Jumat, 10 April 2015

PBL 28 - Gangguan Kesehatan Akibat Pajanan Timbal



Gangguan Kesehatan Akibat Pajanan Timbal
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Kelompok : B - 6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Saat ini di Indonesia banyak sekali industri-industri yang mulai berkembang. Salah satu jenus industri ini adalah accu. Industri accu merupakan industri yang menggunakan logam berat dan senyawa kimia sebagai bahan baku. Di antaranya yaitu Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Nikel (Ni), Asam Sulfat (H2SO4) dan Cadmium (Cd). Logam dan senyawa tersebut bersifat toksik dan dapat membawa dampak negatif bagi pekerja ataupun lingkungan sekitar. Untuk itu perlu untuk mengetahui efek bahan-bahan tersebut terhadap kesehatan dan bagaimana penanggulangan terhadap masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan-bahan pembuat accu tersebut baik terhadap masalah kesehatan yang timbul maupun program pencegahannya.

A. Diagnosis Klinis
Anamnesis
·         Menanyakan Nama/ Usia/ Alamat ? (laki-laki usia 35 tahun)
·         Menanyakan keluhan utama? Sejak kapan? (pusing, mengantuk dan lemas sejak 6 bulan lalu)
·         Menanyakan keluhan penyerta?
·         Menanyakan pekerjaan? Sudah berapa lama? (pegawai pabrik pembuat baterai, sudah 5 tahun)
·         Menanyakan bekerja di bagian apa? Dan barang apa yang diproduksi? (Os bekerja memproduksi baterai aki)
·         Menanyakan pekerjaan sebelum menjadi pegawai pabrik ?
·         Menanyakan lama bekerja dalam sehari? Dalam satu minggu berapa kali bekerja?
·         Menanyakan apakah saat bekerja menggunakan alat pelindung diri? (Os mengaku tidak menggunakan masker)
·         Menanyakan bagaimana ventilasi di dalam tempat bekerja? (ventilasi baik)
·         Menanyakan apakah ada temannya yang mengalami hal yang sama? (tidak ada yang mengalami)
·         Menanyakan apakah sebelumnya sudah sering mengalami ini?
·         Menanyakan apakah di keluarga ada yang mengalami seperti ini juga?
Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk  mngetahui kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau lingkungan kerja menjadi penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala atau tanda sakit pada tinggkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting hubungan antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja.
Riwayat pekerjaan harus ditanyakan kepada penderita dnegan seteliti-telitinya dari pemrulaan sekali smapai dengan waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan perhatian pada pekerjaan yangg dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu. Hal ini lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Pemeriksaan Fisik
·         Periksa keadaan umum pasien, lihat bagaimana kesadarannya.
Kulit dapat terlihat pucat akibat anemia bisa ditemukan pada penderita intoksikasi timbal. Pada pemeriksaan neurologis, intoksikasi timbal sering kali ditunjukkan dengan lemahnya otot rangka.
·         Periksa tanda-tanda vital (TTV) berupa tekanan darah, suhu, denyut nadi, dan frekuensi napas.


Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk mencocokkan benar tidaknya penyebab penyakit akibat kerja yang bersangkutan ada dalam tubuh tenaga kerja yang menderita penyakit tersebut. Guna menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, biasanya tidak cukup sekedar pembuktian secara kualitatif yaitu tentang adanya faktor penyebab penyakit, melainkan harus ditunjukkan juga banyaknya atau pembuktian secara kuantitatif. 1
            Pada pemeriksaan yang dilakukan yaitu :
·         Cek darah rutin : Hb 12 g/dL. (Normal Pria 14-18 g/dL, perempuan 12-16 g/dL)
·         Pb darah 40 μg/dL. (Normal 5 - 15 μg/dL).
Gejala intoksikasi timbal bila kadar sudah 40 – 80 μg/dL.

B. Pajanan yang dialami
Pajanan yang dialami ini dapat berupa pajanan yang didapatkan sewaktu bekerja dan timbul sejak dimulainya bekerja atau sebelum bekerja. Pada pabrik pembuatan baterai aki pajanan dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia sebagai komponen dalam membuat aki yang terdiri dari timbal (Pb), zinc (Zn), larutan asam (H2SO4), NH4CL dan serbuk karbon.
Dalam kasus ini seseorang dapat sering terkena pajanan dikarenakan bahan komponen aki berupa timbal yang bila dipanaskan akan menimbulkan uap yang dapat terhirup oleh pekerja.

Timbal
Timbal merupakan suatu logam berat yang lunak berwarna kelabu kebiruan  dengan titik leleh 327 ºC dan titik didih 1.620 ºC. Pada suhu 550 – 600ºC timbal  menguap dan bereaksi dengan oksigen dalam udara membentuk timbal oksida.  Walaupun bersifat lentur, timbal sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan air asam. Timbal dapat larut dalam asam nitrit, asam asetat dan asam sulfat pekat. Bentuk oksidasi yang paling umum adalah timbal (II) dan senyawa organometalik yang terpenting adalah timbal tetra etil (TEL: tetra ethyl lead), timbal tetra metil (TML :  tetra methyl lead) dan timbal stearat. Merupakan logam yang tahan terhadap  korosi atau karat, sehingga sering digunakan sebagai bahan coating. Keracunan yang ditimbulkan oleh persenyawaan logam timbal dapat terjadi karena masuknya persenyawaan logam tersebut ke dalam tubuh. Proses masuknya timbal ke dalam tubuh dapat melalui beberapa jalur, yaitu melalui makanan dan minuman, udara (pernafasan/inhalasi) serta perembesan atau penetrasi pada selaput atau lapisan kulit. Lebih kurang 90% partikel timbal dalam asap atau debu halus di udara dihisap melalui saluran pernafasan. Penyerapan di usus mencapai 5 -15 % pada orang dewasa.2
Penyerapan Timbal dapat melalui inhalasi debu timbal atau benda berbahan timbal lainnya. Partikel yang mudah larut menyebabkan absorbsi di paru berlangsung cepat dan luas. Paparan inhalasi umumnya terjadi pada kawasan industri. Paparan pada daerah non-industri terjadi terutama melalui pencernaan, terutama pada anak-anak yang mengabsorbsi 45-50% timbal larut dibandingkan pada orang dewasa yang hanya sekitar 10-15%.

C. Hubungan Pajanan dengan Penyakit
Patofisiologi keracunan timbal
Keracunan timbal adalah akumulasi timbal yang berlebihan di dalam darah. Timbal yang diserap kira-kira 40% dari asap Pb oksida yang dihirup, diabsorbsi ke saluran pernapasan. Di dalam aliran darah, sebagaian besar Pb diserap dalam bentuk ikatan dengan eritrosit. Plasma darah berfungsi dalam mendistribusikan Pb dalam darah ke bagian syaraf, ginjal, hati, kulit dan otot skeletal/rangka. Sebagian besar dengan keracunan timbal bersifat asimtomatik. Gejala akut keracunan timbal umumnya tidak nyata sampai kadar timbalnya mencapai 50 µg/dl atau lebih. Jumlah timbal berlebihan diserap dan akan ditimbun di dalam tulang, jaringan lunak dan darah. Penyerapan oleh jaringan lunak menjadi masalah besar karena dapat menyebabkan toksisitas sistem saraf pusat (SSP) dan gagal ginjal reversibel. Timbal dapat mengganggu enzim oksidase dan akibatnya menghambat sistem metabolisme sel, salah satu di antaranya adalah menghambat sintesis Hb dalam sumsum tulang. Pb menghambat enzim sulfidril untuk mengikat delta-amnolevulinik acid (ALA) menjadi porprobilinogen, serta protoforfirin IX menjadi Hb. Hal ini menyebabkan anemia dan adanya basofilik stipling dari eritrosit yang merupakan ciri khas dari keracunan Pb.3


D. Pajanan Cukup Besar
Epidemiologi
Timbal terdapat dalam lingkungan karena terdapat di alam dan digunakan dalam industri. Kasus sporadis keracunan Pb bersumber dari Pb dalam mainan, debu ditempat latihan menembak, pipa ledeng, pigmen cat, abu dan asap dari pembakaran kayu yang dicat, limbah industri rumah, baterai / aki, dan percetakan. Keracunan pada anak cukup sering karena termakannya serpihan cat yang berasal dari bangunan tua atau karena kebiasaan menggerogoti lis dan kerangka jendela yang dicat. Cat mengandung Pb karbonat dan Pb oksida sebanyak 5 – 40%. Asosiasi standar Amerika dalam tahun 1995 menentukan bahwa cat mainan, perabot rumah tangga, dan interior tempat tinggal tidak boleh mengandung lebih dari 1 %.
Pemajanan Pb di tempat kerja di Amerika telah berkurang selama 50 tahun terakhir karena adanya peraturan dan program tepat guna di bidang pengawasan medis. Pajanan Pb paling tinggi ialah di tempat peleburan Pb, karena asap dan debu yang mengandung Pb oksida. Pekerja di pabrik aki menghadapi resiko serupa. Dari suatu penelitian yang dilakukan di Indonesia kadar Pb darah karyawan pabrik aki kurang dari 0,699 ppm belum melewati batas toksik (0,72 pppm), tetapi perlu pemantauan kadar Pb darah karyawan untuk mendeteksi gejala dini keracunan Pb.4
Manifestasi klinis
Sebagian besar yang menderita keracunan timbal bersifat asimtomatik dan keadaan keracunan tersebut dapat terdeteksi selama dilakukan skrining rutin. Gejala yang tampak dengan naiknya kadar timbal adalah :
1.      Anoreksia
2.      Konstipasi atau diare
3.      Iritabilitas
4.      Mual dan muntah
5.      Nyeri abdomen atau kolik
6.      Malaise
7.      Sistem sensoris hanya sedikit mengalami gangguan, sedangkan ensefalopati sering ditemukan pada anak-anak.
8.      Gejala keracunan ini pada sistem jantung dan peredaran darah berupa anemia, hipertensi dan nefritis, artralgia ( rasa nyeri pada sendi ).5

Evaluasi Lingkungan Kerja
Evaluasi lingkungan kerja harus dilakukan dilihat dari berbagai kondisi seperti kondisi fisik, kondisi kimia, kondisi biologi dan kondisi ergonomi.
Kondisi fisik
·         Memasang temperatur suhu untuk menjaga suhu ruangan
·         Pengelompokan alat-alat berdasarkan fungsinya
·         Adanya jalan-jalan atau gang yang bisa digunakan sebagai jalan darurat bila terjadi kecelakaan
·         Tempat kerja harus bersih dengan penerangan yang cukup
·         Penetapan pengukuran kadar bahan-bahan kimia berbahaya dan kondisi fisik di lingkungan kerja secara berkala
·         Pengkondisian suhu lingkungan kerja yang nyaman dan kondusif bagi pekerja
Kondisi kimia
·         Memasang sistem ventilasi yang memadai dengan sirkulasi udara yang adekuat
·         Menyediakan tempat penyimpanan yang aman untuk bahan kimia berbahaya
·         Mengontorl kadar debu di tempat kerja
·         Air untuk mandi dan cuci mata harus cukup tersedia terutama untuk membersihkan bahan-bahan korosif
·         Bubuk yang tumpah harus diambil dengan alat penghisap vakum
Kondisi biologi
·         Sanitasi lingkungan kerja yang memadai (tempat cuci tangan, ruangan makan)
·         Ruang pertolongan pertama yang terletak di lingkungan kerja
·         Terdapat fasilitas kesehatan
Ergonomi
·         Memposisikan pekerja sesuai dengan keahliannya
·         Peralatan disesuaikan dengan ukuran pekerja
·         Menyediakan ruang oksigenasi
·         Tersedianya waktu istirahat yang cukup
·         Penempatan mesin-mesin dan alat-alat industri yang tepat
Pada pekerja harus dilengkapi dengan alat pelindung diri, hal ini guna mencegah terjadinya efek akibat pajanan yang ditimbulkan di tempat kerja. Adapun alat-alat pelindung diri yang digunakan, yaitu :6
·         Kepala                         : Pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai bahan
·         Mata                            : Kacamata dari berbagai gelas
·         Muka                           : Perisai muka
·         Tangan dan jari           : Sarung tangan
·         Kaki                            : Sepatu
·         Alat pernafasan           : Respirator / masker khusus berlapis Tourmaline.
·         Telinga                        : Sumbat telinga, tutup telinga
·         Tubuh                          : Pakaian kerja dari berbagai bahan
Nilai Pb
Nilai Pb dalam darah seorang pekerja pabrik yang sering terpapar oleh timbal biasanya cukup tinggi dibanding yang tidak sering terpapar. Hal ini menjelaskan bahwa pada ada dampak kesehatan yang terjadi secara nyata dari pajanan timbal pada tubuh manusia. Paparan timbal ini dapat terjadi secara akut ataupun kronik dimana pada kasus akut biasa seseorang mengalami keracunan dengan termakan atau terminum yang berbahan timbal. Pada kasus kronis biasa berjalan sangat lambat dan biasanya ditandai dengan munculnya gejala kelelahan, lesu dan iritabilasi. Kadar normal Pb pada orang dewasa adalah antara 5 - 15 μg/dL darah lengkap. Kadar nilai timbal (Pb) dapat memberikan efek pada manusia, yaitu :7
Terdapat nilai kategori yang terdapat pada orang dewasa :
Kadar Pb (µg/dL)
Anak
Dewasa
0 s/d 10
Penurunan kecerdasan
Gangg. Pertumbuhan tulang
---
10 s/d 30
Gangg. Metab Vit D
Gangg Sistolik Tek. Darah
Gangg Protoporphyrin eritrosit
30 s/d 50
Gangg. Sintesa Hb
Gangg. SSP
Gangg. Ginjal
Infertilitas pada pria
50 s/d 100
Anemia
Gangg. Ginjal
Gangg. Otak & SSP
Anemia
Gangg. Sintesa Hb
Ø  100
Kematian
Kematian


E. Faktor Individu
Faktor individu ini bisa kita lihat dengan jelas dari status kesehatan fisik seperti riwayat alergi, riwayat penyakit dalam keluarga, riwayat penyakit dahulu, higiene diri baik di lingkungan kerja atau lingkungan rumah dan alat pelindung diri sewaktu bekerja. Pada anamnesis yang tepat dapat diketahui semua dengan tepat. Dalam kasus ini diketahui bahwa pasien tidak mempunyai riwayat penyakit  sebelumnya, pasien juga tidak memiliki kebiasaan merokok tetapi pasien mempunyai kebiasaan menggunakan alat pelindung diri tanpa menggunakan masker penutup.

F. Faktor lain di luar pekerjaan
Pada keadaan ini banyak faktor di luar lingkungan pekerjaan yang dapat mempengaruhi kesehatan, bila korban mengkonsumsi rokok setiap harinya maka itu akan memperburuk kesehatannya dan akan mudah sekali terserang oleh pajanan yang berbahaya. Selain itu polusi kendaraan bermotor karna pada asap kendaraan bermotor mengandung zat berbahaya seperti gas CO yang akan beredar bersamaan dengan darah dan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan tubuh, Pb yang dapat diserap oleh otak dan ginjal sehingga dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan mental yang berakibat pada fungsi kecerdasan, CO2 yang dapat meningkatkan suhu bumi secara global, Kabut Karbon yang bersifat induser sebagai pemicu sel tumor.
G. Diagnosis Okupasi
Diagnosis okupasi dapat ditegakkan berdasarkan langkah-langkah yang telah disusun terutama pajanan-pajanan yang berhubungan dengan pekerjaannya. Diagnosis pada kasus ini yaitu, Laki-laki usia 35 tahun dengan keluhan sering pusing, mengantuk dan lemas merupakan salah satu penyakit akibat kerja karena terpajan bahan kimia berupa timbal.

H. Penatalaksanaan
Medikamentosa
Pengobatan awal fase akut intoksikasi Pb ialah secara suportif, dan selanjutnya harus dicegah pajanan lebih jauh. Serangan kejang diobati dengan diazepam, keseimbangan cairan dan elektrolit harus dipertahankan, edema otak diatasi dengan manitol dan deksametason. Kadar Pb darah harus ditentukan sebelum pengobatan dengan kelator.
Kelator harus diberikan pada pasien dengan gejala atau pada pasien dengan kadar Pb darah melebihi 0,5 – 0,6 ppb. Tiga kelator yang biasa digunakan dalam pengobatan intoksikasi Pb, kalsium disodium edetat (CaNa2EDTA), dimerkapol dan D-penisilamin. 
CaNa2EDTA diberikan dengan dosis 50 -75 mg/kgBB per hari dibagi dalam dua kali pemberian secara IM yang dalam atau sebagai infus selama 5 hari berturut-turut. Interval pemberian CaNa2EDTA dengan dimerkapol ialah 4 jam. Terapi dengan CaNa2EDTA tidak boleh melebihi jumlah dosis 500 mg/kgBB.
Dimerkapol dengan dosis 4 mg/kgBB diberikan secara IM setiap 4 jam selama 48 jam, kemudian setiap 6 jam selama 48 jam berikutnya dan akhirnya setiap 6 – 12 jam selama 17 hari terakhir. Penisilamin efektif diberikan secara oral dan dapat ditambahkan dalam rejimen pengobatan dengan dosis empat kali 250 mg sehari selama 5 hari. Pada terapi jangka panjang tidak boleh melebihi 40 mg/kgBB per hari.4

Non Medikamentosa
Edukasi pasien tentang bahayanya pajanan bila bekerja tidak menggunakan alat pelindung diri yang benar, jauhkan korban dari pajanan utama misalnya dengan memindahkan posisi atau shift kerja, gunakan alat pelindung diri yang baik saat bekerja dan menggunakan masker berlapis Tourmaline.
Gambar 1. Masker Berlapis Tourmaline

I. Pencegahan
Mengadakan program penyuluhan tentang bahayanya pajanan bahan kimia yang dapat menimbulkan penyakit terhadap pekerja terutama yang berhubungan langsung atau yang sering terpajan. Memberitahukan untuk menjaga kesehatan dengan minimalnya sering berolah raga setiap harinya lalu bila bekerja menggunakan alat pelindung diri yang sesuai dan baik, serta dianjurkan pada pekerja untuk merubah gaya hidup yang buruk.
Memberikan usulan terhadap pimpinan pabrik untuk memberikan sanksi bila ada pekerja yang tidak patuh atau tidak sesuai dengan SOP dalam melakukan pekerjaan, misalnya tidak menggunakan alat pelindung diri yang lengkap. Perbaiki ventilasi pabrik terutama di gedung yang terdapat pajanan agar pertukaran udara terjadi dengan baik dan tidak menimbulkan resiko besar bagi yang bekerja. Sanitasi lingkungan kerja dan perilaku makan yang sehat harus diperhatikan.  Program pencegahan dilaksanakan tindakan berikut :8
Pemantauan biologis (kadar timbal dalam darah):
1.      Dilakukan setiap 6 bulan bila kadar timbal <40 µg/ dl.
2.      Dilakukan setiap 2 bulan bila kadar timbal > 40 µg/ dl, sampai kadarnya mencapai < 40 µg/ dl dalam 2 kali pemantauan secara berturut-turut.
3.      Bila kadar timbal > 40 µg/ dl dan sudah tidak diperkenankan bekerja di tempat pajanan maka pemantauan harus dilaksanakan setiap bulan.
Pemeriksaan Medis
1.      Dilakukan setiap tahun bila kadar timbal dalam darah > 40 µg/ dl
2.      Dilakukan setelah  peninjauan lapangan bila kadar timbal di lingkungan tempat kerja sama atau kadar timbal dalam darah mencapai > 30 µg/ ml.
3.      Dilakukan sesegera mungkin bila seseorang pekerja timbul tanda intoksikasi timbal yang mencurigakan.
Tidak diperkenankan bekerja di tempat pajanan
1.      Pekerja dengan kadar timbal > 60 µg/ ml, kecuali bila kadarnya yang terakhir masih < 40 µg/ ml.
2.      Pekerja dengan kadar timbal > 50 µg/ ml pada pemeriksaan terakhir selama tiga kali berturut-turut atau lebih dari 6 bulan. Pekerja ini baru dapat kembali bekerja bila kadar timbalnya sudah < 40 µg/ ml dalam pemeriksaan dua kali berturut- turut.



Kesimpulan
Pada kasus ini pasien di diagnosis mengalami penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh paparan timbal dimana dapat dilihat dari hasil pemeriksaan Pb Darah 40 μg/dL. Pada pasien ini kurang memperhatikan keselamatan dirinya dengan tidak menggunakan masker ketika bekerja, seharusnya hal ini dapat dicegah bila pasien menggunakan alat pelindung diri dengan benar sehingga pasien dapat menghindari terhirupnya zat berbahaya seperti timbal.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar