Jumat, 10 April 2015

PBL 13 - Labiognatopalatoschisiz



1896887095[1]      Labiognatopalatoschisiz pada Anak-anak
Agung Ganjar K
102010169
aagguunngg@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat, 11510
2012

Pendahuluan
Bibir sumbing adalah kelainan kongenital pada struktur orofasial dimana terdapat celah pada bibir, gusi, dan palatum molle (lunak) dan palatum durum (keras). Ini termasuk menjadi dua jenis cacat lahir dimana yang satu adalah cacat pada bibir dan cacat pada langit-langit mulut, dimana membentuk secara bersamaan pada saat perkembangan janin. Sumbing ini terjadi pada atap mulut ketika gagal untuk bergabung sehingga membentuk celah. Bibir sumbing dibagi menjadi dua macam, yaitu komplet (unilateral dan bilatateral) dan inkomplet (unilateral dan bilateral).
Kelainan ini menyebabkan beberapa gangguan pada pertumbuhan bayi seperti proses menghisap,  proses berbicara, dan bisa menyebabkan gangguan psikologis pada orang tuanya. Bibir sumbing ini hanya bisa disembuhkan dengan melakukan operasi, dimana terdapat tahap-tahap berdasarkan jenis kelainannya dan umur.  Semua anak yang lahir dengan celah bibir dan palatum membutuhkan penilaian pediatrik untuk mengesampingkan kelainan kongenital lainnya.




Pembahasan
Anamnesis
            Anamnesa dilakukan dengan mewawancara orang tua atau orang yang bertanggung jawab terhadap anak atau bayi yang menderita cacat labio-gnato-palatoschizis. Anamnesa yang dijalankan melalui wawancara ini meliputi:
1.      Riwayat kehamilan ibu yaitu: kesehatan ibu saat kehamilan (pernah sakit atau tidak), Apakah ibu bayi yang bersangkutan tersebut pernah menggunakan sembarang obat-obat semasa kehamilan? Apakah ibu bayi tersebut semasa kehamilan menderita penyakit infeksi seperti rubella, sifilis, tetanus toxoid, toxoplasmosis atau klamidia? Apakah ibu merokok pada masa kehamilan?
2.      Riwayat kelahiran, yaitu :
                                   ·    Tanggal lahir,
                                   ·    Tempat lahir,
                                   ·    Ditolong oleh siapa,
                                   ·    Cara kelahiran,
                                   ·    Kehamilan ganda,
                                   ·    Keadaan segera setelah lahir, pasca lahir, hari-hari pertama kehidupan,
                                   ·    Masa kehamilan (Apakah menggunakan obat-obatan, alkohol, dan lain-lain?),
                                   ·    Berat badan dan panjang badan lahir (apakah sesuai dengan masa kehamilan, kurang atau besar)
3.      Riwayat pekerjaan
4.      Riwayat makanan
5.      Riwayat keluarga: Dengan menanyakan penyusunan silsilah keluarga bayi tersebut, maka perihal hereditas dapat ditentukan.
6.      Corak reproduksi ibu
7.      Data perumahan
Skenario: seorang bayi laki-laki berusia 3 hari dibawa oleh orang tua kandungnya ke poliklinik tempat anda bekerja dengan keluhan sumbing. Ibunya juga mengeluhkan bayinya rewel dan kesulitan menyusu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan sumbing pada bagian bibir atas kiri, rahang kiri, dan langit-langit. Demikian juga pada bagian kanan. Ayah bayi juga megaku, mengalami pada bibir atas kirinya sewaktu lahir tapi telah dioperasi daat masih kecil.
Jenis Kelamin              : Laki-Laki
Umur                           : 3 Hari
Keluhan                       : Bibir sumbing pada bagian bibir atas kiri, rahang kiri, dan langit-
   langit. Demikian juga pada bagian kanan.

Pemeriksaan
1.     Pemeriksaan Fisik
·      Inspeksi 1
ü Pemeriksaan rongga mulut mulai dengan inspeksi seluruh muka dan sering memberikan gambaran kesehatan menyeluruh penderita. Rongga mulut paling baik diinspeksi dengan sumber cahaya yang baik.
ü  Inspeksi mulut dapat memperlihatkan adanya suatu celah palatum, atau palatum relative pendek, dengan orofaring yang besar; aktivitas muskuler dari palatum molle dan faring selama proses wicara atau menutup mulut tidak ada, nyata-nyata asimetris, atau minimal; celah submukosa.
ü  Pada celah palatum durum dan mole biasanya segera jelas pada pemeriksaan, celah submukosa yang hanya melibatkan otot palatum mole mungkin tidak jelas pada inpeksi. Selama fonasi, elevasi palatum mole harus diperhatikan dalam menilai fungsi palatum mole.
ü  Inspeksi bentuk sumbing, variasi celah bibir yang terjadi unilateral (lebih sering pada sisi kiri) atau bilateral, dan biasanya melibatkan rigi-rigi alveolus.
ü  Inspeksi keadaaan gingiva karena dapat membantu dalam menentukan kesehatan menyeluruh penderita dan tingkat perawatan medis.
ü  Inspeksi adanya ketidakmampuan membuka mulut, trismus, adalah gejala infeksi atau radang dalam ruang parafaring.
ü  Inspeksi adanya infeksi gangguan atau infeksi di pendengaran.
ü  Pada pasien dewasa, perhatikan saat bicara mungkin ada wicara hipernasal (terutama nyata pada artikulasi konsonan tekanan seperti p,b,d,t,h,v,f, dan s); gerakan konstriksi hidung yang sangat jelas selama bebicara; ketidakmampuan bersiul, berkumur, meniup lilin, atau meniup balon; cairan mengalir keluar melalui hidung ketika minum dengan posisi kepala menunduk; dan otitis media serta tuli.
ü  Selain itu, tanda-tanda vital seperti tekanan nadi, respirasi, suhu tubuh biasanya didapat normal. Untuk status gizi biasa didapat gizi buruk pada bayi yang sumbing, sulit untuk menyusu akibat dari keadaan anatomis labianya yang terganggu.
·      Palpasi
Palatum durum harus dipalpasi untuk menyingkirkan massa. Pada celah submukosa palatum mole, lekukan biasanya dapat diraba pada tepi posterior palatum durum.2


2.      Pemeriksaan Penunjang
            Rontgen
·         Diagnosa prenatal untuk celah bibir, baik unilateral maupun bilateral, memungkinkan dengan USG pada usia janin 18 minggu. Celah palatum tersendiri tidak dapat didiagnosa pada pemeriksaan USG prenatal. Ketika diagnosa prenatal dipastikan, rujukan kepada ahli bedah plastik tepat untuk konseling dalam usaha menghilangkan ketakutan.
·         Tes genetik mungkin membantu menentukan perawatan terbaik untuk seorang anak, khususnya jika celah tersebut dihubungkan dengan kondisi genetik. Pemeriksaan genetik juga memberi informasi pada orangtua tentang resiko mereka untuk mendapat anak lain dengan celah bibir atau celah palatum.
23-3e5e8b5f61
Gambar 1. Pemeriksaan penunjang
Radiologi
·      Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan melakukan foto rontgen pada tengkorak. Pada penderita labiognatoplatoskisis ditemukan celah processus maxila dan processus nasalis media. Selain itu untuk melihat adanya palatoshcisis dan gnatoshisis.2
Gambaran klinis
Klasifikasi veau untuk sumbing bibir dan palatum digunakan secara luas boleh klinikus untuk menggambarkan variasi sumbing bibir dan palatum. Klasifikasi ini terbagi dalam 4 kategori utama berdasarkan derajat sumbing.
Sumbing bibir dapat bervariasi dari pit atau takik kecil pada tepi merah bibir sampai sumbing yang meluas ke daerah hidung. Tipe klinis bibir sumbing :1
Ø  Kelas I     : takik unilateral pada tepi merah bibir dan meluas sampai bibir
Ø  Kelas II    : bila takik pada merah bibir sudah meluas ke bibir, tetapi tidak mengenai dasar hidung
Ø  Kelas III  : sumbing unilateral pada merah bibir yang meluas melalui bibir ke dasar           hidung
Ø  Kelas IV  : setiap sumbing bilateral pada bibir yang menunjukka takik tak sempurna atau                   merupakan sumbing yang sempurna.
Menurut sistem Veau, sumbing palatum dibagi menjadi empat tipe klinis, yaitu :
Ø  Kelas I     : sumbing yang terbatas pada palatum lunak
Ø  Kelas II   : cacat pada palatum lunak dan keras , meluas tidak melampaui foramen insisivum dan hanya terbatas pada palatum sekunder
Ø  Kelas III : sumbing pada palatum dapat komplit atau tidak komplit. Sumbing palatum komplet meliputi palatum lunak dan keras sampai foramen insisivum. Sumbing tidak komplet meliputi palatum lunak dan keras tetapi tidak meluas sampai foramen insisivum. Sumbing unilateral yang komplet dan meluas dari uvula sampai foramen insisivum digaris tengah dan prosesus alveolaris unilateral juga termasuk kelas III
Ø  Kelas IV : sumbing bilateral komplet meliputi palatum lunak dan keras serta prosesus alveolaris pada kedua sisi premaksila, meninggalkan daerah itu bebas dan sering kali bergerak.
ff
Gambar 2. Tipe sumbing
Sumbing submukosa tidak termasuk sistem klasifikasi ini, tetapi dapat diidentifikasikan secara klinis dengan adanya bifid uvula, takik yang lunak pada bagian posterior palatum keras dan lunak serta adanya daerah cerah pada selaput tipis translusen yang menutupi daerah yang cacat. Sumbing palatum lunak dan submukosa sering kali berhubungan dengan gangguan fungsi faringeal dan tuba eustachii. Otitis media rekuren dan gangguan pendengaran merupakan komlikasi yang umum ditemukan. Gangguan palatal-faringeal disebabkan gagalnya palatum lunak dan dinding faringeal berkontak selama penelanan dan bicara sehingga mencegah penutupan otot yang diperlukan antara hidung dan faring. Suara sering kali ditandai oleh pengeluaran udara dari hidung sehingga menjadi sengau. Sumbing alveolar unilateral dan bilateral yang komplet sering kali berhubungan dengan gigi berlebihan umumnya insisif lateral atas. 1

Working Diagnosis
Working diagnosis yang dijalankan adalah Labio-gnato-palatoschizis. Untuk mendiagnosa terjadi celah sumbing pada bayi setelah lahir mudah karena pada celah sumbing mempunyai ciri fisik yang spesifik. Tonjolan-tonjolan yang akan membentuk celah pada wajah melibatkan proccessus frontalis, processus nasalis, processus maxillaris dan processus mandibularis. Celah sumbing terjadi dengan kegagalan fusi bagian bibir dan langit-langit. Kegagalan fusi bagian bibir dapat menyatu sehingga ke langit-langit. 3
Celah sumbing dapat dikategorikan kepada 3 garis besar utama yaitu:
1.      Celah sumbing bibir
2.      Celah sumbing langit-langit
3.      Celah sumbing bibir dan langit-langit
http://www.klikdokter.com/userfiles/cleft1(1).jpg
Gambar 3. Cacat sumbing yang disebabkan kegagalan penyatuan yang mengakibatkan celah.
Kegagalan penyatuan pada processus maxillaris kanan/kiri dan processus nasalis medial bisa terjadi secara unilateral dan bilateral. Kegagalan penyatuan ini mengakibatkan kelainan yang disebut sebagai cheiloschizis dan sumbing bibir. Kegagalan penyatuan pada processus nasalis media dan penyatuan segmen maxillaris antara kiri dan kanan mengakibatkan kelaianan palatoschizis atau sumbing langit-langit. Kegagalan penyatuan processus maxillaris dan processus  mandibularis yang akan membentu celah tidak tertutup mengakibatkan kelainan yang disebut makrostokia.
Sumbing pada bibir dapat diklasifikasikan sebagai komplet atau inkomplet. Komplet bermaksud celah yang sampai sehingga ke dasar hidung manakala inkomplet adalah sebaliknya.

Klasifikasi
1. Berdasarkan organ yang terlibat
a. Celah di bibir (labioskizis)
b. Celah di gusi (gnatoskizis)
c. Celah di langit (palatoskizis)
d. Celah dapat terjadi lebih dari satu organ mis = terjadi di bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis)
2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk
    Tingkat kelainan bibr sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
a. Unilateral Incomplete. Jika celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
b. Unilateral Complete. Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral Complete. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.3

Epidemiologi
Terdapat sekitar 1:600 kelahiran yang menyebabkan bibir sumbing dan sekitar 1:1000 kelahiran terkena insiden celah palatum. Bibir sumbing cenderung lebih lazim kepada laki-laki. Kemungkinan terkena dikarenakan sang ibu yang terpajan obat, kompleks sindrom-malformasi, ataupun genetik. Terjadinya dapat secara sporadis, insiden tertinggi kelainan ini terdapat pada orang Asia dan terendah pada orang kulit hitam. Penemuan ini sebagian terjelaskan oleh adanya kenaikan insidens gangguan pendengaran konduktif pada anak yang menderita celah palatum, sebagian disebabkan karena infeksi berulang pada telinga tengah, juga oleh frekuensi cacat celah pada anak-anak yang mempunyai kelainan kromosom. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing dan celah langit-langit adalah usia ibu waktu melahirkan, perkawinan antara penderita bibir sumbing, defisiensi Zn waktu hamil dan defisiensi vitamin B6.4
Bagi orang tua dengan bibir sumbing dan langit-langit mulut atau untuk anak dengan celah bibir dan langit-langit, resiko memiliki anak yang terkena dampak berikutnya adalah 4%. Risiko meningkat sampai 9% dengan 2 anak sebelumnya terpengaruh. Secara umum, risiko peningkatan saudara kandung berikutnya dengan keparahan dari celah tersebut.
Kelainan ini sebaiknya secepat mungkin diperbaiki karena akan mengganggu pada waktu menyususui dan akan mempengaruhi pertumbuhan normal rahang serta perkembangan bicara. Penatalaksanaan labioschisis adalah operasi. Bibir sumbing dapat ditutup pada semua usia, namun waktu yang paling baik adalah bila bayi berumur 10 minggu, berat badan mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan demikian umur yang paling baik untuk operasi sekitar 3 bulan.1,5.4

Etiology
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya cacat sumbing. Kebanyakan sumbing bibir dan sumbing langit-langit mempunyai penyebab multifaktorial. Sumbing bibir (kurang lebih 1:1000 kelahiran) lebih banyak terjadi pada pria (80%) daripada wanita, angka kejadiannya agak lebih tinggi dengan bertambahnya usia ibu, dan angka kejadian ini berbeda-beda pada berbagai kelompok penduduk yang berlainan. Faktor terjadinya cacat sumbing antara lain , yaitu :5,6
·         Mutasi gen, yaitu berhubungan dengan beberapa macam sindrom atau gejala yang dapat diturunkan oleh hukum Mendel dimana celah bibir dengan atau sebagai langitan sebagai komponennya.
·         Aberasi kromosom yaitu apabila celah bibir terjadi sebagai gambaran klinis dari beberapa sindrom yang dihasilkan dari aberasi kromosom, contohnya sindrom D-trisomi.
·         Faktor lingkungan atau adanya zat teratogen. Yang dimaksud zat teratogen adalah agen spesifik yang dapat merusak embrio seperti virus rubella, thalidome. Teratogen lainnya yang dapat menyebabkan cleft yaitu ethanol, phenytoin, defisiensi asam folat dan rokok.
·         Multifactorial inheritance, yaitu memiliki kecenderungan yang kuat dari keluarga untuk mendapatkan defek ini namun tetapi tidak sesuai dengan pola Mendel sederhana.
Secara garis besar, faktor yang diduga menjadi penyebab terjadinya celah bibir atau langitan dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu faktor herediter dan faktor lingkungan.
·         Faktor herediter, yaitu faktor yang dipastikan sebagai penyebab terjadinya celah bibir. Pada beberapa kasus, tampak kejadian celah bibir dan langitan mengikuti pola hukum Mendel namun pada kasus lainnya distribusi kelainan itu tidak beraturan. Faktor risiko herediter dibagi menjadi dua macam, mutasi gen dan aberasi kromosom. Pada mutasi gen biasanya ditemukan sejumlah sindrom yang diturunkan menurut hukum Mendel, baik secara autosomal dominan, resesif, maupun X-linked. Pada autosomal dominan, orangtua yang mempunyai kelainan ini menghasilkan anak dengan kelainan yang sama, sedangkan pada autosomal resesif kedua orangtua normal, tetapi sebagai pembawa gen abnormal. Pada kasus terkait X (X-linked), wanita dengan gen abnormal tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan sedangkan pria dengan gen abnormal menunjukkan kelainan ini. 5,6
·         Faktor lingkungan adalah faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan embrio, seperti usia ibu saat hamil, penggunaan obat-obatan, defisiensi nutrisi, penyakit infeksi, radiasi, stress emosional dan trauma pada masa kehamilan. Faktor usia ibu hamil di usia lanjut biasanya berisiko melahirkan bayi dengan bibir sumbing.

a.       Defisiensi nutrisi
Pada masa kehamilan, nutrisi yang kurang merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan terjadinya celah palatum. Percobaan-percobaan yang dilakukan terhadap binatang seperti pemberian vitamin A secara berlebihan ataupun kurang yang hasilnya menimbulkan celah pada anak-anak tikus yang lahir. Begitu juga pada defisiensi vitamin Riboflavin yang diberikan pada tikus yang hamil dan hasilnya juga adanya celah dengan persentase yang tinggi. Defisiensi vitamin B kompleks yang dibutuhkan untuk beberapa enzim yang vital dalam tubuh dan keadaan ini dapat memacu terjadinya celah palatum.5,6
b.      Stres
Strean dan Peer melaporkan bahwa psikologis, emosi dan stres merupakan faktor yang signifikan terhadap terjadinya celah palatum. Stres yang timbul menyebabkan fungsi korteks adrenal terangsang untuk melepaskan sekresi hidrokortison dan jika hal ini sering terjadi dalam trimester pertama kehamilan akan dapat menjurus kepada terjadinya suatu malformasi.5,6
c.       Zat kimia
Pemberian aspirin, kortison dan insulin, dan obat-obatan yang diketahui dapat menyebabkan congenital abnormality dan facial cleft seperti thalidomide, phenytoin, antibiotika, transqualizer, obat untuk aborsi dan obat untuk infeksi virus, serta penggunaan kafein dan injeksi steroid, karena penggunaan obat-obatan ini akan melalui palsenta sehingga menghambat pertumbuhan janin.5,6
d.      Mekanik
Obstruksi lidah memungkinkan terjadinya celah pada embrio. Perkembangan yang tidak sejalan atau posisi janin dalam rahim dapat menyebabkan retrusi lidah dan hidung diantara palatum itu sendiri.5,6
e.       Anemia malnutrisi
Anemia dan kesehatan yang buruk dari si ibu akan dapat menyebabkan congenital cleft, karena kurangnya darah yang mengangkut oksigen dimana oksigen diperlukan untuk pertumbuhan jaringan mesenkim.5,6
f.       Infeksi pada trimester pertama kehamilan
Infeksi yang terjadi dalam trimester pertama kehamilan dapat mengganggu fetus, karena infeksi yang terjadi dapat menghalangi pembentukan jaringan baru.5,6
g.      Radiasi
Merupakan bahan-bahan teratogenik yang potent, dimana radioterapi yang dilakukan pada tumor dapat menghambat pertumbuhan janin. 5,6
h.      Anoksia
Dimana kadar O2 menurun akibatnya O2 yang diperlukan pertumbuhan jaringan mesenkim menjadi berkurang sehingga terjadi celah palatum. 5,6
i.        Kecanduan alkohol
Dimana alkohol dapat menyebabkan morfogenesis dan mempunyai efek antagonis metabolik sehingga bisa menyebabkan terjadinya celah palatum. 5,6
Faktor-faktor ini merupakan penyebab peningkatan insiden celah palatum, tetapi intensitas dan waktu lebih penting dibanding jenis faktor lingkungan yang spesifik.
Penyebab lain celah palatum yang sebenarnya multifaktorial adalah:
1. Usia ibu sewaktu melahirkan
2. Perkawinan antara sesama penderita
3. Defisiensi Zn sewaktu hamil

Patofisiology
        Cacat sumbing terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm, pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (processus nasalis dan processus maksilaris) pecah kembali.
        Labio-gnato-palatoschizis terjadi akibat fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang diikuti disfusi kedua bibir, rahang, dan langit-langit pada garis tengah dan kegagalan fusi septum nasi. Gangguan fusi palatum durum serta palatum mole terjadi sekitar kehamilan ke-7 sampai 12 minggu. 7

12-c0f725ed1b
Gambar 4. Perkembangan embrio minggu ke-8
Labio-gnato-palatoschizis dapat mengakibatkan gambaran wajah yang abnormal dan gangguan bicara. Foramen incisivum dianggap sebagai petunjuk pembagian antara cacat sumbing depan dan belakang. Sumbing yang terletak di depan foramen incisivum meliputi sumbing bibir lateral, celah rahang atas dan celah antara palatum primer dan sekunder. Sumbing ini disebabkan karena tidak menyatunya sebagian atau seluruh tonjol maksilla dengan tonjol hidung medial pada satu atau kedua sisi. Sumbing yang terletak dibelakang foramen incisivum antara lain adalah celah palatum(sekunder) dan celah uvula.
Celah palatum disebabkan oleh tidak menyatunya lempeng-lempeng palatina, yang kemungkianan disebabkan oleh kecilnya ukuran lempeng tersebut, kegagalan lempeng untuk terangkat, hambatan proses penyatuannya sendiri, atau gagalnya lidah untuk turun dari antara kedua lempeng tersebut akibat mikrognatia. Golongan ketiga terbentuk oleh gabungan sumbing yang terletak di depan maupun di belakang foramen incisivum. Sumbing depan dapat bermacam-macam tingkatnya, mulai dari kelainan yang hampir tidak tampak pada vermillion bibir hingga sumbing yang meluas ke dalam hidung. Pada kasus yang lebih berat, sumbing meluas ke tingkat yang lebih dalam, karena itu membentuk celah rahang atas. Maksila dengan demikian terbelah diantara gigi seri lateral dan gigi taring. Kerapkali, sumbing seperti ini meluas hingga ke foramen incisivum. Demikian pula, sumbing belakang dapat bermacam-macam tingkatnya, mulai dari sumbing yang mengenaiseluruh palatum sekunder hingga sumbing pada uvula sahaja. 7
Celah wajah miring ditimbulkan oleh gagalnya tonjol maksilla untuk menyatu dengan tonjol hidung lateral pasangannya. Apabila hal ini terjadi, duktus nasolakrimalis biasanya terbuka dan nampak dari luar. Sumbing bibir median, suatu kelainan yang jarang terjadi, disebabkan oleh penyatuan dua tonjol hidung median yang tidak sempurna di garis tengah.
Kelainan ini biasanya disertai oleh adanya suatu alur yang dalam di antara sisi kanan dan kiri hidung. Bayi yang mengalani sumbing garis tengah sering mengalami keterbelakangan mental dan mungkin mengalami kelainan otak dengan berbagai derajat hilangnya struktur pada garis tengah (holoprosensefali). Hilangnya jaringan garis tengah bisa demikian luas sehingga terjadi penyaruan ventrikel lateral. Kelainan ini timbul dalam perkembangan yang sangat dini pada saat mulai terjadinya neurulasi (hari ke 19 sampai 21) ketika garis tengah otak depan sedang dibentuk.7

Penatalaksanaan
Program habilisasi yang menyeluruh untuk anak yang menderita bibir sumbing atau celah palatum bisa memerlukan waktu bertahun-tahun. Diperlukan tim yang terdiri dari dokter anak, ahli bedah plastik, ahli THT, dokter gigi anak, prostodontis, ortodontis, terapi wicara, pekerja sosial bagian medis, ahli psikologi, psikiater anak, dan perawat kesehatan masyarakat.
Sebelum melakukan operasi, orangtua diharapkan melakukan konseling. Hal ini untuk membantu mengurangi kecemasan orangtua pasien dan memberikan informasi mengenai operasi yang akan dilakukan dan bagaimana tampilan anak mereka setelah dilakukan operasi. Konseling juga dilakukan bagi si anak agar saat bertambah besar mereka tidak terganggu secara psikologis. Penanganan bibir sumbing dan langitan merupakan suatu seri pengobatan / penatalaksanaan jangka panjang; yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1.      Penutupan Celah
·         Penutupan Celah Bibir
Dikerjakan berdasarkan kriteria rule of ten. Bila memungkinkan (pasien datang sedini mungkin) dilakukan preliminary treatment, berupa tindakan non bedah yang bertujuan mengendalikan pertumbuhan premaksila, mendekatkan celah bibir; agar memperoleh hasil yang baik.
IMG-20120112-00078IMG-20120112-00075






Gambar 5. Penutupan celah bibir

·         Penutupan Celah Langitan
Diharapkan langitan sudah tertutup pada usia anak mulai bisa berbicara, yaitu usia kurang lebih 2 tahun. Metode yang dikerjakan antara lain teknik mucoperiosteal flap (von Langenbeck, Wardill, dsb), aplikasi z-plasty (Furlow, Cronin, dsb), dsb.8
·         Penutupan Celah Gusi
Dikerjakan bila gigi geligi permanen sudah tumbuh, kurang lebih 8-9 tahun. Alasannya, tindakan operasi yang dilakukan sebelum gigi permanen ini tumbuh akan mempengaruhi pertumbuhan tulang. Celah yang ada diisi bone graft dengan donor berasal dari os iliaka. 8
2.      Penanganan Sekunder / Secondary Repair
Perbaikan yang diperlukan sangat tergantung pada penatalaksanaan awal, terutama labioplasti. Teknik / metoda yang diterapkan dalam penutupan celah bibir yang baik, selain berorientasi pada simetrisitas dan patokan-patokan anatomik bibir, juga memperhitungkan koreksi kelainan yang sering dijumpai bersamaan, misalnya hidung, baik pada saat bersamaan dengan labioplasti maupun pada kesempatan yang direncanakan kemudian (mempersiapkan jaringan dan menghindari parut yang tidak menguntungkan). Masalah umum yang dijumpai pada sumbing bibir dan langitan bilateral antara lain adalah kolumela yang pendek, konfigurasi nasal tip yang tidak harmonis, problem gigi dan maksila, dan parut operasi sebelumnya. 8
·         Perbaikan Konfigurasi Anatomik Bibir
Termasuk perbaikan parut dan pembentukan tuberkulum labii superior, cupid’s bow, filtrum dengan philtral ridge-nya. Penggunaan flap lokal, dalam hal ini termasuk lip switch surgery (misal Abbe flap) setelah proses maturasi jaringan pasca bedah sebelumnya, atau pada kesempatan tindakan operasi berikutnya. 8
·         Penanganan Hidung
Tindakan koreksi diperlukan untuk memperbaiki bentuk hidung. Kelainan bentuk dan letak dari kartilago alae dan kolumela yang pendek pada sumbing bibir bilateral merupakan masalah utama. Tindakan koreksi pada kelainan ini dikerjakan pada rentang waktu antara usia 6 bulan sampai dengan usia 6 tahun; sedangkan koreksi nasal tip dan nasal vault correction sebagai tindakan koreksi hidung, dikerjakan pada usia 15-16 tahun. 8
·         Penanganan Gigi
Penanganan gigi merupakan problematik yang tidak terlepas dari penatalaksanaan sumbingbibir dan langitan, dan tidak kalah sulitnya dengan tindakan operasinya sendiri. Pengaturan lengkung dan arah pertumbuhan gigi-geligi (ortodonsi) maupun penatalaksanaan maksila yang hipoplastik (ortognati) merupakan seri pengobatan sendiri yang membutuhkan waktu yang relatif cukup lama8
Sampai saat ini dianut penanganan gigi geligi diserahkan pada ortodontis selesai beberapa seri operasi, atau bila pasien yang bersangkutan cukup awas pada kebutuhannya. Sebenarnya penatalaksanaan awal secara terpadu jelas lebih menguntungkan bagi pasien. 8
·         Penanganan Hipoplasi Maksila
ü  Tindakan operatif
Tergantung berat ringannya kondisi hipoplastik, berbagai metoda osteotomi rahang atas dapat dilakukan (osteotomi LeFort, Wasmund) yang kadang-kadang perlu dikombinasi dengan osteotomi rahang bawah (Obwegesser, dsb). 8
ü  Tindakan non operatif
Penggunaan maxillary expansion. Ada 2 metoda, yaitu rapid expansion dan non rapid expansion. Dikerjakan bersamaan dengan tindakan ortodontik. 8
·         Penanganan Problem Bicara
Gangguan bicara, berupa suara sengau dijumpai pada celah langitan; dimana terdapat hubungan antara rongga mulut dan rongga hidung. Otot-otot palatum dan faring (m.tensor vellipalatini dan levator vellipalatini; m.monstriktor faringeus) tidak tumbuh dan berkembang sempurna (hipoplastik) dan tidak terkoordinasi baik akibat adanya celah. Tindakan rekonstruksi awal (sebelum usia 2 tahun) mengupayakan ‘pengembalian anatomik’ otot-otot ini, sehingga fungsinya diharapkan dapat normal dan suara sengau terkoreksi. 8
3.      Upaya lain yang secara nyata mempengaruhi keberhasilan tindakan ini adalah usaha pasien mengucapkan kata-kata dengan baik dan benar; dan ini dapat dilakukan apabila tingkat kecerdasan (nilai intelligence quotient / IQ) anak normal, sentra bicara pasien terbiasa (memiliki memori) mendengarkan kata-kata yang baik dan benar. Kondisi ini hanya dapat diperoleh bila sejak awal (beberapa saat sejak kelahiran) orang tua pasien membiasakan mengucapkan kata-kata yang baik dan benar di telinga anaknya / pasien (pendidikan non formal). Bila upaya non formal belum berhasil memberikan perbaikan, seringkali diperlukan pendidikan formal berupa terapi wicara (speech therapy).
Bila usaha-usaha ini telah dikerjakan, namun tidak juga memberikan hasil, pada penilaian adanya nasal escape merupakan indikasi tindakan faringoplasti.

Tabel 1.  Urutan Intervensi Kunci untuk Perawatan berdasarkan Usia. 8
Usia
Intervensi
Prenatal
Rujukan kepada tim yang menangani celah bibir dan palatum
Diagnosis dan konseling genetik
Memperlihatkan masalah psikososial
Mempersiapkan instruksi pemberian makan
Membuat rencana pemberian makan
Lahir – 1 bulan
Rujukan kepada tim yang menangani celah bibir dan palatum
Diagnosis dan konseling genetik
Memperlihatkan masalah psikososial
Sediakan instruksi pemberian makan dan periksa pertumbuhan
1 – 4 bulan
Periksa pemberian makan dan pertumbuhan
Perbaikan celah bibir
Periksa telinga dan pendengaran
5 – 15 bulan
Periksa pemberian makan, pertumbuhan dan perkembangan
Periksa telinga dan pendengaran; pertimbangkan tabung telinga
Perbaikan celah palatum
Sediakan instruksi kebersihan oral
16 – 24 bulan
Nilai telinga dan pendengaran
Nilai bicara dan bahasa
Periksa perkembangan
2 – 5 tahun
Nilai bicara dan bahasa; tangani insufisiensi velofaringeal
Periksa telinga dan pendengaran
Pertimbangkan perbaikan bibir/hidung sebelum mulai sekolah
Nilai perkembangan dan penyesuaian psikososial
6 – 11 tahun
Nilai bicara dan bahasa; tangani insufisiensi velofaringeal
Intervensi ortodonti
Cangkok tulang alveolar
Nilai sekolah/penyesuaian psikososial
12 – 21 tahun
Pembedahan rahang, rinoplasti jika dibutuhkan
Alat ortodonti, implan jika dibutuhkan
Konseling genetik
Nilai sekolah/penyesuaian psikososial



Tabel 2.  Perencanaan Prosedur Pembedahan Celah Bibir dan Palatum. 8
Celah bibir saja (cleft lip alone)
Unilateral (satu sisi) Satu kali operasi pada usia 5 – 6 bulan
Bilateral (dua sisi) Satu kali operasi pada usia 4 – 5 bulan
Celah palatum saja (cleft palate alone)
Palatum molle saja Satu kali operasi pada usia 6 bulan
Palatum durum dan molle Dua kali operasi
- Palatum molle pada usia 6 bulan
- Palatum durum pada usia 15 – 18 bulan
Celah bibir dan palatum (cleft lip and palate)
Unilateral Dua kali operasi
- Celah bibir dan palatum molle pada usia 5 – 6 bulan
- Palatum durum dan bantalan gusi dengan atau tanpa perbaikan bibir pada usia 15 -18 bulan
Bilateral Dua kali operasi
- Celah bibir dan palatum molle pada usia 4 – 5 bulan
- Palatum durum dan bantalan gusi dengan atau tanpa perbaikan bibir pada usia 15 – 18 bulan
Gambar 6. Sebelum dan sesudah oprasi
Komplikasi
Terdapat beberapa komplikasi pada bibir sumbing yaitu:
·         Masalah asupan makanan
Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita sumbing. Adanya sumbing pada bagian bibir atas kanan kiri rahang kanan kiri, dan langit-langit (labioschisis bilateral) memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah relflek hisap dan reflek menelan pada bayi tersebut tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak udara pada saat menyusu. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) dapat membantu mengatasi masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu.
·            Masalah dental
Prevalensi anomali gigi yang berhubungan dengan sumbing bibir dan palatum sering terlihat. Kelainan dalam jumlah, ukuran, morfologi, kalsifikasi dan erupsi gigi dapat ditemukan. Baik gigi susu maupun gigi tetap, dapat terkena. Insisif lateral sekitar sumbing sering kali terkena, tetapi gigi-geligi di luar daerah sumbing juga dapat menunjukkan cacat perkembangan sampai pada derajat berat.1
·            Infeksi telinga
Bayi dapat lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan dan penutupan eustachius.
·            Gangguan bicara
Gejala-gejala ketidakmampuan palatofaring sama dengan gejala-gejala ketidakmampuan pada celah palatum, walaupun tanda klinisnya berbeda. Mungkin ada wicara hipernasal (terutama nyata pada artikulasi konsonan tekanan seperti p,b,d,t,h,v,f, dan s); gerakan konstriksi hidung yang sangat jelas selama bebicara; ketidakmampuan bersiul, berkumur, meniup lilin, atau meniup balon; cairan mengalir keluar melalui hidung ketika minum dengan posisi kepala menunduk; dan otitis media serta tuli. Inspeksi mulut dapat memperlihatkan adanya suatu celah palatum, atau palatum relative pendek, dengan orofaring yang besar; aktivitas muskuler dari palatum molle dan faring selama proses wicara atau menutup mulut tidak ada, nyata-nyata asimetris, atau minimal; celah submukosa. Hal terakhir ini dikesankan oleh adanya uvula bifida, membran bening pada linea mediana palatum molle (menunjukkan tidak adanya kontinuitas serabut otot), yaitu dengan terabanya takikan pada batas posterior palatum durum, bukannya procesus spinosus nasalis posterior; atau dengan adanya perpindahan ke depan, atau perpindahan berbentuk V atau terbentuknya alur pada palatum molle selama proses wicara atau menutup mulut.
·            Ketidakmampuan palatofaring juga dapat ditampakkan melalui foto rontgen. Kepala harus diletakkan pada posisi baik untuk memperoleh gambaran lateral yang benar; satu film dibuat saat penderita mengucapkan huruf hidup “u” secara terus menerus seperti pada “boom”. Pada fungsinya yang normal, palatum molle berkontak dengan dinding faring posterior; sedangkan pada ketidakmampuan palatofaring, kontak demikian adanya.1

Prognosis
Hasil penilaian setelah perbaikan bibir sumbing didasarkan pada kontur bibir dan simetri, pertumbuhan wajah, dan psikologis kesejahteraan. Mayor operasi revisional biasanya tidak diperlukan setelah perbaikan bibir sumbing. Minor revisi dari revisi vermilion atau bekas luka mungkin diperlukan. Aspek yang paling menantang dari operasi bibir sumbing adalah koreksi deformitas hidung. operasi sekunder untuk memperbaiki kontur hidung dan simetri umumnya diperlukan.8 Selain itu, perlu juga terapi bicara pada anak yang memiliki masalah dalam berbicara dalam proses setelah operasi. Bibir sumbing dapat ditutup pada semua usia, namun waktu yang paling baik adalah bila bayi berumur 10 minggu, berat badan mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan demikian umur yang paling baik untuk operasi sekitar 3 bulan.1,5.8

Pencegahan
1.      Menghindari merokok
Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko lingkungan terbaik yang telah dipelajari untuk terjadinya celah orofacial. Ibu yang menggunakan tembakau selama kehamilan secara konsisten terkait dengan peningkatan resiko terjadinya celah-celah orofacial. Mengingat frekuensi kebiasaan kalangan perempuan di Amerika Serikat, merokok dapat menjelaskan sebanyak 20% dari celah orofacial yang terjadi pada populasi negara itu.
2.      Menghindari alkohol
Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui dapat mempengaruhi tumbuh kembang embrio, dan langit-langit mulut sumbing telah dijelaskan memiliki hubungan dengan terjadinya defek sebanyak 10% kasus pada sindrom alkohol fetal (fetal alcohol syndrome).
3.      Memperbaiki nutrisi ibu
Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilan sangat penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang normal dari fetus. Seperti asam folat, vitamin B6, dan vitamin A.
4.      Modifikasi pekerjaan
Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar menyerankan bahwa ada hubungan antara celah orofasial dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai kesehatan, industri reparasi, pegawai agrikulutur). Teratogenesis karena trichloroethylene dan tetrachloroethylene pada air yang diketahui berhubungan dengan pekerjaan bertani mengindikasikan adanya peran dari pestisida, hal ini diketahui dari beberapa penelitian. namun tidak semua.4

Kesimpulan
Bibir sumbing atau cleft lips merupakan penyakit bawaan atau genetik. Dimana terdapat beberapa macam bibir sumbing. Penanganan pada penderita bibir sumbing sebaiknya dilakukan sejak dini. Dengan demikian, peluang untuk menjadi normalpun lebih besar dibandingkan mengurusnya dengan terlambat. Hal-hal lain yang dapat diperhatikan untuk mengurangi resiko terkena bibir sumbing ini adalah dengan memperhatikan obat-obatan yang dipakai dan juga pola hiduppun juga diperhatikan pada ibu hamil. Dengan begitu, persentase terkena bibir sumbingpun berkurang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar