Kalazion
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
C-1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana,
Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi
melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film
air mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna
untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola
mata. Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari yang
jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur
seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari
kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan. Kalazion adalah massa di kelopak
mata yang dihasilkan
dari peradangan
kronis kelenjar meibom. Kalazion terkadang sulit dibedakan dengan
hordeolum, dimana dari hasil
pemeriksaan fisik, yang juga
muncul sebagai benjolan pada kelopak mata.
A. Anamnesis
a. Identitas
·
Nama dan Usia Pasien ?
·
Tempat Tinggal ?
b. Keluhan Utama
·
Keluhan Utama ? Sejak
Kapan pasien mulai mengalami keluhan itu?
·
Apakah pada bagian
kelopak matanya merah ?
·
Apakah keluhannya bertambah parah/tidak ?
·
Apakah pada bagian kelopak mata terasa membengkak atau
ada benjolan ?
·
Apakah mengenai satu kelopak mata atau kedua kelopak mata?
·
Apakah disertsi dengan kotoran mata ? Bila iya apa warna
kotorannya ?
·
Apakah ada rasa nyeri ? Bila iya, seperti di berdenyut,
ditusuk/di tekan ?
·
Pola serangan (mendadak atau berangsur-angsur) ?
·
Apakah mata
berair atau terasa lengket
·
Sudah berapa lama
benjolannya ada ?
·
Apakah ada keluhan lain seperti mata merah dan terasa perih ?
·
Apakah ada gangguan penglihatan ?
·
Apakah sudah di obati ?
c. Keluhan
Penyerta
·
Apakah ada nyeri bola mata, nyeri kepala, sekret ?
·
Apakah ada demam ?
d. Riwayat
Penyakit Dahulu
·
Apakah dulu pernah seprti ini juga ?
e. Riwayat
Kesehatan Keluarga
·
Apakah
di keluarga ada yang pernah mengalami seperti ini atau sedang
mengalami seperti ini ?
f. Riwayat Sosial
Ekonomi
·
Apakah lingkungan rumah
bersih ?
·
Apakah lingkungan tempat
kerja baik dan bersih ?
·
Apakah kebutuhan
sehari-hari tercukupi dengan baik?
B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan
Fisik
ü Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital
: tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. 1
ü Inspeksi mata
Adakah
kelainan yang terlihat jelas (misalnya mata merah, asimetri, nistagmus yang
jelas dan ptosis). Kemudian lihat konjungtiva, kornea, iris pupil, dan kelopak
mata. Apakah pupil simetris, bagaimana ukurannya, apakah keduanya merespon
normal dan seimbang pada cahaya dan akomodasi. Adakah ptosis, periksa bola
matanya.
ü Palpasi
Lakukan
palpasi pada bagian palpebra untuk mengetahui konsistensinya kenyal atau tidak,
apakah ada nyeri tekan, dan untuk mengetahui seberapa besar massanya
ü Tajam penglihatan (visus)
Tajam penglihatan diungkapkan dalam suatu
rasio, seperti 20/20. Angka pertama adalah jarak baca pasien terhadap peraga.
Angka kedua adalah jarak terbacanya peraga oleh mata normal. Istilah OD (Oculus
Dexter) berarti mata kanan: OS (Oculus Sinister) berarti mata kiri. OU (Oculi
Unitas) berarti kedua mata.1
Snellen Chart
Jika tersedia kartu Snellen standar, pasien
harus berdiri sejauh 6 meter dari kartu tersebut. Jika pasien memakai kaca
mata, biarkan dipakai terus selama pemeriksaan. Pasien diminta untuk menutum
mata dengan telapak tangan dan membaca baris terkecil yang mungkin. Jika yang
dapat terbaca ialah baris 6/60, maka visus mata pasien adalah 6/60. Ini berarti
bahwa pada jarak 6 meter pasien dapat membaca apa yag dapat dibaca orang normal
pada jarak 60 meter. Jika pada jarak 6 m pasien tidak dapat membaca baris 6/60,
maka pasien didekatkan pada kartu sampai baris itu terbaca. Jika pasien baru
dapat membaca pada jarak 1 m, maka tajam penglihatan pasien adalah 1/60. Gambar
3. Kartu Snellen untuk pemeriksaan visus.1
Gambar
1.Snellen Chart
ü
Funduskopi
Merupakan Tindakan memeriksa
fundus okuli :
•
Papil Saraf Optik (PSO)
•
Retina
•
Makula Lutea
•
Pembuluh darah retina
•
Choroid
Gambar 2 .
Funduskopi
b. Pemeriksaan
Penunjang
·
Biopsy
Biopsi di indikasikan
untuk chalazion yang kambuh, karena tampilan karsinoma kelenjar meibom dapat
mirip chalazion. Pada kalazion menunjukan
proliferasi endotel asinus dan respon radang granulomatosa yang mencakup
sel-sel kelenjar mirip Langerhans.1
C. Diagnosis
a. Working
Diagnosis
Kalazion
Kalazion
merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat. Pada
kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang
mengakibatkan peradangan kronis tersebut. Biasanya kelainan ini dimulai
penyumbatan kelenjar oleh infeksi dan jaringan parut lainnya. Kalazion memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak,
tidak hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Kelenjar
preaurikel tidak membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola
mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.2
Gambar 3. Kalazion
b. Differential
Diagnosis
Hordeolum
Hordeolum
adalah infeksi kelenjar di palpebra. Bila kelenjar meibom terkena timbul
pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Hordeolum eksterna yang
lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi di kelenjar Zeis atau Moll.
Biasanya disebabkan oleh infeksi staphylococcus aureus. Jarang diperlukan
biakan. Gejala yang diberikan yaitu radang pada kelopak mata
seperti bengkak, mengganjar dengan rasa sakit, merah dan nyeri bila ditekan. Pengobatannya
adalah kompres air hangat 3-4 kali sehari selama 10-15 menit. Jika keadaan
tidak membaik dala 48 jam, dilakukan insisi dan drainase bahan purulen.3
Blefaritis
Blefaritis merupakan peradangan kelopak mata dan margo
palpebra. Blefaritis dapat disebabkan oleh infeksi dan alergi terhadap obat
kosmetika. Blefaritis memberikan keluhan yang sering ditemukan pada mata
seperti mata merah, gatal, panas atau gejala iritasi secara umumnya. Kelainan
lainnya yaitu belek mata dipagi hari, mata berair dan penglihatan kabur
sementara dan dapat berjalan akut (< 6 minggu) dan kronik (> 6 minggu).
Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis ataupun keratitis. 3
D. Etiologi
Kalazion disebabkan oleh
minyak dalam kelenjar meibom terlalu pekat untuk mengalir keluar kelenjar atau
saluran kelenjar minyak yang tersumbat. Oleh karena tidak dapat mengalir
keluar, produksi minyak tertimbun di dalam kelenjar dan membentuk tembel di palpebra. Kelenjar dapat
pecah, mengeluarkan minyak ke jaringan palpebra sehingga menyebabkan inflamasi
dan kadang-kadang jaringan parut. Kalazion lebih
sering timbul pada palpebra superior, di mana jumlah kelenjar Meibom terdapat
lebih banyak dari pada
palpebra inferior.4
Faktor predisposisi pada
kalazion yaitu:
·
Belum diketahui dengan pasti faktor resiko apa yang
menyebabkan terjadinya kalazion
·
Hygiene palpebra yang buruk mungkin dapat dihubungkan
dengan kalazion meskipun perannya masih perlu dibuktikan.
·
Stress juga sering dihubungkan dengan kalazion namun
stress belum dibuktikan sebagai penyebab dan mekanisme stress dalam menyebabkan
kalazion belum diketahui.4
E. Epidemiologi
Kalazion
terjadi pada semua umur.1 Laki-laki
dan wanita mempunyai potensi yang sama dengan kecenderungan lebih sering didapati pada usia dewasa akibat pengaruh hormon
androgen yang berperan dalam produksi sebum. Pengaruh hormonal pada sekresi dan
viskositas sebaseus dapat menjelaskan terjadinya kalazion pada pubertas dan
kehamilan. Namun, sejumlah pasien tanpa bukti perubahan hormonal menunjukkan
bahwa terdapat mekanisme lain yang ikut berperan.4
F.
Patofisiologi
Kalazion merupakan radang
granulomatosa kelenjar Meibom. Nodul terlihat atas sel imun yang responsif
terhadap steroid termasuk jaringan ikat makrofag seperti histiosit, sel raksasa
multinucleate plasma, sepolimorfonuklear, leukosit dan eosinofil.
Produk-produk
hasil pemecahan lipid (lemak), mungkin dari enzim-enzim bakteri yang berupa asam
lemak bebas, mengalami kebocoran dari jalur sekresinya memasuki jaringan di
sekitarnya dan merangsang terbentuknya respon inflamasi. Massa
yang terbentuk dari jaringan granulasi dan sel-sel radang ini membentuk
kalazion. Proses
granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan hordeolum internal
atau eksternal (terutama proses piogenik yang menimbulkan pustul), walaupun
kalazion dapat menyebabkan hordeolum, begitupun sebaliknya. Secara klinik,
nodul tunggal (jarang multipel) yang agak keras berlokasi jauh di dalam
palpebra atau pada tarsal. Eversi palpebra mungkin menampakkan kelenjar meibom
yang berdilatasi.5
G. Manifestasi Klinis
- Benjolan pada kelopak mata yang terjadi beberapa minggu, tidak hiperemis (tidak ada kelebihan darah di satu sisi) dan tidak ada nyeri tekan.
- Pseudoptosis (ptosis palsu/kulit kelopak atas mata agak berlebih sehingga menggantung menutupi tepinya bila mata dibuka),
- tidak kemerahan, Kelenjar preurikel tidak membesar.
- Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.
- Awalnya, gejala kalazion mungkin menyerupai hordeolum. Setelah beberapa hari, gejala-gejala awal hilang, tanpa rasa sakit, tumbuh lambat, benjolan tegas dalam kelopak mata. Kulit di atas benjolan dapat digerakkan secara longgar.
- Gejala yang mungkin dirasakan pasien dengan kalazion adalah sebagai berikut:
Ø
Pembengkakan di kelopak mata
Ø
Kekakuan pada kelopak mata
Ø
Sensitivitas terhadap cahaya
Ø
Peningkatan keluarnya air mata
Ø
Berat dari kelopak mata
Ø
Rasa seperti mengantuk.6
H. Penatalaksanaan
a. Non-medikamentosa
- Kompres hangat 10-20 menit 4kali sehari untuk mengurangi pembengkakan dan memudahkan drainase kelenjar.
- Pengobatan secara konservatif seperti pemijatan pada palpebra
- Edukasi
Ø
Mencegah
mata yang sakit untuk tidak sering dikucek/disentuh
Ø
Menjaga
hygine diri
b. Medikamentosa
Terapi dengan pengobatan jarang
diperlukan, kecuali pada rosasea, mungkin dapat diberikan tertrasiklin dosis
rendah selama enam bulan. Dosisnya adalah Doksisiklin tablet 100 mg/minggu
selama 6 bulan mungkin dapat menimbulkan perubahan biokimiawi, yaitu
pembentukan asam lemak rantai pendek yang dibandingkan dengan produksi asam
lemak rantai panjang lebih jarang menimbulkan sumbatan pada mulut kelenjar.
Meskipun nampak bernanah, antibiotik topikal tidak berguna pada kondisi ini,
karena kalazion tidak infeksius. Tetrasiklin sistemik dapat berguna. Namun
pemberian tetes mata lokal malah akan dapat menyebabkan dermatitis kontak dari pada membantu. Steroid topikal dapat
sangat membantu untuk mengurangi peradangan dan mengurangi edema, membantu
proses drainase.4
Pembedahan:
Jika kalazion
menimbulkan gejala yang berat
atau tidak sembuh setelah berminggu-minggu, mungkin diperlukan operasi. Jika
pembengkakan tidak berakhir dalam beberapa minggu atau muncul gejala
penglihatan kabur disarankan operasi mengangkat kalazion. Jika penampilan
kalazion mengganggu pasien, operasi juga menjadi indikasi.
Eksisi kalazion
·
Jika perlu, buatlah insisi
vertikal pada permukaan konjungtiva palpebra.
·
Untuk kalazion yang
kecil, lakukan kuretase pada
granuloma inflamasi pada kelopak mata.
·
Untuk kalazion yang besar,
iris granuloma untuk dibuang seluruhnya
·
Cauter atau pembuangan
kelenjar meibom (yang biasa dilakukan)
·
Untuk kalazion yang
menonjol ke kulit, insisi permukaan kulit secara horisontal lebih sering
dilakukan daripada lewat konjungtiva untuk pembuangan seluruh jaringan yang
mengalami inflamasi.4
Gambar 4. Ekskokleasi Kalazion
Catatan :
Penyulit :
I. Preventif
- Jika pasien memiliki tendensi untuk mudah terkena kalazion, basuh kelopak mata dengan air dan shampoo bayi menggunakan cotton swab.
- Jika mulai tampak tanda-tanda awal iritasi kelopak mata, segera kompres dengan air hangat beberapa kali dalam sehari.6
J. Komplikasi
Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan
trichiasis, dan kehilangan bulu mata. Kalazion yang rekuren atau tampat atipik
perlu dibiopsi untuk menyingkirkan adanya keganasan. Astigmatisma dapat terjadi
jika massa pada palpebra sudah mengubah kontur kornea. Kalazion yang
drainasenya hanya sebagian dapat menyebabkan massa jaringan granulasi prolapsus
diatas konjungtiva atau kulit.3
K. Prognosis
Pasien yang memperoleh perawatan biasanya memperoleh hasil yang
baik. Seringkali timbul lesi baru, dan rekuren dapat terjadi pada lokasi yang
sama akibat drainase yang kurang baik. Kalazion yang tidak memperoleh perawatan
dapat mengering dengan sendirinya, namun sering terjadi peradangan akut
intermiten.
Kesimpulan
Pasien laki-laki
usia 50 tahun di diagnosis menderita kalazion pada kelopak mata kanan atas. Hal
ini dilihat dari gejala penyakit yang ditimbulkan yaitu adanya benjolan namun
tidak ada kotoran dan mata merah serta pemeriksaan fisik yang dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar