Tinjauan
Pustaka
Sistem Urogenitalis
Agung
Ganjar Kurniawan*
10-2010-169
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana**
*Mahasiswa
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, email: aagguunngg@yahoo.com
** Jl.
Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
I.
Pendahuluan
Kelangsungan hidup dan
berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan konsentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di
lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel juga bergantung pada
pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolisme toksik dan dihasilkan
oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi demi kelangsungan hidupnya. Ginjal
berperan penting dalam mempertahankan homeostasis dengan mengatur konsentrasi
banyak konstituen plasma, terutama elektrolit dan air dan dengan mengeliminasi
semua zat sisa metabolisme (kecuali CO2, yang dikeluarkan oleh paru). Sewaktu
difiltrasi secara berulang- ulang oleh ginjal, plasma mempertahankan
konstituen-konstituen yang bermanfaat bagi tubuh dan mengeliminasi bahan-bahan
yang tidak diperlukan atau diperlukan di urin. Yang paling penting adalah
kemampuan ginjal mengatur volume dan osmolaritas (konsentrasi zat terlarut)
lingkungan cairan internal dengan mengontrol keseimbangan air dan garam. Yang
juga penting adalah saluran dari sistem urinaria tersebut yaitu ren, ureter,
vesika urinaria dan uretra.
II.
Pembahasan
A.
Makroskopis
a.
Ginjal
Ren bewarna
coklat-kemerahan dan terletak di belakang peritoneum, tinggi pada dinding posterior
abdomen di samping kanan dan kiri columna vertebralis dan sebagian besar
tertutup oleh arcus costalis. Ren sinistra terletak di setinggi costa XI atau
vertebra lumbal 2-3, sedangkan ren dextra terletak setinggi costar XII atau
vertebra lumbal 3-4. Ren dextra terletak lebih rendah karena adanya lobus
hepatis dextra yang lebih besar. Jarak antara ekstremitas superior ren dextra
dan sinistra adalah 7 cm, sedangkan jarak antara ekstremitas inferior ren
dextra dan sinistra adalah 11 cm. Sedangkan jarak dari ekstremitas inferior ke
crista illiaca adalah 3-5 cm. Pada kedua margo medialis ren cekung, terdapat
celah vertikal yang dibatasi oleh pinggir-pinggir substansi ren yang tebal dan
disebut hilus renalis. Hilus renalis dilalui, dari ventral ke dorsal oleh vena
renalis, arteri renalis, dan ureter.
Hilus renalis meluas ke suatu ruangan yang besar yang disebut sinus
renalis . Di dalam sinus renalis dapat dijumpai pembuluh-pembuluh darah, saraf,
lymphe dan pelvis renalis. Di superomedial ren terdapat kelenjar endokrin yang disebut glandula
suprarenalis. 1
Selubung
Ren mempunyai selubung sebagai berikut:
1. Capsula
fibrosa: meliputi dan melekat dengan erat pada permukaan luar ren. 1
2. Capsula
adiposa: mengandung banyak lemak dan membungkus ginjal dan glandula suprarenalis.
Ginjal dipertahankan pada tempatnya oleh fascia adiposa. 1
3. Fascia
renalis (Gerota)
Merupakan lapisan terluar yang tersusun atas
jaringan penyambung padat yang ireguler yang memfiksasi ginjal ke peritoneum
dan dinding abdomen.1 Pada
bagian superior, fascia ini bersatu dengan fascia dari diafragma dan menyisakan
ruangan untuk glnadula suprarenalis. Pada bagian medial, fascia ini menyatu
dengan pembungkus aorta dan vena cava inferior. Hanya pada bagian inferior saja
fascia ini relative terbuka. 2 )
Hubungan ginjal dengan alat-alat
sekitar:
-
Anterior
Ginjal kanan: hepar,
duodenum pars descendens, colon ascendens
Ginjal kiri: gaster,
pancreas dan pembuluh-pembuluhnya, lien, dan colon descendens
Gambar 1. Hubungan Ginjal dan alat sekitar
-
Posterior
Diafragma, m.quadratus
lumborum, m.psoas, aponeurosis m.transversus abdominis, serta costae XII dan 3
saraf: subcostal (T12), illiohypogastrica dan illioinguinalis (L1).
-
Superior
Glandula suprarenalis
terletak pada masing-masing kutub superior ginjal
-
Medial
Sepanjang margo
medialis ginjal terdapat suatu area di mana terdapat arteri dan vena renalis,
ureter, pembuluh limfe, serta saraf simpatis yang disebut sebagai hilus
renalis. 2
Struktur ren
Masing-masing ren
mempunyai cortex renalis di bagian luar, yang berwarna coklat gelap dan medula
renalis di bagian dalam yang berwarna coklat lebih terang dibandingkan cortex.
Medula renalis terdiri dari kira-kira selusin pyramid renalis yang masing-masing
mempunyai basis menghadap ke cortex renalis, dan apex yaitu papilla renalis
yang menonjol ke medial. Bagian cortex yang menonjol ke medula di antara
pyramid yang berdekatan di sebut columnae renalis (Bertini). Bagian
bergaris-garis yang membentang dari basis pyramid renalis sampai ke cortex
disebut radii medularis. Sinus renalis merupakan ruangan di dalam hilus
renalis, berisi pelebaran ke atas ureter, yang disebut pelvis renalis. Pelvis
renalis terbagi menjadi dua atau tiga calyx mayor yang masing-masing akan
menjadi dua atau tiga calyx minor. Setiap calyx minor diinvaginasi oleh apex
pyramid renalis yang disebut papilla renalis. 1
Gambar 2. Struktur Makrokopis
Ginjal
Perdarahan
Arteri renalis à
arteri interlobaris (di antara pyramid renalis dan melalui columna renalis) à
arteri arcuata (pada perbatasan cortex dan medulla à
arteri interlobularis (proyeksi ke cortex renalis) à
arteriol afferent glomerulus à kapiler glomerulus à
arteriol efferent glomerulus à kapiler peritubuler (mengelilingi
tubulus contortus) atau vasa recta (mengelilingi tubulus ascendens dan
descendens) à
vena interlobularis à vena arcuata à
vena interlobaris à vena renalis à
vena cava inferior. 2
Gambar 3. Vaskularisasi Ginjal
Aliran Limfe
Nodi aortic laterales di sekitar pangkal
arteria renalis.1
Persyarafan
Serabut plexus renalis. Serabut-serabut
aferen yang berjalan melalui plexus renalis masuk ke medula spinalis melalui
nervi thorcici 10, 11, dan 12. 1
b.
Ureter
Ureter merupakan
saluran muskular yang terletak retroperitoneal dan membentang dari ren ke
facies posterior vesica urinaria. Ureter merupakan lanjutan pelvis renalis yang
panjangnya 25-30 cm dan dibagi menjadi 3 bagian: 1
-
Ureter pars abdominalis
Terletak pada sisi
medial m.psoas major. Di anterior, ureter kanan ditutupi oleh duodenum pars
descendens dan kemudian berada di lateral dari vena cava inderior dan disilangi
oleh pembuluh-pembuluh testicularis/ovarica, colica dextra, dan ileocolica. Sedangkan
yang kiri disilangi oleh pembuluh-pembuluh testicularis/ovarica, dan colica
sinistra dan melintas di atas pintu atas panggul di belakang mesosigmoid dan
colon sigmoid lalu menyilang bifucartio arteri iliaca communis di atasnya.
-
Ureter pars pelvina
Berjalan di dinding
lateral pelvis di depan arteri iliaca interna tepat di depan spina ischiadica
lalu melengkung ke depan dan memasuki vesica urinaria di medial. Pada laki-laki
terletak di atas vesicula seminalis dan disilangi oleh vas deferens di atasnya.
Pada wanita, ureter melintasi bagian atas lateral fornix vagina, lateral dari
portio supravaginalis cervix uteri, dan di bawah ligamentum latum dan
pembuluh-pembulus uterine.
-
Ureter pars
intravesicalis
Masuk secara oblique ke
dinding vesica urinaria. Otot-otot vesica urinaria dank e-oblique-an ini
membentuk struktur sfingter mirip katup pada akhir dari ductus ini.
Ureter mengalami
penyempitan di 3 tempat: uretero-pelvic junction, pintu atas panggul, dan
orificium utereris.
Perdarahan
Arteria yang mendarahi ureter adalah
sebagai berikut:
1. Ujung
atas oleh arteria renalis
2. Bagian
tengah oleh arteria testicularis atau arteria ovarica
3. Di
dalam pelvis oleh oleh arteria vesicalis superior
darah vena yang dialirkan ke dalam venae
sesuai dengan arteriae. 1
Aliran limfe
Nodi aortici laterales dan nodi iliaci.
1
Persyarafan
Ureter dipersyarafi oleh plexus
hipogastricus inferior T11-L2 melalui neuron-neuron sympathis. 1
c.
Vesica
Urinaria
Vesica urinaria atau
disebut juga kandung kemih berfungsi sebagai reservoir urine dengan kapasitas
200-400 cc. Vesica urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas
pelvis. Bila terisi, bagian atas vesica urinaria akan terletak di daerah hypogastrica
sedangkan vesica urinaria yang kosong, seluruhnya terletak di dalam pelvis.
Vesica urinaria yang kosong berbentuk piramid mempunyai apex, basis, dinding
vesica urinaria, dan collum vesica urinaria. 1
Gambar
4. Vesica Urinaria
Hubungan dengan alat-alat sekitar:
- Anterior:
symphisis pubis
- Superior:
tertutup oleh peritoneum. Pada wanita, corpus uterus berada pada aspek
posterosuperiornya.2
- Posterior:
rectum, ujung vas deferens dan vesicular seminalis pada laki-laki. Vagina dan
portio supravaginalis cervix uterus pada wanita.
- Lateral:
m. levator ani dan obturatoria internus.
Perdarahan
Vesica urinaria diperdarahi oleh a.
iliaca interna, yaitu:
a. Arteriae
vesicalis superior, merupakan cabang a.umbilicalis bagian proximal. Arteriae
vesicalis superior ini memperdarahi fundus dan beranastomosis dengan
a.epigastrica inferior.
b. Arteriae
vesicalis inferior, mendarahi bagian caudal dan lateral permukaan depan vesica
urinaria dan glandula prostata.
c. Arteriae
vesiculodeferentialis, merupakan cabang dari A. iliaca interna dan mendarahi
1/3 permukaan posterior vesica urinaria, glandula vesiculosa, dan ductus
deferentialis. Pada wanita, a. vesiculodeferentialis disebut a. vaginalis dan
mendarahi ovarium dan vagina.
Aliran venanya akan
menuju plexus venosus vesicalis ke vena iliaca interna. Persarafannya otonomnya
berasal dari plexus pelvicus. Innervasi simpatis dari nervi spinales T12 dan
L1-2, sedangkan parasimpatis dari S1,3,4. Getah beningnya mengikuti perdarahan
vesicalis ke iliaca lalu nodule limfatici para aortica.
d.
Urethra
Urethra adalah
saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Pada
dindingnya terdapat glandula urethralis yang mensekresikan mucus protektif. Sphincter
urethra interna dikelilingi oleh lapisan otot polos, sedangkan sphincter
urethra eksterna dikelilingi oleh lapisan otot rangka.2 Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada
sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam
sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani. Pada wanita,
panjang uretra sekitar 2,5 sampai 4 cm dan terletak di antara klitoris dan
pembukaan vagina.
Pria memiliki uretra yang lebih panjang dari wanita. Artinya, wanita lebih
berisiko terkena infeksi kantung kemih atau sistitis dan infeksi saluran kemih.
Pada pria, panjang uretra sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir penis.
Uretra pada pria dibagi menjadi 4 bagian, dinamakan sesuai dengan letaknya: 1
- Urethra
pada laki-laki
Panjangnya sekitar 20 cm dan dibagi menjadi:
·
Pars prostatica
Berjalan di dalam
prostat. Dinding posteriornya memiliki crista urethralis dan sinus prostaticus
tempat muara ductus prostaticus. Di tengah-tengah crista terdapat tonjolan
colliculus seminalis (verumontanum) muara dari utriculus prostaticus. Pada
kedua sisi orificium dari utriculus prostaticus terdapat ductus ejaculatorius
yang merupakan gabungan dari vas deferens dan ductus vesicula seminalis.
·
Pars membranosa
Menembus sphincter
urethra externa dan membrane perinealis superficialis yang menutupi aspek
superficial sphincter.
·
Pars spongiosa
Berjalan di dalam
corpus spongiosum penis. Berjalan ke atas dan depan lalu berjalan di bawah
symphisis pubis dan membengkok ke bawah dan belakang. Ductus dari glandula
bulbourethralis (Cowperi) menempel pada pars ini di dekat diaphragma
urogenitale.2
- Urethra
pada wanita
Hanya sepanjang kurang
lebih 4 cm dan menempel pada dinding depan vagina. Meatus externusnya terletak
di belakang clitoris dan di depan vagina.2
B.
Mikroskopis
I.
Ginjal
Setiap
ginjal terdiri dari sekitar satu juta satuan fungsional berukuran mikroskopis
yang dikenal sebagai nefron. Setiap nefron terdiri dari komponen vascular dan
komponen tubulus. Bagian yang dominan pada komponen vaskular adalah glomerulus. Struktur
internal dari ginjal adalah sebagai berikut:3
·
Hilus,
adalah tingkat kecekungan tepi medial ginjal.
·
Sinus
ginjal, adalah rongga berisi lemak yang
membuka pada hilus. Sinus ini membentuk perlekatan untuk jalan masuk dan keluar
ureter, vena dan arteri renalis, saraf dan limfatik.
·
Pelvis
ginjal, adalah perluasan ujung proksimal
ureter. Ujung ini berlanjut menjadi dua sampai tiga khaliks major, yaitu rongga
yang mencapai glandular, bagian penghasil urine pada ginjal. Pada khaliks major
bercabang menjadi beberapa (8-18) khaliks minor.
·
Parenkim
ginjal, adaah jaringan ginjal yang
menyelubungi sruktur sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi medula dalam
dan korteks luar.
o Medulla
terdiri dari massa-massa triangular yang disebut piramida ginjal. Ujung yang
sempit dari setiap piramida, papilla,
masuk ke dalam khaliks minor dan ditembus ductus pengumpul urine.
o
Korteks
tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang merupakan unit structural
dan fungsional ginjal. Korteks terletak di dalam di antara piramida-piramida
medulla yang bersebelahan untuk
membentuk kolumna ginjal.
·
Ginjal
terbagi lagi menjadi lobus ginjal. Setiap lobus terdiri dari satu piramida
ginjal, kolumna yang saling berdekatan, dan jaringan korteks yang melapisinya.
Struktur Mikroskopik Nefron
Satu
ginjal mengandung 1-4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. Setiap
nefron memiliki satu komponen vascular (kapilar) dan satu komponen tubular.
1.Glomerulus
adalah gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel berdining ganda yang
disebut kapsula Bowman. Glomerulus dan kapsul Bowman bersama-sama membentuk
sebuah korpuskel ginjal.4
·
Lapisan
visceral kapsula Bowman adalah lapisan internal
epithelium. Sel-sel lapisan visceral dimodifikasi menjadi padosit (:sel seperti
, kaki”), yaitu sel-sel epitel khusus di sekitar kapiler glomerular.
·
Lapisan
parietal kapsula Bowman membentuk tepi luar
korpuskel ginjal.
o
Pada kutub vascular
korpuskel ginjal, arteriola afferen masuk ke glomerulus dan arteriola efferent
keluar dari glomerulus.
o
Pada kutub urinarius
korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran yang masuk ke dalam tubulus
kontortus proksimal.
2.Tubulus Kontortus
Proksimal, panjangnya mencapai 15mm dan sangat
berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel
epithelial kuboid yang kaya akan mikrovilus (brush border) dan mamperluas area
permukaan lumen.
3.Ansa Henle.
Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai desenden ansa Henle yang masuk
ke dalam medulla, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan), dan membalik
ke atas membentuk tungkai asenden ansa Henle.
4.Tubulus
kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar
5 mm dan membentuk segmen terakhir nefron.
·
Di sepanjang jalurnya,
tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian tubulus yang
bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel ermodifikasi yang disebut macula
densa. Macula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh
penurunan ion natrium.
·
Dinding arteriol aferen
yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot polos
termodifikasi yang disebur sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui
penurunan tekanan darah untuk memproduksi renin.
·
Macula densa, sel
jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja sama untuk membentuk
apparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan darah.
5.
Tubulus dan ductus pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di korteks, maka tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk ductus pengumpul besar yang lurus. Ductus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam khaliks minor. Khaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui khaliks major. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke vesica urinaria.
Tubulus dan ductus pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di korteks, maka tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk ductus pengumpul besar yang lurus. Ductus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam khaliks minor. Khaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui khaliks major. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke vesica urinaria.
Gambar
5. Nefron
II.
Genitalia
musculina
1.
Penis
Pada
penis dan uretra terlihat gambaran melintang batang penis pada daerah sekitar
pertengahan panjangnya yang jelas terlihat terutama dua korpus kavernosus
penis, satu korpus kavernosum uretra yang tengahnya berisi uretra dan jaringan
ikat yang meliputinya. Dalam jaringan ikat bawah kulit di bagian dorsal dapat
dilihat a.v.n. dorsalis penis. Arterinya tergolong arteriol dan venanya berupa
venula. Lebih ke dalam lagi terdapat tunika albugenia penis yang merupakan
jaringan ikat padat fibrosa yang membungkus kedua korpus kavernosum uretra.
Antara kedua korpus kavernosum penis, jaringan ikat fibrosa ini membentuk
septum penis dan septum mediana. Di tengah korpus kavernosum penis, ada a,
profunda penis, yang kemudian bercabang-cabang menjadi sejumlah a. Helsina yang
mempunyai dinding khusus.3
2.
Testis
dan Epididimis
Sajian
testis yang diamati dengan objektif 5x, jarang tampak kulit skrotum.
Berturut-turut dari luar yaitu tunika dartos,m. kremaster (otot skelet), tunika
vaginalis parietalis, tunika vaginalis viseralis, ruang serosa di antara
keduanya dan jaringan ikat padat fibrosa yaitu tunika albugenia testis.
Jaringan ini menebal membentuk mediastinum testis. Dalam mediastinum testis
terdapat rete testis halleri. Dari mediatinum ini jaringan ikat fibrosa bercabang
ke dalam parenkim membentuk septula testis yang membagi testis menjadi sejumlah
lobulus testis yang berbentuk piramid.
Dalam tubulus seminiferus testis terdapat:
-
Spermatogonia
(gonosit), sel ini terletak paling dasar, dekat membrana basalis. Bentuknya
bulat dengan inti bulat juga dan besarnya tidak seragam,kromatin intinya halus.
-
Sel Sertoli, sering
terlihat di antara spermatogonia. Sel ini besar, bentuknya mirip segitiga,
bagian basal melekat pada membran basal, sitoplasmanya jernih dan sulit dilihat
batas-batasnya.
Yang
jelas terlihat yaitu inti selnya juga besar, agak terdesak ke apikal, bentuknya
lonjong, ada indentasi (takik).
Spermatosit
I, sel ini besar, bentuknya bulat dan letaknya lebih mengarah ke permukaan
epitel. Intinya bulat dengan kromatin yang kasar padat.
Spermatosit
II, jarang terlihat karena umurnya pendek.
Spermatid,
sel ini kecil, bulat, letaknya mendekati permukaan epitel. Inti sel hampir
memenuhi seluruh sitoplasmanya.
Spermatozoa,
sel ini biasanya berkelompok, menempel pada permukaan epitel, yaitu pada
permukaan sitoplasma sel Sertoli atau bahkan berkelompok memenuhi bagian tengah
lumen tubulus. Sel ini mempunyai flagel sebagai ekornya, yang kemudian dapat
melecut bergelombang, sehingga spermatozoa dapat berenang di dalam getah
kelamin pria maupun wanita.3
3.
Duktus
Deferens
Saluran
ini relatif lurus dan mempunyai dinding relatif tebal. Epitelnya bertingkat
silindris, mempunyai sterosilia. Mukosanya bergelombang, berikut lamina propria
di bawahnya, sel epitelnya seragam tingginya. Di bawah lamina propria ada tiga
lapisan otot polos, yang paling dalam berkasnya tersusun memanjang, ke arah
lebih luar membentuk lapisan tengah, otot polosnya tersusun melingkar dan yang
paling luar otot polosnya memanjang lagi. Di luar tunika muskularis terdapat
tunika adventisia, berupa jaringan ikat jarang.1
4.
Glandula
Prostata
Kelenjar
ini mukosanya berlipat-lipat dan diliputi epitel selapis torak atau dapat juga
bertingkat. Dalam lamina propria terdapat serat otot polos. Biasanya dalam
lumennya terdapat konkremen yang berwarna merah homogen. Di bawah lamina
propria terdapat lapisan otot polos dan di permukaan luarnya diliputi tunika
adventisia yang merupakan jaringan ikat jarang.4
5. Glandula
Vesikulosa
Sepintas kelenjar ini mirip kelenjar prostate. Tunika mukosanya
sama dengan kelenjar prostate, tetapi dalam lamina propria tidak terdapat serat
otot polos. Di bawah lamina propria juga ada lapisan otot polos yang memperkuat
dinding luar kelenjar ini. Tunika adventisia meliputi permukaan luarnya yang
terdiri atas jarin
C.
Mekanisme
Pembentukan Urin
Urin
dibentuk dalam ginjal melalui tiga proses yaitu filtrasi oleh
glomerulus,reabsorbsi dan sekresi oleh tubulus. Proses pembentukan urin dimulai
di glomerulus. Glomerulu merupakan
bagian nefron yang pertama menerima darah dan berfungsi untuk menyaring darah.
Hasil filtrasi disebut filtrate glomerulus. Filtrasi glomerulus berlangsung
karena beberapa factor yaitu tekanan darah dalam kapiler glomelurus,membrane
basalis glomerulus yang bersifat semipermeabel dan bermuatan listrik negatif.5
Gambar 6. Mekanisme Pembentukan Urin
Peran Tekanan Kapiler Glomerulus
pada Pembentukan Urin
Ginjal
merupakan organ tubuh yang terbanyak dilalui darah,yaitu 25 % cardia output*pada
keadaan istirahat. Volume darah yang meallui ginjal kurang lebih 1L/menit
sehingga darah dalam tubuh akan melalui sirkulasi ginjal sekitar 4-5 menit.
Untuk
proses filtrasi,diperlukan energi yang berasal dari kapiler (75 mmHg),tekanan
osmotic plasma (30mmHg), tekanan interstitial (10mmHg) dan tekanan intratubuler
(-10mmHg). Hasil akhir dari semua tekanan tersebut akan menghasilkan tekanan filtrasi sebesar
25mmHg. Selain tekanan dalam glomerulus,proses filtrasi dalam glomerulus
dipengaruhi juga oleh berbagai factor,yaitu jumlah darah yang melalui ginjal,adanya
obstruksi arteriol glomerulus,peningkatan tekanan intratubuler dan adanya obstruksi saluran kemih. Bila
tekanan darah menurun,tekanan filtras aka berkurang. Pada keadaan dimana
tekanan darah sistolik 70mmHg,perbedaan tekanan menjadi 0 sehingga filtrasi
akan terhenti dan pembentukan terhenti.5
Peran Membrane Basalis dalam
Pembentukan Urin
Darah
dalam glomerulus akan difiltrasi dan masuk kedalam kapiler bowman. Membrane
bassalis glomerulus bersifat semipermeabel dan bermuatan listrik negative.
Sifat membrane yang bermuatan listrik negative akan membuat molekul-molekul
yang bermuatan negative misalnya protein akan tertolak sehingga tidak dapat
diloloskan.
Membrane
basalis glomerulus juga bersifat semipermeabel dengan ukuran pori-pori kurang
lebih sama dengan molekul albumin (±60kD). Dengan demikian air,elektrolit dan
zat-zat terlarut dengan ukuran kecil seperti glukosa,asam amino,urea dan
kreatinin. Akan lolos dalam penyaringan dan selanjutnya masuk kedalam tubulus
proksimal sedangkan zat-zat yang terikat dalam protein (seperti lipid,bilirubin
indirek)akan tertahan oleh penyaringan. Filtrat glomeruluss bersifa iso-osmolar*
dengan plasma dengan komposisi yang sama dengan plasma darah tanpa sel-sel
darah dan zat bermolekul misalnya protein dan lemak.5,6
Peran Tubulus Ginjal pada
Pembentukan Urin
Filtrate
glomerulus berisi campuran zat yang merupakan sampah metabolisme. Sampah
metabolisme tubuh ini ada yang merupakan sampah metabolisme yang masih
bermanfaat bagi tubuh dan ada pula yang pada kadar tertentu bersifat toksik..
dalam glomerulus,filtrat akan diteruskan ke tubulus proksimal yang salah satu
fungsinya menyerap zat-zat yang masih bermanfaat kembali masuk ke dalam
sirkulasi darah. Zat-zat yang direabsorbsi tubulus proksimal adalah 75% air,Na+,Cl,semua
glukosa,asam amino,vitamin,protein,ion Mg,Ca,K dan bikarbonat. Proses
reabsorbsi ini berlangsung aktif karena sel tubulus menggunakan energi untuk
transportasi zat-zat tersebut melalui dinding sel kembali ke darah.
Fungsi
kedua tubulus proksimal adalah mengsekresikan produk metabolisme sel tubuli,
seperti ion H+ dan obat yang dimakan. Hampir semua asam urat akan
direabsorbsi secara aktif dan diekskresikan kembali ke ujung distal tubuls
proksimal. Urea sangat mudah berdifusi, secara pasif akan keluar dari tubulus,
selanjutnya masuk ke interstitium ginjal dan berperan menjaga osmolaritas
medula.
Di
lengkung henle yang terletak di medula ginjal berlangsung reabsorbsi air,Na+
dan Cl. Sepanjang pars ascendens reabsorbsi Na+ dan Cl berlangsung
aktif dan pasif ke dalam cairan interstitial di medulla. Kerana pars ascendens
relative permeabel terhadap air maka hanya sedikit air yang ikut dalam proses
reabsorbsi sehingga cairan interstitial menjadi hiperosmotik* terhadap cairan dalam prs ascendens.
Pars
descendens sangat permeabel terhadap air dan tidak mereabsorbsi Na+
dan Cl. Tingginya osmolaritas dalam medulla merupakan kekuatan fisika yang akan
menarik air keluar pars descendens. Hiperosmolaritas acairan descenens
terpelihara oleh karena pars ascendens terus memompa Na+ da Cl di
dalamnya. Keluarnya air dari pars descendens dan keluarnya Na+ dan
Cl dari pars ascendens saling berinteraksi untuk memertahankan keadaan
hiperosmolaritas kedua dalam medulla ginjal dan menghasilkan urin yang
hipo-osmolal ketika meninggalakna lengkung henle.
Tubulus
distal berfungsi untuk mengadakan penyesuain guna memelihata keseimbangan asam
basa dan elektrolit tubuh. Hal ini berlangsung dibawah kendali hormone
aldesteron. Hormone ini merangsang reabsorbsi Na+,merangsang
ekskresi ion H dan Ion K. Ekskresi ion H terkait dengan regenerasi bikarbonat
dan ekskresi ammonia,sementara itu sejumlah ion Cl akan direabsorbsi.
Duktrus
kolektivus merupakan tempat terakhir untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Reabsorbsi air pada bagian proksimal duktus kolektivus berada di bawah pengaruh
aldesteron yang akan merangsang reabsorbsi Na+ dan Cl. Disamping
reabsorbsi Na dan Cl juga terjadi reabsorbsi urea. Selain hormone aldesteron
reabsorbsi air pada duktus kolektivus juga dikontrol oleh anti dieurtic hormone
(ADH) yang merangsang reabsorbsi air. Dalam keadaan normal,dinding tubulus
kolektivus bersifat impermeable terhada air sehingga air akan berifusi secara
pasif dari lumen duktus kolektivus ke medulla dan menghasilkan urin4,5
1.
Filtrasi
Glomerulus
Filtrat
glomerulus terbentuk sewaktu sebagian plasma mengalir melalui tiap-tipa
glomerulus terdorong secara pasif oleh tekanan enembus membrane glomerulus
untuk masuk ke dalam lumen kapsula bowman. Tekanan filtrasi netto yang memicu
flitrasi ditimbulkan oleh ketidakseimbangan dalam gaya-gaya fisik yang bekerja
pada membrane glomerulus. Tekanan darah kapiler glomerulus yang tinggi dan
mendorong filtrasi mengalahkan kombinasi dari tekanan osmotic koloid plasma dan
tekanan hidrostatik kapsula bowman yang bekerja berlawanan. Biasanya , 20 %
sampai 25 % curah jantung disalurkan ke ginjal untuk mengalami proses
regulatorik dan ekskretorik ginjal. Dari plasma yang mengalir melalui ginjal, dalam
keadaan normal 20 % difiltrasi melalui glomerulus, menghasilkan laju filtrasi
glomerulus (GFR) 125 ml/menit. Komposisis filtrate tersebut identik dengan plasma,
kecuali protein plasma yang tertahan oleh membrane glomerulus.
GFR
dapat secara sengaja dirubah dengan mengubah tekanan darah kapiler glomerulus
sebagai asil dari pengaruh simpatis pada arteriol aferen. Vasokontruksi
arteriol aferen menurunkan aliran darh ke glomerulus sehingga tekanan darah
glomerulus menurun dan GFR juga menurun, sebaliknya vasodilatasi arteriol
aferen meningkatkan aliran darah glmerulus dan GFR. Control simpatis atas GFR
merupakan bagian dari respon reflek baroresepor untuk mengkompensasi perubahan
tekanan darah arteri. Jika GFR beubah jumlah cairan yang keluar melalui urin
juga berubah,sehingga volume plasma dapat diatur sesuai kebutuhan untuk
membantu memulihkan tekanan darah ke normal dalam jangka panjang.
2.
Reabsorbsi
Tubulus
Setelah
plasma bebas protein difiltrasi melalui glomerulus, setiap zat ditangani
tersendiri oleh tubulus sehingga walaupun konsentrasi semua konstituen dalam
filtrate glomerulus awal identik dengan konsentrasinya dalam plasma (kecuali
protein plasma), konsentrasi berbagai konstituen mengalami perubaha-perubahan
saat cairan filtrasi mengalir melalui system tubulus. Kapasitas reabsorbsi
tubulus sangat besar. Lebih dari 99% plasma yang difiltrasi dikembalikan ke
darah melalaui reabsorbsi. Zat-zat utama yang secar aktif direabsorbsi adalah
Na+, sebagain besar elektrolit dan nutrient organic,misalnya glukosa
dan asam amino. Zat terpenting yang direabsorbsi secara pasif adalah Cl, H2O
dan urea. Hal utama yang berkaita dengan sebagian besar proses reabsorbsi
adalah reabsorbsi aktif Na+.
suatu pembawa Na+,K+ATPase bergantung energi yang
terletak di membrane basolateral setiap sel tubulus proksimal mengangkut Na+
ke luar dari dalam sel ke dalam ruangan lateral di antara sel-sel yang
berdekatan. Perpindahan Na+ ini memicu reabsorbsi netto Na+
dari lumen tubulus ke plasma kapiler peritubulus, yang sebagian besar terjadi
di tubulus proksimal. Energi yang digunakan untuk memasok pembawa Na+
K ATP ase bertanggungjawab untuk merabsorbsi Na+, glukosa, asam
amino, Cl, H2O dan urea dari dalam tubulus proksimal. Dari sel
tubulus zat-zat tersebut akhirnya masuk ke dalam plasma. Klorida direabsorbsi
secara pasif mengikuti penerunan gradient listrik yang diciptakan oleh
reabsorbsi aktif Na+. Air secara pasif direabsorbsi akibat gradient
osmotic yang diciptakan oleh reabsorbsi aktif Na+.6
3.
Sekresi
Tubulus
Dengan
menyediakan rute kedua jalan masuk ke dalam tubulus bagi zat-zat tertentu,
sekresi tubulus dapat dipandang sebagai mekanisme tambahan yang meningkatkan
eliminasi zat-zat tersebut dari tubuh. Semua zat yang masuk ke cairan tubulus,
baik melalui filtrasi glomerulus maupun sekresi tubulus dan tidak direabsorpsi,
akan dielminasi dalam urin.
Sekresi
tubulus melibatkan transportasi transepitel seperti yang dilakukan reabsorpsi
tubulus, tetapi langkah-langkahnya berlawanan arah. Seperti reabsorpsi, sekresi
tubulus dapat aktif atau pasif. Bahan yang paling penting yang disekresikan
oleh tubulus adalah ion hydrogen (H+), ion kalium (K+),
serta anion dan kation yang banyak diantaranya adalah senyawa-senyawa asing
bagi tubuh.
Tubulus
ginjal mampu secara selektif menambahkan zat-zat tertentu ke dalam cairan
filtrasi melalui proses sekresi tubulus. Sekresi suatu zat meningkatkan
ekskresinya dalam urin. System sekresi yang terpenting adalah :
·
H+ : penting untuk mengatur keseimbangan
asam basa
·
K+ : menjaga
konsentrasi K+ plasma pad tingkat yang sesuai untuk mempertahankan
ekstabilitas normal membrane sel otot dan saraf
·
Anion dan kation
organic : melaksanakan eliminasi senyawa-senyawa organic asing dari tubuh.5,6
D.
SIFAT
DAN KOMPOSISI URINE NORMAL
a. Sifat
urine meliputi:7
I.
Volume
urine
Volume dan komposisi urine
normal dipengaruhi oleh asupan makanan, berat badan, umur, jenis kelamin, dan
kondisi kehidupan seperti temperature, kelembapan, aktivitas fisik, dan keadaan
kesehatan. Manusia dewasa memproduksi 0,5 – 2L urine per harinya dengan 95% nya
terdiri dari air.
Intake air yang bertambah
akan menyebabkan peningkatan ekskresi urine (poliuria) sehingga menyebabkan
konsentrasi zat yang terkandung menjadi lebih rendah karena encer. Pada keadaan
dehidrasi akibat muntah atau diare, terjadin peningkatan hormone ADH untuk
memperbanyak reabsorbsi air.
Volume urine meningkat dalam
keadaan banyak intake air, diabetes, hipertensi, dan berkurang dalam keadaan
kurang intake air, hipotensi, nefritis, demam, diare, muntah-muntah, shock,
luka bakar, dll. Namun utamanya volume urine dipengaruhi oleh keberadaan
natrium yang juga dipengaruhi oleh aldosteron.
II.
Berat
jenis
Adalah rasio dari berat suatu
substansi dalam volume tertentu dengan
berat air yang terdistilasi pada volume yang sama. Berat jenis air adalah
1.000. Berat jenis urine tergantung pada jumlah zat padat yang terkandung di
dalamnya, bervariasi mulai dari 1.010 sampai 1.030. Semakin banyak jumlah zat
padatnya, semakin besar berat jenisnya.
III.
pH
Urine memiliki pH yang
sedikit asam (sekitar 5,8) dan dipengaruhi oleh status metabolic seseorang.
Pada konsumsi banyak tumbuhan, dapat meningkat hingga 7,0. Pada diet tinggi protein, pH urine dapat berkurang.
IV.
Warna
Warna normal urine adalah
kuning pucat atau jernih tergantung status kesehatan seseorang, asupan air, dan
diet. Perubahan warna terutama disebabkan oleh pigmen urokrom.
-
Urine yang kekuningan
menandakan adanya bilirubin (jaundice) atau vitamin B
-
Urine yang merah atau
coklat menandakan adanya darah
-
Urine yang putih
menandakan adanya fosfat
V.
Bau
Urine kebanyakan berbau
ammonia. Makanan yang aromatic juga dapat mempengaruhi bau urine (contoh:
asparagus). Berbau harum pada diabetes dan adanya ekrskresi benda keton.
Bakteri pada urine biasanya mereduksi nitrat menjadi nitrit yang menimbulkan
bau.
VI.
Kejernihan
Berwarna
jernih, keruh jika terdapat darah, bakteri, atau obat-obatan.
b.
Komposisi urine adalah sebagai berikut:
Komposisi urine adalah sebagai berikut:
Gambar
7. Komposisi Urin
I.
Komponen organic
Yang terpenting adalah komponen yang mengandung
nitrogen.
-
Urea
Terutama disintesis di hati dan merupakan bentuk
ekskresi dari atom nitrogen pada asam amino dan hasil pemecahan basa pirimidin.
Kadar urea dalam urine mencerminkan degradasi protein.
-
Asam urat
Merupakan hasil akhir dari metabolism purin. Apabila
ekresinya terganggu, dapat menyebabkan timbulnya gout.
-
Kreatinin
Diperoleh dari metabolism otot yang terbentuk secara
spontan dan mengalami siklus yang ireversibel dari kreatin dan kreatin fosfat.
Jumlah kreatinin yang diekskresi oleh setiap individu per harinya adalah
konstan tergantung massa otot sehingga dapat dipergunakan mengukur GFR.
-
Asam amino
Jumlah asam amino yang diekskresi dalam bentuk bebas
sangat tergantung pada asupan makanan dan efisiensi fungsi liver. Turunan asam
amino, hipurat, juga dapat ditemukan dalam urine.
Sedangkan komponen lain dalam
urine berkonjugasi dengan asam sulfur, asam glukoronat, glisin, dan komponen
polar lainnya yang disintesis oleh hati melalui biotransformasi. Sebagai
tambahan, metabolit dari banyak hormone (katekolamin, steroid, serotonin) serta
pigmen warna (terutama urokrom yang apabila teroksidasi dapat berwarna lebih
gelap) juga terdapat di dalam urine.
II.
Komponen inorganic
Yang utama adalah kation Na+,
K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+
serta anion Cl-, SO42-, dan HPO42-
dan juga ion-ion lainnya. Secara keseluruhan, Na+ dan Cl-
merupakan duapertiga dari seluruh ion yang terdapat di urine. Kalsium dan
magnesium lebih banyak didapat pada feces. Jumlah bermacam-macam ion inorganic
dalam urine juga tergantung pada asupan makanan, sebagai contoh, pada asidosis
ditandai dengan peningkatan eksresi ammonia, dan peningkatan eksresi Na+,
K+, Ca2+ dan fosfat yang tergantung pada regulasi
hormonal.
Adanya komponen urine
patologis dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit, sebagai contoh adanya
glukosa dan keton bodies yang banyak dieksresi pada diabetes mellitus.
E.
Ekskresi
Urin
Dari
125ml/menit cairan yang difiltrasi di glomerulus, dalam keadaan normal hanya
1ml/menit yang tertinggal di dalam tubulus dan diekskresikan sebagai urin. Hanya
zat-zat sisa dan kelebihan elektrolit yang tidak diperlukan tubuh dibiarkan
dalam tubulus. Ginjal mampu mengsekresikan urin dengan volume dan konsentrasi
yang berbeda-beda baik untuk menahan atau mengelurkan H2O, masing-masing
bergantung pada apakah tubuh mengalami defist atau kelebihan H2O.
ginjal mampu menghasilkan urin dengan rentang dari 0,3ml/menit pada1200mosm/l
sampai 25ml/menit pada 100mosm/l dengan mereabsorbsi H2O dalam
jumlah bervariasi di bagian distal. Variasi reabsorbsi inin dimungkinkan oleh
adanya gradient osmotic vertical yang dibentuk oleh system countercurrent
lengkung henle dan daur ulang urea antara tubulus pengumpul dan lengkung henle.
Vasopressin meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan pengumpul terhadap H2O.
sekresi vasopressin terhambat jika terdapat kelebihan H2O sehingga
reabsorbsi H2O menurun.
Setelah
terbentu urin di dorong oleh kontraksi peristaltic melalui ureter dari ginjal
ke kandung kemih untuk disimpan sementara. Kandung kemih dapat menampung 250
sampai 400 ml urin sebelum reseptor renggang di dindingnya melalui reflex
berkemih. Releks ini menyebabkan pengosongn kandung kemih secara involunter
dengan secara bersamaan menyebabkan kontraksi kandung kemih yang disertai oleh
pembukaan sfingter urethra internal dan eksternal.5
Kontrol hormonal terhadap sirkulasi renal
Terdapat
beberapa hormon dan autakoid yang dapat mempengaruhi GFR dan aliran darah
renal, yatitu :
- Angiotensin II merupakan vasokonstriktor ginjal yang kuat. Angiotensin II mengakibatkan konstriksi arteriol eferen, sehingga meningkatkan tekanan hidrostatik glomerulus. Angiotensin II ini berguna untuk menaikkan tekanan darah dan meningkatkan GFR.
- Prostaglandin merupakan vasodilatasi yang meningkatkan aliran darah ginjal dan GFR. Vasodilator ini dapat mengurangi efek vasokonstriktor ginjal dari saraf simpatis dan angiotensin II, terutama efeknya pada arteriol aferen.
F.
Kesimpulan
Ginjal merupakan salah satu
organ tubuh yang sangat penting system ekskresi dari tubuh kita khususnya untuk
membentuk urin dan sistim genitalia berungsi untuk mengeluarkannya, jadi pada
kasus susah buang air kecil maka terjadi gangguan pada ginjal maupun sistim genitalia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar