Demam Berdarah Dengue
Agung
Ganjar Kurniawan
102010169
Kelompok
: PBL-20
Fakultas Kedokteran Universitas
Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta
Barat 11510
Pendahuluan
Demam
berdarah dengue (DBD) adalah penyakit umum di daerah tropis dan subtropis di
seluruh dunia. Hal ini paling
umum di Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan. Infeksi ini disebabkan
oleh Flavivirus dan disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Demam berdarah bervariasi mengikut tingkat keparahan. Kita harus
mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan penderita perlu mendapat pemeriksaan
medis. Terlebih penting dari itu, masyarakat
perlu disadarkan untuk melakukan beberapa tindakan pencegahan agar lingkungan
menjadi bersih, sehat, dan terbebas dari tempat-tempat yang dapat menjadi perindukan nyamuk aedes.
Penyakit Demam
Berdarah Dengue (DBD) saat ini merupakan
salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sejak tahun 1968 jumlah
kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat
kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk melalui hubungan transportasi
sehingga tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai
wilayah di Indonesia. Menemukan kasus DBD secara dini bukanlah hal yang mudah,
karena pada awalnya perjalanan penyakit, gejala, dan tandanya tidak spesifik,
sehingga sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya. Apabila DBD tidak
tertangani dengan baik hasilnya dapat memburuk. Oleh karena itu perlulah untuk
melakukan tindakan yang tepat dalam menangani pasien dengan penyakit DBD.
Pembahasan
Anamnesis
Anamnesis
yang mencakup :
1. Identitas
Nama lengkap, umur dan
tanggal lahir, jenis kelamin, nama orang tua atau penjaga, alamat, pendidikan,
pekerjaan, suku bangsa dan agama.
2. Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan atau dialami pasien dan membawa pasien ke
dokter atau mencari pertolongan.
Dalam kasus: demam sejak 3 hari yang lalu, demam tinggi lalu turun
tetapi naik lagi.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat perjalanan
penyakit merupakan rangkaian kejadian
yang kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak
sebelum keluhan utama dirasakan
pasien.
Dalam kasus: demam tidak tentu disertai ada pegal-pegal, mual-mual dan
terdapat bintik merah di lengan bawah.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Untuk mengetahui
kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan
antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang.
5. Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Mencari kemungkinan
penyakit herediter atau
penyakit infeksi.
6. Riwayat Pribadi
Meliputi data sosial, ekonomi,
pendidikan, kebiasaan, pekerjaan, riwayat perkawinan.
7. Lingkungan Tempat Tinggal
Termasuk
keadaan rumah, sanitasi, sumber air minum, ventilasi, tempat pembuangan sampah
dan sebagainya.
Pemeriksaan
Fisik
Dalam skenario, pemeriksaan fisik terhadap pasien adalah sebagai berikut.
- Kesadaran : Compos Mentis
- Tanda vital
Ü
Suhu
Ü
TD : 120/80
mmHg
Ü
Nadi
·
Pemeriksaan
Pulmo & abdomen
Inspeksi, Palpasi, perkusi, auskultasi.
·
Pemeriksaan
Ekstremitas
Inspeksi
dan lihat munculnya ptechiae di kedua lengan bawah.
Pemeriksaan Penunjang
1.
Uji darah
Hitung sel darah adalah suatu pemeriksaan untuk
menentukan jumlah sel dalam tiap mikroliter darah. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan dengan cara manual atau otomatik. Prinsip pemeriksaan hitung sel
darah cara manual adalah melakukan pengenceran darah dengan suatu larutan
tertentu. Selanjutnya sel darah dalam volume pengenceran tersebut dihitung
dengan menggunakan kamar hitung. Kamar hitung yang lazim digunakan adalah kamar
hitung Improved Neubauer. Prinsip
pengenceran pada pemeriksaan hitung sel adalah makin banyak sel yang akan
dihitung, makin tinggi pengenceran yang dilakukan. Alat dan bahan yang
digunakan antara lain: K3EDTA sebagai antikoagulan, pipet Thoma atau
pipet Sahli, kamar hitung dan mikroskop.1
Tabel 1 : Pemeriksaan Sel Darah Tepi Tn.A (dalam
skenario)
|
No
|
Pemeriksaan Laboratorium
|
Normal
|
Pasien
|
Keterangan
|
|
1.
|
Hemoglobin
|
14 – 17 g /dL
|
16 g/dL
|
Normal
|
|
2.
|
Hematokrit
|
40 – 48 %
|
50 %
|
Meningkat
|
|
3.
|
Leukosit
|
5000 – 10000 /μL
|
4000 /μL
|
Leukopenia
|
|
4.
|
Trombosit
|
150000 – 450000 /μL
|
90000 /μL
|
Trombositopenia
|
Pemeriksaan
trombosit
- Semi kuantitatif
(tidak langsung)
- Langsung (Rees –
Ecker)
- Cara lainnya sesuai
kemajuan teknologi
Pemeriksaan
hematokrit
Pemeriksaan
hematokrit antara lain dengan mikro – hematokrit centrifuge. Nilai normal
hematokrit:
Anak
– anak : 33 – 38 vol%
Dewasa
laki – laki : 40 – 48 vol%
Dewasa
perempuan : 37 – 43 vol%
Pemeriksaan
kadar hemoglobin
Pemeriksaan kadar
hemoglobin antara lain dengan cara:
-
Pemeriksaan
kadar Hb dengan menggunakan Kalorimeter foto elektrik (Klett – Summerson).
- Pemeriksaan
kadar hemoglobin metode Sahli
- Cara
lainnya sesuai kemajuan teknologi
Contoh
nilai normal hemoglobin (Hb):
Anak – anak : 11,5 – 12,5 gr / 100 ml
darah
Pria dewasa : 13 – 16 gr / 100 ml
darah
Wanita dewasa : 12 – 14 gr / 100 ml darah
Pemeriksaan
leukosit
Dapat
normal atau menurun. Mulai hari ke – 3 dapat ditemui limfositosis relatif
(>45 % dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) >
15 % dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat.
2. Uji Serologi
Laboratorium
yang sering dilakukan adalah pemeriksaan serologi imunoglobulin G (IgG) dan
imunoglobulin M (IgM). Pemeriksaan ini kurang spesifik dan juga harganya relatif mahal. Pada keadaan
manifestasi klinis dan hasil laboratorium sudah jelas pemeriksaan ini
sebenarnya tidak perlu dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin
pemeriksaan ini sering membantu menunjang menegakkan diagnosis DBD. Test dengue blot IgG
bila positif, berarti pernah menderita DBD saat lampau, sedangkan pada test dengue blot IgM,
bila positif berarti saat ini sedang menderita DBD.1
Diagnosis
Pedoman yang dipakai dalam menegakkan diagnosis DBD adalah
kriteria yang disusun oleh WHO (1999). Kriteria tersebut terdiri atas kriteria
klinis dan laboratorium. Kriteria klinis terdiri dari :2
1.
Demam
penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terus-menerus
berlangsung 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak
disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia, lemah, nyeri pada
tulang, sendi, punggung dan kepala.
2.
Manifestasi
pendarahan
Perdarahan terjadi pada
semua organ, umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam.
Sebab perdarahan adalah
trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat berupa :
a. Ptechiae
b. Purpura
c. Echymosis
d. Perdarahan konjunctiva
e. Perdarahan dari hidung
(mimisan atau epestaxis)
f. Perdarahan gusi
g. Muntah darah (Hematenesis)
h. Buang air besar berdarah
(Melena)
i. Kencing berdarah (Hematuri)
Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk
itu diperlukan toreniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar
penderita Demam Berdarah Dengue.
3.
Pembesaran
hati (Hepotomegali)
Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran
hati tidak sejajar dengan beberapa penyakit. Pembesan hati mungkin berkaitan
dengan strain serotype virus dengue.
4.
Gejala
Klinis Lain.
Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah: anoreksia, mual,
muntah, lemah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang. Kriteria
laboratoris terdiri atas:
1.
Trombositopenia
(jumlah trombosit < 100.000/ul)
2.
Hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit > 20%)
Berdasarkan gejalanya
DHF dikelompokkan menjadi 5 tingkatan:2
a.
Demam
Dengue : Demam disertai 2 atau lebih tanda sakit kepala, nyeri retro-orbital,
mialgia, artralgia. Terdapat leukopenia dan serologi dengue positif.
b.
Derajat I:
demam tinggi disertai gejala tidak khas. Satu-satunya tanda perdarahan adalah
tes torniquet positif atau mudah memar.
c.
Derajat II:
gejala derajat 1 ditambah dengan perdarahan spontan di kulit atau di tempat
lain.
d.
Derajat
III: Ditemukan tanda-tanda kegagalan sirkulasi (nadi cepat, lemah, hipotensi,
kaki/tangan dingin, lembab, sianosis, anak menjadi gelisah)
e.
Derajat IV:
terjadi syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah yang tidak
dapat diperiksa.
Diagnosis Diferensial
atau Banding
1.
Demam
Chikungunya
Chikungunya adalah
suatu infeksi arbovirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Penyakit ini terdapat di daerah tropis, khususnya di perkotaan wilayah Asia,
India, dan Afrika Timur. Masa inkubasi diantara 2-4 hari dan bersifat self-limiting
dengan gejala akut (demam onset mendadak (>40°C,104°F), sakit kepala,
nyeri sendi (sendi-sendi dari ekstrimitas menjadi bengkak dan nyeri bila
diraba, mual, muntah, nyeri abdomen, sakit tenggorokan, limfadenopati, malaise,
kadang timbul ruam) berlangsung 3-10 hari. Gejalanya diare, perdarahan saluran
cerna, refleks abnormal, syok dan koma tidak ditemukan pada chikungunya. Sisa
arthralgia suatu problem untuk beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah
fase akut. Kejang demam bisa terjadi pada anak. Belum ada terapi spesifik yang
tersedia, pengobatan bersifat suportif untuk demam dan nyeri (analgesik dan
antikonvulsan).3
2. Malaria
Malaria adalah penyakit menular yang dapat bersifat akut maupun
kronik disebabkan oleh protozoa intraselular obligat, yaitu Plasmodium
falciporum, P. vivax, P. ovale, dan P. malariae yang
ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina. Penularan juga dapat
terjadi melalui tranfusi darah, transplantasi organ, dan transplasenta. Masa
inkubasi 1-2 minggu, tetapi kadang-kadang lebih dari setahun. Peningkatan suhu
dapat mencapai 40 derajat, bersifat intermitten yaitu demam dengan suhu badan
yang mengalami penurunan ke tingkat normal selama beberapa jam dalam satu hari
diantara periode kenaikan demam. Periode timbulnya demam tergantung pada jenis
plasmodium yang menginfeksi.Gejala malaria yaitu demam, menggigil, malaise,
anoreksia, mual, muntah, diare ringan, sakit kepala, pusing, mialgia, nyeri
tulang. Pada malaria juga dapat ditemui hepatomegali, splenomegali, anemia,
ikterus, dan dehidrasi. Pada pemeriksaan laboratorium umumnya ditemukan
anemia, leukopenia, dan trombositopenia.3
3.
Demam
Tifoid
Demam tifoid adalah
suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Penularan tifoid biasanya
melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Masa inkubasi tifoid
sangat berbeda, berkisar dari 3-60 hari. Gejala awal penyakit adalah demam
(peningkatan suhu hingga 40◦C) terutama sore atau malam hari, kedinginan,
malaise, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk, dan kadang-kadang sakit perut
dan konstipasi atau diare. Sebagai perkembangan penyakit, umumnya didapatkan
kelemahan, distensi abdomen, hepatosplenomegali, anoreksia, dan kehilangan
berat badan. Tanda penting yang ditemui antara
lain agak tuli, lidah tifoid (tremor, tengah kotor, tepi hiperemis, nyeri
tekan/spontan pada perut di daerah kanan bawah. Pada pemeriksaan darah tepi
dapat ditemukan leukopenia, limfositosis relatif, dan mungkin terdapat anemia
dan trombositopenia ringan.3
Etiologi
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan
oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae.
Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat
rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.
Terdapat empat serotipe virus, yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam
berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan
serotype terbanyak. Terddapat reaksi silang anatara serotipe dengue dengan
Flavivirus lain seperti Yellow fever,
Japanese encehphalitis, dan West Nile virus.
Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi
pada hewan mamalia seperti tikus, kelinci, anjing, kelelawar, dan primate.
Survei epidemiologi pada hewan ternak didapatkan antibodi terhadap virus dengue
pada hewan kuda, sapi, dan babi. Penelitian pada antropoda menunjukkan virus
dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes (Stegomyia) dan Toxorhynchites.4
Epidemiologi
Di
banyak negara
tropis, virus dengue sangat endemik. Di Asia, penyakit ini
sering menyerang China Selatan, Pakistan, India dan semua Negara Di Asia
Tenggara. Aedes aegypti merupakan faktor utama yang berkembang
biak secara luas ke seluruh pulau. Keempat
serotip (DEN 1 sampai 4) merupakan endemik terbanyak pada kota-kota besar di
seluruh negara. Indonesia merupakan penyumbang terbesar diantara
negara-negara Asia Tenggara. Peningkatan
kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya
tempat perindukan bagi nyamuk betina, yaitu bejana yang terisi air jernih (bak
mandi, kaleng bekas, dan tempat penampungan air lainnya).4
Patofisiologis
Virus dengue akan masuk ke dalam tubuh melalui
gigitan nyamuk.
Aedes aegypti yang kemudian akan masuk ke pembuluh darah manusia dan akan
bereplikasi. Organ sasaran dari virus ini adalah hepar, nodus limfaticus,
sum-sum tulang serta paru-paru. Sebagai perlawanan, tubuh akan membentuk
antibodi yang selanjutnya akan terbentuk kompleks virus-antibodi dimana virus
tersebut menjadi antigennya. Kompleks antigen-antibodi akan melepaskan zat-zat
yang merusak sel-sel pembuluh darah (autoimun). Proses ini akan menyebabkan
permeabilitas kapiler meningkat, sehingga bocornya sel-sel darah antara lain
trombosit dan eritrosit. Akibatnya tubuh akan mengalami perdarahan mulai dari
bercak sampai perdarahan hebat pada kulit, saluran pencernaan (muntah darah,
berak darah), saluran pernapasan (mimisan, batuk darah), dan organ vital
(jantung, hati, ginjal) yang sering mengakibatkan kematian.
Virus dengue yang masuk ketubuh akan menimbulkan viremia.
Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun
antibodi-virus pengkatifan tersebut akan membentuk dan melepaskan zat (3a, C5a,
bradikinin, serotonin, trombin, histamin) yang akan merangsang PGE2 di
hipotalamus sehingga terjadi termoregulasi instabil yaitu hipertermia yang akan
meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Peningkatan
permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran plasma. Adanya
komplek imun antibodi-virus juga menimbulkan agregasi trombosit sehingga
terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni dan koagulopati. Ketiga hal
tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok dan
bila tidak teratasi akan terjadi hipoksia jaringan dan akhirnya terjadi
asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma
yang akhirnya terjadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan
menurun dan jika tidak teratasi menimbulkan hipoksia jaringan.4
Gambaran Klinik
Masa Inkubasi Dengue
Masa
inkubasi dengue rata-rata sekitar 5-8 hari. Peningkatan suhu terjadi secara
tiba-tiba disertai sakit kepala, nyeri hebat pada otot dan tulang, mual
kadang-kadang muntah dan batuk ringan. Gejala yang lain antara lain sakit
kepala menyeluruh atau berpusat pada supraorbital dan otot perut
ditekan.Otot-otot disekitar mata terasa pegal. Pada suhu tubuh turun ke normal, ruam akan berkurang dan
cepat menghilang, namun bekasnya terasa gatal.5
Demam Dengue
Nadi pasien
mula-mula cepat kemudian menjadi normal dan melambat pada hari ke 4-5. Bradikardi
dapat menetap selama beberapa hari selama masa penyembuhan. Dapat ditemukan
lidah kotor dan kesulitan buang air besar. Pada mata dapat ditemukan
pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi dan fotofobia. Eksantem muncul
pada awal demam yang terlihat jelas di muka, dada, berlangsung beberapa jam
lalu akan muncul kembali pada hari ke 3-6 berupa bercak petekiae di seluruh
tubuh. Kemungkinan penyakit demam akut dengan dua atau lebih manifestasi antara lain sakit kepala, nyeri retro-orbital,
myalgia, artralgia, ruam, perdarahan, dan leucopenia.
Demam Berdarah Dengue
Demam
atau riwayat demam akut berlangsung 2-7 hari. Kecenderungan
mengalami perdarahan (uji tourniquet positif, petekie, ekimosis atau purpura, perdarahan
dari mukosa, saluran gastrointestinal, tempat injeksi atau lokasi lain, serta hematemesis
atau melena). Terjadi pula pembesaran hati dan terdapat
nyeri tekan. Penderita mengalami trombositopenia, terdapat pula rembesan plasma karena
peningkatan permeabilitas vaskular,
dimanifestasikan oleh antara salah satu dibawah:
₪ Peningkatan
hematokrit sama atau lebih besar dari 20% diatas rata-rata usia, jenis kelamin
dan populasi.
₪ Penurunan
hematokrit setelah tindakan penggantian volume sama dengan atau lebih besar
dari 20% data dasar.
₪ Tanda-tanda
rembesan plasma seperti efusi pleura, asites,
dan hipoproteinemia.
Dengue Shock Syndrome
Gejala
renjatan ditandai dengan kulit yang terasa lembab dan dingin, sianosis perifer
yang terutama tampak pada ujung hidung, jari tangan dan kaki, serta penurunan
tekanan darah. Renjatan biasanya terjadi
pada waktu demam atau saat dengan turun antara hari ke-3 dan ke-7. Sebelum munculnya bercak
merah yang disebabkan oleh dengue, infeksi ini sulit dibedakan dengan penyakit
malaria, demam kuning, atau influenza. Terdapat gejala lain
seperti sakit bagian abdominal yang berkelanjutan,
muntah, kesadaran menurun, hipotermia, gagal sirkulasi (nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun, dan hipotensi).5
Penatalaksanaan
Pada
dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan dan
pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada DBD dengan komplikasi
diperlukan perawatan intensif. Penatalaksanaan
penderita dengan DHF adalah sebagai berikut:
1.
Non-medikamentosa
a.
Tirah baring
b.
Diet makan lunak
c.
Minum banyak (2–2,5 liter/24 jam)3
2. Medika Mentosa
Terdapat protokol
penatalaksanaan DBD pada pasien dewasa yang terbagi dalam 5 kategori:
Protokol 1. Penanganan Tersangka (probable) DBD Dewasa
Tanpa Syok
Protokol 1
digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama pada penderita
DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat sebagai petunjuk dalam
memutuskan indikasi rawat. Seseorang yang tersangka menderita DBD, setelah
dilakukan pemeriksaan hemoglobin (Hb), hematokrit (Ht), dan trombosit:
- Hb, Ht dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke P\poliklinik dalam waktu 24 jam berikutnya (dilakukan pemeriksaan Hb, Ht Lekosit dan trobosit tiap 24 jam) atau bila keadaan penderita memburuk segera kembali ke Unit Gawat Darurat.
- Hb, Ht normal tetapi trombosit < 100.000 dianjurkan untuk dirawat.
- Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan untuk dirawat.3
Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di
Ruang Rawat
Pasien yang
tersangka DBD tanpa predarahan spontan dan tanpa syok maka diberikan cairan infus kristaloid per hari dengan
jumlah yang dihitung menggunakan rumus berikut ini:
1500 + {20 x (BB dalam kg -
20)}
Setelah
pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, Ht tiap 24 jam:
- Bila Hb, Ht meningkat 10-20% dan trombosit < 100.000 jumlah pemberian cairan tetap seperti rumus di atas tetapi pemantauan Hb, Ht trombo dilakukan tiap 12 jam.
- Bila Hb, Ht meningkat > 20% dan trombosit < 100.000 maka pemberian cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Ht > 20%.3
Protokol 3. Penatalaksanaan
DBD dengan Peningkatan Ht > 20%
Meningkatnya Ht > 20% menunjukkan bahwa tubuh mengalami defisit cairan
sebanyak 5%. Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah infus cairan
kristaloid sebanyak 6-7 ml/kgBB/jam. Pasien kemudian dipantau setelah 3-4 jam
pemberian cairan. Bila terjadi perbaikan yang ditandai dengan tanda-tanda
hematokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah stabil, produksi urin meningkat
maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam. Dua jam kemudian
dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan tetap menunjukkan perbaikan maka
jumlah cairan infus dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam. Bila dalam pemantauan
keadaan tetap membaik maka pemberian cairan dapat dihentikan 24-48 jam
kemudian.
Apabila setelah pemberian terapi cairan awal 6-7 ml/kgBB/jam tadi keadaan tetap tidak membaik, yang ditandai dengan
hematokrit dan nadi meningkat, tekanan nadi menurun < 20 mmHg, produksi urin
menurun, maka harus menaikkan jumlah cairan infus menjadi 10 ml/kgBB/jam. Dua
jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan menunjukkan
perbaikan maka jumlah cairan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam tetapi bila
keadaan tidak menunjukkan perbaikan maka jumlah cairan infus ditingkatkan lagi
menjadi 15 ml /kgBB/jam dan bila dalam perkembangannya kondisi menjadi memburuk
dan didapatkan tanda-tanda syok maka pasien ditangani sesuai dengan protokol
tatalaksana sindrom syok dengue pada dewasa. Bila syok telah teratasi maka
pemberian cairan dimulai lagi seperti terapi pemberian cairan awal.3
Protokol 4. Penatalaksanaan
Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dewasa berupa perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung,
perdarahan saluran cerna (hematemesis dan melena atau hematoskesia), perdarahan
saluran kencing (hematuria), perdarahan otak atau perdarahan tersembunyi dengan
jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/kgBB/jam.
Pada keadaan tersebut, jumlah dan kecepatan pemberian cairan tetap
seperti keadaan DBD tanpa syok lainnya. Pemeriksaan tekanan darah, nadi,
pernafasan dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin dengan kewaspadaan Hb,
Ht, dan trombosit serta hemostasis harus segera dilakukan dan pemeriksaan Hb,
Ht dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam.
Pemberian heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris
didapatkan tanda-tanda Disseminated
Intravascular Coagulation (DIC). FFP diberikan bila didapatkan defisiensi
faktor-faktor pembekuan (PT dan aPTT yang memanjang), PRC diberikan spontan dan
masif dengan jumlah trombosit < 100.000/mm3 disertai atau tanpa DIC.3
Protokol 5. Tatalaksana Sindrom Syok Dengue pada Dewasa
Bila
berhadapan dengan penderita Sindrom Syok Dengue (SSD) maka hal pertama yang
harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi. Oleh karena itu,
penggantian cairan intravaskular yang hilang harus segera dilakukan. Renjatan
dapat terjadi karena keterlambatan penderita DBD mendapatkan pertolongan,
penatalaksanaan yang tidak tepat termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap
tanda-tanda renjatan dini, dan penatalaksanaan renjatan yang tidak maksimal.
Cairan
kristaloid adalah pilihan utama yang diberikan untuk SSD. Selain resusitasi
cairan, penderita juga diberikan O2 sebanyak 2-4 L/menit.
Pemeriksaan-pemeriksaan yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah perifer
lengkap (DPL), hemostasis, analisis gas darah, kadar natrium, kalium dan
klorida, serta ureum dan
kreatinin.
Pada fase
awal, cairan kristaloid diberikan sebanyak 10-20 ml/kgBB dan dievaluasi setelah
15-30 menit. Bila renjatan telah teratasi (tekanan darah sistolik 100 mmHg dan
tekanan nadi lebih dari 20 mmHg, frekuensi nadi kurang dari 100 kali per menit
dengan volume yang cukup, akral teraba hangat, kulit tidak pucat serta diuresis
0,5-l ml/kgBB/jam), jumlah cairan dikurangi menjadi 7 ml/kgBB/jam. Bila dalam
waktu 1-2 jam keadaan tetap stabil pemberian cairan menjadi 5 ml/kgBB/jam. Bila dalam waktu 1-2 jam kemudian keadaan
tetap stabil pemberian cairan menjadi 3 ml/kgBB jam. Bila 24-48 jam setelah
renjatan teratasi tanda-tanda vital dan hematokrit tetap stabil serta diuresis
cukup maka pemberian cairan perinfus harus dihentikan karena jika reabsorpsi
cairan plasma yang mengalami ekstravasasi telah terjadi, ditandai dengan
turunnya hematokrit, cairan infus terus diberikan maka keadaan hipervolemi,
edema paru atau gagal jantung dapat terjadi.
Pengawasan dini kemungkinan terjadinya renjatan berulang harus dilakukan
terutama dalam waktu 48 jam pertama sejak terjadi renjatan (karena selain
proses patogenesis penyakit masih berlangsung, ternyata cairan kristaloid hanya sekitar 20%
saja yang masih menetap dalam pembuluh
darah setelah 1 jam dari waktu
pemberian). Untuk mengetahui apakah renjatan telah teratasi dengan baik,
diperlukan pemantauan tanda vital yaitu status kesadaran, tekanan darah,
frekuensi nadi, frekuensi jantung dan napas, pembesaran hati, nyeri tekan
daerah hipokondrium kanan dan epigastrik, serta jumlah diuresis. Diuresis diusahakan 2 ml/kgBB/jam. Pemantauan kadar Hb, Ht, dan jumlah trombosit dapat digunakan untuk
pemantauan perjalanan penyakit.
Bila setelah fase awal pemberian cairan ternyata renjatan belum teratasi,
maka pemberian cairan kristaloid dapat ditingkatkan menjadi 20-30 ml/kgBB, dan
kemudian dievaluasi setelah 20-30 menit. Bila keadaan tetap belum teratasi,
maka perhatikan nilai Ht. Bila nilai Ht meningkat, berarti perembesan plasma
masih berlangsung dan pemberian cairan koloid menjadi pilihan. Tetapi bila
nilai hematokrit menurun, artinya terjadi perdarahan (internal bleeding), penderita harus diberikan transfusi darah
segar 10 ml/kgBB dan dberikan ulang sesuai kebutuhan.
Sebelum cairan koloid diberikan sebaiknya kita mengetahui sifat-sifat
cairan tersebut. Pemberian koloid sendiri mula-mula diberikan dengan tetesan
cepat 10-20 ml/kgBB dan dievaluasi setelah 10-30 menit. Bila keadaan tetap
belum teratasi maka untuk memantau kecukupan cairan dilakukan pemasangan
kateter vena sentral, dan pemberian koloid dapat ditambah hingga jumlah
maksimum 30 ml/kgBB dengan sasaran tekanan vena sentral 15-18 cmH20.
Bila keadaan tetap belum teratasi harus diperhatikan dan dilakukan koreksi
terhadap gangguan asam basa, elektrolit, hipoglikemia, anemia, DIC, dan infeksi
sekunder. Bila tekanan vena sentral penderita sudah sesuai dengan target tetapi
renjatan tetap belum teratasi maka dapat diberikan obat inotropik/vasopresor.3
Prognosis
Pada
umumnya kasus demam berdarah dengue (DHF) memiliki prognosis yang baik (dubia
ad bonam). Namun pada beberapa kasus apabila mengalami syok dan terlambat
mendapatkan pertolongan maka kemungkinan sebesar 40-50% (dubia ad malam).
Apabila terjadi syok dan mendapatkan pertolongan secara intensif, angka
kematian akan kurang dari 2%.6
Pencegahan
Beberapa tindakan preventif yang dapat dilakukan
antara lain:
a.
Pembersihan jentik-jentik
·
Program pemberantasan sarang
nyamuk (PSN)
·
Larvadasi
·
Menggunakan ikan (ikan kepala
timah, cupang, sepat)
b.
Pencegahan gigitan nyamuk
·
Menggunakan kelambu
·
Menggunakan obat nyamuk (bakar,
oles)
·
Tidak melakukan kebiasaan
berisiko (tidur siang, menggantung baju)
·
Penyemprotan
c.
Kegiatan
·
Pelacakan penderita: kegiatan
mendatangi rumah-rumah dari kasus yang dilaporkan (indeks kasus)
·
Abatisasi selektif (AS) atau
larvasidasi selektif: kegiatan menabur larvasida ke dalam penampungan air
positif terdapat jentik aedes.
·
Fogging focus (FF): menyemprot
dengan insektida (malation, losban) untuk membunuh nyamuk dewasa dalam radius 1
RW per 400 rumah per 1 dukuh
·
Pemeriksaan jentik berkala
(PJB): 3bulan sekali
·
Penggerakan pembanterasan sarang
nyamuk dengan 3M (menutup, menguras penampungan air bersih, mengubur barang
bekas, membersikan tempat berpotensi bagi perkembangbiakan nyamuk) di daerah
endemik.
·
Penyuluhan tentang gejala awal
penyakit, pencegahan dan rujukan penderita.6
Kesimpulan
Demam berdarah merupakan penyakit
menular yang disebabkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti betina dan Aedes
albopictus betina yang tersebar di banyak negara tropis. Penyakit ini merupakan
penyakit menular yang infeksinya disebabkan oleh virus DBD berjenis flavivirus
(terdapat 4 gen). Infeksi pertama menimbulkan DD, dan pada infeksi sekunder
heterologous menyebabkan DBD yang apabila tidak tertangani dengan baik akan
mengarah ke DSS. Belum ada obat dan vaksin yang langsung mematikan virus ini,
namun dengan diagnosa dan penanganan yang tepat, maka penyakit dapat ditangani
dengan baik sampai penyakit ini sembuh (self limiting disease).
Daftar Pustaka
1. Jonathan
G. At a glance
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta :
Penerbit Erlangga Medical Series; 2007.p.176-7.
2. Suroso,dkk.Penyakit demam berdarah dan demam berdarah
dengue. Jakarta : Departemen Kesehatan RI;2005.h.3-58.
3. Sudoyo,
AW. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5.
Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2009.h.2773-9.
4. Wulandari. Vektor demam berdarah dan penanggulangannya.
Jakarta : Mutiara Medika; 2001.h.27-30.
5. Hendarwanto.
Demam Berdarah Dengue Gambaran Klinis, Diagnosis dan Prognosis. 2006. Jakarta:
FK UI.h.417-26.
6.
Widyastuti, Palupi. Pencegahan
dan pengendalian dengue dan demam berdarah dengue:panduan lengkap. Jakarta:
EGC, 2005.h.41-5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar