Jumat, 10 April 2015

PBL 23 - Kalazion



Kalazion




Agung Ganjar Kurniawan
102010169
C-1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,
Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510

Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjar yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola mata. Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, kebanyakan dari kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan. Kalazion adalah massa di kelopak mata yang dihasilkan  dari  peradangan  kronis kelenjar meibom. Kalazion terkadang sulit dibedakan dengan hordeolum, dimana dari hasil pemeriksaan fisik, yang juga muncul  sebagai  benjolan pada kelopak mata.


A. Anamnesis
a. Identitas
·         Nama dan Usia Pasien ?
·         Tempat Tinggal ?
b. Keluhan Utama
·         Keluhan Utama ? Sejak Kapan pasien mulai mengalami keluhan itu?
·         Apakah pada  bagian kelopak matanya merah ?
·         Apakah keluhannya bertambah parah/tidak ?
·         Apakah pada bagian kelopak mata terasa membengkak atau ada benjolan ?
·         Apakah mengenai satu kelopak  mata atau kedua kelopak  mata?
·         Apakah disertsi dengan kotoran mata ? Bila iya apa warna kotorannya ?
·         Apakah ada rasa nyeri ? Bila iya, seperti di berdenyut, ditusuk/di tekan ?
·         Pola serangan (mendadak atau berangsur-angsur) ?
·         Apakah mata berair atau terasa lengket
·         Sudah berapa lama benjolannya ada ?
·         Apakah ada keluhan lain seperti  mata merah dan terasa perih ?
·         Apakah ada gangguan penglihatan ?
·         Apakah sudah di obati ?
c. Keluhan Penyerta
·         Apakah ada nyeri bola mata, nyeri kepala, sekret ?
·         Apakah ada demam ?
d. Riwayat Penyakit Dahulu
·         Apakah dulu pernah seprti ini juga ?
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
·         Apakah di keluarga ada yang pernah mengalami seperti ini atau sedang mengalami seperti ini ?
f. Riwayat Sosial Ekonomi
·         Apakah lingkungan rumah bersih ?
·         Apakah lingkungan tempat kerja baik dan bersih ?
·         Apakah kebutuhan sehari-hari tercukupi dengan baik?

B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
ü  Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. 1
ü  Inspeksi mata
Adakah kelainan yang terlihat jelas (misalnya mata merah, asimetri, nistagmus yang jelas dan ptosis). Kemudian lihat konjungtiva, kornea, iris pupil, dan kelopak mata. Apakah pupil simetris, bagaimana ukurannya, apakah keduanya merespon normal dan seimbang pada cahaya dan akomodasi. Adakah ptosis, periksa bola matanya.
ü  Palpasi
Lakukan palpasi pada bagian palpebra untuk mengetahui konsistensinya kenyal atau tidak, apakah ada nyeri tekan, dan untuk mengetahui seberapa besar massanya
ü  Tajam penglihatan (visus)
Tajam penglihatan diungkapkan dalam suatu rasio, seperti 20/20. Angka pertama adalah jarak baca pasien terhadap peraga. Angka kedua adalah jarak terbacanya peraga oleh mata normal. Istilah OD (Oculus Dexter) berarti mata kanan: OS (Oculus Sinister) berarti mata kiri. OU (Oculi Unitas) berarti kedua mata.1
Snellen Chart
Jika tersedia kartu Snellen standar, pasien harus berdiri sejauh 6 meter dari kartu tersebut. Jika pasien memakai kaca mata, biarkan dipakai terus selama pemeriksaan. Pasien diminta untuk menutum mata dengan telapak tangan dan membaca baris terkecil yang mungkin. Jika yang dapat terbaca ialah baris 6/60, maka visus mata pasien adalah 6/60. Ini berarti bahwa pada jarak 6 meter pasien dapat membaca apa yag dapat dibaca orang normal pada jarak 60 meter. Jika pada jarak 6 m pasien tidak dapat membaca baris 6/60, maka pasien didekatkan pada kartu sampai baris itu terbaca. Jika pasien baru dapat membaca pada jarak 1 m, maka tajam penglihatan pasien adalah 1/60. Gambar 3. Kartu Snellen untuk pemeriksaan visus.1
Gambar 1.Snellen Chart

ü   Funduskopi
Merupakan Tindakan memeriksa fundus okuli :
    Papil Saraf Optik (PSO)                                                  
    Retina
    Makula Lutea
    Pembuluh darah retina
    Choroid

Gambar 2 . Funduskopi

b. Pemeriksaan Penunjang
·         Biopsy
Biopsi di indikasikan untuk chalazion yang kambuh, karena tampilan karsinoma kelenjar meibom dapat mirip chalazion. Pada kalazion menunjukan proliferasi endotel asinus dan respon radang granulomatosa yang mencakup sel-sel kelenjar mirip Langerhans.1
C. Diagnosis
a. Working Diagnosis
Kalazion
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis tersebut. Biasanya kelainan ini dimulai penyumbatan kelenjar oleh infeksi dan jaringan parut lainnya.  Kalazion memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preaurikel tidak membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.2

    
Gambar 3. Kalazion



b. Differential Diagnosis
            Hordeolum
Hordeolum adalah infeksi kelenjar di palpebra. Bila kelenjar meibom terkena timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Hordeolum eksterna yang lebih kecil dan lebih superfisial adalah infeksi di kelenjar Zeis atau Moll. Biasanya disebabkan oleh infeksi staphylococcus aureus. Jarang diperlukan biakan. Gejala yang diberikan yaitu radang pada kelopak mata seperti bengkak, mengganjar dengan rasa sakit, merah dan nyeri bila ditekan. Pengobatannya adalah kompres air hangat 3-4 kali sehari selama 10-15 menit. Jika keadaan tidak membaik dala 48 jam, dilakukan insisi dan drainase bahan purulen.3
            Blefaritis
            Blefaritis merupakan peradangan kelopak mata dan margo palpebra. Blefaritis dapat disebabkan oleh infeksi dan alergi terhadap obat kosmetika. Blefaritis memberikan keluhan yang sering ditemukan pada mata seperti mata merah, gatal, panas atau gejala iritasi secara umumnya. Kelainan lainnya yaitu belek mata dipagi hari, mata berair dan penglihatan kabur sementara dan dapat berjalan akut (< 6 minggu) dan kronik (> 6 minggu). Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis ataupun keratitis. 3

D. Etiologi
Kalazion disebabkan oleh minyak dalam kelenjar meibom terlalu pekat untuk mengalir keluar kelenjar atau saluran kelenjar minyak yang tersumbat. Oleh karena tidak dapat mengalir keluar, produksi minyak tertimbun di dalam kelenjar dan membentuk tembel di palpebra. Kelenjar dapat pecah, mengeluarkan minyak ke jaringan palpebra sehingga menyebabkan inflamasi dan kadang-kadang jaringan parut. Kalazion lebih sering timbul pada palpebra superior, di mana jumlah kelenjar Meibom terdapat lebih banyak dari pada palpebra inferior.4
Faktor predisposisi pada kalazion yaitu:
·         Belum diketahui dengan pasti faktor resiko apa yang menyebabkan terjadinya kalazion
·         Hygiene palpebra yang buruk mungkin dapat dihubungkan dengan kalazion meskipun perannya masih perlu dibuktikan.
·         Stress juga sering dihubungkan dengan kalazion namun stress belum dibuktikan sebagai penyebab dan mekanisme stress dalam menyebabkan kalazion belum diketahui.4

E. Epidemiologi
            Kalazion terjadi pada semua umur.1 Laki-laki dan wanita mempunyai potensi yang sama dengan kecenderungan lebih sering didapati pada usia dewasa akibat pengaruh hormon androgen yang berperan dalam produksi sebum. Pengaruh hormonal pada sekresi dan viskositas sebaseus dapat menjelaskan terjadinya kalazion pada pubertas dan kehamilan. Namun, sejumlah pasien tanpa bukti perubahan hormonal menunjukkan bahwa terdapat mekanisme lain yang ikut berperan.4

F. Patofisiologi
Kalazion merupakan radang granulomatosa kelenjar Meibom. Nodul terlihat atas sel imun yang responsif terhadap steroid termasuk jaringan ikat makrofag seperti histiosit, sel raksasa multinucleate plasma, sepolimorfonuklear, leukosit dan eosinofil.
Produk-produk hasil pemecahan lipid (lemak), mungkin dari enzim-enzim bakteri yang berupa asam lemak bebas, mengalami kebocoran dari jalur sekresinya memasuki jaringan di sekitarnya dan merangsang terbentuknya respon inflamasi. Massa yang terbentuk dari jaringan granulasi dan sel-sel radang ini membentuk kalazion. Proses granulomatous ini yang membedakan antara kalazion dengan hordeolum internal atau eksternal (terutama proses piogenik yang menimbulkan pustul), walaupun kalazion dapat menyebabkan hordeolum, begitupun sebaliknya. Secara klinik, nodul tunggal (jarang multipel) yang agak keras berlokasi jauh di dalam palpebra atau pada tarsal. Eversi palpebra mungkin menampakkan kelenjar meibom yang berdilatasi.5
G. Manifestasi Klinis
  • Benjolan pada kelopak mata yang terjadi beberapa minggu, tidak hiperemis (tidak ada kelebihan darah di satu sisi) dan tidak ada nyeri tekan.
  • Pseudoptosis (ptosis palsu/kulit kelopak atas mata agak berlebih sehingga menggantung menutupi tepinya bila mata dibuka),
  • tidak kemerahan, Kelenjar preurikel tidak membesar.
  • Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut.
  • Awalnya, gejala kalazion mungkin menyerupai hordeolum. Setelah beberapa hari, gejala-gejala awal hilang, tanpa rasa sakit, tumbuh lambat, benjolan tegas dalam kelopak mata. Kulit di atas benjolan dapat digerakkan secara longgar.
  • Gejala yang mungkin dirasakan pasien dengan kalazion adalah sebagai berikut:
Ø  Pembengkakan di kelopak mata
Ø  Kekakuan pada kelopak mata
Ø  Sensitivitas terhadap cahaya
Ø  Peningkatan keluarnya air mata
Ø  Berat dari kelopak mata
Ø Rasa seperti mengantuk.6
H. Penatalaksanaan
a. Non-medikamentosa
  • Kompres hangat 10-20 menit 4kali sehari untuk mengurangi pembengkakan dan memudahkan drainase kelenjar.
  • Pengobatan secara konservatif seperti pemijatan pada palpebra
  •  Edukasi
Ø  Mencegah mata yang sakit untuk tidak sering dikucek/disentuh
Ø  Menjaga hygine diri

b. Medikamentosa
Terapi dengan pengobatan jarang diperlukan, kecuali pada rosasea, mungkin dapat diberikan tertrasiklin dosis rendah selama enam bulan. Dosisnya adalah Doksisiklin tablet 100 mg/minggu selama 6 bulan mungkin dapat menimbulkan perubahan biokimiawi, yaitu pembentukan asam lemak rantai pendek yang dibandingkan dengan produksi asam lemak rantai panjang lebih jarang menimbulkan sumbatan pada mulut kelenjar. Meskipun nampak bernanah, antibiotik topikal tidak berguna pada kondisi ini, karena kalazion tidak infeksius. Tetrasiklin sistemik dapat berguna. Namun pemberian tetes mata lokal malah akan dapat menyebabkan dermatitis kontak dari pada membantu. Steroid topikal dapat sangat membantu untuk mengurangi peradangan dan mengurangi edema, membantu proses drainase.4
Pembedahan:
Jika kalazion menimbulkan gejala yang berat atau tidak sembuh setelah berminggu-minggu, mungkin diperlukan operasi. Jika pembengkakan tidak berakhir dalam beberapa minggu atau muncul gejala penglihatan kabur disarankan operasi mengangkat kalazion. Jika penampilan kalazion mengganggu pasien, operasi juga menjadi indikasi.
Eksisi kalazion
·         Jika perlu, buatlah insisi vertikal pada permukaan konjungtiva palpebra.
·         Untuk kalazion yang kecil, lakukan kuretase pada granuloma inflamasi pada kelopak mata.
·         Untuk kalazion yang besar, iris granuloma untuk dibuang seluruhnya
·         Cauter atau pembuangan kelenjar meibom (yang biasa dilakukan)
·         Untuk kalazion yang menonjol ke kulit, insisi permukaan kulit secara horisontal lebih sering dilakukan daripada lewat konjungtiva untuk pembuangan seluruh jaringan yang mengalami inflamasi.4

Gambar 4. Ekskokleasi Kalazion
Catatan :
*      Dalam menangani hordeolum dan kalazion, kemudian keganasan jangan dilupakan.
*      Apabila peradangan tidak mereda perlu dilakukan pemeriksaan uji resistensi dan dicari underlying cause.
Penyulit :
*      Kalazion besar dapat mengakibatkan astigmatisma.
*      Hati-hati kemungkinan karsinoma sel sebasea.


I. Preventif
  • Jika pasien memiliki tendensi untuk mudah terkena kalazion, basuh kelopak mata dengan air dan shampoo bayi menggunakan cotton swab.
  • Jika mulai tampak tanda-tanda awal iritasi kelopak mata, segera kompres dengan air hangat beberapa kali dalam sehari.6

J. Komplikasi
Rusaknya sistem drainase pada kalazion dapat menyebabkan trichiasis, dan kehilangan bulu mata. Kalazion yang rekuren atau tampat atipik perlu dibiopsi untuk menyingkirkan adanya keganasan. Astigmatisma dapat terjadi jika massa pada palpebra sudah mengubah kontur kornea. Kalazion yang drainasenya hanya sebagian dapat menyebabkan massa jaringan granulasi prolapsus diatas konjungtiva atau kulit.3

K. Prognosis
Pasien yang memperoleh perawatan biasanya memperoleh hasil yang baik. Seringkali timbul lesi baru, dan rekuren dapat terjadi pada lokasi yang sama akibat drainase yang kurang baik. Kalazion yang tidak memperoleh perawatan dapat mengering dengan sendirinya, namun sering terjadi peradangan akut intermiten.
Kesimpulan
            Pasien laki-laki usia 50 tahun di diagnosis menderita kalazion pada kelopak mata kanan atas. Hal ini dilihat dari gejala penyakit yang ditimbulkan yaitu adanya benjolan namun tidak ada kotoran dan mata merah serta pemeriksaan fisik yang dilakukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar