Herpes Zooster
Agung Ganjar
Kurniawan
102010169
Kelompok B1
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kampus
2 Ukrida, Jl. ArjunaUtara no. 6 Jakarta 11510
Pendahuluan
Herpes zoster telah dikenal sejak
zaman Yunani kuno. Herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama dengan
varisela, yaitu virus varisela zoster.1,2 Herpes zoster ditandai
dengan adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang
terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion
serabut saraf sensorik dan nervus kranialis.
Insiden herpes zoster tersebar merata
di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita.
Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia.1
Untuk itu makalah ini dibuat, selain untuk memenuhi
tugas problem based learning (PBL) mandiri yang diberikan oleh dr. Wani, juga
bertujuan untuk mengenal lebih jauh mengenai Herpes zoster.
1. Anamnesis
Pada identitas pasien yang menderita herpes zoster,
umur penting karena berpengaruh terhadap berat ringannya penyakit serta
kemungkinan timbulnya komplikasi. Keluhan yang dirasakan biasanya berupa demam,
nyeri kepala dan lesu, sebelum timbulnya ruam pada kulit. Gatal dapat menyertai
lesi kulit dan sangat bervariasi, kadang dapat berat. Perlu diketahui sudah
berapa lama ruam kulit timbul sebelum datang berobat, agar dapat menentukan
apakah obat antivirus masih efektif bila ada indikasi pemberiannya. Penyebaran
atau perluasan ruam kulit penting,
karena herpes zoster mempunyai ciri yang khas yaitu ciri lesi yang unilateral.
Selain
jumlah anggota keluarga, riwayat penderita herpes zoster dalam keluarga penting
untuk diketahui. Status imun pasien perlu diketahui untuk menentukan apakah
obat antivirus perlu diberikan. Untuk itu perlu dinyatakan beberapa hal yang
dapat membantu menentukan status imun pasien, antara lain penyakit yang sedang
diderita misalnya keganasan serta infeksi HIV / AIDS. Pengobatan dengan
imunosupresan, misalnya kortikosteroid jangka panjang atau sitostatik. Pada
masa kehamilan dan berat badan rendah pada bayi.
Karena
pasien khawatir untuk memperlihatkan ruamnya, hal yang bijakasana bagi dokter
adalah memperlihatkan ruam tersebut dengan cepat, kemudian menanyakan
riwayatnya dan terakhir kembali memeriksa ruam tersebut dengan teliti.
Pertanyaan-pertanyaan
yang ditunjukan kepada pasien dengan lesi kulit antara lain:
1. Kapan lesi pertama kali mulai timbul ?
2. Tempat
lesi tersebut mulai timbul dimana ?
3. Apakah
lesi tersebut terasa gatal ?
4. Apakah
lesi tersebut terasa menyebar atau tidak ?
5. Perkembangan
lesi tersebut ?
6.
Riwayat
Penyakit Dahulu ? Sebaiknya,
ditanyakan penyakit kulit yang pernah diderita pasien karena penyakit kulit
mungkin sudah ada sejak lahir.
7. Riwayat Keluarga ? Perlu dipastikan apakah dari
keluarga ada yang mengalami penyakit kulit yang sama.
8. Riwayat Obat ? Jenis dan lama obat yang sedang
diminum pasien harus diketahui. Obat adalah kausa yang penting pada sejumlah
besar kasus erupsi.
Untuk memeriksa kulit, suatu kaca pembesar mungkin
diperlukan. Kulit sebaiknya dipalpasi dengan hati-hati untuk menilai tekstur
dan kepucatannya. Pasien mungkin diharuskan untuk tidak berpakaian dengan
tujuan untuk menentukan luas dan tampilan beberapa ruam. Jangan lupa untuk
memeriksa mulut, kuku, rambut, dan genitalia, dan melakukan pemeriksaan umum
jika diagnosis yang ditegakkan bukan merupakan suatu proses penyakit yang
terbatas di kulit.
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan pada herpes zoster
terdiri dari dua jenis, yaitu pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Inspeksi merupakan teknik
sederahana dan kuat untuk menentukan karakter lesi kulit. Meskipun banyak lesi
memperlihatkan karakter yang jelas dan diagnostic tanpa perlu usaha, rincian
tentang pigmentasi yang tidak sejenis misalnya, memerlukan penggunaan kaca
pembesar yang baik kualitasnya.
2. Diaskopi
Diaskopi terdiri dari penekanan
sebuah lensa datae transparah atau obyek lain pada lesi. Alat ini membantu
pemeriksa menilai seberapa banyak darah intravascular sebuah lesi yang merah
atau ungu. Jika lesi terutama terdiri dari kongesti vascular, diaskopi akan
memucat. Tekanan yang lebih kuat pada kapiler akan mendorong sel darah merah
kedalam pembuluh darah di sekitarnya yang mempunyai tekanan yang lebih rendah.
Kegagalan untuk menjadi pucat, atau pucat yang tidak sempurna, memberi kesan
bahwa banyak sel darah merah mengalami ekstravasasi atau jaringan pembuluh yang
berisi darah tersebut abnormal, sehingga tidak memungkinkan sel lewat dengan
bebas. Oleh karena itu tangan yang merah harus memucat pada diaskopi, tetapi
harus tidak terjadi pada memar. Sarcoma Kaposi mencakup baik pembuluh darah
neoplastik aberan maupun eritrosit yang ekstravasasi, sehingga tidak memucat.1
3. Palpasi
Nilai dari meraba lesi kulit
mendapat penekanan kusus. Sarung tangan plastic sekali pakai wajib dipakai
untuk meraba setiap lesi yang mungkin infektif atau yang sifatnya sama sekali
misterius pada setiap penderita tanpa memandang status HIV-nya.
Suatu subset khusus untuk palpasi
terdiri dari penentuan apakah sebuah benjolan terletak intrakutan atau subkutan.
Jika kulit dapat digeser diatasnya, massa tersebut jelas terdapat di subkutan,
jika kulit ikut bergerak dengan lesi tersebut, massa bisa intrakutan atau yang
kurang mungkin ialah melekat pada kulit.1
Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang diberikan
kepada pasien dengan keluhan Herpes zoster adalah pemeriksaan tzank smear, DFA,
dan biopsy kulit.
1.
Tzank smear
Preparat diambil dari dasar vesikel yang
masih baru dengan cara kerokan atau hapusan, kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu
Hematoxylin-eosin, Giemsa’s, Wright’s, Toloidine blue ataupun Papanicolaou’s.
Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai multinucleated giant cells
atau sel-sel raksasa yang mempunyai inti banyak dan epitel sel
berisi Acidophilic Inclusion Bodies. Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84 %.2
2.
Direct Fluorescent Assay (DFA)
Preparat diambil dari kerukan dasar vesikel,
tetapi apabila sudah berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitive.
Hasil pemeriksaannya cepat dan membutuhkan mikroskop fluorescence. Dengan tes
ini dapat menemukan antigen virus intrasel.
3.
Biopsi kulit
Hasil pemeriksaan histopatologis, tampak
vesikel intraepidermal dengan degenerasi sel epidermal dan acantholiysis. Pada
dermis bagian atas dijumpai adanya limfositik di dalam filtrate.2
3. Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh infeksi virus varisela
zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA, virus ini berukuran 140-200 nm,
yang termasuk subfamili alfa herpes viridae. Berdasarkan sifat biologisnya
seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten
diklasifikasikan kedalam 3 subfamili yaitu alfa, beta dan gamma. VVZ dalam
subfamili alfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel
yang menimbulkan lesi vaskuler. Selanjutnya setelah infeksi primer, infeksi
oleh virus herpes alfa biasanya menetap dalam bentuk laten didalam neuron dari
ganglion. Virus yang laten ini pada saatnya akan menimbulkan kekambuhan secara
periodik. Secara in vitro virus herpes alfa mempunyai jajaran penjamu yang
relatif luas dengan siklus pertumbuhan yang pendek serta mempunyai enzim yang
penting untuk replikasi meliputi virus spesifik DNA polimerase dan virus
spesifik deoxypiridine (thymidine) kinase yang disintesis di dalam sel yang
terinfeksi.3
4.
Epidemiologi
Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena
tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada
perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan
meningkat dengan peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika, penyakit ini
dilaporkan sekitar 6% setahun, di Inggris 0,34% setahun sedangkan di Indonesia
lebih kurang 1% setahun.
Penyebarannya sama seperti
varisela. Penyakit ini, seperti yang diterangkan dalam definisi, merupakan
reaktivitasi virus yang telah terjadi setelah penderita mendapat varisela.
Kadang-kadang varisela ini berlangsung subklinis. Tetapi ada pendapat
menyatakan kemungkinan transmisi virus secara aerogen dari pasien yang sedang
menderita varisela atau herpes zooster.
Herpes zoster terjadi pada orang yang pernah menderita
varisela sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus
yang sama yaitu virus varisela zoster. Setelah sembuh dari varisela, virus yang
ada di ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif
kembali jika daya tahan tubuh menurun. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan
kurang dari 10% usia di bawah 20 tahun. 4
5.
Working
Diagnosis
Herpes zoster
disebabkan oleh virus varicella zoster. Sebagai kelanjutan dari serangan
varicella, virus yang tertinggal di bagian dosal dari akar ganglia tetap dorman
sampai suatu stimulus menyebabkan reaktivasi dan menyebabkan herpes zoster.
Usia pertengahan dan usia lanjut adalah yang paling sering terkena, walau
kadang-kadang bisa timbul sewaktu kanak-kanak. Keadaan ini lebih sering terjadi
pada orang-orang dengan imuosupresi.
Herpes zoster
biasanya mengenai suatu dermatom, di mana yang paling sering biasanya pada
bagian dada dan perut. Timbulnya erupsi mungkin di dahului oleh rasa nyeri di
daerah dermatom. Lesi berupa sederetan kelompok vesikel unilateral dengan dasar kulit yang erimatosa.
Isi vesikel pada mulanya jernih, kemudian menjadi keruh. Sesudah beberapa hari
vesikel mongering dan membentuk krusta, dan biasanya erupsi hilang dalam 2
minggu. Pada pasien usia lanjut penyakit ini bisa berkembang menjadi parah,
sehingga perlu waktu yang jauh lebih lama untuk sembuh. Bahkan pada kasus-kasus
yang lebih ringan biasanya meninggalkan jaringan parut.
Keadaan yang
paling mengganggu pada herpes zoster adalah adanya rasa nyeri yang persisten
walau lesi sudah hilang (postherpetic
neuralgia). Gangguan ini bisa hebat, dan terutama bisa menimbulkan
kesusahan pada orang yang berusia lanjut.5
6.
Differential
Diagnosis
a. Herpes
Simplex
Virus herpes simpleks
termasuk jenis patogen yang dapat menyesuaikan diri dengan tubuh host. Ada dua
jenis yaitu virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2). Keduanya
berkaitan erat tetapi berbeda dalam gambaran epidemiologinya. HSV-1 dikaitkan
dengan penyakit orofacial, sedangkan HSV-2 dikaitkan dengan penyakit genital,
namun lokasi lesi tidak selalu menunjukkan tipe virus.
Virus herpes simplex menyebar melalui kontak tubuh secara langsung dan sebagian besar
dengan kontak seksual. Dalam keadaan tanpa adanya antibodi, kontak dengan
partner seksual yang menderita lesi herpes aktif, sebagian besar akan
mengakibatkan penyakit yang bersifat klinis. Penyebaran tanpa hubungan sexual
dapat terjadi melalui autoinokulasi pada penderita infeksi virus herpes
simpleks atau dengan cara lain yang dibuktikan pada kasus herpes genital pada
anak-anak. Penyebaran transplasenta sangat jarang terjadi dan masih belum
jelas, tetapi diduga tidak jauh berbeda dengan penularan virus herpes yang lain seperti sitomegalovirus, Epstein-Barr virus dan lain-lain.
Penularan pada bayi
dapat terjadi bila janin yang lahir kontak dengan virus pada ibu yang
terinfeksi virus aktif dari jalan lahirnya dan ini merupakan penularan pada
neonatal yang paling sering terjadi. Meskipun demikian kejadian herpes neonatal
kecil sekali yaitu 1 : 25 000 kelahiran. Beberapa keadaan yang mempengaruhi
terjadinya herpes neonatal adalah banyak sedikitnya virus, kulit ketuban masih
utuh atau tidak, ada atau tidaknya lesi herpes genital, dan ada atau tidaknya
antibodi virus herpes simpleks. Pada ibu hamil dengan infeksi primer dan belum
terbentuk antibodi maka penularan dapat terjadi sampai 50 % sedangkan pada
infeksi rekuren hanya 2,5 – 5 %. 6
b.
Varicella
Infeksi akut primer oleh virus varisela zooster yang menyerang kulit dan
mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorf terutama
pada bagian sentral tubuh. Masa inkubasi penyakit ini berlangsung 14 – 21 hari.
Gejala klinis mulai gejala prodromal yaitu demam yang tidak terlalu tinggi,
malese dan sakit kepala kemudian disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul
eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Vesikel akan
berubah jadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Sementara proses ini
berlangsung, timbul lagi vesikel-vesikel baru yang menimbulkan beberapa
polimorfi
Penyebarannya terutama di daerah badan dan kemudian menyebar secara
sentrifugal ke muka dan ekstremitas, serta dapat menyerang selaput lendir mata,
mulut dan saluran napas bagian atas. Jika terdapat infeksi sekunder pembesaran
kelenjar getah bening regional dan disertai rasa gatal.
Komplikasi pada anak umumnya jarang timbul dan lebih sering pada orang
dewasa, berupa ensefalitis, pneumonia, glomerulonefritis, hepatitis, konjungtivitis
dan kelainan darah (beberapa macam purpura).7
7.
Patogenesis
Infeksi primer dari VVZ
ini pertama kali terjadi di daerah nasofaring. Disini virus mengadakan
replikasi dan dilepas ke darah sehingga terjadi viremia permulaan yang sifatnya
terbatas dan asimptomatik. Keadaan ini diikuti masuknya virus ke dalam Reticulo
Endothelial System (RES) yang kemudian mengadakan replikasi kedua yang sifat
viremia nya lebih luas dan simptomatik dengan penyebaran virus ke kulit dan
mukosa. Sebagian virus juga menjalar melalui serat-serat sensoris ke satu atau
lebih ganglion sensoris dan berdiam diri atau laten didalam neuron. Selama
antibodi yang beredar didalam darah masih tinggi, reaktivasi dari virus yang
laten ini dapat dinetralisir, tetapi pada saat tertentu dimana antibodi
tersebut turun dibawah titik kritis maka terjadilah reaktivasi dari virus
sehingga terjadi herpes zoster.
Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa
sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa
hari menjelang timbulnya erupsi. Gejala konstitusi, seperti sakit kepala, malaise,
dan demam, terjadi pada 5% penderita (terutama pada anak-anak) dan timbul 1-2
hari sebelum terjadi erupsi.
Virus ini berdiam di ganglion
posterior susunan saraf pusat dan ganglion kranialis. Kelainan kulit yang
timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persarafan ganglion
tersebut. kadang-kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian
motorik kranialis sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik.8
8.
Manifestasi
Klinis
Daerah yang paling sering
terkena adalah daerah torakal, walaupun daerah-daerah lain tidak jarang.
frekuensi penyakit ini pada pria dan wanita sama, sedangkan mengenai umur lebih
sering pada dewasa.
Gejala prodromal herpes zoster biasanya berupa rasa
sakit dan parestesi pada dermatom yang terkena. Gejala ini terjadi beberapa
hari menjelang timbulnya erupsi. Gejala konstitusi, seperti sakit kepala,
malaise, dan demam, terjadi pada 5% penderita (terutama pada anak-anak) dan
timbul 1-2 hari sebelum terjadi erupsi. Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu
singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang eritematosa
dan edema. Vesikel ini berisi cairan yang jernih, kemudian menjadi keruh (warna
abu-abu), dapat menjadi pustul dan krusta
Gambaran yang paling khas pada herpes zoster adalah
erupsi yang lokalisata dan unilateral. Jarang erupsi tersebut melewati garis
tengah tubuh. Umumnya lesi terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh
salah satu ganglion saraf sensorik.
Erupsi mulai dengan eritema makulopapular 12 - 24 jam kemudian
terbentuk vesikula yang dapat berubah menjadi pustula pada hari ketiga.
Seminggu sampai sepuluh hari kemudian, lesi mengering menjadi krusta. Krusta
ini dapat menetap menjadi 2-3 minggu. Keluhan yang berat biasanya terjadi pada penderita
usia tua. Pada anak-anak hanya timbul keluhan ringan dan erupsi cepat
menyembuh. Rasa sakit segmental pada penderita lanjut usia dapat menetap,
walaupun krustanya sudah menghilang.
Frekuensi herpes zoster menurut dermatom yang terbanyak
pada dermatom torakal (55%), kranial (20%), lumbal (15%), dan sakral (5%).8
9.
Penatalaksanaan
Penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk:
1.
Mengatasi infeksi virus akut
2.
Mengatasi nyeri akut yang
ditimbulkan oleh virus herpes zoster
3.
Mencegah timbulnya neuralgia
pasca herpetik.
1. Non Medica Mentosa
Selama fase akut, pasien dianjurkan
tidak keluar rumah, karena dapat menularkan kepada orang lain yang belum pernah
terinfeksi varisela dan orang dengan defisiensi imun. Usahakan agar vesikel
tidak pecah, misalnya jangan digaruk dan pakai baju yang longgar. Untuk
mencegah infeksi sekunder jaga kebersihan badan.9
2. Medica Mentosa
1. Obat Antivirus
Obat yang biasa digunakan ialah
asiklovir dan modifikasinya, misalnya valasiklovir dan famsiklovir. Asiklovir
bekerja sebagai inhibitor DNA polimerase pada virus. Asiklovir dapat diberikan
peroral ataupun intravena. Asiklovir Sebaiknya pada 3 hari pertama sejak lesi
muncul. Dosis asiklovir peroral yang dianjurkan adalah 5×800 mg/hari selama 7
hari, sedangkan melalui intravena biasanya hanya digunakan pada pasien yang imunokompromise
atau penderita yang tidak bisa minum obat. Obat lain yang dapat digunakan
sebagai terapi herpes zoster adalah valasiklovir. Valasiklovir diberikan 3×1000
mg/hari selama 7 hari, karena konsentrasi dalam plasma tinggi. Selain itu
famsiklovir juga dapat dipakai. Famsiklovir juga bekerja sebagai inhibitor DNA
polimerase. Famsiklovir diberikan 3×200 mg/hari selama 7 hari.
2. Analgetik
Analgetik diberikan untuk mengurangi
neuralgia yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster. Obat yang biasa digunakan
adalah asam mefenamat. Dosis asam mefenamat adalah 1500 mg/hari diberikan
sebanyak 3 kali, atau dapat juga dipakai seperlunya ketika nyeri muncul.
3.
Kortikosteroid
Indikasi pemberian kortikostreroid
ialah untuk Sindrom Ramsay Hunt. Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah
terjadinya paralisis. Yang biasa diberikan ialah prednison dengan dosis 3×20
mg/hari, setelah seminggu dosis diturunkan secara bertahap. Dengan dosis
prednison setinggi itu imunitas akan tertekan sehingga lebih baik digabung
dengan obat antivirus.
4. Pengobatan topikal
Pengobatan topikal bergantung pada
stadiumnya. Jika masih stadium vesikel diberikan bedak dengan tujuan protektif
untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi sekunder. Bila
erosif diberikan kompres terbuka. Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salap
antibiotik.9
10. Komplikasi
1. Neuralgia paska herpetic
Neuralgia paska herpetik adalah rasa
nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan. Neuralgia ini dapat
berlangsung selama berbulan-bulan sampai beberapa tahun. Keadaan ini cenderung
timbul pada umur diatas 40 tahun, persentasenya 10 - 15 % dengan gradasi nyeri
yang bervariasi. Semakin tua umur penderita maka semakin tinggi persentasenya.
2.
Infeksi sekunder
Pada penderita tanpa disertai
defisiensi imunitas biasanya tanpa komplikasi. Sebaliknya pada yang disertai
defisiensi imunitas, infeksi H.I.V., keganasan, atau berusia lanjut dapat
disertai komplikasi. Vesikel sering manjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
3. Kelainan pada mata
Pada herpes zoster oftatmikus,
kelainan yang muncul dapat berupa: ptosis paralitik, keratitis, skleritis,
uveitis, korioratinitis dan neuritis optik.
4.
Sindrom Ramsay Hunt
Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena
gangguan pada nervus fasialis dan otikus, sehingga memberikan gejala paralisis
otot muka (paralisis Bell), kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat
persarafan, tinitus, vertigo, gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan
gangguan pengecapan.
5.
Paralisis motorik
Paralisis motorik dapat terjadi pada
1-5% kasus, yang terjadi akibat perjalanan virus secara kontinuitatum dari
ganglion sensorik ke sistem saraf yang berdekatan. Paralisis ini biasanya
muncul dalam 2 minggu sejak munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi
seperti: di wajah, diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan
anus. Umumnya akan sembuh spontan.10
11. Prognosis
Terhadap penyakitnya pada dewasa dan
anak-anak umumnya baik, tetapi usia tua
risiko terjadinya komplikasi semakin tinggi, dan secara kosmetika dapat menimbulkan makula hiperpigmentasi atau sikatrik.
Kesimpulan
Herpes zoster adalah penyakit yang
disebabkan oleh infeksi virus varisela-zoster yang menyerang kulit dan mukosa,
infeksi ini merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Berdasarkan lokasi lesi,
herpes zoster dibagi atas: herpes zoster oftalmikus, fasialis, brakialis,
torakalis, lumbalis, dan sakralis. Manifestasi klinis herpes zoster dapat
berupa kelompok-kelompok vesikel sampai bula di atas daerah yang eritematosa.
Lesi yang khas bersifat unilateral pada dermatom yang sesuai dengan letak
syaraf yang terinfeksi virus.
Diagnosa herpes zoster dapat ditegakkan dengan mudah melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana, yaitu tes Tzanck dengan menemukan sel datia berinti banyak. Pada umumnya penyakit herpes zoster dapat sembuh sendiri (self limiting disease), tetapi pada beberapa kasus dapat timbul komplikasi. Semakin lanjut usia, semakin tinggi frekuensi timbulnya komplikasi.
Diagnosa herpes zoster dapat ditegakkan dengan mudah melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium sederhana, yaitu tes Tzanck dengan menemukan sel datia berinti banyak. Pada umumnya penyakit herpes zoster dapat sembuh sendiri (self limiting disease), tetapi pada beberapa kasus dapat timbul komplikasi. Semakin lanjut usia, semakin tinggi frekuensi timbulnya komplikasi.
Ben 15 yaşındayım. HIV ile doğdum, annem HIV enfeksiyonu yüzünden öldü ve ben de hiç bu kadar tanımadığım için pişmanım Dr Itua annem için benim için tedavi edemedi çünkü bekar bir anne olarak annem için çok zordu. HIV / Aids Herpes, Parkison, Copd, Epilepsi, Zona, Soğuk Ağrıları, Kısırlık, Kronik Yorulma Sendromu, Fibromiyalji, Diyabet Hepatit gibi farklı ırk hastalıklarında nasıl farklı hastalıkları tedavi ettiği konusunda çevrimiçi Çevrimiçi olarak böyle bir makaleye rastlamadım, sonra Mail'le Dr Itua ile bağlantıya geçtim drituaherbalcenter@gmail.com Ayrıca onunla ne hakkında konuştuğumu +2348149277967 nasıl çalıştığını, sonra nasıl devam edeceğimi söylediğimi söyle hızlı bir şekilde Colorado postanesi 4/5 iş günü içinde bitkisel ilacımı alıyorum bana takip edeceğim lonca çizgileri verdi ve burada tekrar sağlıklı mı yaşıyorum Tanrı'nın eserlerini tezahür ettirmek için nasıl erkekler kullandığını hayal edebiliyorum, tüm makalelerde çevrimiçi olarak tanrıyı yaymak için yazıyorum eseri Itua Bitkisel Tıp, O harika bir adam.
BalasHapus