Makalah Kelompok
Eclampsia Pada
Ibu Hamil
Kelompok C – 1
Jl. Terusan Arjuna
No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Pendahuluan
Eklampsia dan pre-eklampsia dulunya dikenal dengan
istilah toksemia gravidarum, karena diperkirakan adanya racun dalam aliran
darah. Namun istilah ini sudah tidak dipakai lagi karena mencakup berbagai
penyakit hipertensif dalam kehamilan dengan etiologi berbeda-beda. Di Indonesia
eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu dan perinatal yang tinggi.
Oleh karena itu, diagnosis dini pre-eklampsia perlu dilaksanakan untuk
menurunkan angka mortalitas ibu dan anak.
Pembahasan
A. Anamnesis
Hal-hal yang ditanyakan pada pasien dengan anamnesis
ataupun alloanamnesis, yaitu :
·
Menanyakan Nama/Kelamin/Umur ?
·
Menanyakan Alamat ?
·
Menanyakan Keluhan utama ?
·
Menanyakan Keluhan penyerta ?
·
Menanyakan Sudah menikah atau belum ?
bila sudah untuk pertama kali atau tidak ?
·
Menanyakan Nama Suami/keluarga terdekat
?
·
Menanyakan Pekerjaan/pendidikan terakhir
?
·
Menanyakan Hamil untuk pertama atau
lebih ?
·
Menanyakan Apakah ada komplikasi pada kehamilan terdahulu
?
·
Menanyakan Pernah terjadi keguguran atau tidak, bila
pernah berapa kali dan
pada umur berapa ketika terjadi ?
·
Menanyakan Bila sudah persalinan, ini persalinan ke berapa ?
·
Menanyakan Cara persalinan terdahulu (jika Sectio Caesarea apakah
alasannya)
Hal-hal yang harus ditanyakan
menjurus kepada keadaan preeklamsia:
·
Apakah ada gejala-gejala disfungsi sistem saraf
pusat, seperti sakit kepala berat yang menetap, penglihatan kabur.
·
Apakah sebelum hamil
pasien memiliki riwayat hipertensi
·
Apakah pasien memiliki
riwayat epilepsi
·
Apakah pasien pernah
mengalami trauma kepala
·
Apakah pasien mempunyai
riwayat penyakit serebrovaskular
·
Apakah pasien memiliki
riwayat tumor serebri atau meningitis maupun ensefalitis
o
Latar
Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
·
Jumlah
Saudara
·
Status
Ekonomi Keluarga
·
Kondisi
Rumah
B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Umum
1. Ibu
Kesadaran :
Tidak sadarkan diri (Koma)
Tekanan Darah :
180/20 mmHg
Nadi :
72x Menit
2. Anak
Denyut
Jantung anak : 132/m , teratur.
b. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
a. Wajah : Tampak edema
b. Tangan :
Tampak edema
c. Perut : Perlu
diperhatikan bentuk, pembesaran, pergerakan pernapasan, kondisi
kulit (tebal, kriput dan striae), jaringan parut operasi.
d. Kaki : Tampak Edema
Palpasi
Sebelum
dilakukan, kandung kemih dikosongkan terlebih dahulu, pasien
berbaring dengan bahu dan kepala lebih tinggi. Dinding perut harus lemas dan
bila kontraksi harus ditunggu dulu. Lalu suhu tangan pemeriksa disesuaikan
dengan pasien supaya tidak kontraksi (gosokkan kedua tangan sebelum palpasi).
Beritahu
pasien bahwa perutnya akan diperiksa sehingga perut pasien tidak menegang dan
bernapas biasa, kedua tungkai ditekuk sedikit dan pasien disuruh bernapas
dalam.
Cara melakukan
palpasi ialah menurut Leopold yang terdiri dari 4 bagian ;
a. Leopold
I
o
Menentukan
tinggi fundus uteri sehingga usia kehamilan bisa diketahui.
o Menentukan
bagian janin mana yang ada di uteri
b. Leopold
II
o
Menentukan batas samping uterus
dan letak punggung janin pada letak memanjang
o Pada letak
lintang ditentukan letak kepala
c. Leopold
III
o
Menentukan bagian janin yang terletak
disebelah bawah
d. Leopold
IV
o
Menentukan berapa bagian dari kepala
yang masuk pintu atas panggul (PAP)
o
Bila kepala belum masuk PAP maka akan
teraba balotement kepala.1
Leopold 4 tidak
dilakukan kalau kepala masih tinggi.
n Sebelum bulan ke tiga
fundus uteri dapat diraba dari luar ;
·
Akhir bulan ke-3 (12 mg) F.U 1-2 Jari diatas symphisis
·
Pertengahan
antara sympisis dengan pusat = 16 mg
·
3 jari dibawah pusat =
20 minggu
·
½ pusat – procesus xympoideus = 32 Minggu
·
Sampai arcus costa atau 3 jari dibawah proc. Xympoideus = 36
minggu
·
½ pusat – procesus xympoideus = 40 Minggu
Auskultasi
Dilakukan dengan menggunakan stetoskop fetal heart detector (Doppler). Pada auskultasi bunyi
jantung anak dengan Doppler dapat didengar sejak umur kehamilan 12 minggu
sedang dengan stetoskop baru didengar pada umur kehamilan 26 minggu. Frekuensi
bunyi jantung anak antara 120 - 140 per menit. Frekuensi jantung orang dewasa
antara 60-80 per menit.
c. Pemeriksaan
Penunjang
a.
Pemeriksaan
Laboratorium
|
No
|
Test Diagnostik
|
Penjelasan
|
|
1.
|
Hemoglobin dan hematokrit
|
Peningkatan Hb dan Ht berarti :
|
|
2.
|
Trombosit
|
Trombositopenia menggambarkan
Preeklampsia berat
|
|
3.
|
Kreatinin serum Asam Urat serum Nitrogen Urea Darah (BUN)
|
Peningkatan menggambarkan :
§ Beratnya
hipovolemia
§ Tanda
menurunnya aliran darah ke ginjal
§ Tanda
Pre eklampsia berat
|
|
4.
|
Lactic Acid Dehidrogenase (LDH)
|
Menggambarkan adanya hemolisis
|
|
5.
|
Albumin serum dan faktor koagulasi
|
Menggambarkan kebocoran endotel dan kemungkinan koagulopati
|
b. Pemeriksaan radiologi
ü Pemeriksaan transabdominal USG ;
S Untuk memperkirakan umur kehamilan
S Melihat keadaan umum janin
S Melihat pertumbuhan janin, normal atau adakah kelainan, terutama plasenta abruption yang dapat mempersulit eklampsia, oligohidramnion, atau pertumbuhan janin terhambat (PJT).1
ü Pemeriksaan CT scan kepala dapat juga dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari kejang pada pasien, misal menilai pendarahan intrakranial, perdarahan subarachnoid, atau kecelakaan serebrovaskular.
C. Diagnosis
Diagnosis Kerja
Eclampsia
Kejang pada wanita hamil yang disebabkan oleh hipertensi
dan biasanya disertai dengan proteinuria. Eklampsia paling sering terjadi pada
trimester terakhir dan menjadi semakin sering menjelang anterpartum.2
Diagnosis Banding
Hipertensi
Gravidarum
Hipertensi yang muncul sebelum
kehamilan atau didiagnosis < 20 minggu ditambah adanya gejala proteinuria ≥ 300 mg/24 jam pada wanita hamil
yang sudah mengalami hipertensi sebelumnya.
Adapun gambaran klinisnya adalah :
o
Diagnosis
hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik
> 140/90 mmHg pada 2 pengukuran berjarak 1 jam atau lebih.
o
Hipertensi
dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
·
Hipertensi
karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20
minggu, selama persalinan dan atau dalam 48 jam post partum.
·
Hipertensi
kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20
minggu disertai dengan proteinuria.2
|
Penyakit
|
Eclampsia
|
Chronic
Hypertension
|
Epilepsy
|
|
Riwayat Hipertensi
|
-
|
+
|
-
|
|
Hipertensi
|
+
|
+
|
-
|
|
Kejang
|
+
|
-
|
+
|
|
Nyeri kepala
|
+
|
+
|
+/-
|
|
Takikardia
|
+
|
+
|
+/-
|
|
Udema
|
+
|
+/-
|
-
|
|
Proteinuria
|
+
|
-
|
-
|
D. Etiologi
Ada
beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di
atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory.
Adapun teori-teori tersebut antara lain:
1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pengeluaran
hormone ini memunculkan efek “perlawanan” pada tubuh. Pembuluh-pembuluh darah
menjadi menciut, terutama pembuluh darah kecil, akibatnya tekanan darah
meningkat. Organ-organ pun akan kekurangan zat asam. Pada keadaan yang lebih
parah, bisa terjadi penimbunan zat pembeku darah yang ikut menyumbat pembuluh
darah pada jaringan-jaringan vital.
2. Peran Faktor Immunologis
Pre-eklampsia
sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya.
Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking
antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada
kehamilan berikutnya.
3. Peran Faktor Genetik/Familial
Beberapa
bukti yang menunjukkan peran faktor genetic pada kejadian PE-E antara lain:
·
Terdapatnya
kecendrungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang
menmderita PE-E.
·
Kecendrungan
meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E
dan bukan pada ipar mereka.3
E. Epidemiologi
Kejadian eklampsia dilaporkan berkisar dari 1 dari 2.000 kehamilan di dunia Barat. Nilai ini meningkat pada populasi sosial ekonomi rendah, pada wanita lebih muda dari 20 tahun, kehamilan multifetal, dan pada mereka tanpa antenatal care. Diperkirakan, eklamsia terjadi 10% dari kehamilan yang dipengaruhi oleh hipertensi di seluruh dunia. Kira-kira setengah dari semua gangguan kehamilan hipertensi disebabkan preeklamsi.3
F. Patofisiologi
Vasokonstriksi
merupakan dasar patogenesis pre-eklampsia. Vasokonstriksi menimbulkan
peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi. Adanya
vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga
terjadi kerusakan endotel dan kebocoran di
celah antara sel-sel endotel, serta menyebabkan bocornya konstituen darah,
termasuk trombosit dan fibrinogen yang kemudian mengendap di subendotel. Perubahan
vaskular ini, bersama dengan hipoksia lokal jaringan di sekitarnya, mungkin
menyebabkan perdarahan, nekrosis, dan berbagai gangguan end-organ lainnya yang
dapat dijumpai pada preeklamsia berat.3
G. Faktor Resiko
- Kehamilan pertama
- Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
- Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
- Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
- Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah tinggi)
- Kehamilan kembar.4
H. Manifestasi Klinis
Eklampsia dapat terjadi
saat antepartum, intrapartum atau postpartum (48 jam postpartum). Eklampsia
paling sering terjadi pada trimester terakhir dan menjadi semakin sering
mendekati aterm. Terdapat 4 fase eklampsia:
1.
Tingkat awal atau aura (Tingkat Invasi). Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik. Mata
penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya,
dan kepala diputar ke kanan atau ke kiri.
2.
Tingkat kejangan tonik (Tingkat Kontraksi) yang berlangsung kurang lebih 30 detik. Dalam tingkat ini
seluruh otot menjadi kaku, wajahnya kelihatan kaku, tangan menggenggam, dan
kaki membengkok ke dalam. Pernapasan berhenti, muka mulai menjadi sianotik,
lidah dapat tergigit.
3.
Tingkat kejangan klonik (Tingkat Konvulsi) yang berlangsung antara 1 – 2 menit. Spasmus tonik
menghilang. Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat.
Mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. Bola mata menonjol.
Dari mulut ke luar ludah yang berbusa, muka menunjukkan kongesti dan sianosis.
Penderita menjadi tak sadar. Kejang klonik ini dapat demikian hebatnya,
sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Akhirnya, kejangan
terhenti dan penderita menarik napas secara mendengkur.
4.
Tingkat koma. Lamanya ketidaksadaran
tidak selalu sama secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi, Kalau
pasien sadar kembali maka ia tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi,
lamanya coma dari beberapa menit sampai berjam-jam, akan tetapi dapat terjadi
pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan yang berulang, sehingga ia
tetap dalam koma.4
I. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan eklampsia:
- Untuk menghentikan dan mencegah kejang
- Pengelolaan airway, breathing, circulation
- Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi
- Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin
- Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin
- Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat.5
Medikamentosa
Secara umum dapat disimpulkan penangan pasus eklamsia adalah
sebagai berikut:
- Hindari dari trauma saat kejang.
- Monitor kebutuhan oksigen ibu dan janin.
- beri oksigen 8-10 L/menit.
- monitor oksigenasi dan status metabolik dengan transcutaneous pulse oximetry atau dengan pemeriksaan gas darah arteri.
- Minimalisasi aspirasi.
Posisi lateral decubitus sinistra
Hisap bahan lambung dan sekret oral
Lakukan pemeriksaan x-ray dada setelah kejang
untuk melihat apakah terjadi aspirasi atau tidak.
- Pemberian MgSO4 untuk mencegah kejang berulang.
- Kontrol hipertensi dengan obat antihipertensi jika tekanan diastolik >110 mmHg
- Jika terjadi intoksikasi diberikan antidotum kalsium glukonat 1 gr dalam larutan 10% secara perlahan.
- Segera lakukan persalinan.
Anti Kovulsi
Magnesium sulfat, MgSO4 (obat pilihan)
−
Mekanismenya
kejang berulang adalah kontroversial tetapi efektif dan mempertahankan aliran
darah rahim dan janin dengan menghambat pelepasan asetilkolin dan mempunyai
efek langsung pada otot rangka berdasarkan efek kompetitif antagonis dengan
kalsium.
−
Diberikan
baik IV dan IM. Rute intravena lebih disukai daripada rute IM karena
administrasi lebih mudah dikontrol dan waktu untuk tingkat terapeutik yang
lebih pendek. Intramuskular magnesium sulfat cenderung lebih menyakitkan dan
kurang nyaman. Diberikan IV 2 gr secara perlahan dilanjutkan (1-2
gr)/jam/infus.
− Lanjutkan pemberian hingga 24 pascapersalinan.
− Baringkan pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi isi
lambung.
− Semua pemberian dengan syarat frekuensi nafas minimal 16/menit.
Refleks patella +, urin minimal 30 ml/jam. Tidak terpenuhi – dihentikan.2
Diazepam
- Jika MgSO tidak tersedia
- Resiko depresi nafas janin karena dapat bebas melintasi plasenta dan berakumulasi dalam sirkulasi janin.
- Dosis awal 10 mg IV secara perlahan selama 2 menit, jika kejang berulang ulangi dosis awal.
- Dosis konservatif diberikan 40 mg dalam 500 ml Ringer Laktat per infus.
- Depresi nafas ibu boleh terjadi jika dosis >30 mg/jam. Jangan berikan 100 mg/24 jam.
- Jika IV tidak memungkinkan per rektal boleh diberi dengan dosis 20 mg dalam semprit tanpa jarum,
- Jika masih tidak dapat diatasi ± 10 menit beri tambahan 10 mg/jam (bergantung pada berat badan pasien & respon klinik).2
Anti Hipertensi
Metildopa (obat pilihan)
− menurunkan resistensi vascular tanpa banyak mempenaruhi frekuensi
& curah jantung.
− Obat ini masih merupakan pilihan utama pada hipertensi dalam
kehamilan karena terbukti aman untuk janin.
− Dosis maksimal yaitu 3 g per hari.
− Efek samping yang paling sering adalah sedasi,hipotensi, pusing,
mulut kering dan sakit kepala, jarang terjadi anemia hemolitik,
trombositopenia.
− Penghentian mendadak dapat menyebabkan fenomena rebound berupa
peningkatan tekanan darah mendadak.
− Pemberian besi bisa mengurangi absorbs.2
J. Pencegahan
- Pemeriksaan prenatal, antenatal dan postnatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin.
- Ubah gaya hidup yang sehat.
- Nutrisi yang adekuat dan diet yang seimbang pada prenatal dan antenatal.
- Suplemen.5
K. Komplikasi
Pada Ibu
§ Solusio plasenta.
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita
hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklampsia
§ Hipofibrinogenemia.
§ Hemolisis.
Penderita
dengan pre-eklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis
yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan
kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati
yang sering ditemukan pada penderita autopsi penderita eklampsia dapat
menerangkan ikterus tersebut.
§ Perdarahan otak.
§ Kelainan mata.
Kehilangan
penglihatan untuk sementara bisa terjadi selama seminggu. Perdarahan
kadang-kadang terjadi pada retina akan terjadinya apopleksia serebri.
§ Edema paru-paru.
§ Nekrosis hati.
Nekrosis
periportal hati pada pre-eklampsia-eklampsia merupakan akibat vasopasmus
arteriol umum.
§ Sindroma HELLP, yaitu haemolysis, elevated
liver enzymes, dan low platelet.
§ Kematian Ibu atau janin
§ Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin
intra-uterin. 4
Pada Anak
§ Prematuritas
§ Gawat janin
§ IUGR (Intra.Uterine Growth Retardation)
§ Kematian janin dalam rahim.4
L.
Prognosis
Prognosis baik dengan
penanganan yang cepat dan betul. Namun dapat terjadi pada kehamilan akan
datang.
Kesimpulan
Pasien Ny. SP usia 18 tahun di
diagnosis menderita Eklampsia. Hal ini dapat dilihat dari gejala yang
ditimbulkan. Prognosis pada Eklampsia akan baik bila mendapat penangan yang
cepat dan sesuai.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar