,HCV RNA), dan Penanda hepatitis E
(Anti HEV IgM).
-
Tes fungsi biokimia
hati
a)
Bilirubin: tidak
spesifik untuk penyakit hati. Meningkat juga pada hemolisis dan obstruksi
bilier.
b)
SGOT/ AST & SGPT/
ALT: biasanya mengarah pada perlukaan hepatoseluler dan inflamasi. Jika rasio
AST: ALT > 2, cenderung ke penyakit hepatitis alkoholik.
c)
Fosfatase alkali, y-GT:
meningkat pada keadaan patologis yang mempengaruhi sistem empedu intra dan
ektrahepatik.
d)
Albumin: Menunjukkan
fungsi sintesis hati.
e)
LDH: sensitivitas dan
spesifisitasnya rendah pada penyakit hati.1
C. Working Diagnosis
Hepatitis A
Hepatitis A merupakan virus RNA dari jenis hepatovirus dari
picornavirus familiy. Masa inkubasi berkisar 4 minggu, perkembangannya
terbatas pada hepar saja, tetapi virus dapat ditemukan di
hepar, cairan empedu, feses dan darah pada masa
inkubasi lanjut dan masa sebelum badan menjadi kuning dan menimbulkan
gejala (preikterik). Tetapi pada saat keluhan timbul, virus
akan berkurang secara bertahap di darah dan feses. Pemeriksaan antibodi
hepatitis A (anti-HAV) dapat dilakukan pada masa akut (dimana terjadi
peningkatan enzim hati dan virus masih ditemukan dalam feses). Antibodi yang pertama kali muncul adalah IgM dan bertahan selama 6 – 12 bulan. Pada
saat infeksi sudah mulai mereda, IgG menjadi lebih dominan. Sehingga penegakan diagnosa hepatitis A
dilakukan dengan pemeriksaan pada masa akut. Hepatitis A ditransmisikan melalui
rute fekal-oral, penyebaran orang perorang, sangat berhubungan dengan
kebersihan lingkungan dan kepadatan
penduduk. Penyebaran yang hebat terjadi akibat kontaminasi pada air minum, makanan, susu dan buah-buahan. Penyebaran dapat terjadi pula
dalam keluarga atau institusi. Angka kejadian hepatitis ini cukup tinggi di
negara berkembang tetapi berkurang sejalan dengan kemajuan suatu negara, kemungkinan akibat
meningkatknya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Angka kejadian lebih sering pada
masa anak-anak, tetapi berdasarkan penelitian lain keluhan yang diakibatkan
oleh infeksi virus ini lebih sering terjadi pada masa remaja. Tempat-tempat yang biasa tinggi angka hepatitis A yaitu ditempat penitipan
anak, perawatan intensive neonatus, homoseksual dan pengguna obat terlarang.
Walaupun jarang tetapi penyebaran hepatitis A dapat melalui transfusi darah dan
komponen darah.2
D. Differendial Diagnosis
Hepatitis B
Hepatitis B merupakan virus DNA, memiliki famili
yang hampir sama pada virus binatang yaitu hepadnavirus. Virus hepatitis ini
memiliki protein permukaan yang dikenal sebagai hepatitis B surface antigen
(HbsAg). Konsentrasi HbsAg ini dapat mencapai 500µg/mL darah 109 partikel per milimeter persegi. Dari HbsAg ini dapat dibedakan menjadi
beberapa jenis bergantung kepada jenis gen didalamnya dan disetiap geografis
memiliki dominas gen yang berbeda. Genotip B berhubungan dengan progresifitas
yang hebat dari kerusakan hati, dengan gejala yang timbul sering terlambat dan
berhubungan dengan timbulnya kanker hati. Dari pemeriksaan lain ditemukan bahwa
hepatitis B memiliki antibodi HbeAg di dalam inti selnya sehingga apabila
pasien dengan HbsAg positif disertai dengan HbeAg positif memiliki kemampuan
infeksi menularkan melalui darah lebih dari 90%.
Dalam perjalanan
penyakit hepatitis B HbeAg akan menurun sejalan dengan perbaikan dari penyakit tersebut, tetapi apabila
dalam 3 bulan tetap positif berarti terjadi suatu infeksi kronis yangdapat menuju ke arah keganasan.
Penderita dengan HBV akan memiliki kadar HbsAg
dalam serum yang meningkat sejalan dengan perjalanan penyakit, dan akan menurun setelah
1 – 2 bulan dari akhir gejala, dan hilang dalam 6 bulan. Setelah HbsAg menghilang akan
timbul antibodinya (anti-HBs) yang akan bertahan dalam tubuh selamanya yang berfungsi untuk
mencegah infeksi hepatitis B kembali. Antibodi lain yang dihasilkan
tubuh akibat infeksi hepatitis B adalah anti-HBc, memiliki fungsi yang sama dengan antibodi
hepatitis lainnya tetapi apabila ditemukan dalam pemeriksaan tidak
memberikan makna yang cukup kuat adanya infeksi virus hepatitis. Pada proses infeksi akut hepatitis B akan
timbul juga immunoglobulin yaitu IgM anti-HBc dalamserum, dan apabila terjadi
infeksi kronis akan timbul IgG anti-HBc. Pada penderita hepatitis B 1 – 5% memiliki angka HbsAg yang rendah untuk
dapat terukur, sehingga pemeriksaan IgM anti-HBc dapat digunakan.
Pemeriksaan serum HbeAg dapat
memperkirakan tingkat replikasi dan virulensi virus hepatitis B. Infeksi
hepatitis B dapat terjadi di luar hati yaitu pada kelenjar getah bening, sumsum
tulang, sel limfosit, limpa dan pancreas. Kepentingan kondisi ini adalah bahwa tubuh
memiliki ”cadangan” hepatitis B walaupun penderita sudah dilakukan transplantasi jantung.
Pada awalnya Hepatitis B diperkirakan
penyebarannya melalui produk darah, tetapi setelah dilakukan berbagai
penelitian, penyebaran darah tidak terlalu efektif dan penyebaran yang paling
efektif adalah melalui hubungan seksual dan dari ibu-bayi pada masa kehamilan. Resiko tinggi menderita
infeksi ini adalah petugas kesehatan, penderita yang membutuhkan tranfusi
berulang (hemofilia), napi, dan keluarga dari penderita hepatitis ini.3
E. Etiologi
Transmisi
secara interik virus hepatitis A(HAV)
Adalah virus tanpa selubung, tahan terhadap cairan
empedu, ditemukan ditinja, tidak dihubungkan dengan penyakit hati kronik, tidak
terjadi viremia yang berkepanjangan atau kondisi karier intestinal.
Virus Hepatitis A (HAV) digolongkan dalam
picornavirus, subklasifikasi sebagai hepatovirus, single stranded, molekul RNA
linier, nukleokapsid icosahedral. Replikasi dalam sitoplasma hepatosit yang
terinfeksi.1
F. Epidomiologi
Di Indonesia berdasarkan data yang berasal dari rumah
sakit, hepatitis A masih merupakan bagian terbesar dari kasus-kasus hepatitis
akut yang dirawat yaitu berkisar dari 39,8-68,3%, biasanya nyata di daerah
dengan kondisi kesehatan dibawah standar. Lebih dari 75% anak dari berbagai
benua Asia, Afrika, India, menunjukkan sudah memiliki antibodi antiHAV pada usia
5 tahun.
Masa inkubasi 15-50 hari ( rata-rata 30
hari), distribusi diseluruh dunia; endemisitas tinggi dinegara berkembang, HAV
diekskresi ditinja oleh orang yang terinfeksi selama 1-2 sebelum dan 1 minggu
setelah awalnya penyakit, viremia muncul singkat ( tidak lebih dari 3 minggu)
kadang-kadang sampai 90 hari pada infeksi yang membandel atau infeksi yang
kambuh, ekskresi feses yang memanjang ( bulanan) dilaporkan pada neonates yang
terinfeksi, transmisi enteric ( fekal oral) predominan di antara anggota
keluarga, kejadian luar biasa dihubungkan dengan sumber umum yang digunakan
bersama, makanan terkontaminasi dan air.4
Faktor resiko
lain, meliputi paparan pada : Pusat
perawatan sehari untuk bayi atau anak balita, institusi untuk developmentally
disadvantage, berpergian ke Negara berkembang, perilaku seks oral-anal,
pemakaian bersama pada IVDU ( intravena drug user).
Tak terbukti adanya penularan
maternal-neonatal, prevalensi berkorelasi dengan standar sanitasi dan rumah
tinggal ukuran besar, dan tranmisi melalui transfuse darah sangat jarang.
G. Patofisiologi
Sistem imun bertanggung jawab atas
terjadinya kerusakan sel hati, yang melibatkan respon CD8 dan CD4 sel T dan
produksi sitokin di hati dan sistemik. Efek sitopatik langsung dari virus. Pada
pasien imunosupresi dengan replikasi tinggi, akan tetapi tidak ada bukti
langsungnya.
Virus hepatitis
yang menyerang hati menyebabkan peradangan dan infiltrat pada hepatocytes oleh
sel mononukleous. Proses ini menyebabkan degrenerasi dan nekrosis sel perenchym
hati. Respon peradangan menyebabkan pembekakan dalam memblokir sistem drainage
hati, sehingga terjadi destruksi pada sel hati. Keadaan ini menjadi statis
empedu (biliary) dan empedu tidak dapat diekresikan kedalam kantong empedu
bahkan kedalam usus, sehingga meningkat dalam darah sebagai hiperbilirubinemia,
dalam urine sebagai urobilinogen dan kulit hapatoceluler jaundice.5
H. Gambaran Klinis
Hepatitis virus sangat bervariasi mulai
dari infeksi asimptomatik tanpa kuning sampai yang sangat berat yaitu hepatitis
fulminan yang dapat menimbulkan kematian hanya dalam beberapa hari, gejala
hepatitis akut terbagi dalam 4 tahap :
Fase inkubasi, Merupakan waktu antara
masuknya virus dan timbulnya gejala atau ikterus. Fase ini berbeda-beda
lamanya, untuk tiap virus hepatitis. Panjang fase ini tergantung pada dosis
inokulum yang ditularkan dan jalur penularan, makin besar dosis inokulum, makin
pendek fase inkubasi ini.
Fase prodromal
(pra-ikterik), Fase diantara
timbulnya keluhan-keluhan pertama dan timbulnya gejala ikterus. Awitannya dapat
singkat atau insidious ditandai dengan malaise umum, mialgia, atralgia, mudah
lelah, gejala saluran napas atas dan anoreksia. Mual, muntah dan anoreksia
berhubungan dengan perubahan penghidu dan rasa kecap. Diare atau konstipasi
dapat terjadi. Serum sickness dapat muncul pada hepatitis B akut awal infeksi.
Demam derajat rendah umumnya terjadi pada hepatitis A akut. Nyeri abdomen biasanya ringan dan menetap dikuadran kanan
atas atau epigastrium, kadang diperberat dengan aktivitas akan tetapi jarang
menimbulkan kolesistitis.
Fase ikterus,
Ikterus muncul setelah 5-10 hari, tetapi dapat juga muncul bersamaan dengan
munculnya gejala. Pada banyak kasus fase ini tidak terdeteksi. Setelah timbul
jarang terjadi perburukan gejala prodromal, tetapi justru akan terjadi perbaiki
klinis yang nyata.
Fase konvalesen
( penyembuhan ), Diawali dengan
menghilangnya ikterus dan keluhan lain, tetapi hepatomegali dan abnormalitas
fungsi hati tetap ada. Muncul perasaan sudah lebih sehat dan kembalinya nafsu
makan. Keadaan akut biasanya akan membaik dalam 2-3 minggu. Pada hepatitis A
perbaikan klinis dan laboratorium lengkap terjadi dalam 9 minggu dan 16 minggu
untuk hepatitis B. pada 5-10% kasus perjalanan klinisnya mungkin lebih sulit
ditangani, hanya < 1% yang menjadi fulminan.6
Ada bermacam-macam bentuk klinik hepatitis akut:
- Hepatitis akut tanpa gejala. Bentuk ini ditandai oleh meningkatnya enzim transminase di dalam darah tanpa gejala maupun keluhan yang jelas.
- Hepatitis akut non-ikterik. Selain meningkatnya kadar enzim transminase, bentuk ini juga disertai gejala gastrointestinal dan “flu-like symptoms”, tetapi tidak disertai ikterus.
- Hepatitis akut ikterik atau hepatitis akut yang khas (typical). Bentuk ini diawali dengan periode prodromal yang bisa berlangsung antara 3-4 hari sampai 2-3 minggu dengan gejala antara lain gejala gastrointestinal, khususnya anoreksia dan nausea. Selanjutnya, bisa ditemukan demam ringan dan nyeri perut kanan atas. Gejala laian yang menonjol adalah malaise yang meningkat pada sore hari.
Periode prodromal ini akan
diikuti dengan periode ikterik yang ditandai oleh timbulnya air seni berwarna
seperti air the dan tinja yang berwarna pucat. Selanjutnya keluhan berkurang
dan timbul ikterus. Hepatomegali didapatkan pada 70%, sedangkan splenomegali
pada 20% penderita.
Setelah ikterus berlangsung
1-4 minggu, penderita masuk ke dalam periode penyembuhan. Warna tinja kembali
normal dan nafsu makan pun pulih. Rasa lemah badan akan hilang selama beberapa
minggu. Pada umumnya masa penyembuhan klinis dan biokimiawi dalam waktu 6
bulan.
- Hepatitis akut dengan ikterus berkepanjangan (prolonged jaundice). Pada bentuk ini, terjadi ikterus berat yang bersifat kolestatik dan umumnya disertai gatal-gatal. Setelah beberapa minggu, penderita merasa lebih baik dan tidak ditemui tanda fisik lain kecuali ikterus dan hepatomegali ringan. Ikterus dapat berlangsung selama 8-29 minggu, tetapi masih tetap dapat terjadi kesembuhan sempurna.
- Hepatitis akut dengan relaps. Bentuk ini ditandai oleh peningkatan kadar SGOT dan SGPT yang sebelumnya telah menurun, tetapi belum kembali normal; kadang-kadang disertai pula oleh peningkatan kadar bilirubin. Relaps terjadi beberapa kali dan penyembuhan umumnya sempurna.6
I.
Diagnosis
Secara Serologi
HAV
-
IgM
anti HAV dapat dideteksi selama fase akut dan 3-6 bulan setelahnya.
-
Anti
HAV yang positif tanpa IgM anti HAV mengindikasikan infeksi lampau.5
|
Diagnosa
|
HBsAg
|
IgM Anti-HAV
|
IgM Anti-HBc
|
Anti HCV
|
|
Hepatitis Akut A
|
-
|
+
|
-
|
-
|
|
Hepatitis Akut A
|
+
|
-
|
+
|
-
|
|
Hepatitis Kronik B
|
+
|
-
|
-
|
-
|
J.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
Medikamentosa dan Non- medikamentosa
·
Rawat jalan kecuali
pasien dengan mual atau anoreksia berat yang akan menyebabkan dehidrasi
· Mempertahankan
asupan kalori dan cairan yang adekuat
- Tidak
ada rekomendasi diet khusus
- Makan
pagi dengan porsi yang cukup besar
- Menghindari
konsumsi alkohol selama fase akut
·
Aktivitas fisis yang
berlebihan dan berkepanjangan harus dihindari
·
Pembatasan aktivitas
sehari-hari tergantung dari derajat kelelahan dan malaise
·
Tidak ada pengobatan
spesifik untuk hepatitis A,E,D. Pemberian interferon alfa pada hepatitis C akut
dapat menurunkan resiko kejadian infeksi kronik. Peran lamivudin atau adefovir
pada hepatitis B akut masih belum jelas.
·
Obat-obat yang tidak
perlu harus dihindarkan.7
K. Komplikasi
Hepatitis viral akut dapat berlanjut
menjadi hepatitis viral kronik dan bisa berlanjut menjadi sirosis hepatic.
Khusus untuk hepatitis A tidak dapat berlanjut menjadi hepatitis kronik tetapi
ada kemungkinan menjadi hepatitis fulminan. Hepatitis virus dalam keadaan yang
parah dapat menyebabkan kematian.3
L. Pencegahan
HAV
1.
Pencegahan
dengan imunoprofilaksis
Vaksin HAV yang dilemahkan, efektivitas tinggi,
efektivitas proteksi selama 20-50 tahun. Aman, toleransi baik.
Dosis dan
jadwal vaksin.
HAV >19 tahun, 2 dosis of HAVRIX
(1440 unit Elisa) dengan interval 6-12 bulan.
Anak >2 tahun, 3 dosis HAVRIX (360 unit Elisa), 0 , 1 dan
6-12 bulan atau 2 dosis (720 unit Elisa), 0, 6-12 bulan.
2.
Imunoprofilaksis
pasca paparan
-
Keberhasilan
vkasin HAV pasca paparan belum jelas
-
Keberhasilan
imunoglobulin sudah nyata akan tetapi tidak sempurna
-
Dosis
dan jadwal pemberian imunoglobulin
Dosis 0,02 ml/kg, suntikan pada daerah deltoid sesegera mungkin setelah
paparan.3
HBV
1.
Imunoprofilaksis
adalah pemberian vaksin hepatitis B sebelum paparan.
-
Vaksin
rekombinan ragi. Mengandung HbsAg sebagai imunogen
-
Booster
hanya untuk individu dengan imunokompromise jika titer dibawah 10 mU/ml
Dosis dan jadwal
vaksinasi HBV. Pemberian IM deltoid dosis dewasa untuk dewasa, untuk bayi, anak
sampai umur 19 tahun dengan dosis anak (1/2 dosis dewasa), diulang pada 1,
& 6 bulan kemudian.
2.
Imunoprofilaksis pasca paparan dengan vaksin
hepatitis B dan imunoglobulin hepatitis B (HBIG).
3.
Vaksin
kombinasi dari hepatitia A & B (Twinrix-GlaxoSmithKline) mengandung 20ug
protein HbsAg (Engerix B) dan > 720 unit Elisa hepatitis A virus yang
dilemahkan (Havrix) memberikan proteksi ganda dengan pemberian suntikan 3 kali
berjarak 0,1,dan 6 bulan.3
M. Prognosis
Infeksi virus hepatitis B mempunyai
mortalitas tinggi sedangkan infeksi virus hepatitis A jarang menyebabkan
kematian dan dapat sembuh total. Hepatitis C mempunyai kelangsungan hidup yang
paling jelek. Pasien yang agak tua atau yang kesehatan umumnya jelek, mempunyai
prognosis jelek.2
Kesimpulan
Laki-laki 29 tahun
di diagnosis terkena Hepatitis A, dikarenakan gejala-gejala yang dialami oleh
penderita menunjukkan tanda-tanda terkena hepatitis, ditambah penderita
mengkonsumsi makanan yg kurang bersih. Tetapi penyakit ini dapat sembuh sendiri
tanpa mengkonsumsi obat yang spesifik dan mempunyai prognosis yang baik dan
dapat sembuh total.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar