Tinjauan
Pustaka
Agung Ganjar Kurniawan*
10-2010-169
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana**
*Mahasiswa Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
email: aagguunngg@yahoo.com
**
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061
Fax. 021-563173
Pendahuluan
Didalam tubuh
manusia tersusun oleh bermacam-macam tulang, organ, dan otot. Pada saat kita
bergerak pergerakan itu dibantu dengan adanya otot yang mampu membantu kita
menggerakan setiap anggota tubuh kita. Tanpa otot tidak mungkin kita dapat
bergerak seperti sedia kalanya, bahkan apabila kita tidak memiliki otot,
tulang-tulang pada tubuh kita tidak dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya
masing-masing. Oleh karena itu setiap tulang, organ, dan otot yang terdapat
didalam tubuh kita bekerja dengan fungsinya masing-masing dan saling melengkapi
satu dengan yang lainnya, agar kita dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan
normal. Otot,tulang dan organ lainya sangat penting untuk kelangsungan hidup
kita. Tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita tahu dan mengerti akan
peranan masing-masing dari tulang,otot,dan organ lainya yang terdapat dalam
tubuh kita.1 Dalam makalah ini penulis ingin
menjelaskan bagaimana mekanisme otot yang dapat menyebabkan jari bengkak.
Pembahasan
A. Makroskopis Tangan
a) Tulang
Ossa carpi
Terdapat
delapan buah ossa carpi yang tersusun atas dua baris, masing masing terdir dari
empat tulang. Baris proksimal terdiri atas (dari lateral ke medial)
scaphoideum, lunatum, triquentrum, dan pisiforme. Basis distal terdiri atas
(dari lateral ke medial) trapezium, trapezoideum, capitatum, dan hamatum.
Secara bersama-sama ossa carpi pada permukaan anteriornya membentuk cekungan,
yang ada pada ujung lateral dan medialnya melekat sebuah pita membranosa yang
kuat disebut flexor retinaculum. Dengan cara ini membentuk
saluranosteo-fascial, canalis carpi, untuk lewatnya nervus medianus dan
tendo-tendo flexor jari.
Ossa carpi pada
waktu lahir merupakan tulang rawan. Os capitatum mengalami ossifikasi selama
tahun pertama kehidupan dan tulang-tulang lainnya mengalami ossifikasi dengan
berbagai interfal waktusampai umur 12 tahun, pada tahun ini semua tulang telah
mengalami ossifikasi.1
Os naviculare merupakan tulang terbesar dalam deretan proksimal. Pada permukaan
volarnya terdapat tuberculum, yang dapat
diraba melalui kulit. Os naviculare di proksimal bersendi dengan os radius, di
distal dengan os multangulum majus dan os multangulum minus, dan di medial
dengan os lunatum dan os capitatum. Pembuluh darah masuk pada permukaan kasar
tulang. Pada satu pertiga kasus,
pembuluh darah hanya mencapai os naviculare pada permukaan dorsalnya dan pada
mereka, fraktura os navivulare dapat diikuti oleh nekrosis fragmen proksimal
tulang.
Os lunatum yang
berbentuk bulan sabit di proksimal bersendi dengan os radius dan diskus
artikularis, di medial dengan os triquetrum, di lateral dengan os naviculare
dan di distal dengan os capitatum dan kadang-kadang juga dengan os hamatum.
Os triquetrum bentuknya
hampir menyerupai piramid dengan bagian apeksnya mengarah ke medial. Dasarnya
menghadap ke lateral dan bersendi dengan os lunatum. Di proksimal ia bersendi
dengan diskus artikularis dan di distal dengan os hamatum. Permukaan volar
mempunyai permukaan sendi yang kecil untuk os pisiforme.
Os pisiforme merupakan
os carpal yang paling kecil. Ia mudah diraba dan bersama-sama dengan os
triquetrum dan hamalus ossis hamati, suatu tonjolan seperti kait os hamatum,
membentuk eminentia carpi media.
Os multangulum majus mempunyai tuberculum yang dapat diraba pada tangan yang
berada dalam posisi dorsofleksio, dan medial terhadapnya terdapat alur untuk
tendo m.flexor carpi radialis. Distal terhadapnya terdapat permukaan sendi yang
menyerupai pelana untuk os metacarpal I. Permukaan sendi untuk bersendi dengan
os multangulum minus terletak di medial, dan antara permukaan sendi distal dan
medial terdapat permukaan sendi yang lebih kecil untuk bersendi dengan os
metacarpal II. Di proksimal, os multangulum majus bersendi dengan os
naviculare.
Os multangulum minus, permukaan volarnya, di dorsal lebih lebar
daripada permukaan volar. Ia bersendi di proksimal dengan os naviculare, di
distal dengan os metacarpal II, di lateral dengan os multangulum majus dan di
medial dengan os capitatum.
Os capitatum
merupakan os carpal yang paling besar. Di proksimal ia mempunyai permukaan
sendi untuk bersendi dengan os naviculare dan os lunatum, di lateral untuk
bersendi dengan os multangulum minus, di medial dengan os hamatum dan di distal
terutama dengan os metacarpal III serta sebagian dengan ossa metacarpalia II
dan IV.
Os hamatum mudah
diraba. Pada permukaan volarnya terdapat hamulus, yang melengkung ke lateral.
Hamulus berhubungan dengan m.flexor digini minimi brevis dan ligamentum
pisohamatum. Di distal ia bersendi dengan ossa metacaepalia IV dan V, di
lateral dengan os capitatum, di proksimal dan medial dengan os triquetrum, dan
di proksimal dan lateral dengan os lunatum. 2
Osifikasi
Pusat-pusat endokondral
hanya berkembang setelah lahir. Pada tahun pertama kehidupan pusat-pusat timbul
pada os capitatum dan os hamatum, dan pada tahun kedua sampai ketiga pada os
triquetrum. Antara usia 2-6 tahun pusat-pusat pertulangan os lunatum
berkembang, diikuti antara tahun ke 3 dan ke 6 pada os naviculare. Osifikasi
pada os multangulum majus dan os multangulum minus paling sering terjadi antara
usia 4 dan 6 tahun. Os pisiforme mengalami osifikasi antara 8 dan 12 tahun.2
Ossa
metacarpi dan phalanges
Ada lima buah ossa metacarpi, masing-masing mempunyai
basis, corpus dan carpus. Os metacarpi I pollex adalah yang terpendek dan
sangat mudah bergerak. Tulang tersebut tidak terletak pada bidang yang sama
dengan tulang-tulang metacarpi yang lainnya, tetapi terletak lebih anterior.
Tulang ini juga berotasi ke medial Sembilan puluh derajat, sehingga permukaan
ekstensor menghdap ke lateral bukan dorsal.
Basis ossa
carpi bersendi dengan barisan distal ossa carpi, capurnya yang membentuk buku
tangan bersendi dengan phalanges proximal . corpus dari masing-masing ossa
metacarpal sedikit cekung ke depan dan mempunyai penampang berbentuk segitiga.
Corpus mempunyai permukaan posterior, lateral dan medial.1
Kelima ossa metacarpalia
tangan masing-masing mempunyai capitulum, corpus, dan basis. Pada mereka semua
terdapat permukaan sendi pada salah satu ujungnya (basis) untuk bersendi dengan
ossa carpalia dan pada ujung lainnya (capitulum) untuk phalanges.
Permukaan volar sedikit
konkaf dan permukaan dorsal seikit konveks. Permukaan dorsal, ke arah capitulum
menunjukkan bentuk segitiga. Permukaan sendi proksimal dari os metacarpal I
berbentuk pelana; metacarpal II mempunyai lekukan yang menghadap ke proksimal
untuk bersendi dengan os carpal dan pada sisi medial dengan metacarpal III.
Pada sisi dorsoradial basis
metacarpal III terdapat processus styloideus dan di sisi radial terdapat
permukaan sendi untuk metacarpal II. Di proksimal, terdapat satu permukaan
sendi untuk berhubungan dengan ossa carpalia, dan pada sisi ulnar terdapat dua
permukaan sendi untuk bersendi dengan os metacarpal IV. Os metacarpal IV di
sisi radial mempunyai dua permukaan sendi tetapi di sisi ulnar hanya mempunyai
satu permukaan sendi.2
Tulang-tulang jari:
tiap-tiap jari terdiri lebih dari satu tulang, dinamakan phalanx proksimal,
medial dan distal. Satu-satunya kekecualian adalah ibu jari, yang hanya
mempunyai dua phalanx. Tiap-tiap phalanx
proksimal mempunyai permukaan volar yang rata, di dorsal dan transversal ia
konveks dan mempunyai pinggir yang kasar untuk perlekatan selubung-selubung
fibrosa tendo otot-otot fleksor. Ia mempunyai corpus, capitulum (juga dinamakan
trochlea) dan basis. Basis mempunyai lekuk sendi oval, suatu permukaan sendi
untuk ossa metacarpalia.
Basis phalanx tengah
mempunyai permukaan konveks yang dipisahkan oleh peninggian ringan untuk
meyesuaikan diri dengan bentuk capitulum phalanx proksimal. Basis phalanx
distal juga mempunyai peninggian. Pada ujung distal terdapat permukaan volar
yang kasar untuk insersio tendo m. flexor digitorum profundus serta lempeng
berbentuk sekop kasar yang menghadap ke volar pada ujungnya. Ossa sesamoidea
secara teratur terdapat pada sendi-sendi antara metacarpal dan phalanx
proksimal atau ibu jari. Satu terletak di medial dan lainnya di lateral. Ossa
sesamoidea juga terdapat dalam jumlah yang variabel pada jari-jari lainnya.2
Osifikasi
Pada os metacarpal dan phalanx hanya terdapat satu pusat osifikasi
epifisis selain diafisis perikondral (bulan ketiga intrauteri). Pada os
metascarpal pusat epifisis distal berkembang pada tahun kedua kehidupan,
kecuali untuk os metacarpal I, dimana pusat ujung proksimal timbul pada tahun
ke 2- ke 3, pada phalanx, pusat osifikasi epifisis hanya terjadi di proksimal.2

Gambar 1. Struktur tulang
tangan.
b) Kulit
Kulit dilekatkan
pada fascia protunda oleh beberapa pita fibrosa. Kulit memperlihatkan banyak
garis flexio pada tempat kulit bergerak, yang tidak harus terletak pada
persendian. Pada kulit banyak ditemukan kelenjar keringat. Musculus Palmaris
brevis adalah sebuah otot kecil yang berorigo pada retinaculum muscolorum
flexorum dan apeneurosis Palmaris serta berinsertio pada kulit telapak tangan.
Otot ini dipersarafi oleh ramus seperficialis nevri ulnaris. Fungsinya adalah
mengerutkan kulit pada dasar eminentia hypothenar dengan demikian memperkuat
genggaman tangan sewaktu memegang benda yang bulat.
Saraf sensorik
yang mengurus kulit telapak tangan berasal dari ramus cutaneus Palmaris nevri
medianus yang menyilang di depan reticulum muscolarum flexorum dan menyarafi kulit
bagian lateral telapak tangan dan ramus cutaneus Palmaris nevri ulnaris yang
juga menyilang di depan retinaculum musculorum flexorum dan menyarafi kulit
bagian medial telapak tangan . kulit diatas basis eminentia hypothenar
dipersarafi oleh ramus cutancus lateralis lengan antebrachii atau ranus
superficialis nevri radialis.1
c) Otot
v Insertio
tendo otot flexor panjang
Tendo muscular flexor
pollicis longus berinsertio ke facies anterior basis phalanges distalis pollex.
Tiap-tiap tendo musculi flexor digito rum superficialis memasuki selubung
fibrosa otot flexor di depan phalanges proximal membelah dua yang kemudian
berjalan di sekitar tendo musculi flexor digitorum.1
v Otot-otot
kecil tangan
Musculi
lumbricales
Musculi lumbricales
berjumlah empat buah
Ø Origo
: tendo musculi flexor digitorum profundus pada telapak tangan .
Ø Insertio
: setiap otot berinsertio pada sisi lateral espansi extensor yang sesuai.
Ø Persarafan
: musculis lumbricalis I dan II yaitu dua musculi yang di lateral dipersarafi
oleh nervus medianus, musculus lumbricalis III dan IV dipersarafi oleh ramus
profundus nervi ulnaris
Ø Fungsi
: dengan dibantu oleh musculi interossei, otot-otot ini melakukan gerakan
flexio pada articulation metacarpophalangea dan extension articulation
interphalangea.
Musculi
interosei
Terdapat
delapan buah musculi interossei, terdiri atas empat musculi dorsales dan empat
musculi interssei palmares. Otot-otot tersebut menempati ruang-ruang diantara
ossa metacarplia. Musculi interssoi dorsales mempunyai dua caput dan lebih
besar dari musculi interssei palmares yang hanya mempunyai satu caput.1
·
Musculi interossei palmares
Ø Origo
: musculus interossai Palmaris satu berasal dari sis medial basis os metacarpal
I, sedangakn musculus interosseus II,III dan IV masing-masing berasal dari
facies anterior os metacarpal II,IV dan V.
Ø Insertio
: musculus interosseus Palmaris I berinsertio pada sisi medial basis phalanges
proximal pollex.musculus interosseus Palmaris II berinsertio ke sisi medial
basis phalanges proximal index. Musculus interosseus Palmaris III dan IV
berinsertio pada sisi lateral tulang-tulang digitus alunaris dan digitus
minimus yang sesuai. Selain itu semua musculi interssei berinsertio pada
ekspansi ekxtensor jari di tempatnya bekerja.
Ø Persarafan
: ramus profundus nevri ulnaris
Ø
Ø Fungsi
: adductio jari kea rah pusat jari ketiga pada articulation metacarpophalangea,
flexio articulation metacarpophalangea, dan extension articulation
interphalangea.
·
Musculi interossei dorsales
Ø Origo
: keempat musculi interossei dorsales masing-masing berasal dari sisi-sisi yang
bersebelahan dari os metacarpal I,II,II dan III,III dan IV, serta IV dan
V.
Ø Insertio
: musculus interosseus dorsalis I berinsertis pada sisi lateral basis phalanges
proximal index, musculus interosseus dorsalis II pada sisi lateral basis
phalanges proximal jari tengah, musculus interosseus dorsalis III pada sisi
medial tulang yang sama, dan musculus interosseus dorsalis IV pada sisi medial
basis phalanges proximal digitus anularis. Selain itu, semua musculi interossei
berinsertio berinsertio pada ekspansi estensor jari di tempat otot tersebut
bekerja.
Ø Persarafan
: ramus profundus nervi ulnaris
Fungsi : otot-otot ini melakukan
abduction jari dari pusat jari ketiga pada articulation metacarpophalanges,
flexio articulation metacarpophalangea dan extentio articulation
interphalangea.
v Otot-otot
pendek pollex
Otot-otot pendek pollex
terdiri atas muscular abductor pollicis brevis, muscular flexor pollicis
brevis, muscular oppones pollicis, muscular adductor pollicis brevis. Ketiga
otot yang pertama membentuk eminentia thenar.1
·
muscular abductor pollicis
brevis
Ø Origo
: os schaapoideum, trapezium dan reticulum musculorum flexorum.
Ø Insertio
: ke sisi lateral basis phalanges proximal pollex bersama dengan musculus flexor
pollicis brevis.
Ø Persarafan
: nervus medianus
Ø Fungsi
: abduction pollex pada articulation metacarpophalangea. Abductio pollex dapat
didefinisikansebagai gerakan ke depan pollex pada bidang anteroposterior.
·
muscular flexor pollicis
brevis
Ø Origo
: permukaan anterior reticulum musculorum flexorum.
Ø Insertio
: ke permukaan lateral basis phalanges proximal pollex bersama dengan musculus
abductor pollicis brevis. Os sesamoid yang kecil biasanya terdapat pada tendo
gabungan ini.
Ø Persarafan
: nervus medianus
Ø Fungsi
: flexio articulation metacarpophalanges pollex
·
muscular opponens pollicis
Ø Origo
: permukaan anterior reticulum musculorum flexorum.
Ø Insertio
: sepanjang pinggir lateral corpus ossis metacarpi I.
Ø Persarafan
: nervus medianus
Ø Fungsi
: menarik pollex ke medial dan depan melintang telapak tangan sehingga
permukaan palmar ujung pollex bersentuhan dengan permukaan palmar ujung jari
yang lain. Otot ini merupakan otot yang penting dan memungkinkan pollex
membentuk cakar pada gerakan menjepit untuk mengambil benda-benda.
·
muscular adductor pollicis
Ø Origo
: caput obliquum berasal dari facies anterior basis metacarpi II dan III dn
ossa carpi yang berdekatan. Caput transversum berasala dari facies anterior
corpus ossis metacarpi III.
Ø Insertio
: serabut-serabut kedua caput bersatu dan berinsertio bersama musculus
interosseus Palmaris I, melalui tendo gabungan pada sisi medial basisi
phalangesproximal phollex. Os sesamoideum yang kecil biasanya terdapat pada
gebungan kedua tendo ini.
Ø Persarafan
: ramus profundus nevrus ulnaris
Ø Fungsi
: adductio polex pada articulatio carpometacarpea.
v Otot-otot
pendek digitus minimus
Otot-otot
pendek digitus minimus terdiri atas muscular abductor digitus minimi, muscular
flexor digitus minimi, muscular oppones digitus minimi, yang secara
bersama-sama membentuk eminetia hyphotenar.1
·
muscular abductor digitus
minimi
Ø Origo
: os pisiforme
Ø Insertio
: sisi medial basis phalanges proximal digitus mininmus.
Ø Persarafan
: ramus provundus nevri ulnaris.
Ø Fungsi
: abduction digitus minimus pada articulation metacarpaphalangea.
·
muscular flexor digitus
minimi
Ø Origo
: permukaan anterior retinaculum musculorum flexorum
Ø Insertio
: sisi medial basis phalanges proximal digitus mininmus.
Ø Persarafan
: ramus provundus nevri ulnaris.
Ø Fungsi
: flexio digitus minimus pada articulation metacarpaphalangea.
·
muscular oppones digitus
minimi
Ø Origo
: : permukaan anterior retinaculum musculorum flexorum
Ø Insertio
: sepanjang pinggir medial os metacarpal V
Ø Persarafan
: ramus provundus nevri ulnaris.
Ø Fungsi
: otot ini hanya sedikit merotasikan os metacarpl V. walaupun demikian, otot
ini membantu musculus flexor digiti minimi untuk melakukan gerakan flexio pada
articulation carpometacarpea digitus minimus dengan menarik os metacarpal V ke
depan dan mengucupkan tangan.

Gambar 2. Struktur otot tangan
B.
Histology
otot rangka
Satuan organisasi otot rangka adalah serat otot, yaitu
sel-sel silindris panjang multinuclear. Mereka jauh lebih besar dari pada serat
polos, panjang berkisar antara 10 sampai 30 cm berdiameter antara 0,1 sampai
0,5 mm. Serat-serat pararel berkumpul membentuk berkasi atau fasikel yang cukup
besar untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Masaing-masing serat, fasikel,
dan otot seluruhnya di bungkus oleh jaringan ikat yang membentuk kerangka
penyokong utuh. Tetapi untuk keperluan deskripsi, bagian-bagian berbeda disebut
dengan istilah tersendiri. Jaringan ikat padat yang mengelilingi seluruh otot
disebut epimisium. Septa tipis yang terjulur ke dalam dari nya mengelilingi
setiap fasikel membentuk perimisium dan reticulum halus yang membungkus setiap
serat adalah endomisium. Meskipun jaringat ikat itu berfungsi menggabungkan
subunit otot itu, ia tetap memungkinkan gerakan bebas antarnya. Sedikit gerakan
memanjang antara-fasikel itu mungkin dan setiap serat otot dapat bergerak
secara independen dari serat sebelahnya.
Pembuluh darah yang memasok otot rangka bercabang-cabang
dalam empimisum dan menembus septa dari perimisium dan membentuk dalam
endomisium anyaman kapiler sekitar setiap serat otot. Kapiler cukup berkelok
untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan panjang serat dengan agak melurus
selama relaksasi dan lebih berkelok lagi semala kontraksi.
Susunan fasikel bervariasi dari otot ke otot. Pada
beberapa otot yang relative pendek, mereka terorientasi pararel terhadap arah
tarikan dan sepanjang ototnya ia utuh. Pada otot sangat panjang, serat itu
umummnya lebih pendek dari otot dan berhubunngan dengan satu atau lebih pita
melintang jaringan ikat berjarak teratur sepanjang otot. Pada otot lain,
disebut sebagai unipinat, fasikel terorientasi seorang terhadap pita memanjang
jaringan ikat sepanjang satu sisi otot. Yang lain adalah bipinat, karena
memiliki fasikel oblik yang memancar dari pusat jaringan ikat dalam otot,
menghasilkan pola mirip bulu-bulu yang terjulur seorang terhadap sumbu pusat
bulu. Beberapa otot adalah multipinat dengan fasikel oblik memancar dari
bebeapa untaian jaringan ikat memanjang di dalam otot. Untaian ini mengumpul
pada tendo. Hilangnya sedikit efisiensi sehubungan dengan arsitektur fasikel
yang oblik di tutp oleh sangat banyaknya serat yang dapat ditampung dengan
susunan ini. Ia umumnya dijumpai pada otot yang memerlukan kekuatan besar dan
memerlukan jarak gerak yang pendek.3
Histogenesis
tulang
Tulang selalu berkembang oleh pergantian jaringan ikat
yang sudah ada. Pada embrio, terlihat dua modus osteogenesis berbeda. Dalam hal
tulang dibentuk langsung dalam jaringan ikat primitive, maka disebut penulangan membranosa. Bila pembentukan
tulang berlangsung dalam tulang rawan yang telah ada, maka disebut penulangan endokondral. Peletakan
matriks tulang pada dasarnya sama dalam kedua modus pembentukan tulang itu,
namun pada penulangan kedua modus pembentukan tulang itu, namun pada penulangan
endokordonal, bagian terbesar tulang rawannya harus dihilangkan dulu sebelum
peletakan tulang dimulai. Pada keduanya, tulang pertama kalo diletakan sebagai
anyaman trabekel, disebut spongiosa
primer, dan ini kemudian ditransformasi menjadi tulang yang lebih kompak
dengan mengisi celah-celah di antara trabekel.
Osteoblast baru dari sel osteoprogenitor dalam jaringan
ikat perivaskular. Gambaran mitosis tidak tampak dalam osteoblas namum sering
dalam sel osteoprogenitor.
Di daerah spongiosa primer yang akan menjadi tulang
kompak, trakebel terus menebal dengan mengorbankan jaringan ikat hingga ruang
disekitar pembuluh darah sebagian besar telah menutup. Pada pengisian
preogresif ruang perivaskuler, tulang diletakkan dalam lapis-lapis konsentris
tidak teratur yang sedikit mirip system havers namun bukan tulang berlamel
sejati karena serat kolagennya tersebar acak.
Pada daerah-daerah di mana tulang spon akan tetap ada
dalam kehidupan pasca-lahir, penebalan trakebel tidak terjadi dan jaringan
vaskuler di antaranya berangsur ditransformasi menjadi jaringan hemopoietik.
Jaringan ikat pembungkus tulang memadat dan menjadi periosteum. Setelah penumbuhan berhenti, osteoblas pada permukaan
luar dan dalam tulang menjdai berbentuk mirip fibroblast dari, berturut-turut,
periosteum dan endosteum. Jika di kemudian hari mereka di panggil untuk
memperbaiki fraktur, kemampuan osteogenikanya di aktifan kembali dan sekali
lagi menjadi osteoblas.3
C. Mekanisme kontraksi otot
tangan
Otot
manusia merupakan suatu alat yang penting untuk menunjang pergerakan atau
selama aktifitas. Pergerakan otot sadar diawali dengan adanya sebuah sinyal
dari syaraf motorik (gerak) yang memerintahkan agar otot ini bergerak sesuai
dengan batasan kemampuan geraknya. Tanggapan atau reaksi otot ini sepenuhnya
tergantung pada kondisi otot itu sendiri. Sehingga apabila kondisi otot
tersebut terganggu, maka pergerakan yang terjadi akibat kontraksi otot tersebut
akan berjalan lambat dan tidak maksimal.4,5
Kontraksi otot diawali dengan adanya pengantar
impuls (potensial aksi) syaraf motorik alfa menuju motor endplate di membrane otot rangka.
Sebelum terjadi potensial aksi syaraf motorik alfa, pada motor endplate telah terjadi depolarisasi
sebagai akibat terlepasnya asetikolin (ACh) dalam kuantum kecil secara terus
menerus. Dengan adanya potensial aksi di syaraf motoriknya, pelepasan ACh dalam
akan sangat banyak sehingga depolarisasi di endplate menjadi potensial aksi otot yang kemudian menjalar
sepanjang membrane sel otot dan tubulus T. Akibatnya, pintu Ca di retikulum
sarkoplasma membuka dan melepaskan ion Ca ke sitoplasma sel otot. Ion Ca
kemudian menyebar keseluruh sitoplasma dan berikatan dengan troponin C.
Mekanisme kerja otot pada dasarnya melibatkan
suatu perubahan dalam keadaan yang relatif dari filamen-filamen, aktin dan myosin. Otot yang mendapat rangsangan akan bekerja
dengan cara berkontraksi. Kontraksi otot ditandai dengan memendeknya otot.
Serta menegang dan memendeknya otot di bagian tengah. Apabila otot tidak tidak
bekerja maka otot akan kembali mengendur dan beristirahat atau relaksasi. Otot
dapat berkontraksi karena adanya pemecahan molekul energy yang disebut
adenosine triphosphate (ATP). Untuk aktifitas berat selama 5 menit sel otot
membutuhkan 85 gram ATP. Pemecahan ikatan kimia ATP ini menghasilkan produk
sampingan yaitu adenosine diphospate (ADP). Energy yang di lepaskan oleh
molekul ATP meningkatkan filament-filamen protein mendorong otot untuk memendek
(berkontraksi). Mekanisme kerja otot tersebut juga melibatkan kalsium.5,6
Kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Treppe atau staircase
effect, yaitu meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut
otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini
disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ di dalam
serabut otot yang meningkatkan aktivitas miofibril.
2. Summasi, berbeda dengan treppe,
pada summasi tiap otot berkontraksi dengan kekuatan berbeda yang m
3. Merupakan hasil penjumlahan
kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi bergelombang).
4. Fatique adalah menurunnya
kapasitas bekerja karena pekerjaan itu sendiri.
5. Tetani adalah peningkatan
frekuensi stimulasi dengan cepat sehingga tidak ada peningkatan tegangan
kontraksi.
6.
Rigor terjadi bila sebagian
terbesar ATP dalam otot telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak lagi dapat
dikembalikan ke RS melalui mekanisme pemompaan.5,7

Gambar 3. Mekanisme kontraksi otot.
D. Mekanisme kerja enzim otot
Kontraksi
secara kimia dan enzim yang berperan di dalamnya :
1. Di
awal siklus kontraksi, ATP berikatan dengan kepala myosin di sisi enzim yang
menghidrolisi, ATPase.
2. ATPase
memecah ATP menjadi ADP dan fosfat anorganik. Keduanya tetap melekat di kepala
myosin (ATP à
ADP + P + energy).
3. Energy
yang dilepas melalui proses hidrolisis mengaktivasi kepala myosin ke dalam
posisi yang condong, siap mengikat aktin.
4. Ion-ion
kalsium, yang telah dilepas reticulum sarkoplasma berikatan dengan troponin
yang melekat pada tropomiosin dan aktin.
5. Kompleks
troponin-ion kalsium mengalami perubahan susunan yang memungkinkan tropomiosin
menjauhi posisi penghalang aktinnya.
6. Sisi
pengikat-miosin pada aktin kemudian terbuka untuk memungkinkan terjadinya
perlekatan pada sisi pengikat-aktin di kepala myosin.
7. Saat
pengikatan, ADP dan fosfat anorganik dilepas dari kepala myosin, dan kepala
myosin bergerak dan berputar ke arah
yang berlawanan untuk menarik filament ktin yang melekat menuju pita H.
peristiwa ini disebut power stroke kepala myosin.
8. Kepala
myosin tetap terikat kuat pada aktin sampai sebuah molekul baru ATp melekat
padanya dan melemahkan ikatan anatara aktin dan myosin.
9. Kepala
myosin terlepas dari aktin, condong kembali, dan siap untuk melekat pada aktin
di sisi baru, berputar, dan kembali menarik untuk siklus.
10. Siklus
tersebut terjadi dalam ribuan kepala myosin selama masih ada stimulasi saraf,
dan jumlah ion kalsium serta ATP mencukupi.
11. Relaksasi
otot terjadi saat stimulasi saraf berhenti dan ion kalsium tidak lagi dilepas.
Ion kalsium di transfer kembali ke reticulum sarkoplasma dengan pompa kalsium
dalam membrane reticulum sarkoplasma.
12. Rigor
mortis. ATP diperlukan untuk melepaskan myosin dari aktin. Penipisan ATP dalam
otot secara total dan ketidakmampuan untuk menghasilkan lebih banyak ATP,
seperti yang terjadi setelah mati, mengakibatkan terjadinya perlekatan permanen
aktin dan myosin, serta rigiditas otot.6
Kesimpulan
Tangan
merupakan alat gerak yang terdiri dari tulang dan otot yang sama-sama mempunyai
fungsi masing-masing. Pada tangan tulang terbagi dari carpi, metacarpi dan
phalanges dan otot terdiri dari Otot-otot kecil tangan, Otot-otot pendek
pollex, Otot-otot pendek digitus minimus. Pembengkakan yang terjadi pada jari
disebabkan adanya gangguan pada phalanges II dan III dan musculus flexor
digitorum superfisialis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar