Jumat, 10 April 2015

PBL 25 - Eclampsia Pada Ibu Hamil



 

                                                                                                            Makalah Kelompok


Eclampsia Pada Ibu Hamil
Kelompok C – 1
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731





Pendahuluan
Eklampsia dan pre-eklampsia dulunya dikenal dengan istilah toksemia gravidarum, karena diperkirakan adanya racun dalam aliran darah. Namun istilah ini sudah tidak dipakai lagi karena mencakup berbagai penyakit hipertensif dalam kehamilan dengan etiologi berbeda-beda. Di Indonesia eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu dan perinatal yang tinggi. Oleh karena itu, diagnosis dini pre-eklampsia perlu dilaksanakan untuk menurunkan angka mortalitas ibu dan anak.

Pembahasan
A. Anamnesis
Hal-hal yang ditanyakan pada pasien dengan anamnesis ataupun alloanamnesis, yaitu :
·         Menanyakan Nama/Kelamin/Umur ?
·         Menanyakan Alamat ?
·         Menanyakan Keluhan utama ?
·         Menanyakan Keluhan penyerta ?
·         Menanyakan Sudah menikah atau belum ? bila sudah untuk pertama kali atau tidak ?
·         Menanyakan Nama Suami/keluarga terdekat ?
·         Menanyakan Pekerjaan/pendidikan terakhir ?
·         Menanyakan Hamil untuk pertama atau lebih ?
·         Menanyakan Apakah ada komplikasi pada kehamilan terdahulu ?
·         Menanyakan Pernah terjadi keguguran atau tidak, bila pernah berapa kali dan pada umur berapa ketika terjadi ?
·         Menanyakan Bila sudah persalinan, ini persalinan ke berapa ?
·         Menanyakan Cara persalinan terdahulu (jika Sectio Caesarea apakah alasannya)
Hal-hal yang harus ditanyakan menjurus kepada keadaan preeklamsia:
·         Apakah ada gejala-gejala disfungsi sistem saraf pusat, seperti sakit kepala berat yang menetap, penglihatan kabur.
·         Apakah sebelum hamil pasien memiliki riwayat hipertensi
·         Apakah pasien memiliki riwayat epilepsi
·         Apakah pasien pernah mengalami trauma kepala
·         Apakah pasien mempunyai riwayat penyakit serebrovaskular
·         Apakah pasien memiliki riwayat tumor serebri atau meningitis maupun ensefalitis
o   Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
·         Jumlah Saudara
·         Status Ekonomi Keluarga
·         Kondisi Rumah

B. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Umum
1. Ibu
Kesadaran                   : Tidak sadarkan diri (Koma)
Tekanan Darah            : 180/20 mmHg
Nadi                            : 72x Menit
2. Anak
            Denyut Jantung anak : 132/m , teratur.
b. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
a. Wajah          : Tampak edema
b. Tangan        : Tampak edema
c. Perut            : Perlu diperhatikan bentuk, pembesaran, pergerakan pernapasan,   kondisi kulit (tebal, kriput dan striae), jaringan parut operasi.
d. Kaki            : Tampak Edema

Palpasi
Sebelum dilakukan, kandung kemih dikosongkan terlebih dahulu, pasien berbaring dengan bahu dan kepala lebih tinggi. Dinding perut harus lemas dan bila kontraksi harus ditunggu dulu. Lalu suhu tangan pemeriksa disesuaikan dengan pasien supaya tidak kontraksi (gosokkan kedua tangan sebelum palpasi).
Beritahu pasien bahwa perutnya akan diperiksa sehingga perut pasien tidak menegang dan bernapas biasa, kedua tungkai ditekuk sedikit dan pasien disuruh bernapas dalam.
Cara melakukan palpasi ialah menurut Leopold yang terdiri dari 4 bagian ;
a.    Leopold I
o  Menentukan tinggi fundus uteri sehingga usia kehamilan bisa diketahui.
o  Menentukan bagian janin mana yang ada di uteri



b.    Leopold II
o  Menentukan batas samping uterus dan letak punggung janin pada letak memanjang
o  Pada letak lintang ditentukan letak kepala


c.    Leopold III
o  Menentukan bagian janin yang terletak disebelah bawah    
d.   Leopold IV
o  Menentukan berapa bagian dari kepala yang masuk pintu atas panggul (PAP)
o  Bila kepala belum masuk PAP maka akan teraba balotement kepala.1

Leopold 4 tidak dilakukan kalau kepala masih tinggi.

n  Sebelum bulan ke tiga fundus uteri dapat diraba dari luar ;
·      Akhir bulan ke-3 (12 mg) F.U 1-2 Jari diatas symphisis
·      Pertengahan antara sympisis dengan pusat = 16 mg
·      3 jari dibawah pusat  = 20 minggu
·      ½ pusat – procesus xympoideus = 32 Minggu
·      Sampai arcus costa atau 3 jari dibawah proc. Xympoideus = 36 minggu
·      ½ pusat – procesus xympoideus = 40 Minggu

Auskultasi
Dilakukan dengan menggunakan stetoskop fetal heart detector (Doppler). Pada auskultasi bunyi jantung anak dengan Doppler dapat didengar sejak umur kehamilan 12 minggu sedang dengan stetoskop baru didengar pada umur kehamilan 26 minggu. Frekuensi bunyi jantung anak antara 120 - 140 per menit. Frekuensi jantung orang dewasa antara 60-80 per menit.


c. Pemeriksaan Penunjang
a.       Pemeriksaan Laboratorium
No
Test Diagnostik
Penjelasan
1.
Hemoglobin dan hematokrit
Peningkatan Hb dan Ht berarti :
  1. Adanya hemokonsentrasi yang mendukung diagnosis PE
  2. Menggambarkan beratnya hipovolemia
  3. Nilai ini akan menurun bila terjadi hemolisis
2.
Trombosit
Trombositopenia menggambarkan Preeklampsia berat
3.
Kreatinin serum Asam Urat serum Nitrogen Urea Darah (BUN)
Peningkatan menggambarkan :
§  Beratnya hipovolemia
§  Tanda menurunnya aliran darah ke ginjal
§  Tanda Pre eklampsia berat
4.
Lactic Acid Dehidrogenase (LDH)
Menggambarkan adanya hemolisis
5.
Albumin serum dan faktor koagulasi
Menggambarkan kebocoran endotel dan kemungkinan koagulopati

 

b.      Pemeriksaan radiologi

ü  Pemeriksaan transabdominal USG ;

S  Untuk memperkirakan umur kehamilan

S  Melihat keadaan umum janin

S  Melihat pertumbuhan janin, normal atau adakah kelainan, terutama plasenta abruption yang dapat mempersulit eklampsia, oligohidramnion, atau pertumbuhan janin terhambat (PJT).1

ü  Pemeriksaan CT scan kepala dapat juga dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain dari kejang pada pasien, misal menilai pendarahan intrakranial, perdarahan subarachnoid, atau kecelakaan serebrovaskular.

C. Diagnosis
Diagnosis Kerja
Eclampsia
Kejang pada wanita hamil yang disebabkan oleh hipertensi dan biasanya disertai dengan proteinuria. Eklampsia paling sering terjadi pada trimester terakhir dan menjadi semakin sering menjelang anterpartum.2

Diagnosis Banding
Hipertensi Gravidarum
Hipertensi yang muncul sebelum kehamilan atau didiagnosis < 20 minggu ditambah adanya gejala proteinuria ≥ 300 mg/24 jam pada wanita hamil yang sudah mengalami hipertensi sebelumnya.
Adapun gambaran klinisnya adalah :
o   Diagnosis hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik  > 140/90 mmHg pada 2 pengukuran berjarak 1 jam atau lebih.
o   Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
·         Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu, selama persalinan dan atau dalam 48 jam post partum.
·         Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan 20 minggu disertai dengan proteinuria.2
Penyakit
Eclampsia
Chronic Hypertension
Epilepsy
Riwayat Hipertensi
-
+
-
Hipertensi
+
+
-
Kejang
+
-
+
Nyeri kepala
+
+
+/-
Takikardia
+
+
+/-
Udema
+
+/-
-
Proteinuria
+
-
-


D. Etiologi
Ada beberapa teori mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain:

1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan
Pengeluaran hormone ini memunculkan efek “perlawanan” pada tubuh. Pembuluh-pembuluh darah menjadi menciut, terutama pembuluh darah kecil, akibatnya tekanan darah meningkat. Organ-organ pun akan kekurangan zat asam. Pada keadaan yang lebih parah, bisa terjadi penimbunan zat pembeku darah yang ikut menyumbat pembuluh darah pada jaringan-jaringan vital.

2. Peran Faktor Immunologis
Pre-eklampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat diterangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya.

3. Peran Faktor Genetik/Familial
Beberapa bukti yang menunjukkan peran faktor genetic pada kejadian PE-E antara lain:
·         Terdapatnya kecendrungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menmderita PE-E.
·         Kecendrungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka.3
E. Epidemiologi

Kejadian  eklampsia dilaporkan berkisar dari 1 dari 2.000 kehamilan di dunia Barat. Nilai ini meningkat pada populasi sosial ekonomi rendah, pada wanita lebih muda dari 20 tahun, kehamilan multifetal, dan pada mereka tanpa antenatal care. Diperkirakan, eklamsia terjadi 10% dari kehamilan yang dipengaruhi oleh hipertensi di seluruh dunia. Kira-kira setengah dari semua gangguan kehamilan hipertensi disebabkan preeklamsi.3


F. Patofisiologi
Vasokonstriksi merupakan dasar patogenesis pre-eklampsia. Vasokonstriksi menimbulkan peningkatan total perifer resisten dan menimbulkan hipertensi. Adanya vasokonstriksi juga akan menimbulkan hipoksia pada endotel setempat, sehingga terjadi kerusakan endotel dan kebocoran di celah antara sel-sel endotel, serta menyebabkan bocornya konstituen darah, termasuk trombosit dan fibrinogen yang kemudian mengendap di subendotel. Perubahan vaskular ini, bersama dengan hipoksia lokal jaringan di sekitarnya, mungkin menyebabkan perdarahan, nekrosis, dan berbagai gangguan end-organ lainnya yang dapat dijumpai pada preeklamsia berat.3

G. Faktor Resiko
  1. Kehamilan pertama
  2. Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
  3. Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
  4. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  5. Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah tinggi)
  6. Kehamilan kembar.4


H. Manifestasi Klinis
Eklampsia dapat terjadi saat antepartum, intrapartum atau postpartum (48 jam postpartum). Eklampsia paling sering terjadi pada trimester terakhir dan menjadi semakin sering mendekati aterm. Terdapat 4 fase eklampsia:
1.      Tingkat awal atau aura (Tingkat Invasi). Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik. Mata penderita terbuka tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya, dan kepala diputar ke kanan atau ke kiri.
2.      Tingkat kejangan tonik (Tingkat Kontraksi) yang berlangsung kurang lebih 30 detik. Dalam tingkat ini seluruh otot menjadi kaku, wajahnya kelihatan kaku, tangan menggenggam, dan kaki membengkok ke dalam. Pernapasan berhenti, muka mulai menjadi sianotik, lidah dapat tergigit.
3.      Tingkat kejangan klonik (Tingkat Konvulsi) yang berlangsung antara 1 – 2 menit. Spasmus tonik menghilang. Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Mulut membuka dan menutup dan lidah dapat tergigit lagi. Bola mata menonjol. Dari mulut ke luar ludah yang berbusa, muka menunjukkan kongesti dan sianosis. Penderita menjadi tak sadar. Kejang klonik ini dapat demikian hebatnya, sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Akhirnya, kejangan terhenti dan penderita menarik napas secara mendengkur.
4.      Tingkat koma. Lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama secara perlahan-lahan penderita menjadi sadar lagi, Kalau pasien sadar kembali maka ia tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi, lamanya coma dari beberapa menit sampai berjam-jam, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum itu timbul serangan baru dan yang berulang, sehingga ia tetap dalam koma.4
I. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan eklampsia:
  • Untuk menghentikan dan mencegah kejang
  • Pengelolaan airway, breathing, circulation
  • Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi
  • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin
  • Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin
  • Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat.5
Medikamentosa
Secara umum dapat disimpulkan penangan pasus eklamsia adalah sebagai berikut:
  • Hindari dari trauma saat kejang.
  • Monitor kebutuhan oksigen ibu dan janin.
  • beri oksigen 8-10 L/menit.
  • monitor oksigenasi dan status metabolik dengan transcutaneous pulse oximetry atau dengan pemeriksaan gas darah arteri.
  • Minimalisasi aspirasi.
­   Posisi lateral decubitus sinistra
­   Hisap bahan lambung dan sekret oral
­   Lakukan pemeriksaan x-ray dada setelah kejang untuk melihat apakah terjadi aspirasi atau tidak.
  • Pemberian MgSO4 untuk mencegah kejang berulang.
  • Kontrol hipertensi dengan obat antihipertensi jika tekanan diastolik >110 mmHg
  • Jika terjadi intoksikasi diberikan antidotum kalsium glukonat 1 gr dalam larutan 10% secara perlahan.
  • Segera lakukan persalinan.


Anti Kovulsi
Magnesium sulfat, MgSO4 (obat pilihan)
     Mekanismenya kejang berulang adalah kontroversial tetapi efektif dan mempertahankan aliran darah rahim dan janin dengan menghambat pelepasan asetilkolin dan mempunyai efek langsung pada otot rangka berdasarkan efek kompetitif antagonis dengan kalsium.
     Diberikan baik IV dan IM. Rute intravena lebih disukai daripada rute IM karena administrasi lebih mudah dikontrol dan waktu untuk tingkat terapeutik yang lebih pendek. Intramuskular magnesium sulfat cenderung lebih menyakitkan dan kurang nyaman. Diberikan IV 2 gr secara perlahan dilanjutkan (1-2 gr)/jam/infus.
     Lanjutkan pemberian hingga 24 pascapersalinan.
     Baringkan pada sisi kiri untuk mengurangi resiko aspirasi isi lambung.
     Semua pemberian dengan syarat frekuensi nafas minimal 16/menit. Refleks patella +, urin minimal 30 ml/jam. Tidak terpenuhi – dihentikan.2


Diazepam
  • Jika MgSO tidak tersedia
  • Resiko depresi nafas janin karena dapat bebas melintasi plasenta dan berakumulasi dalam sirkulasi janin.
  • Dosis awal 10 mg IV secara perlahan selama 2 menit, jika kejang berulang ulangi dosis awal.
  • Dosis konservatif diberikan 40 mg dalam 500 ml Ringer Laktat per infus.
  • Depresi nafas ibu boleh terjadi jika dosis >30 mg/jam. Jangan berikan 100 mg/24 jam.
  • Jika IV tidak memungkinkan per rektal boleh diberi dengan dosis 20 mg dalam semprit tanpa jarum,
  • Jika masih tidak dapat diatasi ± 10 menit beri tambahan 10 mg/jam (bergantung pada berat badan pasien & respon klinik).2

Anti Hipertensi
 Metildopa (obat pilihan)
     menurunkan resistensi vascular tanpa banyak mempenaruhi frekuensi & curah jantung.
     Obat ini masih merupakan pilihan utama pada hipertensi dalam kehamilan karena terbukti aman untuk janin.
     Dosis maksimal yaitu 3 g per hari.
     Efek samping yang paling sering adalah sedasi,hipotensi, pusing, mulut kering dan sakit kepala, jarang terjadi anemia hemolitik, trombositopenia.
     Penghentian mendadak dapat menyebabkan fenomena rebound berupa peningkatan tekanan darah mendadak.
     Pemberian besi bisa mengurangi absorbs.2

J. Pencegahan
  • Pemeriksaan prenatal, antenatal dan postnatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin.
  • Ubah gaya hidup yang sehat.
  • Nutrisi yang adekuat dan diet yang seimbang pada prenatal dan antenatal.
  • Suplemen.5
K. Komplikasi
Pada Ibu
§  Solusio plasenta.
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklampsia
§  Hipofibrinogenemia.
§  Hemolisis.
Penderita dengan pre-eklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada penderita autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
§  Perdarahan otak.
§  Kelainan mata.
Kehilangan penglihatan untuk sementara bisa terjadi selama seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina akan terjadinya apopleksia serebri.
§  Edema paru-paru.
§  Nekrosis hati.
Nekrosis periportal hati pada pre-eklampsia-eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.
§  Sindroma HELLP, yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.
§  Kematian Ibu atau janin
§  Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra-uterin. 4
Pada Anak
§  Prematuritas
§  Gawat janin
§  IUGR (Intra.Uterine Growth Retardation)
§  Kematian janin dalam rahim.4


L. Prognosis
Prognosis baik dengan penanganan yang cepat dan betul. Namun dapat terjadi pada kehamilan akan datang.

Kesimpulan
Pasien Ny. SP usia 18 tahun di diagnosis menderita Eklampsia. Hal ini dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan. Prognosis pada Eklampsia akan baik bila mendapat penangan yang cepat dan sesuai.






Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar