Senin, 06 April 2015

PBL 12- Campak



Penyakit Campak pada Anak-anak

Agung Ganjar Kurniawan
102010169
mail : aagguunngg@yahoo.com


Pendahuluan
Campak merupakan penyakit menular akut dari saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus, dan ditandai dengan 3 stadium, yaitu : stadium prodromal, stadium erupsi, dan stadium konvalesens. Campak merupakan penyakit dengan insidensi yang tinggi pada anak dapat berakibat serius bahkan fatal, serta ditemukan endemis di sebagian besar dunia. Penyakit ini menular dengan cepat pada populasi yang belum memiliki imunitas terhadap campak. Kematian pada penyakit campak biasanya diakibatkan oleh komplikasi, seperti pneumonia dan ensefalitis. Sampai sekarang wabah dan kejadian luar biasa campak masih sering terjadi di beberapa daerah dengan angka kesakitan dan angka kematian cukup tinggi. Cara yang paling efektif untuk mencegah dan memberantas penyakit campak adalah melalui vaksinasi, yang merupakan kendala di beberapa daerah terutama pedesaan dimana akses pelayanan kesehatan, khususnya program imunisasi masih terbatas.

Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis perlu untuk mengetahui dan menegakkan diagnosis penyakit, terutama mengetahui riwayat perjalanan penyakit. Pertanyaan yang perlu ditanyakan pada anak tersebut sesuai skenario yaitu :
-          Sejak kapan timbulnya ruam atau bercak-bercak merah pada anak dan dimana tempat pertama kali muncul ruam atau bercak merah.
-          Sejak kapan mulai pertama kali muncul demam, intensitas demam dalam sehari dan gejala-gejala lain yang menyertai demam
-          Riwayat imunisasi, kapan terakhir imunisasi dan imunisasi apa yang diberikan.

Pemeriksaan
Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan suhu badan, denyut jantung dan frekuensi nafas.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit pada kondisi normal atau tidak dengan limfositis realtif. Pemeriksaan tambahan dilakukan complement-fixation dan test intradermal.
1.      Jumlah leukosit cenderung menurun disertai limfositosis relatif .
2.      Isolasi dan identifikasi virus : Swab nasofaring dan sampel darah yang diambil dari pasien 2-3 hari sebelum onset gejala sampai 1 hari setelah timbulnya ruam kulit (terutama selama masa demam campak) merupakan sumber yang memadai untuk isolasi virus. Selama stadium prodromal, dapat terlihat sel raksasa berinti banyak pada hapusan mukosa hidung.
3.      Serologis: konfirmasi serologi campak berdasarkan pada kenaikan empat kali titer antibodi antara sera fase akut dan fase penyembuhan atau pada penampakkan antibodi IgM spesifik campak antara 1-2 minggu setelah onset ruam kulit. Bagian utama dari respon imun ditujukan langsung pada protein NP. Hanya pada kasus campak yang tidak khas, yang pasti bereaksi terhadap protein M yang ada.1


Diagnosis
Work Diagnosis
Measles
Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan konjungtivitis disertai batuk dan demam tinggi pada beberapa hari serta diikuti timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan deskuamasi. Jadi diagnosis campak dapat ditegakkan secara klinis. Campak yang bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal.2

Etiologi
Campak adalah penyakit menular dengan gejala prodromal seperti demam, batuk, coryza/pilek, dan konjungtivitis, kemudian diikuti dengan munculnya ruam makulopapuler yang menyeluruh diseluruh tubuh. Penyakit ini disebabkan oleh virus campak, yang merupakan virus RNA dan berselubung, dari anggota genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Virus campak secara alami hanya menginfeksi manusia dan binatang menyusui dibawahnya manusia. Paramyxoviridae dilapisi oleh lipid bilayer yang diperoleh dari membran sel hospes tempat virus bereplikasi.1,2

Epidemiologi
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bila pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita Morbili, maka akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui placenta) pada umur 4-6 bulan. Setelah umur itu kekebalan berkurang dan bayi dapat menderita campak. Usia puncak insidens penyakit ini adalah umur 5-10 tahun, di negara yang belum berkembang insidens tertinggi pada umur 2 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Hampir semua anak Indonesia yang mencapai usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya sekitar 30.000 kasus pertahun.
Masa inkubasi adalah 8-12 hari sejak pemajanan sampai mulainya gejala dan 14 hari sejak pemajanan sampai timbulnya ruam. Pada daerah yang tidak tersedia vaksinasi campak, campak bersifat endemik dan menyebabkan sekitar 1 juta kematian per tahun. Sejak penggunaan vaksin campak meluas, jumlah kasus telah menurun secara dramatis. Wabah baru-baru ini terjadi sebagai akibat penurunan angka imunisasi pada bayi dan balita yang rentan di daerah perkotaan yang penuh sesak.1,3

Patogenesis
            Partikel virus menginfeksi saluran pernapasan dan menyebar ke kelenjar getah bening regional. Viremia primer menyebarkan virus. Sesudah replikasi virus, terjadi viremia sekunder 5-7 hari sesudah infeksi awal karena monosit terinfeksi virus dan leukosit lain menyebarkan virus ke saluran pernapasan, kulit dan organ lain. Tempat-tempat terinfeksi ini dimanifestasikan sebagai ruam dan gejala klasik batuk, konjungtivitis dan pilek. Bukti histologis meliputi adanya sel raksasa multinuklear dan pembentukan sinsitium. Virus ditemukan pada sekresi pernapasan, darah, dan urine individu yang terinfeksi.4

Manifestasi Klinis
            Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala prodromal pertama dimulai atau sekitar 14 hari sejak munculnya ruam. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari innfeksi dan kemudian menurun selama 24 jam atau disekitarnya.
            Fase prodromal yang menyertai biasanya berakhir 3-5 hari dan ditandai oleh demam ringan sampai sedang, batuk kering, koryza dan konjungtivitis. Bercak koplik yang hampir selalu mendahului ini, tanda patognomosis campak pada 2-3 hari. Bintik-bintik merah biasanya ada pada palatum durum dan molle. Bercak koplik merupakan bintik putih ke abu-abuan biasanya sebesar butir pasir dengan areola sedikit kemerahan, kadang-kadang mereka hemorragik. Mereka cenderung terjadi berhadapan dengan molar bawah tetapi dapat menyebar secara tidak teratur pada mukosa. Jarang bercak ini ditemukan pada pertengahan bibir bawah, palatum, dan pada caruncula lakrimal. Bercak ini muncul dan menghilang biasanya dalam waktu 12-18 jam. Ketika mereka menghilang, bintik-bintik perubahan warna merah mukosa mungkin tetap. Radang konjungtivitis dan fotofobia dapat mengesankan campak sebelum muncul bercak koplik. Terutama garis melintang radang konjungtiva, batas tegas sepanjang tepi kelopak mata, mungkin membantu diagnostik pada stadium prodromal. Ketika seluruh konjungtiva terlibat, garis ini menghilang.
            Kadang-kadang fase prodromal dapat berat, ditunjukkan oleh demam tinggi mendadak, kadang-kadang dengan kejang dan bahkan pneumonia. Biasanya koryza, demam, dan batuk semakin bertambah berat sampai waktu ruam telah merata diseluruh tubuh. Suhu naik mendadak ketika ruam muncul dan sering mencapai 40-45°C. Ketika ruam muncul pada tungkai dan kaki, pada sekitar 2 hari gejala-gejala menghilang dengan cepat dengan penurunan suhu mendadak. Penderita akan terlitah sangat sakit namun dalam 24 jam setelahnya mereka akan baik.4,5

Penatalaksanaan
1. Farmakologis
·         Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder 
·         Anti konvulsi apabila terjadi kejang
·         Anti piretik bila demam, yaitu non-aspirin misal acetaminophen.
·         Vitamin A dosis tinggi (rekomendasi WHO dan UNICEF)
o   Usia 6 bln-1 thn : 100.000 unit dosis tunggal p.o
o   Usia >1 thn : 200.000 unit dosis tunggal p.o
o   Dosis tersebut diulangi pada hari ke-2 dan 4 minggu kemudian bila telah didapt tanda defisiensi vitamin A. Apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari2.
·         Antivirus seperti ribavirin (dosis 20-35 mg/kgBB/hari i.v) telah dibuktikan secara in vitro terbukti bermanfaat untuk penatalaksanaan penderita campak beratdan penderita dewasa yang immunocompromissed. Namun penggunaan ribavirin ini masih dalam tahap penelitian dan belum digunakan untuk penderita anak.1,6


2. Non-Farmakologis
·           Anak-anak tidak boleh bersekolah selama 4 hari dari onset timbulnya ruam
·           Pasien harus dirawat di ruang isolasi rumah sakit
·           Pemberian cairan yang cukup, misal air putih, jus buah segar, teh, dll untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang karena panas dan berkeringat karena demam.
·           Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi.6

Komplikasi
            Campak sering dipersulit oleh otitis media. Pneumonia interstisial dapat disebabkan oleh campak atau, lebih sering, akibat dari infeksi bakteri sekunder. Anergi yang terkait dengan campak dapat mengaktifkan tuberkulosis laten.
Miokarditis dan adenitis mesentrika merupakan komplikasi yang jarang. ensefalomielitis terjadi pada 1-2 : 1.000 kasus dan biasanya terjadi 2-5 hari sesudah munculnya ruam. Ensefalitis awal mungkin disebabkan oleh aktivitas virus dalam otak, sedangkan ensefalitis dengan onset lambat merupakan fenomena demilinasi dan mungkin suatu imunopatologis. Penensefalitis sklerosis subakut merupakan komplikasi neurologis lambat infeksi campak lambat, yang terjadi bertahun-tahun sesudah penyakit akut.
Pada penderita tanpa komplikasi, penyembuhan akan berjalan setelah munculnya ruam secara otomatis. Beberapa komplikasi yang sering terjadi adalah pada saluran nafas, saraf, dan mata.7

Saluran nafas : Gejala saluran nafas yang paling menonjol berupa gejala inflamasi mukosa yang snagat luas untuk menghambat penyebaran infeksi virus pada sel epitel. Pneumonia sel fraksasa simtomatik terutama terjadi pada anak atau orang dewaasa yang menderita penyakit immunocompromised. Sebagian besar pneumonia berat sebagai komplikasi peyakit campak sering berlanjut menjadi penyakit paru-paru kronis yang disebabkan infeksi sekunder oleh bakteri atau virus yang lain. Komplikasi lain yang biasanya disebabkan oleh infeksi sekunder adalah otitis media dan laringotrakheobronkitis. Laringotrakeobronkitis lebih sering terjadi pada anak dibawah umur 2 tahun, dan sering infeksi virus atau bakteri yang diderita sebelumnya dapat aktif kembali sebagia akibat terkena infeksi virus campak.

Sistem saraf : Pada individu dengan siste, imun yang normal, terdapat sedikit bukti bahwa parenkim otak merupakan jaringan sasaran  yang penting untuk replikasi virus campak pada saat menderita penyakit akut. Tetapi penyakit campak yang tidak mengalami komplikasi, pada caoran serebrospinal sering ditemukan pleositosis dan terjadi perubahan elektroensefalografi, seingga memberi kesan kemungkinan adanya infeksi SSP. Kadang-kadang tamak adanya kelainan neurologis progresif lambat (measles inclusion body encephalitis –MIBE) pada seseorang dengan immunocompromised, dan juga peristiwa yang snagat jarang terjadi yaitu munculnya penyakit neurologis yang pernah diderita sebelumnya setelah menderita penyakit campak (subacute sclerosing panencephalitis- SSPE) pada seseorang yang tidak mempunyai kelainan sistem imun yang terinfeksi virus campak pada umur yang masih muda. Hal ini membuktikan, virus campak mempunyai kemampuan untu masuk ke otak dan bereplikasi pada sel neuron dan glia.
Komplikasi ensefalomielitis postinfeksi terjadi satu dari 1000 kasus penyakit campak, dan sebagian besar anak yang terkena berumur lebih drai 2 tahun dan biasanya terjadi dalam dua minggu sesudah munculnya ruam pada kulit. Secara klinis penyakit ini ditandai dengan serangan panas dan obtudansi yang mendadak, yang sering disertai dengan kejang dan tanda-tanda neurologis multifokal.

Mata : Penyakit campak merupakan penyebab kebutaan yang sangat penting pada anak-anak. Di india, sekitar 50% anak penderita penyakit campak juga menderita kelainan keratitis punctata, bila dilakukan pemeriksaan slit-lamp. Lesi ini tampak pertama pada konjungtiva, selnajutnya menyebar ke kornea. Pada beberapa di daerah Afrika, banyak anak-anak buta disebabkan oleh lesi pada kornea. Di daerah kekurangan vitamin A maka gejala yang timbul lebih berat, sehingga memudahkan terjadinya ulserasi kornea dan keratomalasia, yang merupakan komplikasi penyakit campak yang sangat sering.7

Prognosis
·         Campak tanpa komplikasi jarang menjadi fatal pada anak-anak sebelumnya sehat.
·         Pneumonia dan enfasilitis (jarang) menyebabkan sebagian besar kejadian fatal
·         Penyakit ini merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada anak-anak yang mengalami malnutrisi di negara berkembang
·         Di Amerika Serikat kasus kematian menurun beberapa tahun terakhir ini sampai tingkat terendah. Disebabkan karena terapi antibakterial efektif untuk pengobatan infeksi sekunder
·         Pada tahun 1846 di Ungava Bay, Kanada, dimana 99% dari 900 orang menderita campak dan angka mortilitasnya 7%.4

Pencegahan
1.      Imunisasi aktif
Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu (1) vaksin yang berasal dari virus campak hidup yang dilemahkan (tipe Edmonstone B), dan (2) vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (dalam larutan formalin dicampur dengan garam alumunium). Namun sejak tahun 1967, vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi, oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat1. Vaksin yang berasal dari virus campak yang dilemahkan berkembang dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strain Moraten (1968). Dosis baku minimal pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 0,5 ml, secara subkutan, namun dilaporkan bahwa pemberian secara intramuskular mempunyai efektivitas yang sama.
Vaksin campak sering dipakai bersama-sama dengan vaksin rubela dan parotitis epidemika yang dilemahkan, vaksin polio oral, difteri-tetanus-polio vaksin dan lain-lain. Laporan beberapa peneliti menyatakan bahwa kombinasi tersebut pada umumnya aman dan tetap efektif.2

2.      Imunisasi pasif
Campak dapat dicegah dengan Immune serum globulin (gamma globulin) dengan dosis 0,25 ml/kgBB intramuskuler, maksimal 15 ml dalam waktu 5 hari sesudah terpapar, atau sesegera mungkin. Perlindungan yang sempurna diindikasikan untuk bayi, anak-anak dengan penyakit kronis, dan para kontak di bangsal rumah sakit serta institusi penampungan anak. Setelah hari ke 7-8 dari masa inkubasi, maka jumlah antibodi yang diberikan harus ditingkatkan untuk mendapatkan derajat perlindungan yang diharapkan.
Kontraindikasi vaksin : reaksi anafilaksis terhadap neomisin atau gelatin, kehamilan, imunodefisiensi (keganasan hematologi atau tumor padat, imunodefisiensi kongenital, terapi imunosupresan jangka panjang, infeksi HIV dengan imunosupresi berat.2
Gambar 1. Ruam pada penderita campak (sumber : dermatology.about.com)

Gambar 2. Koplik’s spot pada mukosa pipi (sumber : dermatology.about.com)
Diagnosis Differensia
Roseola (Exanthema Subitum)

Etiologi
HHV-6 merupakan  salah satu unit dari tujuh herpes virus manusia. Virus ini besar (185-200 nm), berselubung, virus DNA helai ganda sekitar 170 kilobasa. Pada mulanya, diisolasi dari sel darah perifer manusia, bereplikasi pada sel T manusia (baik CD4 maupun CD8), monosit, megakariosit, sel pembunuh alamiah, sel glia, dan sel epitel serta sel salivarius. Virus menghasilkan pengaruh sitopatik seperti balon dan sel lisis dalam leukosit mononuklear yang dirangsang mitogen. Varian A lebih sering diisolasi dari penderita orang dewasa dengan AIDS atau oenyakit limfoproliferatif. Varian B tampak menyebabkan infeksi HHV-6 primer paling bergejala pada bayi. HHV-6 paling terkait dengan sitomegalovirus manusia (CMV). Hubungan molekuler dan antienik menjelaskan beberapa tingkat reaktivitas silang serologis dengan CMV.1

Patogenesis
Cara mendapatkan HHV-6 belum diketahui, tetapi virus sering terdeteksi dalam saliva manusia sehat memberi kesan penyebaran horizontal dengan pelepasan virus oral. Infeksi primer dapat disertai dengan tanda-tanda klinis dan gejala-gejala atau dapat tidak bergejala, walaupun frekuensi yang kedua belum diketahui. Viremi dapat didokumentasi pada 4-5 hari pertama roseola klinis dengan rata-rata sel terinfeksi 103 per 106 sel mononuklear. Jumlah virus dalam darah dihubungkan secara langsung dengan keparahan peyakit. Ada respon imun kompleks yang tersusun dari induksi berbagai sitokin (interferon alfa dan gama, interleukin-beta, faktor nekrosis tumor alfa), respon antibodi, dan reaktivitas sel-T. Hilangnya viremi primer, demam, dan munculnya ruam biasanya dihubungkan dengan munculnya antibodi anti-HHV-6 neutralisasi serum dan mungkin menaikkan aktivitas sel pembunuh alami. Antibodi transplasenta tampak melindungi bayi muda dari infeksi. Infeksi sumsum tulang invitro menekan diferensiasi sel pendahulu dari semua deretan sel. Infeksi HHV-6 in vitro menghambat respon limfoproliferatif sel mononuklear darah perifer manusia. Kadar antibodu tinggi pada orang dewasa, seiring pelepasan virus dalam ludah, dan deteksi asam nukleat virus dalam kelenjar ludah dan sel mononuklear darah perifer pada anak yang seropositif dan orang dewasa mendukung keadaan latensi HHV-6 yang hidup lama. Sel yang tepat yang mengandung HHV-6 laten belum diketahui, tetapi lekukosit (mungkin makrofag) dan sel kelenjar ludah mungkin merupakan calon. Siat rektivasi penyakit pada anak yang lebih tua dan orang dewasa, terutama mereka yang terganggu imun, baru saja dikenali. Karena kebanyakan individu ini mempunyai antibodi, defek pada imunitas seluler, seperti yang ditemukan pada penderita transplan atau mereka yang dengan AIDS dapat memberi kecendrungan pada reaktivasi bergejala.1

Epidemiologi
Seroepidemiologi infeksi HHV-6 paralel dengan epidemiologi klinis roseola. Kebanyakn (70-95%) bayi baru lahir adalah seropositif untuk HHV-6, menggambarkan antibodi transplasenta. Frekuensi seropositif turun antara umur 4 dan 6 bulan (5-50%), disertai dengan antibodi didapat cepat. Pada umur 1-2 tahun, lebih dari 90% bayi adalah seropositif. Hampir semua orang dewasa muda adalah seropositif, walaupun titer HHV-6 mungkin lebih rendah daripada pada anak. Pada masa dewasa akhir, prevalensi antibodi terhadap HHV-6 menurun sampai sekitar 69%. Gambaran prevalensi antibodi cocok dengan prebalensi antibodi cocok dengan prevalensi klinis roseola, suatu penyakit yang tidak jarang pada usia 3 bulan pertama (walaupun jarang didokumentasi pada neonatus) dengan insiden puncak pada 6-12 bulan dan 90% terjadi dalam usia 2 tahun pertama. Sekitar sepertiga anak mengalami roseola klinis. Infeksi terjadi secara sama pada kedua jenis kelamin dan terjadi diseluruh musim dalam setahun dengan insiden agak lebih tinggi pada akhir musim semi dan awal musim panas. Beberapa kasus roseola musiman dapat karena enterovirus, yang bila tidak ada doagnosis virologis spesifik, menyerupai penyakit seperti roseola. Wabah kecil roseola diperantarai HHV-6 terdokumentasi pada populasi yang rapat , seperti panti asuhan. Masa inkubasi yang terkesan dari wabah kecil dan infeksi eksperimental adalah 5-15 hari.

Gejala
HHV-6 adalah agen etiologi pada sekurang-kurangnya 80-92% kasus. Beberapa kasus sisa mungkin disebabkan oleh HHV-6, sedang sedikit kasus disebabkan oleh enterovirus dan patogen lain yang kurang lazim. Mulainya mendadak, dengan demam setinggi 39,4-41,2oC (103-106oF). Fontanella anterior mencembung atau kejang-kejang dapat terjadi pada saat ini atau nanti. Bila kejang-kejang terjadi (5—35% kasus), mereka kejang-kejang pada stadium pre-eruptif roseola. Walaupun mukosa faring mungkin sedkit meradang dan mungkin sedikit coryza, tidak ada tanda-tanda diagnostik. Berbagai tanda dan gejala telah secara jelas dihubungkan dengan infeksi roseola HHV-6. Tanda yang menonjol adalah tidak adanya tanda-tanda fisik yang cukup untuk menjelaskan demam. Biasanya anak tampak relatif baik walaupun ada demam.
Demam turun dengan krisis pada hari ke 3-4. Ketika suhu kembali normal, erupsi makular atau makulopapular tampak diseluruh tubuh, mulai pada badan, menyebar ke lengan dan leher, dan melibatkan muka dan kaki sampai beberapa tingkat. Ruam meghilang dalam 3 hari. Deskuamasi jarang, dan biasanya tidak ada pigmentasi. Kasus tanpa ruam telah diuraikan. Kadang-kadang limfonodi, terutama di daerah servikal, membesar tetapi tidak meluas seperti pada ruam rubella. Kurang sering, penyakit mungkin ada tanpa demam yang khas. Sebelum penurunan demam dan muncul ruam, diagnosis terkesan dengan mengesampingkan sebab-sebab demam tinggi yang lain pada umur ini, seperti otitis media, pielonefritis akut, pneumonia, meningitis da bakterimia pneumokokus.8

Penatalaksanaan & Pencegahan
Tidak ada metode untuk pemendekan perjalanan roseola atau untuk profilaksis yang diketahui. Pada bayi dan anak muda yang cenderung untuk konvulsim pemberian sedatif ketika mulai muncul demam roseola tajam mungkin  efektif sebagai profilaksis terhadap kejang-kejang yang demikian. Antipiretik mungkin membantu dalam mengurangi sebagian demam dan menenangkan kegelisahan. HHV-6 rentan invitro pada gansiklovir dan foskarnet dan jauh kurang pada asiklovir. Tidak ada penelitian terkendali yang menggunakan agen ini pada terapi untuk kasus HHV6 berat yang amat jarang pada hospes yang lainnya normal atau terganggu imun.8

Gambar 3. Ruam pada roseola (sumber : primehealthchannel.com)

Perbedaan Measles dan Roseola
Gambar 4. Penyebaran measles (kiri) dan roseola (kanan) (Sumber : health24.com)






Penutupan
Kesimpulan
Campak merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Campak disebabkan oleh virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Campak ditandai dengan gejala yang menyertai seperti demam, batuk dan conjungtivitis. Campak dapat juga dicegah dengan imunisasi orang-orang secara aktif





Tidak ada komentar:

Posting Komentar