Tuberculosis Anak
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Tuberkulosis masih merupakan penyakit yang sangat
luas yang didapatkan di negara berkembang salah satunya Indonesia, baik
pada anak maupun pada orang dewasa yang juga dapat menjadi sumber infeksi. Penyakit ini mudah menular, seperti
halnya flu biasa dan cepat menyebar pada orang-orang yang hidup bersama
penderita, upaya pencegahan sejak dini telah dilakukan, yaitu dengan paket
imunisasi BCG pada balita. Walau demikian, Indonesia belum terbebas 100 % dari
penyakit ini. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi
akibat infeksi kuman Mycobacterium yang bersifat sistemis (menyeluruh) sehingga
dapat mengenai hampir seluruh organ tubuh, dengan lokasi terbanyak di
paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi yang pertama kali
terjadi.
Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman
mycobakterium tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh
dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi
primer. Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkin paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe. Tuberculosis merupakan
penyakit infeksi saluran napas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau
atau parinkin paru oleh basil mycobakterium tuberkulosis, dapat mengenai hampir
semua organ tubuh (meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe, dll)dengan lokasi
terbanyak diparu, yang biasanya merupakan lokasi primer.
A. Anamnesis
·
Identitas
pasien, menanyakan nama
lengkap pasien, umur, tanggal
lahir, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, pekerjaan, suku bangsa.
Data yang
didapati dari pasien yaitu, Anak
laki-laki usia 5 tahun.
·
Keluhan
utama, keluhan utama yang membuat datang ke dokter .
Data yang
didapati dari pasien yaitu, Batuk yang
tidak kunjung sembuh sejak 2 minggu yang lalu.
·
Keluhan
penyerta, keluhan penyerta yang dirasakan selain keluhan utama.
Data yang
didapati dari pasien yaitu, Demam ringan
terutama pada malam hari dan nafsu makan dan berat badan yang menurun.
·
Riwayat
penyakit keluarga, apakah di dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang
sama seperti yang dialami pasien.
Data yang
didapati yaitu, Tidak ada.
·
Riwayat
pengobatan, apakah ada obat yang diminum oleh pasien sebelum pasien
datang atau berobat ke dokter.
Data yang
didapati aitu, Tidak ada
B. Pemeriksaan Fisik
·
Memeriksa
keadaan umum, didapati pasien pada kesadaran compos mentis dan tampak
sakit ringan.
·
Pemeriksaan Tanda-tanda
vital, pasien didapati BB 15kg, TD 90/60 mmHg, frekuensi nafas
24x/menit, suhu 37.7°C, dan hal
lainnya dalam batas normal tidak didapati kelainan.
·
Inspeksi,
memperhatikan wajah dan konjungtiva apakah pucat atau tidak, bisa
dilihat apakah status gizi anak itu sedang baik
atau buruk. Amati bentuk
toraks penderita
selama inspirasi dan ekspirasi berulang karena pada keadaan ini kita bisa bisa
jumpai penyakit paru.
·
Palpasi, mungkin pada hal TBC juga tidak terlalu spesifik tapi
mungkin pada kasus ini sendiri pun kita bisa menentukan daerah
paru mana yang mungkin
sedang terjadi
inflamasi dengan menemukan adanya rasa nyeri yang dirasakan pasien pada saat kita melakukan penekanan pada sela iga pasien.
·
Perkusi, Mungkin kita bisa temukan kelainan dimana pada normalnya itu sendiri paru
memiliki suara sonor tapi jika pada pemriksaan kita temukan suara yang pekak
berarti kita mesti curiga bahwa mungkin pada jaringan paru tersebut sudah
terjadi penggantian oleh jaringan yang solid atau adanya cairan,
misalnya pada efusi pleura, empiema, fibrosis paru atau tumor paru.
·
Auskultasi, Cari kemungkinan terdapatnya suara-suara
yang patologis pada paru seperti wheezing, ronchi basah, stridor, dan
lain sebagainya.1
C. Working Diagnosis
Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis masih merupakan penyakit yang sangat
luas didapatkan di Negara yang berkembang seperti Indonesia, baik pada anak
maupun pada orang dewasa yang juga dapat menjadi sumber infeksi.
Penyakit tuberculosis pada bayi dan anak dapat disebut sebagai penyakit
tuberculosis primerdan merupakan suatu penyakit sistemik. Tuberkulosis primer biasanya mulai
secara perlahan-lahan sehingga sukar ditentukan saat timbulnya gejala pertama, tetapi kalau terdapat panas yang
naik turun dan lama dengan atau tanpa batuk dan pilek, anorexia, penurunan
berat badan dan anak lesu, harus difikirkan kemungkinan tuberculosis. Petunjuk
lain untuk diagnose tuberculosis ialah adanya kontak dengan penderita
tuberculosis dewasa. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, uji
tuberculin positif dan kelainan radiologis pada paru. Pada anak,biasanya basil
tuberculosis tidak selalu dapat ditemukan.
Penyakit ini jika tidak diobati sedini mungkin dan setepat-tepatnya dapat
menimbulkan komplikasi yang berat dan reifeksi
Berdasarkan
kasus didapatkan, anak berusia 5
tahun dengan keluhan batuk yang tidak kunjung sembuh disertai demam ringan dan
nafsu makan serta berat badan yang menurun.
Jadi, diagnosa sementara
yang didapatkan ialah anak ini menderita Tuberkulosis paru. Untuk diagnosa
pasti, dilihat hasil pemeriksaan penunjang.
Terdapat
beberapa sistem untuk mendiagnosis TBC pada anak serta diagnosis menurut WHO. Tabel
di bawah menunjukkan dasar diagnosis TBC anak dimana untuk negara berkembang
dengan fasilitas kurang lengkap,seseorang anak didiagnosa mengidap TB apabila
memenuhi 2 dari 6 kriteria yang ditetapkan.2
1.
Riwayat kontak erat dengan TB aktif dewasa
|
2.
Batuk lama dengan penurunan BB,demam lama dan keringat
|
3.
Foto rontgen paru
|
4.Uji
Mt: PPD RT 23 2TU (+)>10mm
; BCG (+) dengan indurasi >15mm
|
5.
Pemeriksaan mikrobiologis: Bilasan lambung
|
6.
Respon terhadap terapi OATà Berat badan naik,
gejala/tanda non spesifik berkurang.
|
Tabel 1.1 dasar diagnosis TB anak
D. Differential Diagnosis
Pneumoniae
Pneumonia adalah infeksi akut perenkim paru
yang meliputi alveolus dan jaringan interstitiil, yang ditandai oleh
demam, batuk, sesak (peningkatan frekuensi pernafasan), nafas cuping hidung,
retraksi dinding dada dan kadang-kadang sianosis.
Gejala klinis yang muncul tergantung dari umur pasien, dan
pathogen penyebabnya, sedangkan pada anak-anak bisa tidak muncul gejala. Pada
neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada, grunting, dan
sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih tua jarang ditemukan grunting.
Gejala yang sering terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk,panas,
dan iritabel.
Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah
demam, batuk ( non produktif / produktif ), takipneu, dan dispneu yang ditandai
dengan retraksi dinding dada. Pada kelompok anak sekolah dan remaja, dapat
dijumpai panas, batuk (non produktif / produktif ), nyeri dada, nyeri kepala,
dehidrasi dan letargi. Pada semua kelompok umur, akan dijumpai adanya nafas
cuping hidung. 3
Bronkitis
Bronkitis adalah suatu peradangan
pada saluran bronkial atau bronki. Peradangan tersebut disebabkan oleh virus,
bakteri, merokok, atau polusi udara. Definisi bronkitis
kronis adalah batuk disertai sputum setiap hari selama setidaknya 3 bulan dalam setahun selama paling
sedikit 2 tahun berturut-turut.
Gejala klinisnya biasa dimulai dengan batuk.
·
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada
awalnya pasien mengalami batuk produktif di pagi hari dan tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih
atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen.
·
Sesak nafas. Bila timbul infeksi, sesak napas semakin lama
semakin hebat. Terutama pada musim dimana udara dingin dan berkabut.
·
Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu).
·
Wheezing (mengi).Saluran napas menyempit dan selama
bertahun-tahun terjadi sesak progresif lambat disertai mengi yang semakin hebat
pada episode infeksi akut.
·
Pembengkakan pergelangan kaki dan tungkai kiri dan kanan.
·
Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna
kemerahan.
·
Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala
seperti pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit
otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. Pada bronkitis berat, setelah
sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5
hari dan batuk bias menetap selama beberapa minggu.3
Bronkitis asmatis
Asma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan yang
dihubungkan dengan hiper-responsif, keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan. Pemicu
yang berbeda-beda dapat menyebabkan eksaserbasi asma oleh karena inflamasi
saluran napas atau bronkospasme akut atau keduanya. Faktor yang dapat memicu
yaitu allergen, polusi udara, infeksi saluran napas, obat dan ekspresi emosi
berlebihan.
Mekanisme keterbatasan aliran udara yang bersifat akut ini bervariasi
sesuai dengan rangasangan. Allergen akan memicu terjadinya bronkhokonstriksi
akibat dari pelebpasan IgE dependent
dari mast sel saluran pernapasan dari mediator, termasuk di antaranya histamin,
prostaglandin, leukotrin sehingga akan terjadi kontraksi otot polos.
Penyempitan saluran pernapasan yang bersifat progresif yang disebabkan oleh
inflamasi saluran pernapasan dan atau peningkatan tonus otot polos bronkhioler
merupakan gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan
resistensi aliran, hiperinflasi pulmoner dan ketidakseimbangan ventilasi dan
perfusi. Apabila tidak dilakukan koreksi terhadap obstruksi saluran pernapasan
ini, akan terjadi gagal napas yang merupakan konsekuensi dari peningkatan kerja
pernapasan, inefisiensi pertukaran gas dan kelelahan otot pernapasan. Interaksi
kardiopulmoner dan sistem kerja paru sehubungan dengan obstruksi saluran napas.4
E. Pemeriksaan Penunjang
a.
Rontgen Paru
Gambar 1. adanya kalsifikasi parahiler kanan (Ghon
kompleks) disertai pembesaran kelenjar hillus kanan
|
Dengan
begitu, gambaran paru-paru tidak ’diganggu’ oleh bayangan jantung. Tetapi,
lagi-lagi keberadaan infiltrat bukan mutlak menunjukkan anak mengidap
TBC. Anak yang sedang batuk dengan dahak yang banyak, meski tidak
mengidap TB bila difoto rontgen dadanya, bisa memberikan gambaran
infiltrat. Oleh karenanya, foto rontgen harus dilakukan pada saat anak
dalam kondisi terbaik. Paling baik memang setelah anak sembuh dari
batuknya. Bila tidak memungkinkan, pilih waktu ketika batuknya
minimal. Sekali lagi, foto rontgen saja tidak dapat digunakan sebagai alat untuk mendiagnosis TBC.5
Gambaran radiologis paru sugestif TB :
1.
Pembesaran kelenjar hilus atau para
trakeal dengan/tanpa infiltrate
2.
Atelektasis segmen/lober
3.
Atelektasis, milier, kavitas, dan
kalsifikasi.
b.
Tes Darah
Parameter
yang diuji pada pemeriksaan darah adalah LED (laju endap darah) dan kadar
limfosit. Tetapi keduanya ini nilai diagnostiknya bahkan lebih rendah
daripada foto rontgen, sehingga hanya dapat digunakan sebagai data
pendukung. Pada saat
tuberkulosis baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit
meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibawah
normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah
leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah
mulai turun ke arah normal lagi.5
c.
Uji Sputum
Uji sputum dapat membantu diagnosis tuberkulosis yaitu dengan menemukan
adanya kuman BTA pada sputum penderita. Dalam hal ini sebelum diperiksa
penderita dianjurkan minum air sebanyak +2 liter dan diajarkan melakukan
refleks batuk agar mudah mendapatkan sputum. Namun pada anak-anak BTA dari
sputum bisa didapatkan dengan cara bilasan lambung karena pada anak-anak sulit
untuk mengeluarkan dahaknya. Kriteria sputum positif adalah bila ditemukan
sekurang-kurangnya 3 batang kuman BTA pada satu sediaan.5
d.
Tes Tuberkulin
Karena
tanda-tanda dan gejala TB pada anak sangat sulit dideteksi, satu-satunya cara
untuk memastikan anak terinfeksi oleh kuman TB, adalah melalui uji Tuberkulin
(tes Mantoux). Tes Mantoux ini hanya menunjukkan apakah seseorang terinfeksi Mycobacterium
tuberculosis atau tidak, dan sama sekali bukan untuk menegakkan diagnosa
atas penyakit TB. Sebab, tidak semua orang yang terinfeksi kuman TB lalu
menjadi sakit TB. Sistem imun tubuh mulai menyerang bakteri TB, kira-kira
2-8 minggu setelah terinfeksi. Pada kurun waktu inilah tes Mantoux mulai
bereaksi. Ketika pada saat terinfeksi daya tahan tubuh orang tersebut
sangat baik, bakteri akan mati dan tidak ada lagi infeksi dalam tubuh.
Namun pada orang lain, yang terjadi adalah bakteri tidak aktif tetapi bertahan
lama di dalam tubuh dan sama sekali tidak menimbulkan gejala. Atau pada
orang lainnya lagi, bakteri tetap aktif dan orang tersebut menjadi sakit TB.
Uji
ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah kecil (0,1 ml) kuman TBC, yang
telah dimatikan dan dimurnikan, ke dalam lapisan atas (lapisan dermis) kulit
pada lengan bawah. Lalu, 48 sampai 72 jam kemudian, tenaga medis harus
melihat hasilnya untuk diukur. Yang diukur adalah indurasi (tonjolan
keras tapi tidak sakit) yang terbentuk, bukan warna kemerahannya (erythema).
Ukuran dinyatakan dalam milimeter, bukan centimeter. Bahkan bila ternyata
tidak ada indurasi, hasil tetap harus ditulis sebagai 0 mm.
Secara umum, hasil tes Mantoux ini dinyatakan positif bila
diameter indurasi berukuran sama dengan atau lebih dari 10 mm. Namun, untuk
bayi dan anak sampai usia 5 tahun yang tanpa faktor resiko TB, dikatakan positif bila
indurasinya berdiameter 15 mm atau lebih. Hal ini dikarenakan pengaruh
vaksin BCG yang diperolehnya ketika baru lahir, masih kuat. Pengecualian
lainnya adalah, untuk anak dengan gizi buruk atau anak dengan HIV, sudah
dianggap positif bila diameter indurasinya 5 mm atau lebih. Namun
tes Mantoux ini dapat memberikan hasil yang negatif palsu (anergi), artinya
hasil negatif padahal sesungguhnya terinfeksi kuman TB. Anergi
dapat terjadi apabila anak mengalami malnutrisi berat atau gizi buruk (gizi
kurang tidak menyebabkan anergi), sistem imun tubuhnya sedang sangat menurun
akibat mengkonsumsi obat-obat tertentu, baru saja divaksinasi dengan virus
hidup, sedang terkena infeksi virus, baru saja terinfeksi bakteri TB, tata
laksana tes Mantoux yang kurang benar. Apabila dicurigai terjadi anergi,
maka tes harus diulang.4,5
F. Gejala Klinis
Penyakit TBC pada anak tidak
mempunyai gejala yang khas, bahkan sering tanpa gejala dan baru diketahui
adanya kelainan dengan pemeriksaan foto rontgen paru. Namun ada gejala
yang sering ditemukan pada anak penderita TBC, di antaranya:
·
Demam. Biasanya merupakan gejala awal, timbul pada sore dan malam
hari disertai keringat dan kemudian mereda. Demam dapat berulang beberapa waktu
kemudian.
·
Lemah dan Lesu (malaise). Gejala ini ditandai dengan rasa tidak
enak badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan bertambah kurus atau
berat badan tidak naik. Anak akan berpenampilan lesu dan kurang ceria.
·
Batuk. Batuk baru timbul bila telah terdapat gangguan di paru,
awalnya dapat berupa batuk kering, lama-kelamaan dapat berupa batuk berlendir.
Batuknya tetap bertahan lebih dari dua minggu walau telah mendapat pengobatan
atau batuk sering berulang lebih dari tiga kali dalam tiga bulan
berturut-turut.
·
Pembesaran Kelenjar Getah Bening. Kelenjar getah bening yang
merupakan salah satu benteng pertahanan terhadap serangan kuman, dapat membesar
bila diserang oleh kuman. Pada penderita TBC dapat ditemui pembesaran kelenjar
getah bening di sepanjang leher samping dan di atas tulang selangkangan.5
G. Penatalaksanaan
Non-Medika Mentosa
Tuberkulosis, termasuk tuberculosis
paru, diobati
dengan tuberkulostatik. Hanya kadang diperlukan tindakan bedah setelah mendapat
pengobatan secara teratur, terutama
pada pasien dengan sputum yang positif menetap. Tindak bedah dalam hal ini
mempunyai dua tujuan:
1.
Mempercepat
konversi sputum sehingga menghilangkan sumber penularan terhadap keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
2.
Mencegah
penyebaran secara bronkogenik bagi penderita itu sendiri.
Pada
penderita dengan sputum negatif sering ditemukan kerusakan pada paru dengan
komplikasinya, seperti infeksi sekunder atau perdarahan, yang juga dicegah
dengan operasi mengeluarkan sarang penyulit itu.6
Medika Mentosa
Diberikan OAT (Obat Anti TB) dengan ketentuan sebagai
berikut:
Pada sebagian besar kasus TB anak
pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah pemberian obat 6 bulan,
lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi klinis pada
TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila
dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak
menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.7
Obat
Antituberkulosis
|
Mekanisme
kerja
|
Efek
samping
|
Dosis
|
Isoniazid(INH)
|
Menghambat
biosintesa asam mikolat dan mencegah perpanjangan rantai asam lemak sangat
panjang.
INH
mudah menembus cairan serebrospinal,meskipun tiada peradangan, dan ke dalam
jaringan perkijuan.
INH
bekerja bakterisidal terhadap basil yang berkembang aktif
ekstraseluler dan basil di dalam makrofag.
|
Neuritis
perifer akibat inhibisi kompetitif metabolism piridoksin dan
hepatitis.
Hepatotoksisitas (usia>35)
|
10-20mg /kgBB/hari peroral
selama 18-24 bulan.
|
Rifampisin
|
Menghambat
DNA-dependent RNA polymerase dari mikrobakterium dan mikroorganisme lain.
Bakterisidal.
|
Jarang
serius Flu
like syndrome, nefritis interstitialis.
Intermittenà Hepatorenal syndrome.
|
10-15mg/ kgBB/hari peroral
selama 6-9 bulan.
|
Streptomisin
|
Bakterisidal
Menekan
pertumbuhan kuman.
|
Nefrotoksik,
gangguan N. VII.
|
30-50mg/ kgBB/ hari dengan
maksimum 750mg/hari selama 1-3 bulan kemudian dilanjut 2-3x seminggu selama 1-3
bulan.
|
Pirazinamid
|
Belum
diketahui
Bakterisidal.
|
Ikterusà SGOT SGPT ⬆.
|
30-35mg/ kgBB/hari peroral 2x
sehari selama 4-6 bulan.
|
Etambutol
|
Menghambat
sintesis metabolisme selàkuman mati.
|
Neuritis
retrobulbar.
|
20mg/ kgBB/hari peroral pada
waktu lambung kosong 1x sehari selama 1 tahun.
|
Tabel 1.2 Obat
Tuberkulosis
H. Komplikasi
Efusi Pleura
Efusi
Pleura adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah
rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada.
Dalam keadaan normal, hanya ditemukan selapis cairan tipis yang memisahkan
kedua lapisan pleura. Jenis cairan lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga
pleura adalah darah, nanah, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung
kolesterol tinggi. Efusi
pleura dapat terjadi 6-12 bulan setelah terbentuknya kompleks primer,kalau
efusi disebabkan oleh penyebaran hematogen, maka dapat terjadi
lebih cepat.
Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa
menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak
nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika
penderita batuk atau bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak
menunjukkan gejala sama sekali.7
Gejala
lainnya yang mungkin ditemukan:
•
Batuk
•
Cegukan
•
pernafasan
yang cepat
•
nyeri
perut.
Komplikasi lainnya :
Dapat terjadi komplikasi
pada tulang dan kelenjar getah bening permukaan(supefisial) dapat terjadi
akibat penyebaran hematogen hingga dapat terjadi dalam 6 bulan setelah
terbentuknya kompleks primer.
Pembesaran
kelenjar getah bening yang terkena infeksi dapat menyebabkan atelektasis karena
menekan bronkus hingga tampak sebagai perselubungan segmen atau lobus, sering
lobus tengah paru kanan. Selain itu, atelektasis dapat terjadi karena
konstriksi bronkus pada tuberculosis dinding bronkus, tuberkuloma dalam lapisan
otot bronkus atau sumbatan oleh gumpalan kiju dalam lumen bronkus.7
I. Pencegahan
BCG diberikan pada usia 0-3 bulan
secara intrakutan. Imunisasi BCG tidak bisa mencegah dari penyakit TB, akan
tetapi bisa mencegah dari penyakit TB berat seperti TB milier dan meningitis
TB. Bila ibu atau anggota keluarga yang dekat menderita penyakit TBC, maka
imunisasi BCG pada bayi yang baru lahir perlu diberikan segera setelah lahir.
Namun bila tidak ada anggota keluarga yang terkena, maka imunisasi BCG dapat
diberikan sesuai dengan jadwal pemberian posyandu atau puskesmas, yaitu pada
usia dua bulan. Vaksin BCG sebaiknya diberikan sedini mungkin setelah anak
lahir. Ini mengingat prevalensi penyakit tuberkulosis di Indonesia masih tinggi
dan kekebalan terhadap penyakit itu tidak diturunkan dari ibu karena jenisnya
adalah imunitas seluler.
Imunisasi BCG memang tidak menjamin
seratus persen terbebas dari kemungkinan tertular penyakit ini, karena daya
kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20 persen. Walau demikian
imunisasi tetap perlu diberikan karena tetap bermanfaat untuk memperkecil
kemungkinan tertular dan memperingan gejala bila terjangkit penyakit TBC.
Karena manfaat vaksin BCG untuk
pencegahan penyakit tuberkulosis pada anak rendah, maka pencegahan utama agar
anak tidak terkena TBC adalah jangan kontak dengan penderita TBC dewasa. TBC
pada anak tidak lepas hubungannya dengan penyakit TBC pada orang dewasa. Ini
karena penularan TBC pada anak berasal dari orang dewasa yang menderita TBC.
Dengan demikian pemberantasan TBC pada orang dewasa sangat penting. Pada anak
yang menderita TBC tidak bisa menularkan TBC, karena di dalam dahaknya tidak
mengandung kuman TBC.
Selain itu faktor lingkungan dan
daya tahan tubuh yang baik dapat membantu mencegah terjangkitnya seseorang
terhadap penyakit TBC. Sinar matahari yang cukup, sirkulasi udara yang baik
akan mencegah pertumbuhan dan bahkan dapat melemahkan kuman TBC. Kuman ini
tidak tahan sinar matahari dan ultra violet. Daya tahan tubuh yang baik, gizi
yang cukup akan meningkatkan kemampuan badan dalam menangkis serangan kuman
TBC.6
J. Prognosis
Dipengaruhi oleh banyak faktor seperti
umur anak, berapa lama telah mendapat infeksi, luasnya lesi, keadaan gizi,
keadaan sosial ekonomi keluarga, diagnosis dini, pengobatan adekuat dan adanya
infeksi lain seperti morbili, pertusis, diare yang berulang dan
lain-lain. Jika deteksi cepat, penanganan yang benar dan pasien
memberikan kerjasama yang baik dalam pengobatan, maka prognosisnya adalah baik.
Apabila gejala-gejala tersebut ada
dan tidak hilang setelah diobati, sebaiknya waspada akan adanya TBC pada anak,
apalagi ada riwayat kontak (hubungan yang erat dan sering) dengan penderita TBC
dewasa.
K. Fisologi
Mekanisme
Respirasi
Pernafasan yang lazim digunakan mencakup
dua proses yaitu pernafasan luar (eksterna) yang merupakan penyerapan O2
dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara keseluruhan serta dalam
pernafasan dalam (interna) yang merupakan penggunaan O2 dan
pembentukan CO2 oleh sel-sel. Fungsi utama sistem respirasi ialah
untuk membekalkan tubuh dengan oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida. Untuk
menyempurnakan fungsi ini, sekurang-kurangnya diperlukan 4 proses untuk berlaku
yang secara kolektif disebut sebagai respirasi yaitu:
1. Ventilasi
pulmonal – pergerakan udara masuk dan keluar dari paru-paru sehingga tersedia
gas yang terus menerus ditukar dan segar. Biasanya disebut bernafas.
2. Respirasi
eksternal – pergerakan oksigen dari paru ke darah dan karbon dioksida dari
darah ke paru-paru.
3. Transport
gas – pengangkutan oksigen dari paru ke jaringan tubuh dan pengangkutan karbon
dioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Ia dilakukan dengan sistem
kardiovaskular menggunakan darah sebagai cairan transportasi.
4. Respirasi
internal – pergerakan oksigen dari darah ke jaringan tubuh dan karbon dioksida
dari jaringan tubuh ke darah.8
a)
Inspirasi
Proses inspirasi merupakan suatu proses
aktif di mana otot-otot inspirasi berkontraksi. Otot utama yang berkontraksi
untuk menghasilkan inspirasi sewaktu pernafasan tenang termasuklah diafragma
dan otot interkostal eksternus. Inspirasi berlaku secara umum mengikut urutan
peristiwa seperti berikut:
1. Pada
permulaan inspirasi, otot-otot inspirasi utama berkontraksi di mana diafragma
(dirangsang oleh nervus phrenicus) menurun. Apabila difragma berkontraksi, ia
akan menurun dan menyebabkan volume thoraks bertambah secara vertikal. Manakala
apabila otot interkostal externus berkontraksi ia akan menyebabkan penambahan
volume thoraks pada dimensi lateral dan anteroposterior.
2. Hal
ini menyebabkan volume rongga thoraks diperbesar secara keseluruhannya.
Tulang-tulang iga terangkat dan sternum bergerak ke anterior atas.
3. Paru-paru
dipaksa meregang dan menjadi luas untuk mengisi rongga thoraks yang membesar.
Volume intrapulmonal meningkat akibat dari regangan paru.
4. Apabila
paru membesar, tekanan intra alveoli menurun dari 760 mmHg menjadi 759 mmHg (-1
mmHg) dan mengakibatkan ia lebih rendah dari tekanan atmosfer (760 mmHg).
5. Udara
(gas) mengalir ke dalam paru-paru menuruni gradien tekanan sehingga tekanan
intra alveol menjadi 0 atau menyamai tekanan atmosfer.
Inspirasi kuat melibatkan kontraksi
diafragma dan otot interkostal externus dengan lebih kuat dengan membawa
otot-otot inspirasi tambahan sama-sama berperan dalam membesarkan lagi rongga
thoraks. Otot-otot inspirasi tambahan antaranya termasuklah M. Sternocleidomastoideus,
M. Pektolaris
major dan scalenus. Kontraksi otot-otot inspirasi tambahan ini menyebabkan
kenaikan sternum dan dua tulang iga pertama sehingga menyebabkan rongga thoraks
bagian atas diperbesar. Perluasan yang lebih ini menyebabkan penurunan tekanan
intra alveol yang lebih dan mengakibatkan pengaliran udara ke dalam paru dengan
lebih banyak.8
b)
Ekspirasi
Proses ekspirasi secara umumnya di mana
udara dibawa keluar dari paru. Ekspirasi tenang merupakan suatu proses pasif
dan ia melibatkan relaksasi otot-otot inspirasi yaitu diafragma dan otot
interkostal externus. Peristiwa yang berlaku dalam menyebabkan ekspirasi
termasuk:
1. Otot-otot
inspirasi berelaksasi di mana diafragma menaik. Penaikan diafragma ini
mengakibatkan volume rongga thoraks berkurang dalam dimesi vertikal. Selain
itu, relaksasi otot interkostal externus menyebabkan mengurangan volume rongga
thoraks dalam dimensi lateral dan anteroposterior.
2. Relaksasi
otot-otot inspirasi membawa kepada pengurangan volume rongga thoraks secara
keseluruhan. Hal ini akan menyebabkan tulang-tulang iga untuk turut menurun ke
bawah.
3. Jaringan
paru yang elastis kembali ke kedudukan semula sesudah teregang. Ini merupakan
daya recoil pasif jaringan paru. Recoilnya paru membawa kepada berkurangnya
volume intrapulmonal.
4. Volume
paru yang berkurang mengakibatkan tekanan intra alveol meningkat dari 760 mmHg
menjadi 761 mmHg (+1 mmHg) dan menjadi lebih tinggi dari tekanan atmosfer.
5. Udara
mengalir keluar dari paru menuruni gradient tekanan sehingga tekanan intra
alveol menjadi 0 atau menyamai tekanan atmosfer (760 mmHg).
Ekspirasi kuat atau ekspirasi aktif
membutuhkan kontraksi dari otot-otot ekspirasi yaitu otot dinding perut dan
otot interkostal internus. Kontraksi otot dinding perut (abdominal muscles) meningkatkan tekanan intra-abdominal menyebabkan
diafragma terdorong ke atas dan mengurangkan dimensi vertikal rongga thoraks.
Kontraksi otot interkostal internus pula menurunkan volume rongga thoraks dalam
dimensi lateral dan anteroposterior dengan meratakan sternum dan tulang-tulang
iga.8
Batuk
Batuk merupakan mekanisme refleks yang
sangat penting untuk menjaga jalan napas tetap tebuka (paten) dengan cara
menyingkirkan hasil sekresi lendir yang menumpuk pada jalan napas. Tidak hanya lendir yang
akan disingkirkan oleh refleks batuk tetapi juga gumpalan darah dan benda
asing. Namun, sering terdapat batuk
yang tidak bertujuan untuk mengeluarkan lendir maupun benda asing, seperti batuk yang
disebabkan oleh iritasi jalan napas. Jalan napas dapat menjadi hiperaktif
sehingga hanya dengan iritasi sedikit saja sudah dapat menyebabkan refleks
batuk. Daerah
pada jalan napas yang peka terhadap rangsangan batuk adalah laring, trakea dan bronkus utama. Selain pada jalan
napas, daerah
yang juga dapat merangsang refleks batuk adalah pleura, membran timpani dan terkadang iritasi
pada visera juga menimbulkan refleks batuk.
Mekanisme batuk memerlukan adanya
penutupan glotis dan peningkatan tekanan intratoraks. Batuk merupakan gejala
yang paling sering ditemukan ada infeksi jalan napas atas. Jika batuk tidak hilang
selama tiga minggu sebaiknya diakukan pemeriksaan foto toraks untuk menentukan
kemungkinan adanya tuberkulosis, karsinoma bronkus atau penyakit paru
lain. Batuk
juga terjadi pada perokok yang biasanya menganggap batuknya sebagai batuk
normal. Batuk
termasuk elemen utama untuk membersihkan saluran napas dari dahak dan dahak merupakan
stimulus terjadinya batuk. Oleh karena itu, pada pasien yang
mempunyai produksi dahak berlebihan, upaya penekanan batuk menjadi berbahaya
karena dahak akan menumpuk. Inflamasi mukosa dan iritasi pada sistem
pendengaran menyebabkan releks batuk menjadi lebih peka terhadap rangsangan. Batuk kering dan
nonproduktif dapat sangat menganggu. Batuk yang sangat berlebihan dapat
menyebabkan penyebaran infeksi, cedera pada jalan napas, pneumotoraks, patah tulang iga, hemoptisis dan dapat memperberat
gejala gagal jantung.8
L. Patofisiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit yang
ditularkan melalui kuman yang dibatukkan penderita tuberculosis ke udara dalam
bentuk droplet nuclei. Didalam udara bebas kuman ini dapat menetap selama 1-2
jam. Hal ini tergantung dari ada atau tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi
yang baik dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap yang ventilasinya
jelek kuman dapat bertahan hidup lebih lama. Bila orang sehat menghisap kuman
yang dibatukan oleh penderita TB maka kuman tersebut akan segera menempel pada
jalan nafas atau paru-paru. Untuk selanjutnya mengalami proses yang dikenal
sebagai vocus primer. Tapi kebanyakan partikel ini akan mati atau dibersihkan
oleh makrofag keluar dari trakheobronkeal beserta gerakan silia dengan
sekretnya. Kuman dapat juga masuk melalui luka dari kulit tetapi hal ini jarang
terjadi. Pada stadium permulaan setelah pembentukan Fokus primer atau terjasi
beberapa kemungkinan, yaitu penyebaran melalui bronkogen, penyebaran melalui
limfogen, ataupun penyebaran melalui hematogen. Tetapi keadaan ini hanya
berlangsung beberapa saat. Penyebaran akan berhenti jika kuman yang masuk
sedikit dan telah terbentuk daya tahan tubuh yang spesifik terhadap basil TB.
Apabila jumlah kumannya sangat banyak sedangkan daya tahan tubuh melemah akan
berakibat timbulnya tuberculosis milier.
Kelanjutan dari penyebaran tersebut
dapat terjadi penyebaran infeksi primer ke saluran getah bening dan kelenjar
getah bening setempat (local) sehingga terbentuklah suatu kompleks primer.
Infeksi primer dan komplek primer dinamakan tuberculosis primer. Dari kelenjar
limfe basil TB dapat menyebar melalui kelenjar limfe dan pembuluh darah ke
organ yang lain, terutama organ yang memiliki tekanan oksigen tinggi seperti
hepar, ginjal, tulang, otak dan bagian lain dari paru. Basil TB ini dapat
langsung menyebabkan penyakit di organ-organ tersebut atau hidup dorman dalam
makrofag jaringan dan dapat menyebabkan TB aktif bertahun-tahun kemudian.
Tuberculosis juga dapat hilang melalui resolusi, kalsifikasi membentuk kompleks
Ghon, atau terjadi nekrosis dengan masa perkejuan yang dibentuk dari makrofag.
Apabila keju mencair maka basil dapat berkembang di ekstra sel sehingga dapat
meluas di jaringan paru dan terjadi pneumonia, lesi endotrakheal, pleuritis,
dan dapat menyebar secara bertahap menyebabkan lesi di organ-organ lainnya atau
dikenal dengan TB milier. 9
M. Anatomi
·
Nasi
(Hidung)
Nasi (hidung) dibentuk oleh os nasale
dan tulang rawan. Terdapat nares anterior yang menghubungkan rongga hidung atau
cavum nasi dengan dunia luar dan akan bermuara menuju vestibulum nasi. Cavum
nasi dilapisi selaput lendir yang sangat kaya pembuluh darah, dan berhubungan
dengan pharynx dan selaput lendir pada sinus yang mempunyai lubang yang
berhubungan dengan rongga hidung. Septum nasi memisahkan cavum nasi menjadi
dua. Struktur tipis ini terdiri dari tulang keras dan tulang rawan, dapat
membengkok ke satu sisi lain, dan kedua sisinya dilapisi oleh membran mukosa.
Di bagian posterior septum nasi, terdapat os ethmoidale di superior dan vomer
di inferiornya.
Rongga hidung terdiri atas tiga region,
yakni
-
Vestibulum
Vestibulum hidung
merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat di sebelah dalam nares.
Vestibulum ini dilapis oleh kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk
menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap.
-
Penghidu
Region penghidu berada
di sebelah cranial dimulai dari atap rongga hidung meluas sampai setinggi
concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha
tersebut.
-
Pernafasan, bagian
rongga hidung selebihnya.
Dinding lateral hidung
terdapat tiga elevasi yakni:
a. concha superior
b. concha media
c. concha inferior.
Dasar cavum nasi
dibentuk oleh os maxilla dan os palatinum. Sedangkan atap cavum nasi terdiri
atas 3 daerah yang sesuai dengantulang yang membentuk atap tersebut, yakni
region sphemoidalis, ethmoidalis, dan frontonasal. Membrana mukosa olfactorius,
pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf
khusus yang mendeteksi bau yaitu nervus olfactorius.
·
Pharynx
Pharynx adalah saluran
berotot yang berjalan dari dasar
tengkorak sampai persambungannya dengan oesophagus sebatas tulang rawan
cricoid. Terletak di belakang larynx (laryngopharyngeal). Di sebelah dorsal dan
lateral pharynx terdapat jaringan penyambung longgar yang menempati spatium
peripharyngeal.
Pharynx dibagi menjadi
tiga bagian, yakni:
-
Nasopharynx (Epipharyx)
Nasopharynx berada di
sebelah dorsal hidung dan sebelah cranial palatum molle. Nasopharyngx dan
oropharyx berhubungan melalui isthmus pharyngeum yang dibatasi oleh tepi
pallatum molle dan dinding posterior pharynx. Sewaktu proses menelan dan
berbicara isthmus pharyngeum tertutup oleh elevasi pallatum molle dan
pembentukan lipatan Passavant di dinding dorsal pharynx. Pada masing-masing
dinding lateral nasopharynx dijumpai ostium pharyngeal tuba auditivae, yakni di
seblah dorsal dan caudal ujung posterior concha nasalis inferior.
-
Oropharynx (Mesopharyx)
Oropharynx terbentang
mulai dari palatum molle sampai tepi atas epiglottis atau setinggi corpus
vertebra cervical 2 dan 3 bagian atas. Di sebelah ventral berhubungan dengan
cavum oris melalui isthmus oropharyngeum dan berhadapan dengan aspek pharyngeal
lidah. Pada tiap sisi arcus palatopharyngeus dan arcus palatoglossus membentuk
sinus tonsillaris yang berbentuk sgitiga dan berisi tonsila palatina.
-
Laryngpharynx
(hipopharynx)
Laryngopharynx
membentang dari tepi cranial epiglottis sampai tepi inferior cartilago
cricoidea atau mulai setinggi bagian bawah corpus vertebra cervical 3 sampai
bagian atas vertebra cervical 6. Ke arah caudal dilanjutkan sebagai oesophagus.
Di dinding anterior terdapat pintu masuk ke dalam larynx (Aditus laryngis) dan
di bawah aditus laryngis ini terdapar permukaan posterior cartilago
arytaenoidea dan cartilago cricoidea.9
·
Larynx
Larynx menghubungkan
faring dengan trakea. Larynx sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius,
terdiri dari sel-sel silinder yang bersilia. Larynx merupakan tabung pendek
berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh 9 kartilago yang terdiri
atas:
1. Cartilago
tidak berpasangan
o Cartilago
thyreoidea
Cartilago thyreoidea
merupakan tulang rawan larynx terbesar, terdiri atas dua lamina persegi empat
yang tepi anteriornyua menyatu kea rah inferior, membentuk sebuah sudut yang
menonjol, yang dikenal dengan promnentia laryngea (adam’s apple) yang pada laki-laki lebih besar.
o Cartilago
cricoidea
Cartilago cricoidea,
berbentuk semu cicin stempel, membentuk bagian inferior larynx. Masing-masing
sisi cartilago cricoidea, di batas antar lamina dan arcus, bersendi dengan
cornu inferius cartilago thyreoidea. Tepi inferior cartilago cricoidea
bergabubg dengan cincin pertama tulang rawan trakea melalui lig. Cricotrcleale.
Di sebelah posterior, tepi superior lamina bersendi dengan basis cartilago
arytaenoidea.
o Epiglotis
adalah cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar
lidah. Epiglotis ini melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum. Plica
aryepiglottica, berjalan ke belakang dari bagian samping epiglottis menuju
cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk larynx.
2. Cartilago
berpasangan
o Cartilago
arytaenoidea
Cartilago arytaenoidea,
terletak di bagian belakang larynx, sebelah superolateral lamina cartilago
cricoidea. Berbentuk pyramid dengan tiga permukaan, dua pocessus, sebuah basis
dan apex. Permukaan anterolateral mempunyai dua lekukan; pada lekukan yang atas
melekat lig. Ventriculare, lekukan yang bawah melekat M. vocalis dan M.
cricoarytaenoideus.
o Cartilago
corniculatum
Cartilago corniculatum
terletak di sebelah posterior, dalam plica aryepiglottica. Bersandar pada apex
cartilago arytaenoidea.
o Cartilago
cueniforme
Cartilago cueniforme
berada dalam plica aryepigottica.
3. Dua
pasang lipatan lateral membagi rongga laring
o Pasangan
bagian atas adalah lipatan ventricular (pita suara semua) yang tidak berfungsi
saat produksi suara
o Pasangan
bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada cartilago thyroidea,
cartilago cricoidea, dan cartilago arytenoidea.
·
Trachea
Trachea adalah tabung
fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. Trachea berjalan
dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan di belakang
manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan
corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata thoracicae V dan
bercabang menjadi dua bronchus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 - 20 cincin
terbuka yang terbentuk dari tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan
fibrosa dan yang melengkapi lingkarannya di sebelah belakang trachea, selain
itu juga membuat beberapa jaringan otot.
·
Bronchus
Bronchus
yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira vertebrae
thoracicae V, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi oleh jenis
sel yang sama. Bronchi (jamak) berjalan ke bawah dan menyamping, ke arah hilus
pulmonalis. Bronchus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada
yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah
cabang utama di bawah arteri, disebut bronchus lobus inferior. Bronchus kiri
lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri
pulmonalis sebelum di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus
pulmo atas dan bawah.
Cabang
utama bronchus principalis dextra et sinistra bercabang menjadi bronchus
lobaris sesuai dengan banyak lobus yang ada di pulmo dextra ataupun sinistra,
kemudian menjadi lobus segmentalis sesuai dengan banyak segmen yang ada.
Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil,
sampai akhirnya menjadi bronchiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil
yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronchiolus terminalis memiliki
garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronchiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang
rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.
Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronchiolus terminalis berfungsi
utama sebagai penghantar udara ke tempat pertukaran gas pulmo.
Alveolus
yaitu tempat pertukaran gas asinus terdiri dari bronchiolus dan respiratorius
yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya.
Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolaris
terminalis merupakan akhir pulmo, asinus memiliki tangan kira-kira 0,5-1 cm.
Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai saccus
alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
·
Bronkiolus dan alveoli
Bronkiolus
Saluran berdiameter
kira-kira 1 mm. Tidak
terdapat tulang rawan atau kelenjar dalam mukosanya
Alveolus
Berbentuk seperti sarang tawon dan merupakan tempat
bertukarnya oksigen dan kerbondioksida. Pada dinding alveolus
terdapat lubang-lubang kecil berbentuk bulat atau lonjong yang disebut stigma
alveolaris yang menghubungkan alveoli berdekatan (sirkulasi udara kolateral,
mencegah atelektasis) di mana sekiranya bakteri menyebar bisa menyebabkan pneumonia.
·
Pulmo
Pulmo
terdapat dalam rongga thorax kiri dan kanan. Pulmo memilki :
1. Apex, apex pulmo meluas ke dalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula.
1. Apex, apex pulmo meluas ke dalam leher sekitar 2,5 cm diatas calvicula.
2. Permukaan
costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada.
3. Permukaan
mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.
4. Basis,
berhadapan dengan diafragma.
Pulmo
dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga
pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi dan mencegah
uap-uap H2O yang ada di alveolus saling tarik-menarik. Pulmo kanan dibagi atas
tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan pulmo kiri
dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior dan satu lingula pulmo
sebagai bakal lobus media yang tidak sempurna. Tiap lobus dibungkus oleh
jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial
venula, ductus alveolar, saccus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap
pulmo mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas
untuk tempat permukaan/pertukaran gas. Pulmo mendapat suplai darah dari arteri
pulmonalis dan arteri bronchialis yang bercabang-cabang sesuai segmennya. Serta
diinnervasi oleh saraf parasimpatis melalui nervus vagus dan simpatis melalui
truncus simpaticus. Tekanan darah pulmoner adalah sekitar 15 mmHg. Fungsi
sirkulasi pulmo adalah karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen
diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi sistemik dan
parsial, maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa metabolisme dapat
berlangsung bagi semua sel.9
N. Etiologi
Tuberkulosis
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium bovis (sangat
jarang disebabkan oleh Mycobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis à Ditemukan oleh Robert
Koch dalam tahun 1882. Basil TBC dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu
dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati pada suhu 60˚C dalam 15-20
menit. Fraksi protein tuberculosisà nekrosis jaringan,
lemakàsifat tahan asam dan
merupakan faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epitaloid
dan tuberkel. Basil TBC tidak membentuk toksin(baik endotoksin maupun
eksotoksin).
M.tuberculosis merupakan
kuman obligat aerob dan dapat tumbuh pada media buatan sederhana dengan
gliserol atau senyawa lain sebagai sumber karbon serta garam ammonium sebagai
sumber nitrogen. Basilnya tumbuh lambat dengan waktu generasi 12-14 jam, tumbuh
paling baik pada suhu 37˚C dan 41˚C, bentuk koloni bakteri khas, tidak
berpigmen serta memiliki aktivitas katalase dan peroksidase.2
Penularan:
·
Melalui
udara hingga sebagian besar fokus primer dalam paru.
·
Selain
melalui udara,penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil
tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis.
·
Kontak
langsungà luka atau lecet di
kulit.
·
Tuberkulosis
congenital àsangat jarang
dijumpai.
O. Epidemiologi
Indonesia
adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan
India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di China, India dan Indonesia
berturut-turut 1.828.000, 1.414.000 dan 591.000 kasus. Perkiraan kejadian BTA
di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998. Berdasarkan
survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB
menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka
kejadian TB di Indonesia relatif terlepas dari angka pandemi infeksi HIV karena
masih relatif rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah dimasa
datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ketahun. Suatu survei mengenai
prevalensi TB yang dilaksanakan di 15 propinsi Indonesia tahun 1979-1982.4
Kesimpulan
Berdasarkan kasus didapatkan, anak
berusia 5 tahun dengan keluhan Berdasarkan kasus
didapatkan, anak berusia 5 tahun dengan keluhan batuk tidak kunjung sembuh
sejak 2minggu, demam ringan terutama pada malam hari dan nafsu makan serta
berat badan turun. Jadi, diagnosa yang tepat
ialah Tuberkulosis paru dibantu dengan diagnosa yang
dilihat dari
hasil pemeriksaan
penunjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar