Cor Pulmonale Kronik
e.c PPOK
Agung
Ganjar Kurniawan
102010169
Kelompok
: C-9
Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan
Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Pendahuluan
Kor
pulmonal adalah hipertrofi/dilatasi ventrikel kanan akibat hipertensi pulmonal
yang disebabkan penyakit parenkim paru dan atau pembuluh darah paru yang tidak
berhubungan dengan kelainan jantung kiri. Untuk menetapkan adanya cor pulmonal
secara klinis pada pasien gagal napas diperlukan tanda pada pemeriksaan fisis yakni
edema. Kor pulmonal akut adalah peregangan atau pembebanan akibat hipertensi
pulmonal akut, sering disebabkan oleh emboli paru masif, sedangkan kor pulmonal
kronis adalah hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan akibat hipertensi
pulmonal yang berhubungan dengan penyakit paru obstruktif atau restriktif. Pada
PPOK, progresivitas hipertensi pulmonal berlangsung lambat. PPOK merupakan
penyebab utama insufisiensi respirasi kronik dan kor pulmonal, diperkirakan
80-90% kasus.
Pembahasan
A. Anamnesis
a. Identitas : Laki-laki, 50 tahun.
b.
Keluhan utama : sesak nafas memberat 5
hari lalu, sesak dirasakan saat beraktivitas dan berkurang saat istirahat.
c.
Keluhan penyerta : terdapat batuk sejak 3 bulan dan memberat 1 minggu lalu.
d.
Riwayat penyakit keluarga : tidak ada keterangan.
e.
Riwayat pengobatan : tidak ada keterangan.
f.
Riwayat merokok : 1 bungkus/hari sudah bertahun-tahun.
G.
Tanda-tanda edema pada bagian kaki : tidak ada keterangan.
B.
Pemeriksaan
a.
Pemeriksaan Fisik
·
Keadaan Umum : pasien tambak sakit berat
dan sesak.
·
Tanda-tanda Vital : TD 110/80 mmHg, Nadi
88x/menit, RR 28x/menit, Suhu afebris.
·
Inspeksi : bentuk thoraks tampak barrel chest, sesak
nafas dengan retraksi dari dinding dada distensi vena jugularis.
·
Palpasi : terdapat retraksi sela iga dan tidak
terdapat nyeri dada.
·
Perkusi : suara hipersonor di seluruh lapang paru
mungkin ini menjadi tanda dari PPOK.
·
Auskultasi : Paru à
wheezing +, vesikuler, ronki –
Jantung à Murni reguler,
murmur -, gallop –
b.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium
diarahkan mengidentifikasi etiologi yang paling potensial mendasari serta
penilaian komplikasi kor pulmonal. Dalam kasus tertentu, hasil laboratorium
yang mungkin ditemukan adalah:
1. Hematokrit
untuk polisitemia, menurunnya serum alpha1-antitrypsin
2. Pemeriksaan
darah arteri memberikan informasi penting tentang tingkat oksigenasi dan jenis
gangguan asam-basa
3. Peningkatan
brain natriuretic peptida (BNP) sebagai tanda kompensasi Kor Pulmonal dan gagal
jantung kanan.1
Elektrokardiogram
Kelainan EKG pada kor
pulmonal menggambarkan Hipertrofi ventrikel kanan, Ventrikel kana yang
meregang, atau penyakit paru yang mendasarinya.
Perubahan elektrokardiografi yang mungkin
ditemukan adalah:
1.
Axis dengan deviasi ke kanan
2.
Rasio R / S di V1 >1
3.
Rasio R / S di V6 < 1
4.
Gambaran P-pulmonale (peningkatan gelombang P
di lead II,III, dan aVF)
5.
Gambaran S1 Q3 pola T3 dan tidak lengkap (atau
lengkap) RBBB, terutama jika disebabkan emboli paru.
6.
tegangan rendah QRS karena PPOK dengan
hiperinflasi.1
Gambar di bawah menunjukkan
elekrokardiogram dari hipertensi pulmonal dan penyakit paru yang berlangsung
kronis. Gambaran EKG:
1.
Rasio R / S > 1 di V1 dan < 1 di V6
dicurigai sebagai hipertrofi ventrikel kanan.
2.
Axis berdeviasi ke kanan.
3.
Peningkatan P wave di atrium kiri dan dan
bifasik gelombang P di V1
4.
RBBB dengan gelombang QRS di V1 dan gelombang S
di V6
5.
Irama sinus bradikardi.
Gambar 1. Elekardiografi
Radiologi
1.
Rontgen dada. Pada pasien dengan kor pulmonal
kronis, rontgen dada dapat menunjukkan pembesaran arteri pulmonal. Hipertensi
pulmonal harus dicurigai saat arteri pulmonalis lebih besar dari 16 mm dan
arteri pulmonalis kiri lebih besar dari 18 mm. Pembesaran ventrikel kanan
menyebabkan peningkatan diameter transversal bayangan jantung ke kanan pada
posteroanterio dan pinggang jantung terangkat ke atas /upward.
Gambar 2. Rontgen dada
2.
Ekokardiogram dua dimensi biasanya menunjukkan tanda-tanda peningkatan
tekanan di ventrikel kanan. Peningkatan ketebalan dinding Ventrikel kanan
dengan gerakan paradoks septum interventrikular selama sistol terjadi. Pada
stadium lanjut, dilatasi Ventrikel kanan terjadi dan septum menunjukkan
diastolik abnormal yang menyeluruh. Dalam kasus yang ekstrim, pada spetrum
dapat terlihat ke dalam rongga ventrikel kiri selama diastol mengakibatkan
volume diastolik menurun dari Ventrikel kiri dan penurunan output dari
ventrikel kiri.
3.
Doppler echocardiography sekarang digunakan
untuk memperkirakan tekanan arteri paru, menilai insufisiensi trikuspid yang
fungsional pada hipertensi pulmonal. Doppler echocardiography dianggap paling
dapat diandalkan
4.
Scanning paru dengan menilai Ventilasi /
perfusi (V / Q), angiografi paru, dan CT scan thoraks dapat diindikasikan untuk
mendiagnosis tromboemboli paru sebagai
etiologi yang mendasari kor pulmonal.
5.
Ultrafast, EKG-gated CT scanning telah
dievaluasi untuk mempelajari fungsi ventrikel kanan, memperkirakan ejeksi
ventrikel kanan fraksi (RVEF), dan memperkirakan ketebalan dinding ventrikel
kanan.
6.
Magnetic Resonance Imaging (MRI) jantung
merupakan modalitas yang dapat memberikan informasi berharga tentang
massa/ketebalan ventrikel kanan, septum dan fungsi ventrikel. Ventriculography
Radionuklida dapat menentukan RVEF noninvasif.1
C.
Diagnosis
a.
Working Diagnosis
Cor
Pulmonale Cronic ec PPOK
Berdasarkan gejala yang didapat menurut
scenario, dapat dinyatakan bapak tersebut menderita penyakit Cor Pulmonale
Kronik. Penyakit tersebut merupakan hipertrofi/dilatasi ventrikel kanan akibat
hipertensi pulmonal yang disebabkan penyakit parenkim paru dan atau pembuluh
darah paru yang tidak berhubungan dengan kelainan jantung kiri.1
b.
Differential Diagnosis
Cor Pulmonale Akut
Cor pumonale paru yang masif terjadi obstruksi akut yang
luas pada pembuluh darah paru. Akibatnya adalah :
1. Tahanan vaskuler paru meningkat .
2. Hipoksia akibat pertukaran gas ditengah kapiler –
alveolar yang terganggu hipoksia tersebut akan menyebabkan vasokonstriksi
pembuluh darah (arteri) paru.
Tahanan vaskuler paru yang meningkat dan vasokonstriksi
menyebabkan tekanan pembuluh darah arteri paru yang meningkat (hipertensi
pulmonal). Hipertensi pulmonal yang terjadi secara akut tidak memberikan waktu yang cukup
bagi ventrikel kanan untuk berkompensasi, sehingga terjadilah kegagalan jantung
kanan akut. Gagal jantung kanan mulai terjadi jika tekanan arteri pulmonalis
meningkat tiba – tiba melebihi 40 – 45 mmHg. Gagal jantung kanan akut ditandai
dengan sesak nafas ( beban tekanan vent.kanan
yang terjadi secara tiba – tiba), curah jantung menurun (low output
state) sampai syok, JVP yang meningkat , liver yang membengkak dan nyeri, dan
bising insufisiensi trikuspid.2
Pericarditis
Keluhan dan tanda – tanda yang menyerupai gagal jantung
kanan dapat dijumpai pada penderita perikarditis konstriktif. Terapi pada
penderita pemeriksaan faal parunya normal atau sedikit terganggu. Demikian pula
pemeriksaan analisa gas darahnya. Hipertrofi ventrikel kanan hampir selalu tidak
didapatkan baik pada pemeriksaan fisik, fotot thoraks. EKG maupun
ekokardiografi. Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan penebalan perikardium
disertai gerakan ventrikel pada saat diastol yang terbatas pada penderita
perikarditis konstriktif.2
D.
Etiologi
Etiologi pada cor
pulmonale dapat digolongkan dalam 4 kelompok :
1. Penyakit pembuluh
darah.
2. Tekanan darah pada
arteri pulmonal oleh tumor mediastinum, aneurisma, granuloma atau fibrosis.
3. Penyakit
neuromuskular dan dinding dada.
4. Penyakit yang mengenai
aliran udara, paru, alveoli, termasuk PPOK.1
E.
Patofisiologi
Penyakit paru
kronis akan mengakibatkan berkurangnya “vascular
bed” paru, dapat disebabkan oleh semakin terdesaknya pembuluh darah oleh
paru yang mengembang atau kerusakan paru, asidosis dan hiperkapnia, hipoksia
alveolar yang akan merangsang vasokonstriksi pembuluh paru, polisitemia dan
hiperviskositas darah. Keempat kelainan ini akan menyebabkan timbulnya
hipertensi pulmonal (perjalanan lambat). Dalam jangka panjang akan
mengakibatkan hipertrofi dan dilatasi ventrikel kanan dan kemudian akan
berlanjut menjadi gagal jantung kanan.
Sirkulasi paru-paru terletak
di antara ventrikel kanan dan kiri untuk tujuan pertukaran gas. Dalam keadaan
normal, aliran darah dalam anyaman vaskuler paru-paru tidak hanya tergantung
dari ventrikel kanan tetapi juga dari kerja pompa pada pergerakan pernapasan.
Karena sirkulasi paru-paru normal merupakan sirkulasi yang bertekanan dan
resistensi rendah maka curah jantung dapat meningkat sampai beberapa kali
(seperti yang terjadi pada waktu latihan fisik) tanpa peningkatan bermakna dari
tekanan arteria pulmonalis. Keadaan ini dapat terjadi karena besarnya kapasitas
anyaman vaskuler paru-paru, dimana perfusi normal hanya 25% dalam keadaan
istirahat, serta kemampunan untuk menggunakan lebih banyak pembuluh sewaktu
latihan fisik.1
Penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan cor pulmonale adalah penyakit yang secara primer menyerang pembuluh
darah paru-paru, seperti emboli paru-paru berulang, dan penyakit yang
mengganggu aliaran darah paru-paru akibat penyakit pernapasan obstruktif atau
restriktif. PPOK terutama jenis bronkitis, merupakan penyebab tersering dari
kor pulmonal. Penyakit-penyakit pernapasan restriktif yang menyebabkan kor
pulmonal dapat berupa penyakit-penyakit ´intrinsik´ seperti fibrosis paru-paru
difus, dan kelainan ´ektrinsik´ seperti obesitas yang ekstrim, kifoskoliosis,
atau gangguan neuromuskuler berat yang melibatkan otot-otot pernapasan.
Akhirnya, penyakit vaskuler paru-paru yang mengakibatkan obstruksi terhadap
aliran darah dan kor pulmonal cukup jarang terjadi dan biasanya merupakan
akibat dari emboli paru-paru berulang.
Apapun penyakit awalnya,
sebelum timbul cor pulmonal biasanya terjadi peningkatan resistensi vaskuler
paru-paru dan hipertensi pulmonal. Hipertensi pulmonal pada akhirnya meningkatkan beban kerja dari
ventrikel kanan, sehingga mengakibatkan hipertrofi dan kemudian gagal jantung.
Titik kritis dari rangkaian kejadian ini nampaknya terletak pada peningkatan
resistensi vaskuler paru-paru pada arteri dan arteriola kecil.
Dua mekanisme dasar yang
mengakibatkan peningkatan resistensi vaskuler paru-paru adalah :
1. Vasokontriksi
hipoksik dari pembuluh darah paru-paru.
Mekanisme
yang pertama tampaknya paling penting dalam patogenesis kor pulmonal.
Hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis yang merupakan ciri khas dari PPOK
bronkitis lanjut adalah contoh yang paling baik untuk menjelaskan bagaimana
kedua mekanisme itu terjadi. Hipoksia alveolar (jaringan) memberikan rangsangan
yang lebih kuat untuk menimbulkan vasokontriksi pulmonar daripada hipoksemia.
Selain itu, hipoksia alveolar kronik memudahkan terjadinya hipertrofi otot
polos arteriola paru-paru, sehingga timbul respon yang lebih kuat terhadap
hipoksia akut.
Asidosis,
hiperkapnea dan hipoksemia bekerja secara sinergistik dalam menimbulkan
vasokontriksi. Viskositas (kekentalan) darah yang meningkat akibat polisitemia
dan peningkatan curah jantung yang dirangsang oleh hipoksia kronik dan
hiperkapnea, juga ikut meningkatkan tekanan arteri di paru-paru.3
2. Obstruksi
dan/atau obliterasi anyaman vaskuler paru-paru.
Mekanisme kedua yang turut
meningkatkann resistensi vaskuler dan tekanan arteri paru-paru adalah bentuk
anatomisnya. Emfisema dicirikan oleh kerusakan bertahap dari struktur alveolar
dengan pembentukan bula dan obliterasi total dari kapiler-kapiler di sekitarnya.
Hilangnya pembuluh darah secara permanen menyebabkan berkurangnya anyaman
vaskuler. Selain itu, pada penyakit obstruktif, pembuluh darah paru-paru juga
tertekan dari luar karena efek mekanik dari volume paru-paru yang besar.Tetapi,
peranan obstruksi dan obliterasi anatomik terhadap anyaman vaskuler
diperkirakan tidak sepenting vasokontriksi hipoksik dalam patogenesis kor
pulmonal. Kira-kira dua per tiga sampai tiga per empat dari anyaman vaskuler
harus mengalami obstruksi atau rusak sebelum terjadi peningkatan tekanan arteri
di paru-paru yang bermakna. Asidosis respiratorik kronik terjadi pada beberapa
penyakit pernapasan dan penyakit obstruktif sebagai akibat hipoventilasi
alveolar umum atau akibat kelainan perfusi-ventilasi.
Dalam pembahasan di atas
jelas diketahui bahwa setiap penyakit paru-paru yang mempengaruhi pertukaran
gas, mekanisme ventilasi, atau anyaman vaskuler paru-paru dapat mengakibatkan
cor pulmonale.3
F.
Gejala
Klinis
Manifestasi
klinis dari cor pulmonal umumnya tidak spesifik. Gejala-gejala mungkin samar
terutama pada tahap awal penyakit. Adapun beberapa manifestasi klinis antara
lain:
1.
Pasien mungkin mengeluh kelelahan, tachypnea, dyspnea , dan batuk.
2.
Nyeri dada juga dapat terjadi dan mungkin
karena iskemia ventrikel kanan (biasanya tidak berkurang dengan pemberian
nitrat) atau peregangan arteri paru.
3.
Hemoptisis mungkin terjadi karena pecahnya
arteri paru yang melebar atau aterosklerosis. Kondisi lain seperti tumor,
bronkiektasis, dan infark paru, harus disingkirkan sebelum menghubungkan
hemoptisis dengan hipertensi pulmonal.
4.
Pasien mengeluh suara serak akibat kompresi
pada saraf laringeal rekuren kiri oleh arteri paru yang melebar.
5.
Berbagai gejala neurologis dapat dilihat karena
curah jantung menurun dan hipoksemia.
6.
Pada tahap lanjutan, kongesti hati akibat kegagalan ventrikel kanan yang parah yang
menimbulkan gejala anoreksia, rasa tidak nyaman di kuadran kanan atas perut,
dan jaundice.
7.
Edema perifer. Peningkatan tekanan arteri paru
dapat menyebabkan meningkatnya tekanan di
atrium kanan, pembuluh darah perifer, dan tekanan kapiler. Dengan
meningkatkan gradien hidrostatik, itu mengarah pada transudasi cairan dan
akumulasi edema perifer.4
Hipotesis lainnya menjelaskan
gejala ini, terutama di sebagian kecil dari pasien dengan PPOK yang tidak
menunjukkan peningkatan tekanan atrium kanan adalah penurunan laju filtrasi
glomerulus (GFR) dan penyaringan natrium dan stimulasi vasopresin arginine karena hipoksemia berperan dalam terjadinya
patofisiologi ini dan juga terjadinya edema perifer pada pasien dengan cor
pulmonall yang mengalami peningkatan tekanan di atrium kanan.
G.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaa kor pulmonal
cor kronis umumnya difokuskan pada pengobatan penyakit paru yang mendasari dan
meningkatkan oksigenasi dan fungsi ventrikel kanan dengan meningkatkan
kontraktilitas ventrikel kanan dan penurunan
vasokonstriksi paru.
Oksigenasi
Pemberian oksigen sangat
penting pada pasien kor pulmonal, terutama bila diberikan secara terus menerus.
Pasien yang menderita kor pulmonal, tekanan parsial oksigen (PO2)
kemungkinan berada di bawah 55 mm Hg dan menurun lebih lanjut dengan latihan
dan saat tidur. Terapi oksigen dapat mengurangi vasokonstriksi paru yang
kemudian meningkatkan curah jantung, mengurangi simpatik vasokonstriksi,
mengatasi hipoksemia jaringan, dan meningkatkan perfusi ginjal.
Meskipun demikian, masih
dipertanyakan apakah oksigenasi dapat meningkatkan kelangsungan hidup pada
pasien dengan kor pulmonae karena gangguan paru selain PPOK . Kemungkinan
oksigenasi mungkin dapat mengurangi gejala-gejala dan perbaikan status
fungsional. Oleh karena itu, terapi oksigen memainkan peranan penting baik
dalam pengaturan langsung dan jangka panjang manajemen, terutama pada pasien
yang hipoksia dan menderita PPOK.
Mekanisme bagaimana terapi
oksigen dapat meningkatkan kelangsungan hidup belum diketahui. Ditemukan 2
hipotesis:
1. Terapi
oksigen mengurangi vasokonstriksi dan menurunkan resistensi vascular paru yang
kemudian meningkatkan isi sekuncup ventrikel kanan
2. Terapi
oksigen meningkatkan kadar oksigen arteri dan meningkatkan hantaran oksigen ke
jantung, otak, dan organ vital lain.
Pemakaian oksigen secara
kontinyu selama 12 jam (National Institute of Health/NIH, Amerika); 15 jam
(British Medical Research Council/MRC dan 24 jam (NIH) meningkatkan
kelangsungan hidup dibandingkan dengan pasien tanpa terapi oksigen.
Indikasi terapi oksigen (di
rumah) adalah:
- PaO2≤ 55 mmHg atau SaO2≤ 80%
- PaO2 55-59 mmHg disertai salah satu dari
b.1. Edema disebabkan gagal jantung kanan
b.2. P pulmonal pada EKG
b.3. Ertrositosis hematokrit > 56%.
Diuretik
Diuretik diberikan bila
ditemukan tanda gagal jantung kanan. Pemberian diuretik yang berlebihan dapat
menimbulkan alkolosis metabolik yang bisa memicu peningkatan hiperkapnia. Di
samping itu dengan terapi diuretik dapat terjadi kekurangan cairan yang
mengakibatkan preload ventrikel kanan dan curah jantung menurun.
Contoh agen diuretik yang
digunakan dalam terapi kor pulmonal kronis. Furosemide adalah loop diuretik
kuat yang bekerja pada loop of Henle, menyebabkan blok reversibel dalam
reabsorpsi natrium dan kalium klorida.6
Dosis dewasa:
20-80 mg / per hari/ PO / IV / IM (dosis
maksimum 600 mg / hari)
Vasodilator
Vasodilator (nitrat, hidralazin, antagonis
kalsium, agonis alfa adrenergik, ACE inhibitor, dan prostaglandin sampai saat
ini belum direkomendasikan pemakaiannya secara rutin. Rubin menemukan pedoman
untuk menggunakan vasodilator bila didapatkan 4 respons hemodinamik sebagai
berikut:
- Resistensi vascular paru diturunkan minimal 20%
- Curah jantung meningkatkan atau tidak berubah
- Tekanan arteri pulmonal menurunkan atau tidak berubah
- Tekanan darah sistemik tidak berubah secara signifikan.
Kemudian harus dievaluasi
setelah 4 atau 5 bulan untuk menilai apakah keuntungan hemodinamik di atas
masih menetap atau tidak. Pemakaian sildenafil untuk melebarkan pembuluh darah
paru pada Primary Pulmonary Hypertension,
sedang ditunggu hasil penelitian untuk kor pulmonal lengkap.5
Beta-agonis selektif
Beta-agonis selektif memiliki
keuntungan tambahan selain sebagai bronkodilator juga memiliki efek kliren
mukosiliar.
Digitalis
Digitalis hanya digunakan
pada pasien kor pulmonal bila disertai gagal jantung kiri. Digitalis tidak
terbukti meningkatkan fungsi ventrikel kanan pada pasien kor pulmonal dengan
fungsi ventrikel kiri normal, hanya pada pasien kor pulmonal dengan fungsi
ventrikel kiri yang menurunkan digoksin bisa meningkatkan fungsi ventrikel
kanan. Di samping itu pengobatan dengan digitalis menunjukkan peningkatan
terjadinya komplikasi aritmia.5
Digoxin (Lanoxin)
Memiliki efek inotropik
positif pada gagal miokardium. Efek ini dicapai melalui penghambatan Na + / K
+-ATPase pompa, mengarah ke peningkatan konsentrasi natrium intraseluler
bersama dengan seiring bertambahnya konsentrasi kalsium intraseluler dengan
mekanisme pertukaran kalsium-natrium. Hasilnya adalah augmentasi kontraktilitas
miokard.6
Dosis Dewasa : 0,125-0,375 mg PO / IV / IM
Teofilin
Selain efek bronchodilatory,
teofilin telah dilaporkan untuk mengurangi resistensi pembuluh darah paru dan
tekanan di arteri paru pada pasien kor pulmonal kronis sekunder karena PPOK.
Teofilin memiliki efek inotropik lemah dan dengan demikian dapat meningkatkan
ejeksi ventrikel kanan dan kiri.
Dosis rendah teofilin juga telah disarankan
karena memiliki efek anti-inflamasi
yang membantu untuk mengontrol penyakit
paru-paru yang mendasari seperti PPOK. Sebagai hasilnya, penggunaan teofilin
dipertimbangkan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan kor pulmonal kronis
atau dekompensasi dengan PPOK.6
Teofilin (aminofilin, Theo-24, Theolair,
Theo-Dur)
Dosis Dewasa
Loading doses: 5,6
mg / kg IV selama 20 menit (berdasarkan aminofilin)
Maintanance doses: IV
infus pada 0,5-0,7 mg / kgBB / jam
H. Prognosis
Prognosis
kor pulmonal adalah variabel yang tergantung pada penyakit yang mendasari. Pasien
dengan kor pulmonae karena PPOK memiliki angka kematian 2 tahun lebih tinggi. Edukasi
pasien mengenai pentingnya kepatuhan terhadap terapi medis yang tepat sangat
penting karena pengobatan, baik untuk hipoksia dan penyakit yang mendasari
dapat menentukan mortalitas dan morbiditas.6
Kesimpulan
Pasien
Laki-laki usia 50 tahun, di diagnosis menderita Cor Pulmonale Cronik ec PPOK.
Dimana hal ini dapat dilihat dari gejala yang ditunjukkan oleh pasien dan hasil
pemeriksaan penunjang yang mendukung dan mengarah pada cor pulmonale cronik ec
PPOK.
terimakasih banyak untuk artikelnya, sangat bermanfaat, menambah wawasan
BalasHapushttp://herbalkuacemaxs.com/pengobatan-herbal-hipertensi/