Gangguan Kesehatan Akibat Pajanan Timbal
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Kelompok
: B - 6
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan
Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Saat
ini di Indonesia banyak sekali industri-industri yang mulai berkembang. Salah
satu jenus industri ini adalah accu. Industri accu merupakan industri yang
menggunakan logam berat dan senyawa kimia sebagai bahan baku. Di antaranya
yaitu Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Nikel (Ni), Asam Sulfat (H2SO4) dan Cadmium
(Cd). Logam dan senyawa tersebut bersifat toksik dan dapat membawa dampak
negatif bagi pekerja ataupun lingkungan sekitar. Untuk itu perlu untuk
mengetahui efek bahan-bahan tersebut terhadap kesehatan dan bagaimana
penanggulangan terhadap masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan-bahan
pembuat accu tersebut baik terhadap masalah kesehatan yang timbul maupun
program pencegahannya.
A. Diagnosis Klinis
Anamnesis
·
Menanyakan Nama/ Usia/ Alamat ?
(laki-laki usia 35 tahun)
·
Menanyakan keluhan utama? Sejak kapan?
(pusing, mengantuk dan lemas sejak 6 bulan lalu)
·
Menanyakan keluhan penyerta?
·
Menanyakan pekerjaan? Sudah berapa lama?
(pegawai pabrik pembuat baterai, sudah 5 tahun)
·
Menanyakan bekerja di bagian apa? Dan
barang apa yang diproduksi? (Os bekerja memproduksi baterai aki)
·
Menanyakan pekerjaan sebelum menjadi
pegawai pabrik ?
·
Menanyakan lama bekerja dalam sehari?
Dalam satu minggu berapa kali bekerja?
·
Menanyakan apakah saat bekerja
menggunakan alat pelindung diri? (Os mengaku tidak menggunakan masker)
·
Menanyakan bagaimana ventilasi di dalam
tempat bekerja? (ventilasi baik)
·
Menanyakan apakah ada temannya yang
mengalami hal yang sama? (tidak ada yang mengalami)
·
Menanyakan apakah sebelumnya sudah
sering mengalami ini?
·
Menanyakan apakah di keluarga ada yang
mengalami seperti ini juga?
Anamnesis tentang riwayat penyakit dan
riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk
mngetahui kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan
dan atau lingkungan kerja menjadi penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat
penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala atau tanda sakit pada
tinggkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting hubungan
antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja.
Riwayat pekerjaan harus ditanyakan
kepada penderita dnegan seteliti-telitinya dari pemrulaan sekali smapai dengan
waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan perhatian pada
pekerjaan yangg dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi
tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja
yang diderita waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari
pekerjaan terdahulu. Hal ini lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah
kerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.
Pemeriksaan Fisik
·
Periksa keadaan umum pasien, lihat
bagaimana kesadarannya.
Kulit
dapat terlihat pucat akibat anemia bisa ditemukan pada penderita intoksikasi
timbal. Pada pemeriksaan neurologis, intoksikasi timbal sering kali ditunjukkan
dengan lemahnya otot rangka.
·
Periksa tanda-tanda vital (TTV) berupa
tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan frekuensi napas.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk
mencocokkan benar tidaknya penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada
dalam tubuh tenaga kerja yang menderita penyakit tersebut. Guna menegakkan
diagnosis penyakit akibat kerja, biasanya tidak cukup sekedar pembuktian secara
kualitatif yaitu tentang adanya faktor penyebab penyakit, melainkan harus
ditunjukkan juga banyaknya atau pembuktian secara kuantitatif. 1
Pada pemeriksaan yang dilakukan
yaitu :
·
Cek darah rutin : Hb 12 g/dL. (Normal Pria
14-18 g/dL, perempuan 12-16 g/dL)
·
Pb darah 40 μg/dL. (Normal 5 - 15 μg/dL).
Gejala
intoksikasi timbal bila kadar sudah 40 – 80 μg/dL.
B. Pajanan yang dialami
Pajanan
yang dialami ini dapat berupa pajanan yang didapatkan sewaktu bekerja dan
timbul sejak dimulainya bekerja atau sebelum bekerja. Pada pabrik pembuatan baterai
aki pajanan dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia sebagai komponen dalam
membuat aki yang terdiri dari timbal (Pb), zinc (Zn), larutan asam (H2SO4),
NH4CL dan serbuk karbon.
Dalam
kasus ini seseorang dapat sering terkena pajanan dikarenakan bahan komponen aki
berupa timbal yang bila dipanaskan akan menimbulkan uap yang dapat terhirup
oleh pekerja.
Timbal
Timbal merupakan suatu logam berat
yang lunak berwarna kelabu kebiruan dengan titik leleh 327 ºC dan titik
didih 1.620 ºC. Pada suhu 550 – 600ºC timbal menguap dan bereaksi dengan
oksigen dalam udara membentuk timbal oksida. Walaupun bersifat lentur, timbal
sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air
panas dan air asam. Timbal dapat larut dalam asam nitrit, asam asetat dan asam
sulfat pekat. Bentuk oksidasi yang paling umum adalah timbal (II) dan senyawa
organometalik yang terpenting adalah timbal tetra etil (TEL: tetra ethyl lead),
timbal tetra metil (TML : tetra methyl lead) dan timbal stearat.
Merupakan logam yang tahan terhadap korosi atau karat, sehingga sering
digunakan sebagai bahan coating. Keracunan yang ditimbulkan oleh persenyawaan
logam timbal dapat terjadi karena masuknya persenyawaan logam tersebut ke dalam
tubuh. Proses masuknya timbal ke dalam tubuh dapat melalui beberapa jalur,
yaitu melalui makanan dan minuman, udara (pernafasan/inhalasi) serta perembesan
atau penetrasi pada selaput atau lapisan kulit. Lebih kurang 90% partikel
timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan.
Penyerapan di usus mencapai 5 -15 % pada orang dewasa.2
Penyerapan Timbal dapat melalui
inhalasi debu timbal atau benda berbahan timbal lainnya. Partikel yang mudah
larut menyebabkan absorbsi di paru berlangsung cepat dan luas. Paparan inhalasi
umumnya terjadi pada kawasan industri. Paparan pada daerah non-industri terjadi
terutama melalui pencernaan, terutama pada anak-anak yang mengabsorbsi 45-50%
timbal larut dibandingkan pada orang dewasa yang hanya sekitar 10-15%.
C. Hubungan Pajanan dengan Penyakit
Patofisiologi keracunan timbal
Keracunan timbal adalah
akumulasi timbal yang berlebihan di dalam darah. Timbal yang diserap kira-kira 40% dari asap Pb oksida yang dihirup,
diabsorbsi ke saluran pernapasan. Di dalam aliran darah, sebagaian besar Pb
diserap dalam bentuk ikatan dengan eritrosit. Plasma darah berfungsi
dalam mendistribusikan Pb dalam darah ke bagian syaraf, ginjal, hati, kulit dan
otot skeletal/rangka. Sebagian besar dengan
keracunan timbal bersifat asimtomatik. Gejala akut keracunan timbal umumnya
tidak nyata sampai kadar timbalnya mencapai 50 µg/dl atau lebih. Jumlah timbal
berlebihan diserap dan akan ditimbun di dalam tulang, jaringan lunak dan darah.
Penyerapan oleh jaringan lunak menjadi masalah besar karena dapat menyebabkan
toksisitas sistem saraf pusat (SSP) dan gagal ginjal reversibel. Timbal dapat mengganggu enzim oksidase dan akibatnya menghambat sistem
metabolisme sel, salah satu di antaranya adalah menghambat sintesis Hb dalam
sumsum tulang. Pb menghambat enzim sulfidril untuk mengikat delta-amnolevulinik
acid (ALA) menjadi porprobilinogen, serta protoforfirin IX
menjadi Hb. Hal ini menyebabkan anemia dan adanya basofilik stipling
dari eritrosit yang merupakan ciri khas dari keracunan Pb.3
D. Pajanan Cukup Besar
Epidemiologi
Timbal
terdapat dalam lingkungan karena terdapat di alam dan digunakan dalam industri.
Kasus sporadis keracunan Pb bersumber dari Pb dalam mainan, debu ditempat
latihan menembak, pipa ledeng, pigmen cat, abu dan asap dari pembakaran kayu
yang dicat, limbah industri rumah, baterai / aki, dan percetakan. Keracunan
pada anak cukup sering karena termakannya serpihan cat yang berasal dari
bangunan tua atau karena kebiasaan menggerogoti lis dan kerangka jendela yang
dicat. Cat mengandung Pb karbonat dan Pb oksida sebanyak 5 – 40%. Asosiasi
standar Amerika dalam tahun 1995 menentukan bahwa cat mainan, perabot rumah
tangga, dan interior tempat tinggal tidak boleh mengandung lebih dari 1 %.
Pemajanan Pb
di tempat kerja di Amerika telah berkurang selama 50 tahun terakhir karena
adanya peraturan dan program tepat guna di bidang pengawasan medis. Pajanan Pb
paling tinggi ialah di tempat peleburan Pb, karena asap dan debu yang
mengandung Pb oksida. Pekerja di pabrik aki menghadapi resiko serupa. Dari
suatu penelitian yang dilakukan di Indonesia kadar Pb darah karyawan pabrik aki
kurang dari 0,699 ppm belum melewati batas toksik (0,72 pppm), tetapi perlu
pemantauan kadar Pb darah karyawan untuk mendeteksi gejala dini keracunan Pb.4
Manifestasi klinis
Sebagian
besar yang menderita keracunan timbal bersifat asimtomatik dan keadaan
keracunan tersebut dapat terdeteksi selama dilakukan skrining rutin. Gejala
yang tampak dengan naiknya kadar timbal adalah :
1.
Anoreksia
2.
Konstipasi atau diare
3.
Iritabilitas
4.
Mual dan muntah
5.
Nyeri abdomen atau kolik
6.
Malaise
7. Sistem
sensoris hanya sedikit mengalami gangguan, sedangkan ensefalopati sering
ditemukan pada anak-anak.
8. Gejala
keracunan ini pada sistem jantung dan peredaran darah berupa anemia, hipertensi
dan nefritis, artralgia ( rasa nyeri pada sendi ).5
Evaluasi Lingkungan Kerja
Evaluasi
lingkungan kerja harus dilakukan dilihat dari berbagai kondisi seperti kondisi
fisik, kondisi kimia, kondisi biologi dan kondisi ergonomi.
Kondisi
fisik
·
Memasang temperatur suhu untuk menjaga suhu ruangan
·
Pengelompokan alat-alat berdasarkan fungsinya
·
Adanya jalan-jalan atau gang yang bisa digunakan
sebagai jalan darurat bila terjadi kecelakaan
·
Tempat kerja harus bersih dengan penerangan yang cukup
·
Penetapan pengukuran kadar bahan-bahan kimia berbahaya
dan kondisi fisik di lingkungan kerja secara berkala
·
Pengkondisian suhu lingkungan kerja yang nyaman dan
kondusif bagi pekerja
Kondisi
kimia
·
Memasang sistem ventilasi yang memadai dengan
sirkulasi udara yang adekuat
·
Menyediakan tempat penyimpanan yang aman untuk bahan
kimia berbahaya
·
Mengontorl kadar debu di tempat kerja
·
Air untuk mandi dan cuci mata harus cukup tersedia
terutama untuk membersihkan bahan-bahan korosif
·
Bubuk yang tumpah harus diambil dengan alat penghisap
vakum
Kondisi
biologi
·
Sanitasi lingkungan kerja yang memadai (tempat cuci
tangan, ruangan makan)
·
Ruang pertolongan pertama yang terletak di lingkungan
kerja
·
Terdapat fasilitas kesehatan
Ergonomi
·
Memposisikan pekerja sesuai dengan keahliannya
·
Peralatan disesuaikan dengan ukuran pekerja
·
Menyediakan ruang oksigenasi
·
Tersedianya waktu istirahat yang cukup
·
Penempatan mesin-mesin dan alat-alat industri yang
tepat
Pada pekerja
harus dilengkapi dengan alat pelindung diri, hal ini guna mencegah terjadinya
efek akibat pajanan yang ditimbulkan di tempat kerja. Adapun alat-alat
pelindung diri yang digunakan, yaitu :6
·
Kepala :
Pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai bahan
·
Mata :
Kacamata dari berbagai gelas
·
Muka :
Perisai muka
·
Tangan dan jari :
Sarung tangan
·
Kaki :
Sepatu
·
Alat pernafasan :
Respirator / masker khusus berlapis Tourmaline.
·
Telinga :
Sumbat telinga, tutup telinga
·
Tubuh :
Pakaian kerja dari berbagai bahan
Nilai Pb
Nilai Pb
dalam darah seorang pekerja pabrik yang sering terpapar oleh timbal biasanya
cukup tinggi dibanding yang tidak sering terpapar. Hal ini menjelaskan bahwa
pada ada dampak kesehatan yang terjadi secara nyata dari pajanan timbal pada
tubuh manusia. Paparan timbal ini dapat terjadi secara akut ataupun kronik
dimana pada kasus akut biasa seseorang mengalami keracunan dengan termakan atau
terminum yang berbahan timbal. Pada kasus kronis biasa berjalan sangat lambat
dan biasanya ditandai dengan munculnya gejala kelelahan, lesu dan iritabilasi. Kadar
normal Pb pada orang dewasa adalah antara 5 - 15 μg/dL darah lengkap. Kadar nilai
timbal (Pb) dapat memberikan efek pada manusia, yaitu :7
Terdapat
nilai kategori yang terdapat pada orang dewasa :
|
Kadar Pb (µg/dL)
|
Anak
|
Dewasa
|
|
0 s/d 10
|
Penurunan kecerdasan
Gangg.
Pertumbuhan tulang
|
---
|
|
10 s/d 30
|
Gangg. Metab Vit D
|
Gangg Sistolik Tek. Darah
Gangg Protoporphyrin eritrosit
|
|
30 s/d 50
|
Gangg. Sintesa Hb
|
Gangg. SSP
Gangg. Ginjal
Infertilitas pada pria
|
|
50 s/d 100
|
Anemia
Gangg. Ginjal
Gangg. Otak & SSP
|
Anemia
Gangg. Sintesa Hb
|
|
Ø 100
|
Kematian
|
Kematian
|
E. Faktor Individu
Faktor
individu ini bisa kita lihat dengan jelas dari status kesehatan fisik seperti
riwayat alergi, riwayat penyakit dalam keluarga, riwayat penyakit dahulu,
higiene diri baik di lingkungan kerja atau lingkungan rumah dan alat pelindung
diri sewaktu bekerja. Pada anamnesis yang tepat dapat diketahui semua dengan
tepat. Dalam kasus ini diketahui bahwa pasien tidak mempunyai riwayat penyakit sebelumnya, pasien juga tidak memiliki
kebiasaan merokok tetapi pasien mempunyai kebiasaan menggunakan alat pelindung
diri tanpa menggunakan masker penutup.
F. Faktor lain di luar pekerjaan
Pada
keadaan ini banyak faktor di luar lingkungan pekerjaan yang dapat mempengaruhi
kesehatan, bila korban mengkonsumsi rokok setiap harinya maka itu akan
memperburuk kesehatannya dan akan mudah sekali terserang oleh pajanan yang
berbahaya. Selain itu polusi kendaraan bermotor karna pada asap kendaraan
bermotor mengandung zat berbahaya seperti gas CO yang akan beredar bersamaan
dengan darah dan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan tubuh, Pb yang
dapat diserap oleh otak dan ginjal sehingga dapat mengganggu pertumbuhan fisik
dan mental yang berakibat pada fungsi kecerdasan, CO2 yang dapat meningkatkan
suhu bumi secara global, Kabut Karbon yang bersifat induser sebagai pemicu sel
tumor.
G. Diagnosis Okupasi
Diagnosis
okupasi dapat ditegakkan berdasarkan langkah-langkah yang telah disusun
terutama pajanan-pajanan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Diagnosis pada
kasus ini yaitu, Laki-laki usia 35 tahun dengan keluhan sering pusing,
mengantuk dan lemas merupakan salah satu penyakit akibat kerja karena terpajan
bahan kimia berupa timbal.
H. Penatalaksanaan
Medikamentosa
Pengobatan
awal fase akut intoksikasi Pb ialah secara suportif, dan selanjutnya harus
dicegah pajanan lebih jauh. Serangan kejang diobati dengan diazepam,
keseimbangan cairan dan elektrolit harus dipertahankan, edema otak diatasi
dengan manitol dan deksametason. Kadar Pb darah harus ditentukan sebelum
pengobatan dengan kelator.
Kelator
harus diberikan pada pasien dengan gejala atau pada pasien dengan kadar Pb
darah melebihi 0,5 – 0,6 ppb. Tiga kelator yang biasa digunakan dalam
pengobatan intoksikasi Pb, kalsium
disodium edetat (CaNa2EDTA), dimerkapol dan D-penisilamin.
CaNa2EDTA
diberikan dengan dosis 50 -75 mg/kgBB per hari dibagi dalam dua kali pemberian
secara IM yang dalam atau sebagai infus selama 5 hari berturut-turut. Interval
pemberian CaNa2EDTA dengan dimerkapol ialah 4 jam. Terapi dengan CaNa2EDTA
tidak boleh melebihi jumlah dosis 500 mg/kgBB.
Dimerkapol
dengan dosis 4 mg/kgBB diberikan secara IM setiap 4 jam selama 48 jam, kemudian
setiap 6 jam selama 48 jam berikutnya dan akhirnya setiap 6 – 12 jam selama 17
hari terakhir. Penisilamin efektif diberikan secara oral dan dapat ditambahkan
dalam rejimen pengobatan dengan dosis empat kali 250 mg sehari selama 5 hari.
Pada terapi jangka panjang tidak boleh melebihi 40 mg/kgBB per hari.4
Non Medikamentosa
Edukasi
pasien tentang bahayanya pajanan bila bekerja tidak menggunakan alat pelindung
diri yang benar, jauhkan korban dari pajanan utama misalnya dengan memindahkan
posisi atau shift kerja, gunakan alat pelindung diri yang baik saat bekerja dan
menggunakan masker berlapis Tourmaline.
Gambar 1. Masker Berlapis Tourmaline
I. Pencegahan
Mengadakan
program penyuluhan tentang bahayanya pajanan bahan kimia yang dapat menimbulkan
penyakit terhadap pekerja terutama yang berhubungan langsung atau yang sering
terpajan. Memberitahukan untuk menjaga kesehatan dengan minimalnya sering
berolah raga setiap harinya lalu bila bekerja menggunakan alat pelindung diri
yang sesuai dan baik, serta dianjurkan pada pekerja untuk merubah gaya hidup
yang buruk.
Memberikan
usulan terhadap pimpinan pabrik untuk memberikan sanksi bila ada pekerja yang
tidak patuh atau tidak sesuai dengan SOP dalam melakukan pekerjaan, misalnya
tidak menggunakan alat pelindung diri yang lengkap. Perbaiki ventilasi pabrik
terutama di gedung yang terdapat pajanan agar pertukaran udara terjadi dengan
baik dan tidak menimbulkan resiko besar bagi yang bekerja. Sanitasi lingkungan
kerja dan perilaku makan yang sehat harus diperhatikan. Program pencegahan dilaksanakan tindakan
berikut :8
Pemantauan
biologis (kadar timbal dalam darah):
1.
Dilakukan setiap 6 bulan bila kadar
timbal <40 µg/ dl.
2.
Dilakukan setiap 2 bulan bila kadar
timbal > 40 µg/ dl, sampai kadarnya mencapai < 40 µg/ dl dalam
2 kali pemantauan secara berturut-turut.
3.
Bila kadar timbal > 40 µg/ dl dan sudah tidak
diperkenankan bekerja di tempat pajanan maka pemantauan harus dilaksanakan
setiap bulan.
Pemeriksaan
Medis
1.
Dilakukan setiap tahun bila kadar timbal dalam darah
> 40 µg/ dl
2.
Dilakukan setelah
peninjauan lapangan bila kadar timbal di lingkungan tempat kerja sama
atau kadar timbal dalam darah mencapai > 30 µg/ ml.
3.
Dilakukan sesegera mungkin bila seseorang pekerja
timbul tanda intoksikasi timbal yang mencurigakan.
Tidak
diperkenankan bekerja di tempat pajanan
1.
Pekerja dengan kadar timbal > 60 µg/ ml, kecuali
bila kadarnya yang terakhir masih < 40 µg/ ml.
2.
Pekerja dengan kadar timbal > 50 µg/ ml pada
pemeriksaan terakhir selama tiga kali berturut-turut atau lebih dari 6 bulan.
Pekerja ini baru dapat kembali bekerja bila kadar timbalnya sudah < 40 µg/
ml dalam pemeriksaan dua kali berturut- turut.
Kesimpulan
Pada
kasus ini pasien di diagnosis mengalami penyakit akibat kerja yang disebabkan
oleh paparan timbal dimana dapat dilihat dari hasil pemeriksaan Pb Darah 40 μg/dL. Pada pasien ini kurang
memperhatikan keselamatan dirinya dengan tidak menggunakan masker ketika
bekerja, seharusnya hal ini dapat dicegah bila pasien menggunakan alat
pelindung diri dengan benar sehingga pasien dapat menghindari terhirupnya zat
berbahaya seperti timbal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar