Agung Ganjar
Kurniawan
102010169
Kelompok B1
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kampus
2 Ukrida, Jl. ArjunaUtara no. 6 Jakarta 11510
Pendahuluan
Dispepsia berasal dari bahasa Yunani
(Dys) berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan. Dispepsia merupakan kumpulan
keluhan/gejala klinisyang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian
atas yang menetap atau mengalamikekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus
klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung, kini
tidak lagi termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah
diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya.Sindroma dispepsi organik
terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnyatukak (luka) lambung,
usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau
dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas
penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur
organberdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi
(teropong saluranpencernaan).
Dispepsia atau sakit maag adalah
sekumpulan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di
epigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sering
bersendawa. Biasanya berhubungan dengan pola makan yang tidak teratur,
makanan yang pedas, asam, minuman bersoda, kopi, obat-obatan tertentu, ataupun
kondisi emosional tertentu misalnya stress.
Dispepsia merupakan kumpulan
keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian
atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus
klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini
tidak lagi termasuk dispepsia.
Dispepsia merupakan kumpulan
keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut
bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain, perasaan panas di
dada daerah jantung (heartburn), regurgitasi, kembung, perut terasa penuh,
cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa keluhan lainnya.
A. Anamnesis
-
Menanyakan identitas pasien ? (nama, alamat, TTL, status sosial, pekerjaan, agama)
-
Menanyakan keluhan utama yang dirasakan pasien ?
-
Menanyakan riwayat penyakit sekarang ?
-
Menanyakan riwayat terdahulu ?
-
Menanyakan riwayat kesehatan keluarga ?
-
Menanyakan riwayat minum obat ? (termasuk minuman yang mengandung alkohol dan jamu yang
dijual bebas di masyarakat).
-
Menanyakan apakah ada tanda dan
gejala “alarm” (peringatan) ? (mual muntah,
anemia, hematemesis melena, penurunan BB, disfagia)
Berdasarkan
lokasi nyeri, dapat dipikirkan kemungkinan kelainan yang terjadi :
Lokasi
nyeri Dugaan
sumber nyeri
Epigastrium gaster,
pankreas, duodenum
Periumbilikus usus halus, duodenum
Kuadran kanan atas hati, duodenum, kantung
empedu
Kuadran kiri atas pankreas, limpa, gaster, kolon,
ginjal
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan abdomen paling baik
dilakukan pada pasien dalam keadaan berbaring dan relaks, kedua lengan berada
disamping, dan pasien bernapas melalui mulut.
Pasien diminta untuk menekukan kedua lutut dan pinggulnya sehingga
otot-otot abdomen menjadi relaks. Dokter yang memeriksa harus merasa nyaman dan
relaks, dan oleh sebab itu ranjang harus dinaikkan arau pemeriksa berlutut
disamping tempat tidur. Tangan pemeriksa harus hangat untuk menghindari
terjadinya refleks tahanan otot oleh
pasien.
a.
INSPEKSI
Setelah melakukan inspeksi menyeluruh dan keadaan sekitarnya secara
cepat, perhatikan abdomen untuk memeriksa hal berikut ini:
·
Apakah abdomen dapat
bergerak tanpa hambatan ketika pasien bernapas?
·
Apakah pasien menderita
nyeri abdominal yang nyata?
·
Apakah pasien menderita
iritasi peritoneum, yaitu pergerakan abdomen menjadi terbatas?
·
Apakah terdapat
jaringan parut akibat operasi sebelumnya?
·
Apakah terdapat
vena-vena yang berdilatasi?
·
Apakah terdapat gerakan
peristaltic yang dapat terlihat?
Distensi yang menyeluruh biasanya
disebabkan oleh lemak, cairan, janin, atau udara, sedangkan penyebab dari
bengkakan yang terlokalisasim antara lain hernia atau pembesaran organ
tertentu. Pada distensi abdomen yang menyeluruh, terutama jika disebabkan oleh
asites, umbilicus dapat menonjol keluar.
Kelainan-kelainan lainnya pada
inspeksi dapat meliputi bercak-bercak kecil makulopapular berwarna merah yang tidak bermakna (bercak
Campbell de Morgan), dan tanda-tanda pancreatitis, seperti memar periumbilikus
(tanda Cullen) atau memar pada bagian belakang abdomen (tanda Gray Turner).
Peristaltic yang terlihat (gelombang
kontraksi usus) dapat dijumpai pada individu normal yang kurus, tetapi
sebaliknya, pada orang yang gemuk, gerakan peristaltic hanya terlihat sebagai
proksimal dari letak lesi obstruktif usus.2
Vena-vena yang mengalami dilatasi
dapat dijumpai jika darah yang kembali dari saluran cerna menuju hati tidak
dapat melalui hati karena terjadi peningkatan tekanan atau thrombosis pada vena
porta (ketika darah mengalir dari saluran cerna ke dalam hati). Aliran darah
pada vena yang berdilantasi akan menjauhi umbikulus, dan menaik searah dengan
system vena kava superior atau menurun searah dengan system vena kava inferior.1
b.
PALPASI
Abdomen harus diperiksa secara
sistematis, terutama jika pasien menderita nyeri abdomen. Selalu tanyakan
kepada pasien letak nyeri yang dirasa maksimal dan periksa bagian tersebut
paling akhir. Isi abdomen dapat bergerak, semi-solid, tersembunyi dibalik organ
lain, pada dinding posterior abdomen, dapat diraba melalui otot-otot abdomen,
atau kelima-limanya. Namun, hasil pemeriksaan palpasi yang baik sulit untuk
dicapai (bahkan pada dokter yang berpengalaman
sekalipun seringkali
menyembunyikan ketidakpastian mereka dengan menggunakan istilah seperti
organomegali “samar”).
Relaksasi pada tangan yang sedang
melakukan palpasi adalah yang penting: hal ini dapat dilakukan dengan
meletakkan salah satu tangan diabdomen dan tangan yang lain melakukan salah
satu tangan di abdomen dan tangan yang lain melakukan palpasi dengan menekan
tangan yang ada dibawahnya.
Lakukan palpasi pada setiap kuadran
secara berurutan, yang awalnya dilakukan tanpa penekanan yang berlebihan dan
dilanjutkan dengan palpasi secara dalam (jika tidak terdapat area nyeri yang
diderita atau diketahui). Kemudian, lakukan palpasi secara khusus terhadap
beberapa organ.
Ketika meraba organ intra-abdomen
yang membesar, bagian tepi organ lebih sering teraba dari pada “badan”
organ-konsistensi antara organ tersebut dengan organ disekitarnya seringkali
mudah dibedakan hanya dengan meraba bagian tepinya. Tepi organ dapat diketahui
dengan lebih mudah jika pemeriksa meminta pasien untuk mengambil napas agak
dalam sehingga organ tersebut bergerak. Ketika meraba organ-organ intra-abdomen
yang sedang bergerak saat pasien bernapas, jangan menekan tangan yang meraba
terlalu dalam pada saat pasien bernapas agar memungkinkan organ yang bergerak
tersebut menyentuh jari-jemari anda.
Sebaliknya, ketika meraba organ yang
bergerak saat pascabernapas, minta pasien untuk mengeluarkan napas bila anda
menginginkan mereka untuk menarik napas. Pasien, khususnya pasien pria, sering
kali menegangkan otot-otot abdomennya selama mengambil napas dalam setelah
melakukan ekspirasi dalam.
Jika suatu organ atau pembengkakan
yang abnormal tidak bergerak saat
respirasi, gerakan berputar yang lembut dari tangan pemeriksa mungkin
diperlukan untuk meciptakan gerakan relative.
Bila terdapat pembengkakan yang
abnormal, dan pada waktu palpasi tidak menimbulkan rasa nyeri, tentukan keadaan
dan karakteristiknya. Jika pembengkakan berdenyut (kemungkinan aneurisma),
jangan melakukan pemeriksaan dentabilitas.
Tahanan abdomen merupakan suatu
refleks penegangan otot-otot abdominal yang terlokalisasi yang tidak dapat
dihindari oleh pasien dengan sengaja. Adanya tahanan tersebut merupakan tanda
iritasi peritoneum perifer atau tanda nyeri tekan yang tajam dari organ di
bawahnya. Pastikan adanya tahanan abdomen dengan melakukan perkusi ringan
diatas area yang terkena.1
c.
PERKUSI
Perkusi berguna (khususnya pada pasien
yang gemuk) untuk memastikan adanya pembesaran beberapa organ, khususnya hati,
limpa, atau kandung kemih. Lakukan selalu perkusi dari daerah resonan ke daerah
pekak, dengan jari pemeriksa yang sejajar dengan bagian tepi organ,
Shifting
dullness (pekak beralih) adalah suatu daerah pekak yang terdapat dibawah
permukaan horizontal cairan intra-peritoneal (asites). Shifting dullness paling baik dihasilkan pada sisi yang berlawanan
dari hati atau limpa yang mengalami pembesaran dengan tujuan agar tidak
menganggu temuan yang didapatkan dari perkusi akibat pembesaran organ tersebut:
untuk alasan yang sama, kandung kemih harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum
melakukan pemeriksaan asites. Mulailah melakukan perkusi dari garis tengah
dengan posisi jari yang diperkusi sejajar dengan batas cairan yang diperkirakan
dan dilakukan perkusi kea rah lateral sampai muncul nada pekak yang jelas,
kemudia jari yang diperkusi diletakkan kembali ke daerah yang kurang pekak.
Dengan mempertahankan jari tersebut pada posisinya, minta pasien untuk
berguling secara perlahan kearah jari tersebut. Tunggu sekitar 20-30 detik untuk memberikan kesempatan kepada
cairan asites untuk bergerak kebawah dan kemudian perkusi jari tersebut
kembali. Jika terdapat asites, nada perkusi yang dihasilkan lebih pekak
ketimbang perkusi sebelumnya.
Untuk membangkitkan getaran pada
cairan asites, pemeriksa meletakan salah satu tangannya pada sisi abdomen dan
kemudian mengetuk sisi yang lain sehingga geolmbang cairan dihantarkan. Untuk
menghindari terjadinya kesalahpahaman yang diakibatkan hantaran melalui dinding
abdomen, tapi tangan asisten (atau pasien) menekan dengan lemah lembut di
sepanjang garis tengah abdomen. Kadang-kadang pada asites yang besar, hati
terkesan “mengambang” dalam abdomen dan keadaan ini memungkinkan jari yang
sedang mempalpasi untuk “mengetuk” hati.1
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan untuk
penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu:
a. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi
hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja, dan
urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada
tanda-tanda infeksi. Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau
banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi. Seseorang
yang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung. Pada
karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa petanda tumor, misalnya dugaan
karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa
CA 19-9.1
b. Pemeriksaan
Laboratorium Anemia dimana didapati :
-
Besi serum <50 mg/dl
-
TIBC >350 mg/dl
-
Saturasi transferin <15
%
-
Feritin
serum <20 mg/l
-
Pengecatan
sumsum tulang dengan biru prusia (perl’s
stain) menunjukkan cadangan besi (butir-butir hemosiderin) negatif
c. Barium enema untuk memeriksa
kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami
kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang
membaik atau memburuk bila penderita makan.
d. Endoskopi bisa digunakan
untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan
contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian
diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi
oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku
emas, selain sebagai diagnostik sekaligus terapeutik. Pemeriksaan yang dapat
dilakukan dengan endoskopi adalah:2
a. CLO (rapid urea test).
b. Patologi anatomi (PA).
c. Kultur mikroorgsanisme
(MO) jaringan.
d. PCR (polymerase chain
reaction), hanya dalam rangka penelitian.
e. Pemeriksaan penunjang
meliputi pemeriksaan radiologi, yaitu OMD (oesophagus maag duodenum) dengan
kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath
test . Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian
atas dan sebaiknya dengan kontras ganda. Pada refluks gastroesofageal akan tampak peristaltik di esophagus yang menurun terutama di
bagian distal, tampak anti-peristaltik di antrum yang meninggi serta sering
menutupnya pilorus, sehingga sedikit barium yang masuk ke intestin. Pada tukak
baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang disebut niche,
yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk niche dari tukak
yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin. Kanker di lambung
secara radiologis, akan tampak massa yang ireguler tidak terlihat peristaltik
di daerah kanker, bentuk dari lambung berubah. Pankreatitis akuta perlu dibuat
foto polos abdomen, yang akan terlihat tanda seperti terpotongnya usus besar
(colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestin terutama di jejunum
yang disebut sentinal loops. Kadang dilakukan pemeriksaan
lain, seperti pengukuran kontraksi kerongkongan atau respon kerongkongan
terhadap asam.2
D. Working Diagnosis
Dispepsia organik
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang
terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau
mengalami kekambuhan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas
di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi
termasuk dispepsia. Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah
diketahui danya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik
terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka)
lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia
fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya.
Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ
berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi
(teropong saluran pencernaan).
Definisi
lain, dispepsia adalah nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau
dada, yang sering dirasakan sebagai adanya gas, perasaan penuh atau rasa sakit
atau rasa terbakar di perut. Setiap orang dari berbagai usia
dapat terkena dispepsia, baik pria maupun wanita. Sekitar satu dari empat orang
dapat terkena dispepsia dalam beberapa waktu. Diagnosis
ditegakkan pada dispepsia organik jika pada penunjang diagnostik ditemukan
kelainan struktural organik maupun biokimiawi.
v Dispepsia
ec Gastritis
Definisi gastritis adalah proses inflamasi pada
mukosa dan submukosa lambung. Infeksi kuman Helicobacter
pylori dan OAINS merupakan kausa gastritis yang sangat penting. Perjalanan
alamiah gastritis kronik akibat infeksi kuman Helicobacter pylori secara garis besar dibagi menjadi gastritis
kronik non atropi predominasi antrum dan gastritis kronik atropi multifokal.
Ciri khas gastritis kronik non atropi predominasi antrum adalah inflamasi
moderat sampai berat mukosa antrum, sedangkan inflamasi di korpus ringan atau
tidak sama sekali. Antrum tidak mengalami atropi atau metaplasia. Pasien-pasien
seperti ini biasanya asimptomatis, tetapi mempunyai resiko menjadi tukak
duodenum. Gastritis kronik atrofi multifokal mempunyai ciri-ciri khusus sebagai
berikut : terjadi inflamasi pada hampir seluruh mukosa, seringkali sangat berat
berupa atropi atau metaplasia setempat-setempat pada daerah antrum dan korpus.
Gastritis kronik atropi multifokal merupakan faktor resiko terpenting displasia
epitel mukosa dan karsinoma gaster. Infeksi Helicobacter
pylori juga sering dihubungkan dengan limfoma MALT. Gastritis kronik atrofi
predominasi korpus atau sering disebut gastritis kronik autoimun setelah
beberapa dekade kemudian akan dikuti anemia pernisiosa dan defisiensi besi.
Kebanyakan gastritis tanpa gejala. Mereka yang
mempunyai keluhan biasanya berupa keluhan yang tidak khas. Keluhan yang sering
dihubung-hubungkan dengan gastritis adalah nyeri panas dan pedih di ulu hati
disertai mual kadang-kadang sampai muntah. Keluhan-keluhan tersebut sebenarnya
tidak berkorelasi baik dengan gastritis. Keluhan-keluhan tersebut juga tidak
dapat digunakan sebagai alat evaluasi keberasilan pengobatan. Pemeriksaan fisis
juga tidak dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untun menegakkan diagnosis.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan endoskopi dan histopatologi.
Sebaiknya biopsi dilakukan dengan sistematis sesuai dengan update Sydney System yang mengharuskan mencantumkan topografi.
Gambaran endoskopi yang dapat dijumpai adalah eritema, eksudatif, flat-erosion, raised erosion, perdarahan, edematous rugae. Perubahan-perubahan
histopatologi selain menggambarkan perubahan morfologi sering juga dapat
menggambarkan proses yang mendasari, misalnya autoimun atau respon adaptif
mukosa lambung. Perubahan – perubahan yang terjadi berupa degradasi epitel,
hyperplasia foveolar, infiltrasi neutrofil, inflamsai sel mononuklear, folikel
limpoid, atropi, intestinal metaplasia, hyperplasia sel endokrin, kerusakan sel
parietal. Pemeriksaan histopatologi sebaiknya juga menyertakan pemeriksaan
kuman Helicobacter pylori.3
v
Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi (ADB)
adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk
eritropoesis, karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya mengakibatkan
pembentukan hemoglobin berkurang. ADB ditandai oleh anemia hipokromik
mikrositer dan hasil laboratorium yang menunjukkan cadangan besi kosong.3
Adapun gejala-gejala yang khas
dijumpai pada defisiensi besi, tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis lain
adalah :
-
Koilonychia : kuku
sendok, kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga
mirip seperti sendok.
-
Atrofi papil lidah:
permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
-
Stomatitis angularis (cheilosis)
: adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak
berwarna pucat keputihan.
-
Disfagia : nyeri menelan karena kerusakan epitel
hipofaring.
-
Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia.
-
Pica : keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim,
seperti : tanah liat, es, lem, dan lain-lain.
E. Differential Diagnosis
v
Dispepsia ec Ulkus Peptikum
Ulkus
peptikum merupakan keadaan di mana kontinuitas mukosa lambung terputus dan
meluas sampai di bawah epitel. Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai ke
bawah epitel disebut erosi, walaupun seringkali dianggap juga sebagai
tukak.(misalnya tukak karena stress). Ulkus peptik marupakan defek berukuran diatas 5mm,
kedalaman mencapai lapisan submukosa. Ulkus peptik berbatas tegas, dapat
menembus muskularis mukosa sampai lapisan serosa sehingga dapat terjadi
perforasi. Gejala klasik dari tukak peptik
adalah nyeri.
Timbulnya rasa nyeri atau perih bilamana lambung
dalam keadaan kosong. Timbul
keluhan perut rasa penuh dan bertambah berat setelah makan. Biasanya rasa mual
bertambah berat dan diikuti dengan muntah-muntah. Serangan nyeri hebat mungkin
timbul dengan periode peristaltik lambung. Apabila penderita tidak segera minta
tolong, maka lambung makin membesar. Lama
kelamaan nyeripun berkurang, tetapi rasa penuh di perut tetap ada yang disertai
dengan rasa mual, dan muntah-muntah pun berkurang. Berat badan penderita
menurun, demikian pula bertambah lemah, yang juga timbul konstipasi.
Ulkus peptik terdiri dari ulkus
lambung dan ulkus duodenum. Ulkus duodenum ditemukan pada 6-15% populasi barat.
Angka kematian dan komplikasi usus duodeni menurun sejak ditemukannya eradikasi
Hp. Ulkus gaster muncul pada usia lebih tua, umumnya pada dekade ke-6. Lebih
dari 50% ditemukan pada laki-laki, dan lebih jarang didapatkan dibanding ulkus
duodenum. Rendahnya angka ulkus gaster kemungkinan karena sering muncul tanpa
keluhan, dan keluhan yang timbul adalah komplikasinya. Angka kejadian ulkus
peptik menurun sejak ditemukannya terapi eradikasi HP. Ulkus peptik banyak
ditemukan pada gender pria, golongan usia lanjut dan sekelompok sosial ekonomi
rendah. Ulkus duodenum jarang berhubungan dengan keganasan, sebaliknya ulkus
gaster dapat berhubungan dengan keganasan. Dimana ulkus peptik dipengaruhi oleh
faktor agresif dan defensif, yaitu :
a.
Faktor agresif yang paling utama adalah H. Pylori dan
OAINS. Selain itu, pengaruh rokok, stres, malnutrisi, diet tinggi garam,
defisiensi vitamin, genetik juga turut berperan.
b.
Faktor defisiensif terdiri dari preepitel, epitel dan
subepitel. Preepitel ditentukan oleh ketebalan mukus dan kadar bikarbonat.
Epitel ditentukan oleh kecepatan perbaikan mukosa yang rusak, dimana sel sehat
bermigrasi ke ulkus. Subepitel ditentukan oleh mikrosirkulasi dan PG endogen
yang menekan ekstravasasi leukosit yang merangsang reaksi inflamasi jaringan.4
v
Anemia3
|
|
Anemia Defisiensi Besi
|
Anemia akibat penyakit kronik
|
Anemia Sideroblastik
|
|
Derajat
Anemia
|
Ringan – berat
|
Ringan
|
Ringan
|
|
MCV
|
Menurun
|
Menurun/Normal
|
Menurun/Normal
|
|
MCH
|
Menurun
|
Menurun/Normal
|
Menurun/Normal
|
|
Besi serum
|
Menurun <30
|
Menurun <50
|
Normal/Meningkat
|
|
T I B C
|
Meningkat >360
|
Menurun <300
|
Normal/Menurun
|
|
Saturasi
transferin
|
Menurun <15%
|
Menurun 10-20%
|
Meningkat >20%
|
|
Besi
sumsum tulang
|
Negatif
|
Positif
|
Positif
|
|
Protoporfin
eritrosit
|
Meningkat
|
Meningkat
|
Normal
|
|
Feritin
serum
|
Menurun <20µg/l
|
Normal 20-200 µg/l
|
Meningkat >50µg/l
|
|
Elektrofoesis
Hb
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
F. Etiologi
a.
Dispepsia Organik
Istilah dispepsia mulai gencar dikemukakan
sejak akhir tahun 80-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan gejala
(sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual,
muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa
panas yang menjalar di dada. Sindroma atau keluhan ini dapat disebabkan atau
didasari oleh berbagai penyakit atau gangguan dalam lumen saluran cerna,
tentunya termasuk pula penyakit pada lambung, yang diasumsikan oleh orang awam
sebagai penyakit maag/ lambung. Penyakit hepato-pancreato-bilier (hepatitis,
pankreatitis kronik, kolesitis kronik dll) merupakan penyakit tersering setelah
penyakit yang melibatkan gangguan patologik pada esofago-gastroduodenal (tukak
peptik, gastritis dll). Beberapa penyakit diluar sistem gastrointestinal dapat
pula bermanifest dalam bentuk sindroma dispepsia, seperti yang cukup kita harus
waspadai adalah gangguan kardiak ( inferior iskemia/ infark miokard ), penyakit
tiroid, obat-obatan dan sebagainya. Bersifat fungsional jika dispepsia yang
terdapat pada kasus yang tidak terbukti adanya kelainan atau gangguan organik/
struktural biokimia.5
b. Anemia Defisiensi Besi
Perdarahan
kronik misalnya riwayat perdarahan saluran cerna sebelumnya.
Di Indonesia paling banyak disebabkan oleh infestasi
cacing tambang (ankilostomiasis). Gejala yang timbul biasanya ada kemerahan dan
gatal (ground itch) pada kulit tempat larva menembus. Migrasi larva yang banyak
melalui paru-paru dapat menimbulkan gangguan seperti di atas yang dinamakan
Loeffler’s Syndrome. Pada fase akut cacing tambang dewasa dapat menimbulkan
nyeri kolik ulu hati, anoreksia, diare dan penurunan berat badan. Infeksi yang
kronis dapat menimbulkan anemia defisiensi besi dan hiponatremia, sehingga
menyebabkan pucat, sesak nafas dan lemas.
a. Diet
yang tidak mencukupi
b. Pada
wanita karena perdarahan menstruasi dan kehamilan
c. Kebutuhan
yang meningkat pada kehamilan, laktasi
d. Absorpsi
yang menurun
e. Hemoglobinuria
f. Penyimpanan
besi yang berkurang seperti pada hemosiderosis paru3
G. Epidemiologi
a.
Dispepsia Organik
Keluhan dispepsia merupakan keadaan klinik yang
sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Diperkirakan bahwa hampir 30% kasus
pada praktek umum dan 60% pada praktek gastroenterologist merupakan kasus
dispepsia ini. Dispepsia merupakan keluhan umum yang dalam waktu tertentu dapat
dialami oleh seseorang. Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan
bahwa 15-30% orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Dari
data pustaka Negara Barat didapatkan angka prevalensinya berkisar 7-41% tapi
hanya 10-20% yang akan mencari pertolongan medis. Angka insidens dispepsia
diperkirakan 1-8%. Belum ada data epidemiologi di Indonesia.5
b. Anemia Defisiensi Besi
Anemia ini
merupakan kelainan hematologi yang paling sering terjadi pada bayi dan anak.
Sekitar 30% penduduk dunia menderita anemia defisiensi besi dan >50% kasus mengenai
bayi, anak sekolah, ibu hamil dan menyusui. Prevalens ADB pada anak balita di
Indonesia sekitar 30-40% dan pada anak
sekolah 25-35%.5
H. Patofisiologi
a.
Dispepsia Organik
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang
tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan
stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong,
kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara
dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan
produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung,
sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake
tidak adekuat baik makanan maupun cairan.4
b.
Anemia Defisiensi Besi
Zat besi diperlukan
untuk hemopoesis (pembentukan
darah) dan juga diperlukan oleh berbagai enzim sebagai faktor penggiat.
Zat besi yang terdapat
dalam enzim juga diperlukan
untuk mengangkut
elektro (sitokrom), untuk mengaktifkan oksigen (oksidase dan oksigenase). Defisiensi
zat besi tidak
menunjukkan gejala yang khas (asymptomatik) sehingga anemia pada balita sukar untuk dideteksi. Tanda-tanda dari anemia
gizi dimulai dengan menipisnya simpanan zat besi (feritin) dan bertambahnya
absorbsi zat besi yang digambarkan dengan meningkatnya kapasitas pengikatan
besi.
Pada
tahap yang lebih lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya
kejenuhan transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi
heme, dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin serum. Akhirnya terjadi
anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya kadar Rb (Gutrie, 186:303). Bila
sebagian dari feritin jaringan meninggalkan sel akan mengakibatkan konsentrasi
feritin serum rendah. Kadar feritin serum dapat menggambarkan keadaan simpanan
zat besi dalam jaringan. Dengan demikian kadar feritin serum yang rendah akan
menunjukkan orang tersebut dalam keadaan anemia gizi bila kadar feritin
serumnya <12 ng/ml. Hal yang perlu diperhatikan adalah bila kadar feritin
serum normal tidak selalu menunjukkan status besi dalam keadaan normal. Karena
status besi yang berkurang lebih dahulu baru diikuti dengan kadar feritin.
Diagnosis anemia zat gizi ditentukan dengan tes skrining dengan cara
mengukur kadar Hb, hematokrit (Ht), volume sel darah merah (MCV), konsentrasi
Hb dalam sel darah merah (MCH) dengan batasan terendah 95% acuan.3
I.
Manifestasi Klinis
a. Dispepsia Organik
·
Nyeri perut (abdominal discomfort),
·
Rasa perih di ulu hati,
·
Mual, kadang-kadang sampai muntah,
·
Nafsu makan berkurang,
·
Rasa lekas kenyang,
·
Perut kembung,
·
Rasa panas di dada dan perut.3
Regurgitasi
(keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).
b. Anemia Defisiensi Besi
Gejala anemia defisiensi pada umumnya adalah :
· cepat lelah
· jantung berdebar-debar
· takikardi
· sakit kepala
· mata berkunang-kunang
· letih
· lesu
Manifestasi
yang paling menonjol pada anemia defisiensi besi adalah :
·
Pucat
·
Glossitis
(lidah tampak pucat, licin, mengkilap, atrofi papil lidah)
·
Stomatitis
dan keilitis angular
·
Koilonikia
(kuku menjadi cekung ke dalam seperti sendok), ditemukan pada 18% anemia
defisiensi besi
·
Perdarahan dan eksudat pada retina bisa terlihat pada
anemia berat (Hb 5 gram% atau kurang)
·
Gejala Plummer-Vinson yaitu sukar menelan (disfagia)
merupakan gejala yang khas pada anemia defisiensi besi menahun.3
J. Penatalaksanaan
a. Dispepsia Organik
Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter
pylori 1996, ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia yang dibedakan bagi sentra kesehatan dengan tenaga ahli
(gastroenterolog atau internis) yang disertai fasilitas endoskopi dengan
penatalaksanaan dispepsia di masyarakat.
Pengobatan
dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:6
- Antasid 20-150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah.
Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na
bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian
antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa
nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat
sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan
menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
- Antikolinergik
Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak
spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti
reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%.
Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.
3.
Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk
mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang
termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin,
roksatidin, ranitidin, dan famotidin.
4.
Penghambat pompa asam (proton
pump inhibitor = PPI)
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung
pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk
golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.
5.
Sitoprotektif
Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1)
dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan
sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan
sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi,
meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta
membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan
protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
- Golongan prokinetik
Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid,
domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati
dispepsia fungsional dan refluks
esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid
clearance)
Kadang kala juga dibutuhkan
psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti- depresi dan cemas) pada pasien dengan
dispepsia fungsional, karena tidak jarang keluhan yang muncul berhubungan
dengan faktor kejiwaan seperti cemas dan depresi.
b. Anemia Defisiensi Besi
Prinsip
penatalaksanaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab dan mengatasinya serta
memberikan terapi penggantian dengan
preparat besi. Sekitar 80-85% penyebab ADB dapat diketahui sehingga
penanganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat secara
peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan sama
efektifnya dengan pemberian parenteral, pemberian secara parentertral dilakukan
pada pendertita yang tidak dapat memakan obat peroral atau kebutuhan besinya
tidak dapat terpenuhi secara peroral karena ada gangguan pencernaan.
Pemberian preparat besi peroral
Garam ferrous diabsorpsi sekitar 3 kali lebih baik
dibandingkan garam feri, preparat yang tersedia berupa ferous glukonat, fumarat
dan suksinat, yang sering dipakai adalah ferrous sulfat karena harganya yang
lebih murah, ferrous glukonat, ferrous fumarat dan ferrous suksiant diabsorpsi
sama baiknya tetapi lebih mahal. Untuk bayi preparat besi berupa tetes (drop).
Untuk
dapat mendapatkan respons pengobatan dosis besi yang dipakai 4-6 mg besi
elemental/kgBB/hari. Dosis yang diajurkan untuk remaja dan orang dewasa adalah
60 mg elemen zat besi perhari pada kasus anemia ringan, dan 120 mg/hari (2 Х 60
mg) pada anemia sedang sampai berat. Dosis yang dianjurkan untuk bayi dan anak-anak adalah 3
mg/kgBB/hari.
Efek
samping pemberian zat besi peroral dapat menimbulkan keluhan gastrointestinal
berupa rasa tidak enak di ulu hati, mual, muntah dan diare.Sebagai tambahan zat
besi yang dimakan bersama dengan makanan akan ditolelir lebih baik dari pada
ditelan pada saat peut kosong, meskipun jumlah zat besi yang diserap berkurang.
Pemberian preparat besi parenteral
Pemberian besi secara intra muscular
menimbulkan rasa sakit dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati
regional dan reaksi alergi. Oleh karena itu, besi parenteral diberikan hanya
bila dianggap perlu, misalnya : pada kehamilan tua, malabsorpsi berat, radang
pada lambung. Kemampuan untuk menaikan kadar Hb tidak lebih baik
dibandingkan peroral.Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi. Larutan
ini mengandung 50 mg besi/ml.
Dosis dapat dihitung berdasarkan:
Dosis besi (mg) = BB (kg)
Х kadar Hb yang diinginkan (g/dl ) Х
2,5
Transfusi darah
Transfusi darah jarang diperlukan. Transfusi darah hanya diberikan pada
keadaan anemia yang sangat berat atau yang disertai infeksi yang dapat
mempengaruhi respons terapi. Koreksi anemia berat dengan transfusi tidak perlu
secepatnya, lebih akan membahayakan kerana dapat menyebabkan hipovolemia dan
dilatasi jantung. Pemberian PRC dilakukan secara perlahan dalam jumlah yang
cukup untuk menaikan kadar Hb sampai tingkat aman sampai menunggu respons
terapi besi. Secara umum, untuk penderita anemia berat dengan kadar Hb <4
g/dl hanya diberi PRC dengan dosis 2-3 ml/kgBB persatu kali pemberian disertai
pemberian diuretic seperti furesemid. Jika terdapat gagal jantung yang nyata
dapat dipertimbangkan pemberian transfusi tukar mengguanakan PRC yang segar.6
K. Pencegahan
a. Dispepsia Organik
Pola makan yang normal, dan teratur, pilih makanan yang seimbang
dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkonsumsi
makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol dan, pantang rokok, bila
harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat
secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.4
b. Anemia Defisiensi Besi
Untuk
mempertahankan keseimbangan Fe yang positif selama masa anak diperlukan 0,8-1,5
mg Fe yang harus diabsorbsi setiap hari dari makanan. Banyaknya Fe yang
diabsorpsi dari makanan kurang dari 10%, sehingga diperlukan 8-15 mg Fe perhari
untuk nutrisi yang optimal.
Fe yang berasal dari susu ibu
diabsorpsi secara lebih efisien daripada yang berasal dari susu sapi sehingga
bayi yang mendapat ASI lebih sedikit membutuhkan Fe dari makanan lain.
Sedikitnya macam makanan yang kaya Fe yang dicerna selama tahun pertama kehidupan
menyebabkan sulitnya memenuhi jumlah yang diharapkan, oleh karena itu diet bayi
harus mengandung makanan yang diperkaya dengan Fe sejak usia 6 bulan.4
Kesimpulan
Pada wanita usia 55 tahun
tersebut didiagnosis menderita dispepsia organik ec gastritis sekaligus anemia
defisiensi besi (ADB). Hal ini dikarenakan pada wanita tersebut mengalami keluhan
nyeri ulu hati dan seringnya mengkonsumsi obat antinyeri terutama pada golongan
OAINS yang dapat menimbulkan infeksi pada mukosa lambung dan menyebabkan kelainan
fungsi organ pada gaster yaitu gastritis. Selain itu, pada anemia defisiensi
besi juga dikarenakan kurangnya cadangan besi yang pada akhirnya mengakibatkan
pembentukan hemoglobin berkurang yang ditandai dengan kadar Hb 8,6 g/dL. Pada
anemia desiensi besi sendiri mempunyai gejala khas yang tidak ada pada anemia
lainnya yaitu adanya dispepsia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar