Thalassemia
pada Anak
Agung Ganjar Kurniawan
102010169
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat
==================================================================
Pendahuluan
Thalassemia
adalah suatu kelainan hematologi yang didapat karena tidak sempurnanya sintesis
dari satu atau dua rantai hemoglobin. Thalassemia dibagi menjadi dua, alfa dan
beta. Thalassemia alfa disebabkan berkurang atau absen nya sintesis rantai alfa
globin, sedangkan thalassemia beta disebabkan karena berkurang atau absen nya
sintesis rantai beta globin. Ketidakseimbangan rantai globin dapat menyebabkan
hemolisis dan eritropoiesis yang tidak sempurna. Orang dengan thalassemia harus
menjalani konseling dengan pakar genetik sebelum melakukan hubungan seksual,
karena dapat menyebabkan kelainan darah. Pada kasus ini terdapat pasien anak
laki-laki berusia 6 tahun, dengan keluhan pucat sejak 3 bulan disertai lelah
dan lesu.
A.
Anamnesis
Identitas Pasien ?
Apakah keluhan utama ?
Sejak Kapan ?
Apakah Ada Demam ? Mata Kekuningan
(Ikterik) ? Badan lelah dan lesu? Terus menerus atau tidak?
Apakah ada gangguan kesehatan saat
melahirkan ?
Bagaimana proses persalinan? Normal
atau Caesar?
Bagaimana berat badan bayi ketika
lahir?
Bagaimana perkembangan berat badan
dan tinggi nya?
Apakah mendapat ASI Eksklusif tidak?
Asupan gizi seimbang tidak?
Apakah salah satu orang
tua ada yang menderita penyakit darah ?
Apakah di keluarga ada
yang menderita penyakit darah atau turunan ?
Apakah anak sudah mendapat
pengobatan ?
B.
Pemeriksaan
a.
Pemeriksaan
Fisik
Keadaan Umum : Wajah tampak pucat, mudah lelah dan lesu.
Tanda-tanda Vital : Nadi 130x/menit, TD 80/50 mmHg, napas
40x/menit.
Inspeksi :
Sclera dan kulit ikterik, kunjungtiva anemis
Palpasi :
Splenomegaly
b.
Pemeriksaan
Penunjang
1. Darah
tepi :
·
Hb yang sangat rendah
·
Sediaan apus darah tepi : anemia mikrositer, eritrosit
hipokrom, anisositosis, poikilositosis, sel eritrosit muda, fragmentosis, sel
target.
·
Retikulosit meningkat.
Tabel 1. Berbagai Nilai Normal Hasil Uji
Laboratorium pada Anak
|
No
|
Jenis Pemeriksaan
|
Nilai Rujukan (Anak-anak)
|
|
1
|
Eritrosit
|
4.00 – 5.20 x 106 /ul
|
|
2
|
Leukosit
|
6.000 – 17.000 μl
|
|
3
|
Trombosit
|
200.000 – 475.000 μl
|
|
4
|
Retikulosit
|
0,5% - 2,0% dari seluruh SDM
|
|
5
|
Hb
|
11 – 16 g/dl
|
|
6
|
Ht
|
29% - 40%
|
|
7
|
LED
|
0 – 10 mm/jam
|
|
8
|
MCV
|
82 – 92 cuμ
|
|
9
|
MCH
|
27 -31 pg
|
|
10
|
MCHC
|
32 – 37 %
|
|
11
|
RDW
|
32 – 36 Coulter S
|
|
12
|
Besi Serum
|
100 -135 μg/dl
|
|
13
|
Ferritin
|
8 -140 ng/ml
|
|
14
|
Saturasi Transferin
|
20 -35 %
|
|
15
|
Bilirubin Indirect
|
0,1 – 1,0 mg/dl
|
|
16
|
Hb F
|
1% -2% Hb Total
|
2. Pemeriksaan khusus :
·
Hemoglobin electrophoresis: pemeriksaan
ini tidak sensitif untuk menentukan thalassemia, namun sangat berguna untuk
menguji kuantitas dan mengidentifikasi tipe hemoglobin. Pada thalassemia alfa
dapat ditemukan hemoglobin bart's1
3. Pemeriksaan Rontgen :
·
Radiologi menunjukan gamabaran khas “hair on end”. Tulang panjang menjadi
tipis akibat ekspansi sumsum tulang yang dapat berakibat fraktur patologis.
Wajah menjadi khas ada tonjolan dahi, tulang pipi dan dagu atas.
4. Ultrasonography: USG
digunakan untuk melihat hepatosplenomegaly
5. Analisis DNA
Analisis DNA digunakan untuk mengetahui adanya
mutasi pada gen yang memproduksi rantai alpha dan beta. Pemeriksaan ini
merupakan tes yang paling efektif untuk mendiagnosa keadaan karier pada
talasemia.2
C.
Diagnosis
Working
Diagnosis
Thalasemia
Thalassemia
merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (inherited)
dan masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati,
yakni kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi
di dalam atau dekat gen globin.
Mutasi gen globin ini dapat
menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni:
a)
Perubahan struktur rangkaian asam amino (amino
acid sequence) rantai globin
tertentu, disebut hemoglobinopati struktural, atau
b)
Perubahan kecepatan sintesis (rate of
synthesis) atau kemampuan produksi
rantai globin tertentu, disebut thalassemia.
Hemoglobinopati
yang ditemukan secara klinis, baik pada anak anak atau orang dewasa, disebabkan
oleh mutasi gen globin α atau b. Sedangkan, mutasi berat gen globin ζ, ε
dan γ dapat menyebabkan kematian pada awal gestasi.
Penurunan kecepatan sintesis atau kemampuan satu atau lebih
rantai globin α atau b, ataupun rantai globin lainnya, dapat menimbulkan defisiensi produksi (parsial) atau menyeluruh (komplit)
rantai globin tersebut. Akibatnya, terjadi thalassemia yang jenisnya dengan rantai
globin yang terganggu produksinya.3
Kelainan genotip thalasemia
memberikan fenotip yang khusus dan bervariasi. Ada 3 klinis thalasemia :
a. Thalasemia β mayor/homozigot
: Anemia berat yang bergantung pada
transfusi darah.
b. Thalasemia β
minor/heterozigot : Anemia ringan
mikrositik hipokrom.
c. Thalasemia
intermedia : Gejala
diantara thalasemia mayor dan minor
|
Tipe
Thalasemia
|
Gambaran
Hematologis
|
Ekspresi
Klinis
|
Temuan
Hemoglobin
|
|
Homozigot
|
Anemia berat
|
Anemia Cooley
|
HbF > 90%
Tidak ada Hb A
Hb A2 Meningkat
|
|
Heterozigot
|
Mikrositosis,
Hipokromia, anemia ringan – sedang
|
Splenomegali, ikterus
|
Peningkatan Hb A2 dan
Hb F
|
Tabel 2. Thalasemia
Differential
Diagnosis
Anemia akibat
penyakit kronis
Penyakit kronik sering kali disertai
anemia ringan sampai sedang, namun tidak semua anemia pada penyakit kronik
dapat digolongkan sebagai anemia akibat penyakit kronik. Anemia akibat penyakit
kronik adalah anemia yang dijumpai pada penyakit kronik tertentu yang khas
ditandai oleh gangguan metabolism, yaitu adanya hipoferemia sehingga
menyebabkan berkurangnya penyedian besi sumsum tulang masih cukup. Anemia ini
tergolong anemia yang cukup sering dijumpai, baik di klinik maupun di lapangan.
Pada pemeriksaan fisik dijumpai konjungtiva yang pucat tanpa kelainan yang khas.4
Anemia
defisiensi besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia
yang timbul akibat kosongnya cadangan
besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis
berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang. Karena
penurunan kadar hemoglobin yang terjadi secara perlahan-lahan seringkali. Gejala
ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga
mendenging. Gejala khas terlihat atrofi papil lidah, kolonychia (kuku sendok),
stomatitis angularis.4
|
Diagnosis Differential Thalassemia
|
||||
|
|
Thalasemia
|
Anemia def Besi
|
Anemia akibat
penyakit kronik
|
|
|
Derajat Anemia
|
Ringan sampai
Berat
|
Ringan
sampai Berat
|
Ringan
|
|
|
MCV
|
Menurun
|
Menurun
|
Menurun/ N
|
|
|
MCH
|
Menurun
|
Menurun
|
Menurun/
N
|
|
|
Besi
serum
|
Normal/ ↑
|
Menurun <39
|
Menurun <50
|
|
|
T I B C
|
Normal/↓
|
Meningkat
>360
|
Menurun
<300
|
|
|
Saturasi
Transferin
|
Meningkat .20%
|
Menurun <15%
|
Menurun/ N 10-20%
|
|
|
Besi sumsum Tulang
|
Positif
kuat
|
Negatif
|
Positif
|
|
|
Protoporfirin
Eritrosit
|
Normal
|
Meningkat
|
Meningkat
|
|
|
Feritin serum
|
Meningkat
>50µg/L
|
Menurun
<20µg/L
|
N 20-200
µg/L
|
|
|
Elektroforesis
Hb
|
Hb.A2 meningkat
|
N
|
N
|
|
D.
Etiologi
a.
Mutasi gen α-β-globin pada kromosom 16 dan
kromoson 11.
b.
Adanya Pasangan suami istri yang membawa
gen/carier thalasemia
c.
Adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi
rantaiα atauβ dari HB berkurang
d.
Berkurangnya sintesis HBA dan eritropoesis yang
tidak efektif diertai penghancuran
sel-sel eritrosit intramuscular.5
E.
Epidemiologi
Thalasemia
merupakan penyakit yang cukup luas, dimana penyakit ini diderita oleh 7%
penduduk dunia. Adapun konsentrasi penyakit ini berada di daerah yang disebut Thalassemia Belt yang mencakup Timur
Mediterania menuju Timur Tengah dan India ke Asia Tenggara dan Afrika bagian
utara. Penyakit talasemia tersebar luas di daerah Mediterania
seperti Italia, Yunani, Afrika bagian utara, kawasan Timur Tengah, India
Selatan, Sri Langka sampai Asia Tenggara termasuk Indonesia. Frekuensi
talasemia di Asia Tenggara adalah 3 – 9% (Tjokronegoro, 2001).5
Di Indonesia
sendiri diperkirakan jumlah pembawa sifat talasemia sekitar 5 – 6% dari jumlah
populasi. Palembang (10%), Makassar (7,8%), Ambon (5,8%), Jawa (3 – 4%),
Sumatera Utara dan (1 – 1,5%).
F.
Patofisiologi
Pada
thalasemia terjadi pengurangan atau tidak ada sama sekali produksi rantai
globin satu atau lebih rantai globin. Penurunan secara bermakna kecepatan
sintesis salah satu jenis rantai globin (rantai-a atau rantai-β)
menyebabkan sintesis rantai globin tidak seimbang. Bila pada keadaan normal
rantai globin yang disintesis seimbang antara rantai a
dan rantai β, namun pada thalasemia β tidak disintesis sama sekali rantai β
sehingga rantai a akan diproduksi secara berlebihan.
Sedangkan pada thalsemia a dimana tidak disintesis sama sekali
rantai a
sehingga rantai β akan diproduksi secara berlebihan.
Patofisiologi
Thalasemia β
Rantai a
yang berlebihan yang tidak dapat berikatan dengan rantai globin lain akan
berpresipitasi pada prekursor sel darah merah dalam sumsum tulang dan dalam sel
progenitor dalam darah tepi. Presipitasi ini akan menimbulkan gangguan
pematangan prekursor eritroid dan eritropoiesis yang tidak efektir. Akibatnya
akan timbul anemia. Anemia lebih lanjut akan menjadi pendorong profiferasi
eritroid yang terus menerus dalam sumsum tulang yang inefektif sehingga terjadi
ekspansi sumsum tulang. Hal ini kemudian menyebabkan deformitas skeletal dan
berbagai gangguan pertumbuhan dan metabolisme. Anemia kemudian ditimbulkan lagi
dengan adanya hemodilusi akibat adanya hubungan langsung darah akibat sumsum
tulang yang berekspansi dan juga oleh adanya splenomegali. Pada limpa yang membesar
makin banyak sel darah merah abnormal yang terjebak untuk kemudian akan
dihancurkan oleh sistem fagosit. Hiperplasia sumsum tulang kemudian akan
meningkatkan absorpsi dan muatan besi. Transfusi yang diberikan secara teratur
juga menambah muatan besi. Hal ini menyebabkan penimbunan besi yang progresif
di jaringan berbagai organ, yang akan diikuti kerusakan organ dan diakhiri
dengan kematian bila besi ini tidak dikeluarkan.
G.
Manifestasi
Klinis
Secara
klinis thalasemia dibagi dalam beberapa tingkatan sesuai beratnya gejala klinis
: mayor, intermedia, dan minor atau troit.
Gambaran manifestasi
umum :
§ Muka pucat dikarenakan anemia berat
§ Hepatosplenomegali
§ Nafas cepat (takipneau)
§ Takikardi
§ Anoreksia
§ Iritabilitas, lesu, kelelahan
§ Gangguan pertumbuhan
§ Pada pemeriksaan laboratorium akan tampak
anemia mikrositik hipokrom
§ Keterlibatan tulang kranuim menyebabkan
pembesaran kepala karena frontal dan pariental; pembesaran maksila.
§ Penonjolan pipi nyata, jembatan hidung
melebar, mendalam dan terdepresi; mata mempunyai kemiringan mongoloid.
§ Ekspansi sumsum tulang dapat menyebabkan nyeri
tulang dan rentan terhadap fraktur.7
a. Thalasemia
mayor
Anemia
berat menjadi nyata pada umur 3-6 bulan setelah lahir dan tidak dapat hidup tanpa ditransfuse. Pembesaran hati dan limfa
terjadi karena penghancuran sel darah merah berlebihan, haemopoesis ekstra
medular dan kelebihan beban besi. Limpa yang membesar meningkatkan kebutuhan
darah dengan menambah penghancuran sel darah merah dan pemusatan (pooling) dan
dengan menyebabkan pertambahan volume plasma. Perubahan pada tulang karena
hiperaktivitas sum-sum merah berupa detormitas dan fraktur spontan, terutama
kasus yang tidak atau kurang mendapat tranfuse darah. Deformitas tulang, disamping
mengakibatkan muka mongoloid, dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan tulang
frontal dan zigomantion serta maksila. Pertumbuhan gigi biasanya buruk. Gejala
lain yang tampak ialah lemah, pucat, perkembangan fisik tidak sesuai dengan
umur, berat badan kurang, perut membuncit. Jika pasien tidak sering mendapat
tranfuse darah kulit menjadi kelabu serupa dengan besi akibat penimbunan besi
dalam jaringan kulit.3
b. Thalasemia
Intermedia
Biasa pada usia 16 – 67 tahun. Keadaan klinis lebih baik dan gejala
lebih ringan daripada thalasemia mayor, tapi ditandai dengan facies thalasemia,
pucat, anemia sedang. Gejala deformitas
tulang, hepatomegali dan spienomegali sedang - berat, eritropoesis ekstra
medular dan gambaran kelebihan beban besi nampak pada masa dewasa.7
c. Thalasemia
Minor atau troit (pembawa sifat)
Umumnya tidak dijumpai gejala klinis yang khas
atau tampilan klinis normal. Namun dapat ditemukan hepatomegali dan
splenomegali pada sedikit penderita, ditemukan anemia hemolitik ringan
(asimtomatik), kadar Hb antara 10 – 13% dengan jumlah eritrosit normal atau
sedikit tinggi.3
H.
Penatalaksanaan
Non medika mentosa:
Pasien
dengan thalassemia minor tidak membutuhkan pengobatan atau monitoring jangka
panjang, mereka umumnya tidak kekurangan zat besi jadi suplemen zat besi tidak
memperbaiki anemia mereka. Berdaraskan penelitian, terapi zat besi hanya
ditujukan jika terdapat kekurangan zat besi.
·
Transfusi darah: Pasien dengan
thalassemia beta mayor membutuhkan transfusi darah seumur hidup dan periodik
untuk mempertahankan kadar Hb diatas 9.5 g/dL, terapi dimulai pada umur 6
bulan. Pasien dengan thalassemia beta intermedia perlu transfusi darah secara
periodik dan dibutuhkan jika kadar Hb tidak mencukupi untuk kebutuhan
sehari-hari atau anemia menghambat proses tumbuh kembang. Pasien dengan
thalassemia alfa intermedia transfusi darah bergantung pada tingkat keparahan.
·
Transplantasi sumsum tulang:
Transplantasi sumsung merupakan penatalaksanaan utama pada bayi dengan
thalassemia beta mayor.6
Medika
Mentosa:
Hemosiderosis
yang terjadi akibat terapi transfusi darah jangka panjang dapat diturunkan atau
bahkan dapat dicegah dengan pemberian parentral iron chelating drugs. Beberapa pilihan obat
yang direkomendasikan untuk terapi kelasi.5
|
Terapi
|
Rekomendasi
|
|
Deferasirox
|
· Dosis
awal 20 mg/kg/hari pada pasien yang cukp sering mengalami transfuse
· 30
mg/kg/hari pada pasien dengan kadar kelebihan besi yang tingi
· 10-15
mg/kg/hari pada pasien dengan kadar kelebihan besi yang rendah
|
|
DFO
|
·
20-40 mg/kg
(anak-anak), = 50-60 mg/kg (dewasa
·
Anak < 3
tahun, kurangi dosis dan lakukan pemantuan pertumbuhan dan perkembangan
tulang.
|
|
Deferiprone
|
· 75
mg/kg/hari
· Dapat
kombinasikan dengan DFO bila DFO tidak efektif
|
I.
Komplikasi
Akibat anemia yang berat dan lama, sering
terjadi gagal jantung. Transfusi darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis
menyebabkan kadar besi dalam darah sangat tinggi, sehingga ditimbun dalam
berbagai jaringan tubuh seperti hepar, limpa, kulit, jantung dan lain-lain. Hal
ini dapat mengakibatkan gangguan fungsi alat tersebut (hemokromatosis). Limpa
yang besar mudah ruptur akibat trauma yang ringan. Kadang-kadang talasemia
disertai oleh tanda hipersplenisme seperti leukopenia dan trombositopeni.
Kematian terutama disebabkan oleh infeksi dan gagal jantung.7
J.
Pencegahan
a.
Pencegahan Primer
Penyuluhan sebelum perkawinan (marriage conseling) untuk mencegah
perkawinan diantara pasien thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan yang
homozigot. Perkawinan antara dua heterozigot (carrier) menghasilkan : 25 % thalasemia
(homozigot), 30 % carrier (hetrozigot), dan 25 % normal.5
b.
Pencegahan Sekunder
Pencegahan kelahiran bagi homozigot dari pasangan suami isteri
dengan thalasemia heterozigot salah satu jalan keluar adalah inseminasi buatan
dengan sperma berasal dari donor yang bebas dan thalasemia troit. Kelahiran
kasus homozigot terhindar, tetapi 50 % dari anak yang lahir adalah carrier,
sedangkan 50 % lainnya normal. Diagnosa prenatal melalui pemeriksaan DNA cairan
amnion merupakan suatu kemajuan dan digunakan untuk mendiagnosa kasus homozigot
intrauterin sehingga dapat dipertimbangkan tindakan abortus provokotus.5
Kesimpulan
Pasien
anak laki-laki berusia 6 tahun ini di diagnosis menderita thalasemia. Hal ini
terlihat dari gejala klinis yang dialami pasien dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan. Penyakit ini merupakan penyakit turunan dan tingkat keparahan
penyakit ini tergantung dari tipe thalasemia yang dialaminya.
dapus nya dimana?
BalasHapus