Jumat, 10 April 2015

PBL 18 - Tuberculosis Anak



Tuberculosis Anak
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida


Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
No. Telp (021) 5694-2061, e-mail : aagguunngg@yahoo.com

Pendahuluan
Tuberkulosis masih merupakan penyakit yang sangat luas yang didapatkan di negara berkembang salah satunya Indonesia, baik pada anak maupun pada orang dewasa yang juga dapat menjadi sumber infeksi. Penyakit ini mudah menular, seperti halnya flu biasa dan cepat menyebar pada orang-orang yang hidup bersama penderita, upaya pencegahan sejak dini telah dilakukan, yaitu dengan paket imunisasi BCG pada balita. Walau demikian, Indonesia belum terbebas 100 % dari penyakit ini. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi akibat infeksi kuman Mycobacterium yang bersifat sistemis (menyeluruh) sehingga dapat mengenai hampir seluruh organ tubuh, dengan lokasi terbanyak  di paru-paru yang  biasanya merupakan lokasi infeksi yang pertama kali terjadi.
Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkin paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Tuberculosis merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau atau parinkin paru oleh basil mycobakterium tuberkulosis, dapat mengenai hampir semua organ tubuh (meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe, dll)dengan lokasi terbanyak diparu, yang biasanya merupakan lokasi primer.
A.  Anamnesis
·         Identitas pasien, menanyakan nama lengkap pasien, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan, suku bangsa.
Data yang didapati dari pasien yaitu, Anak laki-laki usia 5 tahun.
·         Keluhan utama, keluhan utama yang membuat datang ke dokter .
Data yang didapati dari pasien yaitu, Batuk yang tidak kunjung sembuh sejak 2 minggu yang lalu.
·         Keluhan penyerta, keluhan penyerta yang dirasakan selain keluhan utama.
Data yang didapati dari pasien yaitu, Demam ringan terutama pada malam hari dan nafsu makan dan berat badan yang menurun.
·         Riwayat penyakit keluarga, apakah di dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama seperti yang dialami pasien.
Data yang didapati yaitu, Tidak ada.
·         Riwayat pengobatan, apakah ada obat yang diminum oleh pasien sebelum pasien datang atau berobat ke dokter.
Data yang didapati aitu, Tidak ada

B.  Pemeriksaan Fisik
·         Memeriksa keadaan umum, didapati pasien pada kesadaran compos mentis dan tampak sakit ringan.
·         Pemeriksaan Tanda-tanda vital, pasien didapati BB 15kg, TD 90/60 mmHg, frekuensi nafas 24x/menit, suhu 37.7°C, dan hal lainnya dalam batas normal tidak didapati kelainan.
·         Inspeksi, memperhatikan wajah dan konjungtiva apakah pucat atau tidak, bisa dilihat apakah status gizi anak itu sedang baik atau buruk. Amati bentuk toraks penderita selama inspirasi dan ekspirasi berulang karena pada keadaan ini kita bisa bisa jumpai penyakit paru.
·         Palpasi,  mungkin pada hal TBC juga tidak terlalu spesifik tapi mungkin pada kasus ini sendiri pun kita bisa menentukan daerah paru mana yang mungkin sedang terjadi inflamasi dengan menemukan adanya rasa nyeri yang dirasakan pasien pada saat kita melakukan penekanan pada sela iga pasien.
·         Perkusi, Mungkin kita bisa temukan kelainan dimana pada normalnya itu sendiri paru memiliki suara sonor tapi jika pada pemriksaan kita temukan suara yang pekak berarti kita mesti curiga bahwa mungkin pada jaringan paru tersebut sudah terjadi penggantian oleh jaringan yang solid atau adanya cairan, misalnya pada efusi pleura, empiema, fibrosis paru atau tumor paru.
·         Auskultasi, Cari kemungkinan terdapatnya suara-suara  yang patologis pada paru seperti wheezing, ronchi basah, stridor, dan lain sebagainya.1
C.  Working Diagnosis
Tuberkulosis Paru
            Tuberkulosis masih merupakan penyakit yang sangat luas didapatkan di Negara yang berkembang seperti Indonesia, baik pada anak maupun pada orang dewasa yang juga dapat menjadi sumber infeksi.
            Penyakit tuberculosis pada bayi dan anak dapat disebut sebagai penyakit tuberculosis primerdan merupakan suatu penyakit sistemik. Tuberkulosis primer biasanya mulai secara perlahan-lahan sehingga sukar ditentukan saat timbulnya gejala pertama, tetapi kalau terdapat panas yang naik turun dan lama dengan atau tanpa batuk dan pilek, anorexia, penurunan berat badan dan anak lesu, harus difikirkan kemungkinan tuberculosis. Petunjuk lain untuk diagnose tuberculosis ialah adanya kontak dengan penderita tuberculosis dewasa. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, uji tuberculin positif dan kelainan radiologis pada paru. Pada anak,biasanya basil tuberculosis tidak selalu dapat ditemukan. Penyakit ini jika tidak diobati sedini mungkin dan setepat-tepatnya dapat menimbulkan komplikasi yang berat dan reifeksi
Berdasarkan kasus didapatkan, anak berusia 5 tahun dengan keluhan batuk yang tidak kunjung sembuh disertai demam ringan dan nafsu makan serta berat badan yang menurun.
Jadi, diagnosa sementara yang didapatkan ialah anak ini menderita Tuberkulosis paru. Untuk diagnosa pasti, dilihat hasil pemeriksaan penunjang.
Terdapat beberapa sistem untuk mendiagnosis TBC pada anak serta diagnosis menurut WHO. Tabel di bawah menunjukkan dasar diagnosis TBC anak dimana untuk negara berkembang dengan fasilitas kurang lengkap,seseorang anak didiagnosa mengidap TB apabila memenuhi 2 dari 6 kriteria yang ditetapkan.2
1. Riwayat kontak erat dengan TB aktif dewasa
2. Batuk lama dengan penurunan BB,demam lama dan keringat
3. Foto rontgen paru
4.Uji Mt: PPD RT 23 2TU (+)>10mm ; BCG (+) dengan indurasi >15mm
5. Pemeriksaan mikrobiologis: Bilasan lambung
6. Respon terhadap terapi OATà Berat badan naik, gejala/tanda non spesifik berkurang.
Tabel  1.1 dasar diagnosis TB anak


D.  Differential Diagnosis
Pneumoniae
Pneumonia adalah infeksi akut perenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstitiil, yang ditandai oleh demam, batuk, sesak (peningkatan frekuensi pernafasan), nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan kadang-kadang sianosis.
Gejala klinis yang muncul tergantung dari umur pasien, dan pathogen penyebabnya, sedangkan pada anak-anak bisa tidak muncul gejala. Pada neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting. Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk,panas, dan iritabel.
Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk ( non produktif / produktif ), takipneu, dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding dada. Pada kelompok anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas, batuk (non produktif / produktif ), nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi. Pada semua kelompok umur, akan dijumpai adanya nafas cuping hidung. 3

Bronkitis
Bronkitis adalah suatu peradangan pada saluran bronkial atau bronki. Peradangan tersebut disebabkan oleh virus, bakteri, merokok, atau polusi udara. Definisi bronkitis  kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama setidaknya 3 bulan dalam setahun selama paling sedikit 2 tahun berturut-turut.
Gejala klinisnya biasa dimulai dengan batuk.
·         Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya pasien mengalami batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen.
·         Sesak nafas. Bila timbul infeksi, sesak napas semakin lama semakin hebat. Terutama pada musim dimana udara dingin dan berkabut.
·         Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu).
·         Wheezing (mengi).Saluran napas menyempit dan selama bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat disertai mengi yang semakin hebat pada episode infeksi akut.
·         Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai kiri dan kanan.
·         Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan.
·         Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bias menetap selama beberapa minggu.3
Bronkitis asmatis
Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan yang dihubungkan dengan hiper-responsif, keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan. Pemicu yang berbeda-beda dapat menyebabkan eksaserbasi asma oleh karena inflamasi saluran napas atau bronkospasme akut atau keduanya. Faktor yang dapat memicu yaitu allergen, polusi udara, infeksi saluran napas, obat dan ekspresi emosi berlebihan.
Mekanisme keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini bervariasi sesuai dengan rangasangan. Allergen akan memicu terjadinya bronkhokonstriksi akibat dari pelebpasan IgE dependent dari mast sel saluran pernapasan dari mediator, termasuk di antaranya histamin, prostaglandin, leukotrin sehingga akan terjadi kontraksi otot polos.
Penyempitan saluran pernapasan yang bersifat progresif yang disebabkan oleh inflamasi saluran pernapasan dan atau peningkatan tonus otot polos bronkhioler merupakan gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan resistensi aliran, hiperinflasi pulmoner dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi. Apabila tidak dilakukan koreksi terhadap obstruksi saluran pernapasan ini, akan terjadi gagal napas yang merupakan konsekuensi dari peningkatan kerja pernapasan, inefisiensi pertukaran gas dan kelelahan otot pernapasan. Interaksi kardiopulmoner dan sistem kerja paru sehubungan dengan obstruksi saluran napas.4

E.  Pemeriksaan Penunjang
a.    Rontgen Paru
Gambar 1.  adanya kalsifikasi parahiler kanan (Ghon kompleks) disertai pembesaran kelenjar hillus kanan
Gambaran rontgen dari TBC paru pada anak umumnya tidak khas sehingga menyulitkan interpretasi foto. Pada orang dewasa, kuman TBC membangun sarangnya pada paru-paru bagian atas, sehingga pada gambar rontgennya akan terlihat adanya infiltrat pada daerah tersebut, terlihat adanya penebalan pleura, massa cairan di bagian bawah paru, bayangan hitam radiolusen di pinggir paru atau pleura Sedangkan pada anak-anak, kuman TB membangun sarang di kelenjar getah bening yang lokasinya berdekatan dengan jantung.  Jika hanya difoto dari depan akan sulit melihat adanya infiltrat, karena terutup oleh bayangan jantung.  Oleh karena itu, untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari arah samping.
Dengan begitu, gambaran paru-paru tidak ’diganggu’ oleh bayangan jantung. Tetapi, lagi-lagi keberadaan infiltrat bukan mutlak menunjukkan anak mengidap TBC.  Anak yang sedang batuk dengan dahak yang banyak, meski tidak mengidap TB bila difoto rontgen dadanya, bisa memberikan gambaran infiltrat.  Oleh karenanya, foto rontgen harus dilakukan pada saat anak dalam kondisi terbaik.  Paling baik memang setelah anak sembuh dari batuknya.  Bila tidak memungkinkan, pilih waktu ketika batuknya minimal.  Sekali lagi, foto rontgen saja tidak dapat digunakan sebagai alat untuk mendiagnosis TBC.5
Gambaran radiologis paru sugestif TB :
1.      Pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal dengan/tanpa infiltrate
2.      Atelektasis segmen/lober
3.      Atelektasis, milier, kavitas, dan kalsifikasi.

b.      Tes Darah
Parameter yang diuji pada pemeriksaan darah adalah LED (laju endap darah) dan kadar limfosit.  Tetapi keduanya ini nilai diagnostiknya bahkan lebih rendah daripada foto rontgen, sehingga hanya dapat digunakan sebagai data pendukung. Pada saat tuberkulosis baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi.5
c.    Uji Sputum
Uji sputum dapat membantu diagnosis tuberkulosis yaitu dengan menemukan adanya kuman BTA pada sputum penderita. Dalam hal ini sebelum diperiksa penderita dianjurkan minum air sebanyak +2 liter dan diajarkan melakukan refleks batuk agar mudah mendapatkan sputum. Namun pada anak-anak BTA dari sputum bisa didapatkan dengan cara bilasan lambung karena pada anak-anak sulit untuk mengeluarkan dahaknya. Kriteria sputum positif adalah bila ditemukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.5
d.    Tes Tuberkulin
Karena tanda-tanda dan gejala TB pada anak sangat sulit dideteksi, satu-satunya cara untuk memastikan anak terinfeksi oleh kuman TB, adalah melalui uji Tuberkulin (tes Mantoux). Tes Mantoux ini hanya menunjukkan apakah seseorang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis atau tidak, dan sama sekali bukan untuk menegakkan diagnosa atas penyakit TB.  Sebab, tidak semua orang yang terinfeksi kuman TB lalu menjadi sakit TB.  Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB, kira-kira 2-8 minggu setelah terinfeksi.  Pada kurun waktu inilah tes Mantoux mulai bereaksi.  Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut sangat baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam tubuh.  Namun pada orang lain, yang terjadi adalah bakteri tidak aktif tetapi bertahan lama di dalam tubuh dan sama sekali tidak menimbulkan gejala.  Atau pada orang lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang tersebut menjadi sakit TB.
Uji ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml) kuman TBC, yang telah dimatikan dan dimurnikan, ke dalam lapisan atas (lapisan dermis) kulit pada lengan bawah.  Lalu, 48 sampai 72 jam kemudian, tenaga medis harus melihat hasilnya untuk diukur.  Yang diukur adalah indurasi (tonjolan keras tapi tidak sakit) yang terbentuk, bukan warna kemerahannya (erythema).  Ukuran dinyatakan dalam milimeter, bukan centimeter.  Bahkan bila ternyata tidak ada indurasi, hasil tetap harus ditulis sebagai 0 mm.
Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila diameter indurasi berukuran sama dengan atau lebih dari 10 mm.  Namun, untuk bayi dan anak sampai usia 5 tahun yang tanpa faktor resiko TB, dikatakan positif bila indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih.  Hal ini dikarenakan pengaruh vaksin BCG yang diperolehnya ketika baru lahir, masih kuat.  Pengecualian lainnya adalah, untuk anak dengan gizi buruk atau anak dengan HIV, sudah dianggap positif bila diameter indurasinya 5 mm atau lebih. Namun tes Mantoux ini dapat memberikan hasil yang negatif palsu (anergi), artinya hasil negatif  padahal sesungguhnya terinfeksi kuman TB.  Anergi dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk (gizi kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun tubuhnya sedang sangat menurun akibat mengkonsumsi obat-obat tertentu, baru saja divaksinasi dengan virus hidup, sedang terkena infeksi virus, baru saja terinfeksi bakteri TB, tata laksana tes Mantoux yang kurang benar.  Apabila dicurigai terjadi anergi, maka tes harus diulang.4,5
F.   Gejala Klinis
Penyakit TBC pada anak tidak mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
·         Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu kemudian.
·         Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
·         Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru, awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir. Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut.
·         Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang merupakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.5
G. Penatalaksanaan
Non-Medika Mentosa
Tuberkulosis, termasuk tuberculosis paru, diobati dengan tuberkulostatik. Hanya kadang diperlukan tindakan bedah setelah mendapat pengobatan secara teratur, terutama pada pasien dengan sputum yang positif menetap. Tindak bedah dalam hal ini mempunyai dua tujuan:
1.      Mempercepat konversi sputum sehingga menghilangkan sumber penularan terhadap keluarga dan masyarakat sekitarnya.
2.      Mencegah penyebaran secara bronkogenik bagi penderita itu sendiri.
Pada penderita dengan sputum negatif sering ditemukan kerusakan pada paru dengan komplikasinya, seperti infeksi sekunder atau perdarahan, yang juga dicegah dengan operasi mengeluarkan sarang penyulit itu.6
Medika Mentosa
Diberikan OAT (Obat Anti TB) dengan ketentuan sebagai berikut:
Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.7
Obat Antituberkulosis
Mekanisme kerja
Efek samping
Dosis
Isoniazid(INH)
Menghambat biosintesa asam mikolat dan mencegah perpanjangan rantai asam lemak sangat panjang.
INH mudah menembus cairan serebrospinal,meskipun tiada peradangan, dan ke dalam jaringan perkijuan.
INH bekerja bakterisidal terhadap basil yang berkembang aktif ekstraseluler dan basil di dalam makrofag.
Neuritis perifer akibat inhibisi kompetitif metabolism piridoksin dan hepatitis.
Hepatotoksisitas (usia>35)

10-20mg /kgBB/hari peroral selama 18-24 bulan.
Rifampisin
Menghambat DNA-dependent RNA polymerase dari mikrobakterium dan mikroorganisme lain.
Bakterisidal.
Jarang serius Flu like syndrome, nefritis interstitialis.
Intermittenà  Hepatorenal syndrome.
10-15mg/ kgBB/hari peroral selama 6-9 bulan.
Streptomisin
Bakterisidal
Menekan pertumbuhan kuman.
Nefrotoksik, gangguan N. VII.
30-50mg/ kgBB/ hari dengan maksimum 750mg/hari selama 1-3 bulan kemudian dilanjut 2-3x seminggu selama 1-3 bulan.
Pirazinamid
Belum diketahui
Bakterisidal.
Ikterusà SGOT SGPT .
30-35mg/ kgBB/hari peroral 2x sehari selama 4-6 bulan.
Etambutol
Menghambat sintesis metabolisme selàkuman mati.

Neuritis retrobulbar.
20mg/ kgBB/hari peroral pada waktu lambung kosong 1x sehari selama 1 tahun.
Tabel 1.2 Obat Tuberkulosis

H.  Komplikasi
Efusi Pleura
Efusi Pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Dalam keadaan normal, hanya ditemukan selapis cairan tipis yang memisahkan kedua lapisan pleura. Jenis cairan lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga pleura adalah darah, nanah, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi. Efusi pleura dapat terjadi 6-12 bulan setelah terbentuknya kompleks primer,kalau efusi disebabkan oleh penyebaran hematogen, maka dapat terjadi lebih cepat.
Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali.7
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
          Batuk
          Cegukan
          pernafasan yang cepat
          nyeri perut.
Komplikasi lainnya :
Dapat terjadi komplikasi pada tulang dan kelenjar getah bening permukaan(supefisial) dapat terjadi akibat penyebaran hematogen hingga dapat terjadi dalam 6 bulan setelah terbentuknya kompleks primer.
Pembesaran kelenjar getah bening yang terkena infeksi dapat menyebabkan atelektasis karena menekan bronkus hingga tampak sebagai perselubungan segmen atau lobus, sering lobus tengah paru kanan. Selain itu, atelektasis dapat terjadi karena konstriksi bronkus pada tuberculosis dinding bronkus, tuberkuloma dalam lapisan otot bronkus atau sumbatan oleh gumpalan kiju dalam lumen bronkus.7
I.     Pencegahan
BCG diberikan pada usia 0-3 bulan secara intrakutan. Imunisasi BCG tidak bisa mencegah dari penyakit TB, akan tetapi bisa mencegah dari penyakit TB berat seperti TB milier dan meningitis TB. Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir. Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman TBC.6

J.    Prognosis
Dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur anak, berapa lama telah mendapat infeksi, luasnya lesi, keadaan gizi, keadaan sosial ekonomi keluarga, diagnosis dini, pengobatan adekuat dan adanya infeksi lain seperti morbili, pertusis, diare yang berulang dan lain-lain. Jika deteksi cepat, penanganan yang benar dan pasien memberikan kerjasama yang baik dalam pengobatan, maka prognosisnya adalah baik.
Apabila gejala-gejala tersebut ada dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak, apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC dewasa.
K. Fisologi
Mekanisme Respirasi
Pernafasan yang lazim digunakan mencakup dua proses yaitu pernafasan luar (eksterna) yang merupakan penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara keseluruhan serta dalam pernafasan dalam (interna) yang merupakan penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel. Fungsi utama sistem respirasi ialah untuk membekalkan tubuh dengan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida. Untuk menyempurnakan fungsi ini, sekurang-kurangnya diperlukan 4 proses untuk berlaku yang secara kolektif disebut sebagai respirasi yaitu:
1.      Ventilasi pulmonal – pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru sehingga tersedia gas yang terus menerus ditukar dan segar. Biasanya disebut bernafas.
2.      Respirasi eksternal – pergerakan oksigen dari paru ke darah dan karbon dioksida dari darah ke paru-paru.
3.      Transport gas – pengangkutan oksigen dari paru ke jaringan tubuh dan pengangkutan karbon dioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Ia dilakukan dengan sistem kardiovaskular menggunakan darah sebagai cairan transportasi.
4.      Respirasi internal – pergerakan oksigen dari darah ke jaringan tubuh dan karbon dioksida dari jaringan tubuh ke darah.8
a)      Inspirasi
Proses inspirasi merupakan suatu proses aktif di mana otot-otot inspirasi berkontraksi. Otot utama yang berkontraksi untuk menghasilkan inspirasi sewaktu pernafasan tenang termasuklah diafragma dan otot interkostal eksternus. Inspirasi berlaku secara umum mengikut urutan peristiwa seperti berikut:
1.      Pada permulaan inspirasi, otot-otot inspirasi utama berkontraksi di mana diafragma (dirangsang oleh nervus phrenicus) menurun. Apabila difragma berkontraksi, ia akan menurun dan menyebabkan volume thoraks bertambah secara vertikal. Manakala apabila otot interkostal externus berkontraksi ia akan menyebabkan penambahan volume thoraks pada dimensi lateral dan anteroposterior.
2.      Hal ini menyebabkan volume rongga thoraks diperbesar secara keseluruhannya. Tulang-tulang iga terangkat dan sternum bergerak ke anterior atas.
3.      Paru-paru dipaksa meregang dan menjadi luas untuk mengisi rongga thoraks yang membesar. Volume intrapulmonal meningkat akibat dari regangan paru.
4.      Apabila paru membesar, tekanan intra alveoli menurun dari 760 mmHg menjadi 759 mmHg (-1 mmHg) dan mengakibatkan ia lebih rendah dari tekanan atmosfer (760 mmHg).
5.      Udara (gas) mengalir ke dalam paru-paru menuruni gradien tekanan sehingga tekanan intra alveol menjadi 0 atau menyamai tekanan atmosfer.
Inspirasi kuat melibatkan kontraksi diafragma dan otot interkostal externus dengan lebih kuat dengan membawa otot-otot inspirasi tambahan sama-sama berperan dalam membesarkan lagi rongga thoraks. Otot-otot inspirasi tambahan antaranya termasuklah M. Sternocleidomastoideus, M. Pektolaris major dan scalenus. Kontraksi otot-otot inspirasi tambahan ini menyebabkan kenaikan sternum dan dua tulang iga pertama sehingga menyebabkan rongga thoraks bagian atas diperbesar. Perluasan yang lebih ini menyebabkan penurunan tekanan intra alveol yang lebih dan mengakibatkan pengaliran udara ke dalam paru dengan lebih banyak.8
b)      Ekspirasi
Proses ekspirasi secara umumnya di mana udara dibawa keluar dari paru. Ekspirasi tenang merupakan suatu proses pasif dan ia melibatkan relaksasi otot-otot inspirasi yaitu diafragma dan otot interkostal externus. Peristiwa yang berlaku dalam menyebabkan ekspirasi termasuk:
1.      Otot-otot inspirasi berelaksasi di mana diafragma menaik. Penaikan diafragma ini mengakibatkan volume rongga thoraks berkurang dalam dimesi vertikal. Selain itu, relaksasi otot interkostal externus menyebabkan mengurangan volume rongga thoraks dalam dimensi lateral dan anteroposterior.
2.      Relaksasi otot-otot inspirasi membawa kepada pengurangan volume rongga thoraks secara keseluruhan. Hal ini akan menyebabkan tulang-tulang iga untuk turut menurun ke bawah.
3.      Jaringan paru yang elastis kembali ke kedudukan semula sesudah teregang. Ini merupakan daya recoil pasif jaringan paru. Recoilnya paru membawa kepada berkurangnya volume intrapulmonal.
4.      Volume paru yang berkurang mengakibatkan tekanan intra alveol meningkat dari 760 mmHg menjadi 761 mmHg (+1 mmHg) dan menjadi lebih tinggi dari tekanan atmosfer.
5.      Udara mengalir keluar dari paru menuruni gradient tekanan sehingga tekanan intra alveol menjadi 0 atau menyamai tekanan atmosfer (760 mmHg).
Ekspirasi kuat atau ekspirasi aktif membutuhkan kontraksi dari otot-otot ekspirasi yaitu otot dinding perut dan otot interkostal internus. Kontraksi otot dinding perut (abdominal muscles) meningkatkan tekanan intra-abdominal menyebabkan diafragma terdorong ke atas dan mengurangkan dimensi vertikal rongga thoraks. Kontraksi otot interkostal internus pula menurunkan volume rongga thoraks dalam dimensi lateral dan anteroposterior dengan meratakan sternum dan tulang-tulang iga.8
Batuk
Batuk merupakan mekanisme refleks yang sangat penting untuk menjaga jalan napas tetap tebuka (paten) dengan cara menyingkirkan hasil sekresi lendir yang menumpuk pada jalan napas. Tidak hanya lendir yang akan disingkirkan oleh refleks batuk tetapi juga gumpalan darah dan benda asing. Namun, sering terdapat batuk yang tidak bertujuan untuk mengeluarkan lendir maupun benda asing, seperti batuk yang disebabkan oleh iritasi jalan napas. Jalan napas dapat menjadi hiperaktif sehingga hanya dengan iritasi sedikit saja sudah dapat menyebabkan refleks batuk. Daerah pada jalan napas yang peka terhadap rangsangan batuk adalah laring, trakea dan bronkus utama. Selain pada jalan napas, daerah yang juga dapat merangsang refleks batuk adalah pleura, membran timpani dan terkadang iritasi pada visera juga menimbulkan refleks batuk.
Mekanisme batuk memerlukan adanya penutupan glotis dan peningkatan tekanan intratoraks. Batuk merupakan gejala yang paling sering ditemukan ada infeksi jalan napas atas. Jika batuk tidak hilang selama tiga minggu sebaiknya diakukan pemeriksaan foto toraks untuk menentukan kemungkinan adanya tuberkulosis, karsinoma bronkus atau penyakit paru lain. Batuk juga terjadi pada perokok yang biasanya menganggap batuknya sebagai batuk normal. Batuk termasuk elemen utama untuk membersihkan saluran napas dari dahak dan dahak merupakan stimulus terjadinya batuk. Oleh karena itu, pada pasien yang mempunyai produksi dahak berlebihan, upaya penekanan batuk menjadi berbahaya karena dahak akan menumpuk. Inflamasi mukosa dan iritasi pada sistem pendengaran menyebabkan releks batuk menjadi lebih peka terhadap rangsangan. Batuk kering dan nonproduktif dapat sangat menganggu. Batuk yang sangat berlebihan dapat menyebabkan penyebaran infeksi, cedera pada jalan napas, pneumotoraks, patah tulang iga, hemoptisis dan dapat memperberat gejala gagal jantung.8
L.  Patofisiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui kuman yang dibatukkan penderita tuberculosis ke udara dalam bentuk droplet nuclei. Didalam udara bebas kuman ini dapat menetap selama 1-2 jam. Hal ini tergantung dari ada atau tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap yang ventilasinya jelek kuman dapat bertahan hidup lebih lama. Bila orang sehat menghisap kuman yang dibatukan oleh penderita TB maka kuman tersebut akan segera menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Untuk selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai vocus primer. Tapi kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari trakheobronkeal beserta gerakan silia dengan sekretnya. Kuman dapat juga masuk melalui luka dari kulit tetapi hal ini jarang terjadi. Pada stadium permulaan setelah pembentukan Fokus primer atau terjasi beberapa kemungkinan, yaitu penyebaran melalui bronkogen, penyebaran melalui limfogen, ataupun penyebaran melalui hematogen. Tetapi keadaan ini hanya berlangsung beberapa saat. Penyebaran akan berhenti jika kuman yang masuk sedikit dan telah terbentuk daya tahan tubuh yang spesifik terhadap basil TB. Apabila jumlah kumannya sangat banyak sedangkan daya tahan tubuh melemah akan berakibat timbulnya tuberculosis milier.
Kelanjutan dari penyebaran tersebut dapat terjadi penyebaran infeksi primer ke saluran getah bening dan kelenjar getah bening setempat (local) sehingga terbentuklah suatu kompleks primer. Infeksi primer dan komplek primer dinamakan tuberculosis primer. Dari kelenjar limfe basil TB dapat menyebar melalui kelenjar limfe dan pembuluh darah ke organ yang lain, terutama organ yang memiliki tekanan oksigen tinggi seperti hepar, ginjal, tulang, otak dan bagian lain dari paru. Basil TB ini dapat langsung menyebabkan penyakit di organ-organ tersebut atau hidup dorman dalam makrofag jaringan dan dapat menyebabkan TB aktif bertahun-tahun kemudian. Tuberculosis juga dapat hilang melalui resolusi, kalsifikasi membentuk kompleks Ghon, atau terjadi nekrosis dengan masa perkejuan yang dibentuk dari makrofag. Apabila keju mencair maka basil dapat berkembang di ekstra sel sehingga dapat meluas di jaringan paru dan terjadi pneumonia, lesi endotrakheal, pleuritis, dan dapat menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di organ-organ lainnya atau dikenal dengan TB milier. 9
M.  Anatomi
·      Nasi (Hidung)
Nasi (hidung) dibentuk oleh os nasale dan tulang rawan. Terdapat nares anterior yang menghubungkan rongga hidung atau cavum nasi dengan dunia luar dan akan bermuara menuju vestibulum nasi. Cavum nasi dilapisi selaput lendir yang sangat kaya pembuluh darah, dan berhubungan dengan pharynx dan selaput lendir pada sinus yang mempunyai lubang yang berhubungan dengan rongga hidung. Septum nasi memisahkan cavum nasi menjadi dua. Struktur tipis ini terdiri dari tulang keras dan tulang rawan, dapat membengkok ke satu sisi lain, dan kedua sisinya dilapisi oleh membran mukosa. Di bagian posterior septum nasi, terdapat os ethmoidale di superior dan vomer di inferiornya.
Rongga hidung terdiri atas tiga region, yakni
-          Vestibulum
Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat di sebelah dalam nares. Vestibulum ini dilapis oleh kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap. 
-          Penghidu
Region penghidu berada di sebelah cranial dimulai dari atap rongga hidung meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut.
-          Pernafasan, bagian rongga hidung selebihnya.
Dinding lateral hidung terdapat tiga elevasi yakni:
a.  concha superior
b. concha media
c. concha inferior.
Dasar cavum nasi dibentuk oleh os maxilla dan os palatinum. Sedangkan atap cavum nasi terdiri atas 3 daerah yang sesuai dengantulang yang membentuk atap tersebut, yakni region sphemoidalis, ethmoidalis, dan frontonasal. Membrana mukosa olfactorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau yaitu nervus olfactorius.
·         Pharynx
Pharynx adalah saluran berotot yang  berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesophagus sebatas tulang rawan cricoid. Terletak di belakang larynx (laryngopharyngeal). Di sebelah dorsal dan lateral pharynx terdapat jaringan penyambung longgar yang menempati spatium peripharyngeal.
Pharynx dibagi menjadi tiga bagian, yakni:
-          Nasopharynx (Epipharyx)
Nasopharynx berada di sebelah dorsal hidung dan sebelah cranial palatum molle. Nasopharyngx dan oropharyx berhubungan melalui isthmus pharyngeum yang dibatasi oleh tepi pallatum molle dan dinding posterior pharynx. Sewaktu proses menelan dan berbicara isthmus pharyngeum tertutup oleh elevasi pallatum molle dan pembentukan lipatan Passavant di dinding dorsal pharynx. Pada masing-masing dinding lateral nasopharynx dijumpai ostium pharyngeal tuba auditivae, yakni di seblah dorsal dan caudal ujung posterior concha nasalis inferior.
-          Oropharynx (Mesopharyx)
Oropharynx terbentang mulai dari palatum molle sampai tepi atas epiglottis atau setinggi corpus vertebra cervical 2 dan 3 bagian atas. Di sebelah ventral berhubungan dengan cavum oris melalui isthmus oropharyngeum dan berhadapan dengan aspek pharyngeal lidah. Pada tiap sisi arcus palatopharyngeus dan arcus palatoglossus membentuk sinus tonsillaris yang berbentuk sgitiga dan berisi tonsila palatina.
-          Laryngpharynx (hipopharynx)
Laryngopharynx membentang dari tepi cranial epiglottis sampai tepi inferior cartilago cricoidea atau mulai setinggi bagian bawah corpus vertebra cervical 3 sampai bagian atas vertebra cervical 6. Ke arah caudal dilanjutkan sebagai oesophagus. Di dinding anterior terdapat pintu masuk ke dalam larynx (Aditus laryngis) dan di bawah aditus laryngis ini terdapar permukaan posterior cartilago arytaenoidea dan cartilago cricoidea.9
·         Larynx
Larynx menghubungkan faring dengan trakea. Larynx sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius, terdiri dari sel-sel silinder yang bersilia. Larynx merupakan tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh 9 kartilago yang terdiri atas:
1.      Cartilago tidak berpasangan
o   Cartilago thyreoidea
Cartilago thyreoidea merupakan tulang rawan larynx terbesar, terdiri atas dua lamina persegi empat yang tepi anteriornyua menyatu kea rah inferior, membentuk sebuah sudut yang menonjol, yang dikenal dengan promnentia laryngea (adam’s apple) yang pada laki-laki lebih besar.
o   Cartilago cricoidea
Cartilago cricoidea, berbentuk semu cicin stempel, membentuk bagian inferior larynx. Masing-masing sisi cartilago cricoidea, di batas antar lamina dan arcus, bersendi dengan cornu inferius cartilago thyreoidea. Tepi inferior cartilago cricoidea bergabubg dengan cincin pertama tulang rawan trakea melalui lig. Cricotrcleale. Di sebelah posterior, tepi superior lamina bersendi dengan basis cartilago arytaenoidea.
o   Epiglotis adalah cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar lidah. Epiglotis ini melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum. Plica aryepiglottica, berjalan ke belakang dari bagian samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk larynx.
2.      Cartilago berpasangan
o  Cartilago arytaenoidea
Cartilago arytaenoidea, terletak di bagian belakang larynx, sebelah superolateral lamina cartilago cricoidea. Berbentuk pyramid dengan tiga permukaan, dua pocessus, sebuah basis dan apex. Permukaan anterolateral mempunyai dua lekukan; pada lekukan yang atas melekat lig. Ventriculare, lekukan yang bawah melekat M. vocalis dan M. cricoarytaenoideus.
o  Cartilago corniculatum
Cartilago corniculatum terletak di sebelah posterior, dalam plica aryepiglottica. Bersandar pada apex cartilago arytaenoidea.
o   Cartilago cueniforme
Cartilago cueniforme berada dalam plica aryepigottica.

3.      Dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring
o   Pasangan bagian atas adalah lipatan ventricular (pita suara semua) yang tidak berfungsi saat produksi suara
o   Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada cartilago thyroidea, cartilago cricoidea, dan cartilago arytenoidea.
·         Trachea
Trachea adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. Trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan di belakang manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata thoracicae V dan bercabang menjadi dua bronchus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 - 20 cincin terbuka yang terbentuk dari tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkarannya di sebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.
·         Bronchus
            Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrae thoracicae V, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronchi (jamak) berjalan ke bawah dan menyamping, ke arah hilus pulmonalis. Bronchus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama di bawah arteri, disebut bronchus lobus inferior. Bronchus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus pulmo atas dan bawah.
            Cabang utama bronchus principalis dextra et sinistra bercabang menjadi bronchus lobaris sesuai dengan banyak lobus yang ada di pulmo dextra ataupun sinistra, kemudian menjadi lobus segmentalis sesuai dengan banyak segmen yang ada. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronchiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronchiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronchiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronchiolus terminalis berfungsi utama sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas pulmo.
            Alveolus yaitu tempat pertukaran gas asinus terdiri dari bronchiolus dan respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolaris terminalis merupakan akhir pulmo, asinus memiliki tangan kira-kira 0,5-1 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai saccus alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
·         Bronkiolus dan alveoli
Bronkiolus
Saluran berdiameter kira-kira 1 mm. Tidak terdapat tulang rawan atau kelenjar dalam mukosanya
Alveolus
Berbentuk seperti sarang tawon dan merupakan tempat bertukarnya oksigen dan kerbondioksida. Pada dinding alveolus terdapat lubang-lubang kecil berbentuk bulat atau lonjong yang disebut stigma alveolaris yang menghubungkan alveoli berdekatan (sirkulasi udara kolateral, mencegah atelektasis) di mana sekiranya bakteri menyebar bisa menyebabkan pneumonia.


·         Pulmo
            Pulmo terdapat dalam rongga thorax kiri dan kanan. Pulmo memilki :
1.  Apex, apex pulmo meluas ke dalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula
.
2.  Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada.
3.  Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
4.  Basis, berhadapan dengan diafragma.
            Pulmo dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi dan mencegah uap-uap H2O yang ada di alveolus saling tarik-menarik. Pulmo kanan dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan pulmo kiri dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior dan satu lingula pulmo sebagai bakal lobus media yang tidak sempurna. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, saccus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap pulmo mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Pulmo mendapat suplai darah dari arteri pulmonalis dan arteri bronchialis yang bercabang-cabang sesuai segmennya. Serta diinnervasi oleh saraf parasimpatis melalui nervus vagus dan simpatis melalui truncus simpaticus. Tekanan darah pulmoner adalah sekitar 15 mmHg. Fungsi sirkulasi pulmo adalah karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi sistemik dan parsial, maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa metabolisme dapat berlangsung bagi semua sel.9

N.  Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (sangat jarang disebabkan oleh Mycobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis à Ditemukan oleh Robert Koch dalam tahun 1882. Basil TBC dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati pada suhu 60˚C dalam 15-20 menit. Fraksi protein tuberculosisà nekrosis jaringan, lemakàsifat tahan asam dan merupakan faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epitaloid dan tuberkel. Basil TBC tidak membentuk toksin(baik endotoksin maupun eksotoksin).
M.tuberculosis merupakan kuman obligat aerob dan dapat tumbuh pada media buatan sederhana dengan gliserol atau senyawa lain sebagai sumber karbon serta garam ammonium sebagai sumber nitrogen. Basilnya tumbuh lambat dengan waktu generasi 12-14 jam, tumbuh paling baik pada suhu 37˚C dan 41˚C, bentuk koloni bakteri khas, tidak berpigmen serta memiliki aktivitas katalase dan peroksidase.2
Penularan:
·      Melalui udara hingga sebagian besar fokus primer dalam paru.
·      Selain melalui udara,penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. 
·      Kontak langsungà luka atau lecet di kulit.
·      Tuberkulosis congenital àsangat jarang dijumpai.

O.   Epidemiologi
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India dan Indonesia berturut-turut 1.828.000, 1.414.000 dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena masih relatif rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah dimasa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV  dari tahun ketahun. Suatu survei mengenai prevalensi TB yang dilaksanakan di 15 propinsi Indonesia tahun 1979-1982.4

Kesimpulan
Berdasarkan kasus didapatkan, anak berusia 5 tahun dengan keluhan Berdasarkan kasus didapatkan, anak berusia 5 tahun dengan keluhan batuk tidak kunjung sembuh sejak 2minggu, demam ringan terutama pada malam hari dan nafsu makan serta berat badan turun. Jadi, diagnosa yang tepat ialah Tuberkulosis paru dibantu dengan diagnosa yang dilihat dari hasil pemeriksaan penunjang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar