Senin, 06 April 2015

PBL 12 - Tetanus



Tetanus
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida


Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
No. Telp (021) 5694-2061, e-mail : aagguunngg@yahoo.com
 

Pendahuluan
Tetanus adalah satu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani. Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan sering fatal yang disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang menghasilkan tetanospasmin neurotoksin, biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka tusuk yang terkontaminasi (seperti oleh jarum logam, splinter kayu, atau gigitan serangga). Penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani ini, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.

Pembahasan
A. Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan meliputi :
a.       Nama dan Usia                  : Laki-laki, usia 22 tahun.
b.      Keluhan Utama                 : Keluhan demam, mulut terasa kaku dan nyeri tungkai bawah kanan
c.       Keluhan Penyerta            : Kulit tungkai kanan bawah kemerahan, teraba panas dan bengkak,                                         keluar nanah dari sela-sela luka.
d.      Riwayat pengobatan      : Tidak ada
e.      Riwayat kecelakaan        : pasien mengalami kecelakaan 2 minggu lalu dan terdapat luka                                                   robek pada tungkai kanan bawah dan terdapat 27 jahitan.
B. Pemeriksaan
a.       Pemeriksaan Fisik
·         Tanda-tanda Vital : Tekanan darah pasien 110/70 mmHg, denyut nadi 82x/menit.
·         Inpeksi                     : Kulit tungkat bawah di daerah luka terdapat kemerahan, dari sela-sela luka yang dijahit keluar nanah, mulut terasa kaku.
·         Palpasi                      : Teraba panas di sekitar luka dan terdapat bengkak.  
b.      Pemeriksaan Penunjang
·      Pada pemeriksaaan bakteriologik ditemukan clostridium tetani.
·      Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui tentang infeksi yang terjadi.

C. Diagnosis
·      Tetanus
                Tetanus adalah suatu toksemia akut yang disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani ditandai dengan spasme otot yang periodik dan berat. Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien, berupa gejala klinik : kejang tetanik, trismus, dysphagia, Rhisus sardonicus (otot wajah kaku). Biasanya tampak luka yang mendahuluinya. Pembuktian kuman seringkali tidak perlu karena amat sukar mengisolasi kuman dari luka penderita.1
·      Vulnus Laceratum
Terjadinya gangguan kontinuitas suatu jaringan sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal, luka robek terjadi akibat kekerasan yang hebat sehingga memutuskan jaringan. Gejala klinik nya terlihat adanya syok dan syndroma remuk (cris syndroma), dan tanda-tanda lokal biasanya nyeri dan pendarahan. Syok ditandai dengan tekanan darah menurun hingga tidak teraba, keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak sadar. Syok dapat terjadi akibat adanya daerah yang hancur misalnya otot-otot pada daerah yang luka.2
D. Etiologi
            Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif, Clostridium tetani. Bakteri ini berspora dan bersifat obligat anaerob, bukan saja tidak bisa hidup dengan udara tapi bakteri ini juga selalu mati dengan adanya O2, kecuali bila bakteri ini wujud dalam bentuk endospore. Selalu dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. Spora yang dihasilkan tidak berwarna, berbentuk oval, menyerupai drumstick. Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun jika ia menginfeksi luka seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, tahan terhadap sinar matahari dan bersifat resisten terhadapa berbagai disinfektan dan pendidihan selama 20 menit.
            Clostridium tetani tidak bersifat invasif. Kumannya tetap berada di luka. Spora akan menjadi bentuk vegetatif dan eksotoksin akan dibentuk apabila keadaannya memungkinkan yaitu keadaan anaerob yang biasanya terjadi karena adanya jaringan nekrotik, adanya garam kalsium, adanya kuman piogenik lainnya, vaskularisasi yang tersumbat, dan bekas pemotongan tali pusat.
                  Clostridium tetani  menghasilkan neurotoxin, suatu eksotoksin, tetanospasmin yang dilepaskan ketika sel lisis. Tetanospasmin bertanggung jawab untuk menimbulkan manifestasi klinik dari tetanus yaitu kejang opistotonus dan kekakuan pada wajah, leher, perut dan anggota gerak.3
E. Epidemiologi
                Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu menimpa individu non imun, individu dengan imunitas parsial, dan individu dengan imunitas penuh yang kemudian gagal mempertahankan imunitas secara adekuat dengan vaksin ulangan. Walaupun tetanus dapat dicegah dengan imunisasi, tetanus masih merupakan penyakit yang membebani di seluruh dunia terutama di Negara beriklim tropis dan Negara – Negara sedang berkembang, sering terjadi di brasil, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Negara lain di benua Asia.
                Bila tidak memiliki imunisasi aktif, seorang pasien dengan usia berapapun dapat mengalami tetanus melalui luka yang terkontaminasi oleh tanah. Orang dewasa yang berusia > 60 tahun merupakan kelompok berisiko tertinggi, terutama wanita yang mungkin lahir sebelum dikenalkan imunisasi pada anak-anak .
                                Pada negara belum berkembang, tetanus sering dijumpai pada neonatus, bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik, tetanus ini dikenal dengan nama tetanus neonatorum. Tetanus neonatal merupakan masalah khusus di beberapa negara berkembang akibat kontaminasi sekitar umbilikus oleh tanah atau kotoran hewan untuk tujuan terapi.1

F. Patofisiologi
Tetanus dapat terjadi apabila tubuh terkena luka dan luka tersebut kemudian terkontaminasi oleh spora dari Clostridium tetani. Bentuk spora dari bakteri akan berubah menjadi vegetatif bila lingkungannya memungkinkan untuk perubahan bentuk tersebut (anaerobic) dan kemudian mengeluarkan eksotoksin yang menyebar ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa. Dua macam eksotoksin yang dihasilkan, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Kuman tetanusnya sendiri akan tetap tinggal di daerah luka, sehingga tidak ada penyebaran kuman.
Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar ke motor end plate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang, akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa gangguan terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmiter inhibisi yaitu Gama Aminobutyric Acid (GABA) dan glisin, sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sumsum belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada dada, perut dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri, penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan. Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan teliti.4

G. Gejala Klinis
Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa minggu).
Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni:
·      Localized tetanus (Tetanus Lokal)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap. Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisa juga lokal tetanus ini dijumpai sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin.

·      Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar 1 –2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India), luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung.5
·      Generalized tetanus (Tetanus umum)
Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50%), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensi urine, kompressi fraktur dan pendarahan di dalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis.

·      Neonatal tetanus
      Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang telah terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus.
Klasifikasi tingkat keparahan tetanus
ü Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan pernapasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia.
ü Derajat II (sedang)
Trismus sedang, rigiditas yang Nampak jelas, spasme singkat ringan sampai sedang, gangguan pernafasan sedang dengan frekuensi pernafasan lebih dari 30, disfagia ringan.
ü Derajat III (berat)
Trismus berat, spastisitas generalisata, spasme reflex berkepanjangan, frekuensi pernapasan lebih dari 40, serangan apnea, disfagia berat dan takikardia lebih dari 120.
ü Derajad (IV) sangat berat
Derajat 3 dengan gangguan otonomik berat melibatkan system kadiovaskular. Hipertensi berat takikardia terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia,salah satunya dapat menetap.6

Keempat tolak ukur dan besarnya nilai (Philips):

Tolah ukur
Nilai


Masa inkubasi
Kurang 48 jam
5

2-5 hari
4

6-10 hari
3

11-14 hari
2

lebih 14 hari
1

Lokasi infeksi
Internal/umbilikal
5

Leher, kepala, dinding tubuh
4

Ekstremitas proksimal
3

Ekstremitas distal
2

Tidak diketahui
1

Imunisasi
Tidak ada
10

Mingkin ada/ibu mendapat
8

Lebih dari 10 tahun yang lalu
4

Kurang dari 10 tahun
2

Proteksi lengkap
0

Faktor yang memberatkan
Penyakit atau trauma yang membahayakan jiwa
10

Keadaan yang tidak langsung membahayakan jiwa
8

Keadaan yang tidak membahayakan jiwa
4

Trauma atau penyakit ringan
2

A.S.A.** derajat
1

** Sistim penilaian untuk menentukan risiko penyulit



H. Penatalaksanaan
Strategi terapi melibatkan tiga prinsip penatalaksanaan: organism yang terdapat dalam tubuh hendaknya dihancurkan untuk mencegah pelepasan toksin lebih lanjut; toksin yang terdapat dalam tubuh, di luar sistem saraf pusat hendaknya dinetralisir; dan efek dari toksin yang telah terikat pada sistem saraf pusat diminimisasi.
Penatalaksanaan umum:
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai pulih.6 Dan tujuan tersebut dapat diperinci seperti berikut: 7
1.       Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 ,dalam hal ini penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1-2 jam setelah ATS dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
2.       Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan membuka mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan personde atau parenteral.
3.       Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap penderita
4.       Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
5.       Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.

Obat-obatan:
·      Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan Tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/12 jam secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24 jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari. Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan
·      Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis 3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin", yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada, dianjurkan untuk menggunakan Tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar.
·      Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama dilakukan bersamaan dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai imunisasi dasar terhadap Tetanus selesai.
Tabel 1 : PETUNJUK PENCEGAHAN TERHADAP TETANUS PADA KEADAAN LUKA
RIWAYAT IMUNISASI
Luka bersih, Kecil
Luka Lainnya
(dosis)
Tet. Toksoid (TT)
Antitoksin
Tet.Toksoid (TT)
Antitoksin
Tidak diketahui
ya
tidak
ya
ya
0 – 1
ya
tidak
ya
ya
2
ya
tidak
ya
tidak*
3 atau lebih
tidak**
tidak
tidak**
tidak
Keterangan:
* : Kecuali luka > 24 jam
** : Kecuali bila imunisasi terakhir > 5 tahun (8, 16)
*** : Kecuali bila imunisasi terakhir >5 tahun (8,16)
·      Antikonvulsan
Penyebab utama kematian pada Tetanus Neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan obat–obatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi.8
Tabel 2: JENIS ANTIKONVULSAN
Jenis Obat
Dosis
Efek Samping
Diazepam
Meprobamat
Klorpromasin
Fenobarbital
0,5 – 1,0 mg/kg

300 – 400 mg/ 4 jam (IM)
25 – 75 mg/ 4 jam (IM)
50 – 100 mg/ 4 jam (IM)
Stupor, Koma
Tidak Ada
Hipotensi
Depressi pernafasan
Pengobatan menurut Adam .R.D. (1): Pada saat onset
·       3000 - 6000 unit, Tetanus immune globulin satu kali saja.
·       1,2 juta unit Procaine penicilin sehari selama 10 hari, Intramuscular. Jika alergi beri tetracycline 2 gram sehari.
·       Perawatan luka, dibersihkan, sekitar luka beri ATS (infiltrasi)
·       Semua penderita kejang tonik berulang, lakukan trachcostomi, ini harus dilakukan tuk mencegah cyanosis dan apnoe.
·       Paraldehyde baik diberikan melalui mulut.
·       Jika cara diatas gagal, dapat diberi d-Lubocurarine IM dengan dosis 15 mg setiap jam sepanjang diperlukan, begitu juga pernafasan dipertahankan dengan respirator.
Pengobatan menurut Gilroy:
·       Kasus ringan : Penderita tanpa cyanose : 90 - 180 begitu juga promazine 6 jam dan barbiturat secukupnyanya untuk mengurangi spasme.
·       Kasus berat :
1.    Semua penderita dirawat di ICU (satu team )
2.     Dilakukan tracheostomi segera. Endotracheal tube minimal harus dibersihkan setiap satu jam dan setiap 3 hari ETT harus diganti dengan yang baru.
3.     Curare diberi secukupnya mencegah spasme sampai 2 jam. Pernafasan dijaga dengan respirator oleh tenaga yang berpengalaman
4.    Penderita rubah posisi/ miringkan setiap 2 jam. Mata dibersihkan tiap 2 jam mencegah conjunctivitis
5.     Pasang NGT, diet tinggi, cairan cukup tinggi, jika perlu 6 1./hari
6.    Urine pasang kateter, beri antibiotika.
7.    Kontrol serum elektrolit, ureum dan AGDA
8.     Rontgen foto thorax
9.    Pemakaian curare yang terlalu lama, pada saatnya obat dapat dihentikan pemakaiannya. Jika KU membaik, NGT dihentikan. Tracheostomy dipertahankan beberapa  hari, kemudian dicabut/dibuka dan bekas luka dirawat dengan baik.
I. Komplikasi
                Komplikasi pada tetanus yang sering dijumpai: laringospasme, kekakuan otot-otot pernafasan atau terjadinya akumulasi sekresi berupa pneumonia serta kompressi fraktur vertebra dan laserasi lidah akibat kejang. Selain itu bisa terjadi rhabdomyolysis dan renal failure. Rhabdomyolysis adalah keadaan dimana otot rangka dengan cepat hancur, sehingga mengakibatkan mioglobin (protein otot) bocor ke dalam urin. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal akut. 1
J. Pencegahan
                Seorang penderita yang terkena tetanus tidak imun terhadap serangan ulangan artinya dia mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapat tetanus bila terjadi luka sama seperti orang lainnya yang tidak pernah di imunisasi. Tidak terbentuknya kekebalan pada penderita setelah ianya sembuh dikarenakan toksin yang masuk ke dalam tubuh tidak sanggup untuk merangsang pembentukkan antitoksin (karena tetanospamin sangat poten dan toksisitasnya bisa sangat cepat, walaupun dalam konsentrasi yang minimal, yang mana hal ini tidak dalam konsentrasi yang adekuat untuk merangsang pembentukan kekebalan).1
                Pencegahan lain yang dapat dilakukan yaitu dengan merawat luka dan pemberian anti tetanus serum (ATS) dalam beberapa jam setelah luka akan memberikan kekebalan pasif sehingga mencegah terjadinya tetanus atau memperpanjang masa inkubasi.
                Sampai pada saat ini pemberian imunisasi dengan tetanus toksoid merupakan satu-satunya cara dalam pencegahan terjadinya tetanus. Pencegahan dengan pemberian imunisasi telah dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan, dengan cara pemberian imunisasi aktif( DPT atau DT) yang diberikan tiga kali dengan interval 4-6 minggu, dan diulang pada umur 18 bulan dan 5 tahun .
                Untuk mencegah tetanus neonatorum perlu diperhatikan kebersihan pada waktu persalinan terutama alas tempat tidur, alat pemotong tali pusat, dan cara perawatan tali pusat.2

Kesimpulan
Pasien laki-laki usia 22 tahun menderita Tetanus. Hal tersebut dilihat dari pemeriksaan fisiknya yang mengarah pada tetanus ditambah pasien sempat mengalami kecelakaan sebelumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar