Tinea Cruris
Agung Ganjar
Kurniawan
102010169
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Kampus
2 Ukrida, Jl. ArjunaUtara no. 6 Jakarta 11510
Pendahuluan
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut
atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.
Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural saja, atau meluas ke daerah
sekitar anus daerah gluteus, dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh yang
lain. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas.
Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengahnya. Eflorensi terdiri
atas macam-macam bentuk primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini
menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan
keluarnya cairan bisa disebabkan oleh garukan. Tine kruris merupakan salah satu
klinis yang sering dilihat di indonesia.
Dermatofitosis
merupakan mikosis superfisialis yang disebabkan oleh jamur golongan
dermatofita, antara lain Tricophyton, Epidermophyton, dan Microsporum. Dermatofitosis dibagi berdasarkan lokalisasi
kelainan pada badan, yaitu: tinea kapitis, tinea korporis, tinea favosa, tinea
imbrikata, tinea kruris, tinea pedis, tinea unguium, dan tinea barbae. Pada
makalah ini saya akan membahas mengenai tinea kruris baik dari segi pemeriksaan,
diagnosis kerja dan banding, etiologi, epidemiologi, manifestasi klinik,
komplikasi, penatalaksanaan, prognosis, dan preventif.
Pembahasan
A. Anamnesis
Jenis
anamnesis yang dapat dilakukan adalah
autoanamnesis dan alloanamnesis. Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien
masih berada dalam keadaan sadar. Sedangkan bila pasien tidak sadar, maka dapat
dilakukan alloanamnesis yang menyertakan kerabat terdekatnya yang mengikuti
perjalanan penyakitnya.
1. Identitas
Pasien
Menanyakan
kepada pasien/ orang tua dari anak : Nama lengkap pasien, umur pasien ,tanggal
lahir, jenis kelamin,agama, alamat, umur
(orang tua), pendidikan dan pekerjaan (orang tua), suku bangsa.
2. Keluhan
Utama :
Menanyakan
keluhan utama pasien yaitu : keluhan bercak merah pada kedua lipatan paha yang
terasa gatal saat cuaca panas atau saat berkeringat banyak.
3. Riwayat
Penyakit Sekarang
Menanyakan
kepada pasien :
-
Kapan pertama kali
pasien memperhatikan adanya bercak merah? Dimana letak penyebarannya? Apakah terasa
gatal ? Adakah bercak merah di tempat lain selain di lipatan paha ?
-
Adakah faktor pemicu
seperti hygiene yang kurang, obesitas, banyak berkeringat dan lain-lain ?
-
Bagaimana perubahan
warna yang terjadi (misalnya pigmentasi meningkat) ? Sudah berapa lama terjadi
?
-
Apakah ada komplikasi
dan gejala klinis lain yang dirasakan ?
4. Riwayat
Penyakit Dahulu
-
Apakah pasien pernah
terkena penyakit kulit sebelumnya ?
-
Apakah pasien memiliki
masalah dengan gangguan kulit di masa kecil?
5. Riwayat
Obat-obatan
-
Apakah pasien sudah
melakukan tindakan pengobatan seperti berobat ke dokter lain?
-
Pernahkan pasien
menggunakan obat untuk penyakit kulit ?
-
Apakah setelah
menggunakan obat pasien bertambah baik atau semakin memburuk?
6. Riwayat
Alergi
-
Apakah pasien memiliki
alergi obat ? Jika ya, seperti apa reaksi yang timbul ?
-
Apakah mengetahui
kemungkinan allergen yang lain misalnya alergi jamur ?
-
Pernahkah pasien
menjalani patch test atau pemeriksaan respons IgE ?
7. Riwayat
Penyakit Dalam Keluarga
-
Adakah riwayat penyakit
kulit dalam keluarga pasien ?
-
Adakah orang lain di
keluarga yang mengalami kelainan serupa ?
Dari
skenario di dapatkan bahwa pasien berumur 30 tahun datang ke poliklinik dengan
keluhan bercak coklat pada
daerah lipatan paha yang terasa gatal sejak 4 minggu
yang lalu. Gatal terutama saat cuaca panas dan berkeringat. Pasien mengobati
sendiri dengan salep hidrokortison tetapi tidak ada perbaikan, kelainan kulit
meluas.
B. Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan kulit dilakukan dengan cahaya yang cukup sementara
pasien berbaring terlentang. Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi dan palpasi.
Inspeksi dilakukan dengan bantuan kaca pembesar.
·
Inspeksi
Dilihat apa saja
kelainan kulit yang ditemukan dan tentukan distribusinya. Asimetris, simetris,
lokal atau meluas. Perhatikan morfologi apakah berupa eritema atau urtikaria,
merah dan bersisik (eksematosa, psoriasiform atau likenoid), vaskulitis,
vesikobulosa atau eritroderma ? Periksa tempat lain yang mungkin terkena.
Lengkapi dengan pemeriksaan pada kulit kepala, mata, tangan dan kuku, mulut,
daerah anogenital dan kaki. Tentukan perluasan (lokal, regional, generalisata
atau universal) dan pola distribusi (simetris atau asimetris, daerah pajanan,
tempat tekanan, lipatan kulit atau folikular). Apakah lokasi berhubungan dengan
pakaian, pajanan sinar matahari ? Bagaimana warna dan bentuk lesi (misalnya
bulat, lonjong, poligonal, anular, serpiginosa, bertangkai) ? Mendokumentasikan
kelainan kulit dengan akurat sangat penting dan bisa dibantu oleh foto.1
·
Palpasi
Lakukan palpasi lesi untuk mengetahui suhu, mobilitas,
nyeri tekan dan kedalaman. Periksa adanya pembesaran kelenjar getah bening yang
merupakan drainase.
Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang
primer dan sekunder. Makula
eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau
pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula
hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan
kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi.1
Manifestasi
tinea cruris :
1. Makula eritematus dengan central healing di lipatan
inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah.
2. Daerah bersisik.
3. Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan
eksudatif.
4. Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan
skuama diatasnya dan disertai likenifikasi.
5. Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas
papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama.
6. Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena.
7. Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan
impetiginasi muncul karena garukan.
8. Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid
topikal sehingga tampak kulit eritematous, sedikit berskuama, dan mungkin
terdapat pustula folikuler.
9. Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan
tinea pedis.
C. Pemeriksaan
Penunjang
a. Pemeriksaan Langsung
Sediaan dari
bahan kerokan (kulit, rambut dan kuku) dengan larutan KOH 10-30% atau
pewamaan Gram. Dengan pemeriksaan mikroskopis akan terlihat elemen jamur dalam
bentuk hipa panjang, spora dan artrospora.2
b. Pembiakan
Tujuan
pemeriksaan cara ini untuk mengetahui spesies jamur penyebab, dilakukan bila
perlu. Bahan sediaan kerokan ditanam dalam agar Sabouroud dekstrose; untuk
mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditam bahkan antibiotika (misalnya
khloramfenikol) ke dalam media tersebut. perbenihan dieramkan pads suhu 24 - 30°c. pembacaan dilakukan dalam waktu 1 - 3 minggu. Koloni yang
tumbuh diperhatikan mengenai wama, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya
hipa.
D. Diagnosis
a. Diagnosis Kerja
Tinea Kruris
Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis yang disebabkan infeksi golongan jamur dermatofita (Trichopython rubrum, Epidermopython
fluccosum, Trichopython mentagrophytes) pada daerah kruris (sela paha, perineum, perianal,
gluteus, pubis) dan dapat meluas ke daerah sekitar. Penyakit
ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang
berlangsung seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural
saja atau meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah,
atau bagian tubuh yang lain. Gambaran klinik lesi simetris di lipat paha kanan
dan kiri mula-mula lesi berupa bercak eritematosa, gatal lama kelamaan meluas, kadang-kadang
disertai banyak vesikel kecil-kecil.
Kelainan kulit yang tampak pada sela paha
merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah
tengahnya. Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk yang primer dan sekunder
(polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam
disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.2
Gambar 1. Gambaran klinis tinea kruris
b. Diagnosis Banding
Kandidiasis
Kandidiasis merupakan suatu penyakit kulit akut atau subakut,
disebabkan jamur Candida albicans
yang menyerang kulit, subkutan, kuku, selaput lendir, dan alat dalam. Penyakit
ini dapat menyerang segala umur, baik pria maupun wanita, banyak terdapat pada
daerah tropis dengan kelembapan udara yang tinggi. Lebih banyak pada musim
hujan, sehubungan dengan daerah-daerah yang tergenang air. Terutama menyerang
pekerja kebun, tukang cuci, dan petani. Faktor keturunan dengan adanya riwayat
diabetes mellitus mempermudah berkembangnya Candida
albicans. Faktor predisposisi lain seperti pemakaian antibiotik yang lama,
obesitas, alcohol, gangguan vaskularisasi, hiperhidrosis dan lain-lain. Pada
kulit, tempat predileksinya yaitu bokong sekitar anus, lipat ketiak, lipat
paha, bawah payudara, sekitar pusar, garis-garis kaki dan tangan. Gejala yang
sering dikeluhkan adalah gatal hebat disertai rasa panas seperti terbakar, dan
terkadang nyeri bila ada infeksi sekunder. Pada pemeriksaan ditemukan daerah
yang eritematosa, basah, erosif, dan bersisik. Lesi tersebut dikelilingi oleh
satelit berupa vesikel-vesikel dan pustule-pustul kecil atau bula yang bila
pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang
seperti lesi primer. Pada keadaan kronik, terdapat daerah-daerah likenifikasi,
hiperpigmentasi, hiperkeratosis dan terkadang berfisura.3
Eritrasma
Eritrasma ialah penyakit yang menyerang stratum korneum kulit yang
disebabkan oleh bakteri Corynebacterium
minitussismum. Penyakit ini ditandai dengan adanya lesi berupa eritema dan
skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Lesi kulit dapat
berukuran sebesar miliar sampai plakat. Lesi dapat terlihat merah kecoklatan
tergantung area lesi dan warna kulit penderita. Beberapa penulis beranggapan
ada hubungan erat antra eritrasma dan diabetes mellitus. Penyakit ini terutama
menyerang orang dewasa dan dianggap tidak begitu menular.2
E. Etiologi
Pada tinea cruris, penyebabnya ialah Tricophyton rubrum,
Tricophyton mentagrophytes, atau Epidermophyton
floccosum. Lelaki lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi
kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan
memudahkan infeksi. Beberapa faktor yang mendukung adalah temperatur lingkungan yang tinggi, keringat berlebihan,
pakaian ketat dan kegemukan, disertai higienitas yang kurang maka memudahkan
timbulnya infeksi jamur.4
F. Epidemiologi
Tinea
cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka kejadian lebih
sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan perempuan. Infeksi jamur
ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau
lingkungan sekitar yang kotor dan lembab. Infeksi
umumnya terjadi pada laki-laki postpubertal namun demikian perempuan juga dapat
terkena. Penularan lebih mudah terjadi dalam lingkungan yang padat atau pada
tempat dengan pemakaian fasilitas bersama seperti asrama dan di rumah tahanan.
Pemakaian baju ketat, obesitas, keringat dan baju mandi yang lembab dalam waktu
yang lama merupakan faktor predisposisi tinea kruris.4
G. Patogenesis
Dermatofita hanya tumbuh dalam jaringan keratin yang mati. Hasil
metabolisme jamur berdifusi melalui lapisan Malpighi, menyebabkan eritema,
pembentukan vesikel dan pruritus. Waktu hifa menjadi tua dan memisahkan diri
menjadi artrospora, sel-sel yang mengandung artrospora mengelupas sehingga pada
beberapa kasus terdapat bagian tengah yang bersih pada lesi kurap. Hifa tumbuh
dengan aktif ke arah pinggir cincin stratum korneum yang belum terserang.
Pertumbuhan terus berlangsung ke dalam stratum korneum yang baru terbentuk pada
permukaan kulit yang lebih tebal menyebabkan infeksi ini menetap pada
tempat-tempat tersebut.5
Infeksi dermatofita melibatkan 3 langkah utama:6
1.
Perlekatan
ke keratinosit
Jamur superfisial
harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada jaringan keratin di
antaranya sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora normal lain,
sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit. Dan asam lemak yang diproduksi
oleh kelenjar sebasea bersifat fungistatik.
2.
Penetrasi
melalui ataupun di antara sel
Setelah terjadi
perlekatan spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada kecepatan
yang lebih cepat daripada proses deskuamasi. Penetrasi juga dibantu oleh
sekresi proteinase lipase dan enzim mucinolitik yang juga menyediakan nutrisi
untuk jamur. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur ke jaringan.
Fungal mannan di dalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan
proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul ketika m=begitu jamur mencapai
lapisan terdalam epidermis.
3.
Perkembangan
respon host
Derajat inflamasi
dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi
hipersensitivitas tipe IV atau Delayed Type
Hypersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam melawan
dermatifita. Pada pasien yang belum pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya
inflamasi menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin
test hasilnya negatif. Infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang
dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Dihipotesakan bahwa antigen
dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan dipresentasikan oleh
limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ke
tempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba
menjadi inflamasi dan barier epidermal menjadi permaebel terhadap transferin
dan sel-sel yang bermigrasi. Segera jamur hilang dan lesi secara spontan
menjadi sembuh.
H. Gejala
Klinis Tinea Kruris
Penderita merasa gatal, dan kelainan berbatas tegas,
terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorfi). Bagian tepi lesi lebih
aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah. wujud lesi
yang beraneka ragam ini dapat berupa sedikit hiperpigmentasi dan skuamasi,
menahun. Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau lonjong,
berbatas tegas, terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan
papul ditepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang, sementara yang di tepi
lebih aktif (tanda peradangan lebih jelas) yang sering disebut dengan sentral
healing. Kadang-kadang terlihat
erosi dan krusta akibat garukan. Kelainan kulit juga dapat terlihat secara
polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Lesi dapat meluas dan
memberi gambaran yang tidak khas terutama pada pasien imunodefisiensi. Pada tinea cruris kelainannya dapat
bersifat akut dan menahun, bahkan seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas tegas
pada daerah genito-krural, atau meluas ke sekitar anus, daerah gluteus dan
perut bagian bawah, atau bagian tubuh lain. Kelainan kulit yang tampak pada
sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata
daripada didaerah tengahnya. Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk
yang primer dan sekunder (polimorfi). Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat
berupa bercak hitam disertai sedikit sisik. Erosi dan keluarnya cairan biasanya
akibat garukan.6
I. Penatalaksanaan
a. Terapi medikamentosa
Terapi Topikal
Terapi ini
direkomendasikan untuk infeksi lokal karena dermatofit biasanya hidup pada
jaringan. Pada masa kini selain obat-obat topical konvensional, misalnya asam
salisil 2-4%, asam benzoate 6-12%, sulphur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat
2-5% dan zat warna (hijau brilian dalam cat Castellani) dikenal banyak obat
topical baru. Obat-obat baru ini diantaranya tolnaftat 2%; tolsiklat,
haloprogin, berbagai macam preparat imidazol dan alilamin tersedia dalam
berbagai formulasi. Dan semua obat-obat baru ini memberikan keberhasilan terapi
(70-100%). Terapi topikal digunakan 1-2 kali sehari selama 2 minggu tergantung
agen yang digunakan. Topikal azol dan allilamin menunjukkan angka perbaikan
perbaikan klinik yang tinggi.Berikut obat yang sering digunakan :
1.
Topical
azol terdiri atas: Econazol 1 %, Ketoconazol 2 %, Clotrimazol 1%, Miconazol 2%
dll. Derivat imidazol bekerja dengan cara menghambat enzim 14-alfa-dimetilase
pada pembentukan ergosterol membran sel jamur.
2.
Allilamin
bekerja menghambat allosterik dan enzim jamur skualen 2,3 epoksidase sehingga
skualen menumpuk pada proses pembentukan ergosterol membran sel jamur, yaitu
naftifine 1%, butenafin 1%. Terbinafin 1% (fungisidal bersifat anti inflamasi )
yang mampu bertahan hingga 7 hari sesudah pemakaian selama 7 hari
berturut-turut.
3.
Sikloklopirosolamin
2% (cat kuku, krim dan losio) bekerja menghambat masuknya bahan esensial
selular dan pada konsentrasi tinggi merubah permeabilitas sel jamur merupakan
agen topikal yang bersifat fungisidal dan fungistatik, antiinflamasi dan anti
bakteri serta berspektrum luas. 7
Terapi Sistemik
Pedoman yang
dikeluarkan oleh American Academy of Dermatology menyatakan bahwa obat anti
jamur (OAJ) sistemik dapat digunakan pada kasus hiperkeratosis terutama pada
telapak tangan dan kaki, lesi yang luas, infeksi kronis, pasien
imunokompromais, atau pasien tidak responsif maupun intoleran terhadap OAJ
topikal.
1. Griseofulvin.
Griseofulvin
500 mg sehari untuk dewasa, sedangkan anak-anak 10-25 mg/kgBB sehari. Lama
pemberian griseofulvin pada tinea korporis adalah 3-4 minggu, diberikan bila
lesi luas atau bila dengan pengobatan topikal tidak ada perbaikan.
2. Ketokonazol.
Merupakan
OAJ sistemik pertama yang berspektrum luas, fungistatik, termasuk golongan
imidazol. Dosisnya 200 mg per hari selama 10 hari – 2 minggu pada pagi hari
setelah makan
3. Amfoterisin
B.
Merupakan
anti jamur golongan polyen yang diproduksi oleh Streptomyces nodosus. Bersifat
fungistatik, pada konsentrasi rendah akan menghambat pertumbuhan jamur,
protozoa dan alga. Digunakan sebagai obat pilihan pada pasien dengan infeksi
jamur yang membahayakan jiwa dan tidak sembuh dengan preparat azol. 7
b. Non Medika Mentosa
Edukasi
kepada pasien dan faktor-faktor yang
perlu dihindari atau dihilangkan untuk mencegah terjadi tinea kruris antara
lain :6
·
Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering.
·
Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat
menyebabkan infeksi.
·
Jaga kebersihan kulit dan kaki, bila berkeringat
keringkan dengan handuk dan mengganti pakaian yang lembab.
·
Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang
dapat menyerap keringat seperti katun, tidak ketat dan ganti setiap hari.
·
Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk yang
digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas.
·
Mengeringkan tubuh sampai
benar-benar kering sesudah mandi.
·
Jangan berlama-lama memakai pakaian
mandi yang lembab atau pakaian yang ketat.
- Menghilangkan fokal infeksi ditempat lain misalnya di kuku atau di kaki.
- Meningkatkan hygiene lingkungan & perorangan.
J. Prognosis
Prognosis
penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat asalkan kelembapan dan
kebersihan kulit selalu dijaga tetapi rekuren dapat terjadi jika
pasien tidak menjaga kebersihan dan hygiene tempat yang terkena infeksi jamur
itu dengan baik. Antaranya dengan memastikan kulit senantiasa kering, tidak
memakai pakaian ketat, memakai bedak anti jamur sesudah mandi.6
Kesimpulan
Dengan memperhatikan gejala-gejala yang dialami pasien berusia 30
tahun ini, dapat disimpulkan bahwa ia menderita tinea kruris karena ia
mempunyai beberapa gejala klinis yang tampak seperti bercak kecoklatan yang gatal
dan meluas ke tepi pada lipatan paha setelah diberi salep hidrokortison
(central healing). Pada tinea kruris, lesi membentuk bercak berbatas tegas,
tidak teratur dan bilateral dengan bagian tengah hiperpigmentasi dan berskuama.
Tinea kruris adalah dermatofitosis yang mengenai lipat paha, daerah inguinal,
pubis, daerah perineum dan sekitar anus (perianal).
Ini sumbernya dari mana ya? Makasih
BalasHapus